Membaca Wacana Intelektual: Kritik Terhadap Paradigma Modern

  Kapita Selekta   20 Januari 2012

Membaca Wacana Intelektual: Kritik Terhadap Paradigma Modern

Pasca perang dingin, berbagai spekulasi wacana mencoba menangkap berbagai akar permasalahan sosial yang akan muncul. Huntington, dengan keras kepala, menawarkan paradigma peradaban dalam upaya menganalisis akar konflik dunia. Sebagai tanggapan terhadap tesis Fukuyama, bahwa sejarah telah berakhir, Samuel Huntington beranggapan bahwa manusia-manusia di masa mendatang akan mati-matian membela eksistensi kebudayaannya. [1]

Memang tidak dapat disangkal, bahwa berbagai konflik yang muncul belakangan ini bersumber dari perbedaan keyakinan individu-individu dalam peradaban tertentu. Dan bahwa wacana terorisme berawal dari asumsi tersebut. Akan tetapi, memunculkan dan mendramatisasi problem peradaban bukan berarti menyelesaikan ataupun menguraikan berbagai problem sosial, melainkan akan semakin mengaburkan makna dari tugas intelektual dalam mengupayakan perubahan sosial.

Gambar: Pergeseran paradigma (Newciv.org)

Alih-alih memperjuangkan kemerdekaan individu yang tertindas, wacana-wacana intelektual modern bahkan semakin mendorong kekuasaan untuk melucuti dan memperkosa kebebasan individu-individu melalui simbol-simbol baru. Atas nama agama, negara, ras, bangsa maupun ideologi bahkan melalui jargon demokrasi maupun hak asasi manusia, para penggerak wacana modern telah melupakan tugas kaum intelektual sebagai agen pembebasan.

Awal mula kegamangan ini, terutama, bermula dari belenggu pandangan universalisme serta kolektivisme dalam memandang permasalahan sosial. Kita hampir tidak pernah mempertanyakan, sudah tepatkah paradigma filosofis yang telah kita pakai sekarang ini?

Paradigma Modern: Universalisme dan Kolektivisme

Belakangan ini telah bermunculan berbagai pandangan epistemologis, baik positivisme, fenomenologi, strukturalisme, hermeneutika, materialisme historis dan dan sampai dengan postmodernisme.

Semua aliran epistemologis tersebut telah tumbuh subur dengan berbagai pengikutnya. Bagi kaum muda, berbagai alternatif pilihan tersebut telah menjadi “jalan keluar” bagi pencarian intelektual yang tidak akan kunjung berakhir. Di tangan kaum intelektual mudalah, ke depan, berbagai paradigma keilmuan tersebut akan tumbuh dan tersebar luas sebagai paradigma modern.

Apa fungsi berbagai paradigma tersebut? Yang jelas, paradigma tidak lain adalah kacamata kita dalam upaya memandang dunia. Sebuah paradigma adalah alat bagi kaum intelektual untuk membaca segala problem keilmuan serta kemanusiaan. Paradigma memberikan dasar pandangan, asumsi, cara kerja serta kriteria mengenai bagaimana kebenaran ilmiah seharusnya diraih.

Meneguhkan konsep Individu dan Tindakan dalam Kesatuan Kolektif

Sekali lagi perlu diingat, dalam kajian ilmu-ilmu sosial kita membicarakan manusia serta masyarakat. Apa yang diabaikan paradigma modern ialah bahwa dirinya telah melupakan individu yang sebenarnya membentuk kolektif yang disebut keluarga, masyarakat, negara, bangsa dan bahkan peradaban. Paradigma modern berspekulasi mengenai hal-hal yang bersifat universal. Mereka melupakan arti penting tindakan individu.

Apabila dicermati, kasus wacana yang dilontarkan Huntington serta wacana-wacana sosial lainnya, masih terbelenggu oleh wacana universalisme dengan sarana analisa argumentasi historis. Seolah-olah apa yang terjadi di masa lalu akan terjadi di masa mendatang. Setiap argumentasi berdasar pada data historis. Mereka barangkali lupa, bahwa sebuah kejadian sejarah diakibatkan oleh tindakan-tindakan individu baik secara khusus, kebetulan ataupun secara khas. [2]

Jika ditelusuri, cara pandang yang demikian memang tidak lepas dari pengaruh pandangan filosofis tertentu. Studi historis yang dipakai untuk memprediksi masa depan telah menjadi ciri khas mazhab Jerman. Pandangan ini telah menyebar ke berbagai belahan dunia dan sudah menjadi keyakinan kebenaran bagi kaum intelektual modern.

