Membangun Budaya ‘Unggul’ dan ‘Memimpin’ dengan Spirit Fastabiqul Khairât

Umat Islam harus memiliki keunggulan dan memanfaatkannya untuk menjadi pemimpin umat manusia. Itulah – antara lain – spirit (ruh) yang bisa kita tangkap dari firman Allah dalam QS Āli ‘Imrân/3: 110,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu sekalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Oleh karena itu, Allah mengingatkan diri kita dengan sebuah perintah,

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berkompetisilah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS al-Baqarah/2: 148).

Ada seorang sahabat saya yang selalu mengingat diri saya: “Hidup adalah fungsi dari waktu. Ia terus saja berjalan, tidak ada delay. Maka tataplah ‘jam’ yang melekat di dindingmu, adakah ia pernah menunggumu?

Dia ceritakan sebuah kisah tentang seorang lelaki surgawi yang tak mau menunggu, ia selalu bersemangat untuk menjadi yang terdepan – pertama dan utama – dalam berbuat kebaikan (al-khair). Dalam suatu kesempatan, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam memaparkan profil penghuni surga tanpa azab dan hisab mulai dari para nabi hingga dirinya (Nabi Muhammad s.a.w.) sendiri di hadapan para sahabatnya. Di saat itu, para sahabat pun sudah mulai kasak-kusuk, menduga-duga, gusar, seperti apakah gerangan figur ‘istimewa’ tersebut?

Ketika itu Nabi s.a.w. bertanya kepada para sahabatnya, “Apa yang kalian bicarakan?”, maka setelah mereka memberitahukan, Sang Nabi s.a.w. pun bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan ruqyah, tidak meramal yang buruk-buruk dan kepada Rabbnya mereka bertawakkal.”
Tiba-tiba saja, seorang lelaki bangkit dan berkata, “Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka”. Setelah itu, ada lagi lelaki yang bangkit, untuk kedua kalinya dengan permintaan yang sama, “Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka”,

Rasulullah s.a.w. pun menjawab, “Engkau sudah didahului ‘Ukasyah”. Sebagaimana yang telah diceritakan oleh Abu Hurairah r.a.,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي زُمْرَةٌ هِيَ سَبْعُونَ أَلْفًا تُضِيءُ وُجُوهُهُمْ إِضَاءَةَ الْقَمَرِ فَقَامَ عُكَاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ الأَسَدِيُّ يَرْفَعُ نَمِرَةً عَلَيْهِ قَالَ ادْعُ اللَّهَ لِي يَا رَسُولَ اللهِ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ ، فَقَالَ : اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ سَبَقَكَ عُكَاشَةُ.

“Saya mendengar Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada satu rombongan dari umatku yang akan masuk surga, jumlah mereka tujuh puluh ribu, wajah mereka bersinar seperti rembulan di malam purnama, ” lalu ‘Ukasyah bin Mihshan al-Asadi mengangkat namirah (semacam kain wool) yang ia kenakan seraya berkata; “Wahai Rasulullah, do’akanlah aku agar termasuk dari mereka,” maka beliau bersabda: “Ya Allah, jadikanlah ia termasuk dari mereka, ” kemudian seorang laki-laki dari Anshar bangun dan berkata; “Wahai Rasulullah, do’akanlah aku agar termasuk dari mereka, ” maka beliau bersabda: “Engkau telah didahului Ukasyah.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah, Shahîh al-Bukhâriy, juz VII, hal. 189, hadis no. 5811))

Yah, pemuda yang pertama kali bangkit adalah ‘Ukasyah bin Mihsan. ‘Ukasyah tidak perlu menunggu untuk menjadi yang kedua. Karena keberaniannya pada kesempatan yang pertama, permohonannya di ‘amini’ oleh Rasulullah s.a.w.. Seperti api yang menyala-nyala, seperti itulah semangat ‘Ukasyah yang selalu hadir di awal kesempatan, dan tak pernah mau hadir di akhir kesempatan. Inilah ruh (spirit) para sahabat Rasulullah s.a.w., mereka memiliki satu budaya yang sudah lama kita tinggalkan. Budaya fastabiqul khairât, berkompetisi dalam kebaikan, untuk menjadi yang pertama dan utama dalam hal kebaikan. Sebagaimana firman Allah:

أُولَـٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

“Mereka itu bergegas segera dalam meraih kebaikan, Dan merekalah orang-orang yang terdahulu memerolehnya,” (QS al-Mu’minûn/23: 61).

Ketika turun ayat tentang hijab, tanpa membuang tempo, para shahabiyah pun langsung mengambil kain-kain mereka dan melilitkan ke seluruh tubuhnya. Para shahabiyah yang berada di pasar-pasar lantas tidak langsung pulang ke rumah. Mereka memilih untuk bersembunyi di balik batu-batu besar, menunggu malam yang sepi barulah mereka pulang ke rumah. Lagi-lagi, ini adalah bukti, bahwa ‘para wanita’ dari sahabat-sahabat Rasulullah pun adalah orang-orang yang memiliki budaya fastabiqul khairât, budaya tak mau menunggu dan selalu berkompetisi dalam ketaatan.

Ironis! ‘Kini’ dalam masyarakat kita kondisinya sudah ssangat berbeda, kalau pun budaya kompetisi ini masih ‘ada’ dan ‘tersisa’, yang lebih digandrungi adalah budaya kompetisi dalam ranah keduniaan, yang seringkali tak mengindahkan batas-batas ketentuan syari’at Islam. Manusia ‘ini’ tengah terbuai untuk selalu berlomba-lomba dalam memerkaya diri, mempercantik rupa, menggagah-gagahkan sikap, mengejar jabatan, mencicil gelar demi gelar apa pun (termasuk gelar-gelar ‘formal’ akademis) dan menumpuk atribut-atribut keduniaan lainnya, tanpa mengindahkan rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Na’ûdzu billâhi min dzâlik!

Ingatlah pesan Rasulullah s.a.w. kepada umatnya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ إِلَى الْبَحْرَيْنِ يَأْتِي بِجِزْيَتِهَا وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ صَالَحَ أَهْلَ الْبَحْرَيْنِ وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ الْعَلَاءَ بْنَ الْحَضْرَمِيِّ فَقَدِمَ أَبُو عُبَيْدَةَ بِمَالٍ مِنْ الْبَحْرَيْنِ فَسَمِعَتْ الْأَنْصَارُ بِقُدُومِهِ فَوَافَتْهُ صَلَاةَ الصُّبْحِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا انْصَرَفَ تَعَرَّضُوا لَهُ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ رَآهُمْ وَقَالَ أَظُنُّكُمْ سَمِعْتُمْ بِقُدُومِ أَبِي عُبَيْدَةَ وَأَنَّهُ جَاءَ بِشَيْءٍ قَالُوا أَجَلْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَأَبْشِرُوا وَأَمِّلُوا مَا يَسُرُّكُمْ فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُلْهِيَكُمْ كَمَا أَلْهَتْهُمْ

“Bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah ke Bahrain untuk mengambil jizyahnya. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam membuat perjanjian damai dengan penduduk Bahrain, beliau mengangkat Al-‘Ala` bin al-Hadlrami sebagai pemimpin mereka. Lalu Abu ‘Ubaidah datang dengan membawa harta dari Bahrain, kaum Anshar pun mendengar kedatangan Abu ‘Ubaidah, lalu mereka shalat shubuh bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, seusai shalat beliau beranjak pergi, namun mereka menghadang beliau, maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tersenyum saat melihat mereka, setelah itu beliau bersabda: “Aku kira kalian mendengar bahwa Abu ‘Ubaidah datang membawa sesuatu.” Mereka menjawab: ‘Benar, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Bergembiralah dan berharaplah terhadap sesuatu yang dapat memudahkan kalian, demi Allah bukan kemiskinan yang aku takutkan pada kalian, tapi aku takut dunia dibentangkan untuk kalian seperti halnya dibentangkan pada orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba meraihnya sebagaimana mereka berlomba-lomba, lalu dunia itu membinasakan kalian seperti halnya mereka binasa.” (HR Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, juz IV, hal. 117, hadis no. 3158, dan HR Muslim, Shahîh Muslim, juz VIII, hal. 212, hadis no. 7614, dari ‘Amr bin ‘Auf al-Anshari)

Kita – umat Islam – tidak dilarang untuk menggapai dunia seisinya. Tetapi jangan pernah lupa untuk apa perolehan itu. Karena ‘rumah’ akherat selalu menanti kehadiran kita. Jikalau pun kita telah dan tengah memeroleh ‘dunia’, maka teruslah melangkah sebagai orang yang sadar bahwa diri kita tengah dititipi amanah, berjalanlah sambil merunduk, indahkan titipan itu dengan keihklasan dan niat pengabdian (ibadah) kepada Allah. Ingatlah selalu dengan ruh (spirit) fastabiqul khairât, agar diri kita menjadi orang-orang yang terpilih.

Dalam QS Fâthir /35: 32, Allah menggambarkan purwarupa atau prototipe kita – manusia — menjadi tiga jenis,

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَ‌ٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu diantara mereka ada yang mezalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar,”
Jenis pertama adalah: “mereka yang disebut sebagai manusia yang zalim”. Keburukan mereka lebih banyak daripada kebaikan yang mereka ukir. Mereka menghabiskan usia pada perkara-perkara yang Allah tidak ridhai.” Inilah karakteristik orang-orang kafir.

Jenis