Tanpa mengabaikan makna sejarah, kita patut menengok penemuan-penemuan terbaru dalam bidang yang lebih spesifik. Dalam bidang genealogi, Steve Olson dalam karyanya yang berjudul Mapping Human History, menyimpulkan bahwa pada dasarnya asal-asul manusia itu sama, yang membedakan ialah susunan DNA manusia yang telah termutasi. Mutasi adalah kunci untuk merekotruksi sejarah genetic manusia. Dengan kata lain, kesimpulan Olson adalah bahwa kita sebenarnya berasal dari nenek moyang yang sama. Perubahan-perubahan susunan DNA lah yang membuat kita berbeda. Jadi berbagai bentuk perbedaan warna kulit, budaya dan kecerdasan adalah perbedaan-perbedaan yang hanya bersifat topeng. Perbedaan tersebut tidak lain merupakan akibat dari faktor lingkungan, bukan akibat dari asal-usul genetik yang berbeda. [3]

Penemuan Olson tersebut jelas-jelas telah mematahkan wacana-wacana sosial yang cenderung bersifat rasial—termasuk wacana Huntington. Akan kemanakah alur sejarah ke depan, memang tidak akan pernah pasti. Untuk menganilisis permasalahan ke depan, kita tidak bisa hanya menyederhanakan permasalahan dengan cara membagi antara Barat dan Timur, Islam dan Kristen, fundamentalis dan liberal, dan menaruh jawaban konflik sosial ke dalam kotak hitam dan putih.

Sebaliknya, sebuah bangunan masyarakat, bangsa, ataupun peradaban hanya bisa dianalisis satu-per-satu melalui tindakan-tindakan individu. Tanda-tanda tindakan individu yang sebenarnya akan membentuk pola, apakah kesatuan kolektif tersebut akan runtuh, tetap eksis atau bahkan akan berbenturan. Hanya dengan konsep tindakan, tujuan serta cara-cara individu dalam kesatuan kolektif kita akan mendapatkan pola-pola kemanakah bangunan sosial itu akan menuju. Hal ini menyiratkan bahwa, dalam menganalis masyarakat, kita harus beralih ke dalam pandangan dari sudut pandang manusia. Dalam melihat manusia, maka kita tidak dapat mengabaikan sifat dasar manusia yaitu bertindak. Setiap tindakan memiliki tujuan dengan cara-cara tertentu.

Simpanse fongoli, mencari makanan

Contoh yang ekstrim terhadap konsep tindakan, tujuan dan cara, bisa dicermati dari laporan terbaru dari ahli Primatologi, Jill Pruetz. Pruetz meneliti selama empat tahun terhadap kehidupan simpanse Fongoli di Afrika. Penemuan Fruetz memang membuat “merinding” sebagian ahli antropologi. Karena dengan demikian, maka bisa dikatakan bahwa, selain manusia, ternyata kelompok simpanse Fongoli telah lama memiliki “budaya” tersendiri. Dalam temuan Fruetz, simpanse menggunakan stik (sebatang kayu yang digunakan dengan cara lembing) untuk menohok bush baby. [4] Dalam menyebarluaskan penemuannya, Pruetz memang mendapati pengabaian dari ahli primatologi sejawat. Tapi bukankah kasus yang demikian sudah biasa dalam penemuan ilmiah.

Tantangan Baru Dalam Memerdekakan Individu

Berlawanan terhadap asumsi universalianisme, bahwa konflik mendatang ialah konflik antara kesatuan kolektif yang satu terhadap kesatuan kolektif yang lain. Akan tetapi apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita ialah konflik yang sebenarnya terjadi antara individu dengan berbagai konsep-konsep kolektif yang meresap dalam dirinya sendiri. Dengan kata lain, berbagai bentuk dogma, doktrin, keyakinan, dan bahkan kultus yang membabi butalah sebenarnya akar dari berbagai permasalahan sosial. Dengan demikian, konsep-konsep kolektif sebenarnya bukan mewakili dari cita-cita riil individu dalam sebuah kolektif. Konsep tersebut tidak lain adalah konstruksi kekuasaan–baik itu kekuasaan ideologis maupun kekuasaan intelektual.

Sungguh sangat ironis, bahkan menyedihkan, kalau di jaman sekarang yang telah dianggap merdeka, masih terdapat individu-individu yang benar-benar percaya bahwa dengan melakukan kekerasan dan pembunuhan atas nama keyakinan telah menjadikannya menjadi sosok yang suci dan merasa dirinya telah berjuang di atas kebenaran. Bahwa dia ialah wakil dari pembela kebenaran absolut tertentu. Dengan meyakini hal tersebut, nyawa individu lian tidak akan memiliki arti apabila dibandingkan dengan kepentingan idealisme kesatuan kolektif yang telah menjadi keyakinannya.

Sebagian besar masyarakat kita memang masih hidup di atas kultus dan dogma. Jalan satu-satunya untuk melepaskan itu semua adalah melalui program pembebasan. Artinya, bagi kaum intelektual, tugas sebenarnya ialah merumuskan visi yang lebih jauh mengenai kemerdekaan individu. Perjuangan untuk membela kebebasan individu, hak kepemilikan, pasar bebas dan meminimalkan segala bentuk campur tangan pemerintah adalah visi sesungguhnya dari intelektual bebas. [5]

Walaupun ajaran pembebasan telah lama muncul, akan tetapi sedikit sekali yang mampu melaksanakan ataupun menyebarluaskan dengan visi yang benar-benar menggugah. Ajaran Tao yang telah muncul abad ke -6 SM atau tokoh Prancis Etienne de La Boitie yang hidup di pertengahan abad ke enam belas. Sedangkan, dalam bidang pedagogi pembebasan modern kita akan mendapati tokoh-tokoh seperti Paulo Freire, Ivan Illich, sampai dengan Mahatma Gandhi dari India.[6] Manusia-manusia tersebut merupakan sekelumit intelektual bebas yang tidak henti-hentinya berjuang memberikan pencerahan terhadap umat manusia.

Kembali ke wacana paradigma intelektual modern, yang juga menjadi alasan adanya tulisan ini, yaitu makin maraknya serta simpang siurnya berbabagai gagasan yang yang sekarang muncul. Memang tidak dapat disangkal, bahwa peran media massa, baik cetak maupun elektronik, dan bahkan blog, memang sangat membantu bagi pendidikan masyarakat modern. Hampir di setiap sudut jalan, kantor dan rumah, kita tidak dapat mengelak dari keberadaan media. Namun demikian, di satu sisi media sangat membantu bagi intelektual untuk menyebarkan gagasannya, di sisi lain kekuasaannya juga sangat rentan untuk menyalahgunakannya.

Dengan kata lain, apa yang menjadi problem sekarang dan di masa depan tidak lagi permasalahan sarana bagaimana intelektual bebas menyebarluaskan gagasannya. Tetapi yang lebih penting serta krusial terhadap hambatan program pembebasan adalah makin maraknya perselingkuhan kekuasaan dengan intelektual gadungan. Artinya, bahaya terbesar ke depan adalah melencengnya arah berbagai agen-agen yang selayaknya berdiri bebas melakukan fungsi sosial masing-masing tetapi malah menjadi penjilat terhadap segala bentuk kekuasaan.

Akhir kata, seteru abadi dan terbesar perjuangan pembebasan tidak hanya kekuasaan yang berada mengintari kita, tapi juga yang bersemayam di dalam pikiran kita.

(* Kontributor adalah penggiat di Komunitas Embun Pagi, Semarang.)

Catatan:

[1] Huntington, S.P & Fukuyama, F. 2003. The Future of The World Order: Masa Depan Peradaban dalam Cengkraman Demokrasi Liberal versus Pluralisme. Yogyakarta; IRCiSod

[2] Mises, Ludwig Von. Persoalan-Persolan Epistemologis dalam Ilmu-Ilmu Pengentahuan yang Mengkaji Tindakan Manusia. Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak, 2007

[3] Olson, S. 2002. Mapping Human History: Gen dan Asal-Usul Manusia. Jakarta: Serambi

[4] Roach, M. 2008. Nyaris Manusia. Dalam Majalah National Geographic Edisi April 2008

[5] Rothbard, M. 1990. Concepts of the Role of Intellectuals in Social Change Toward Laissez Faire. The Journal of Libertarian Studies Vol IX.

[6] Nohlen, D. 1994. Kamus Dunia Ketiga. Jakarta: Grasindo

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Giyanto, Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak, Vol. II, Edisi 28, Tanggal 5 Mei 2008, dalam http://akaldankehendak.com/?p=233)

Tags: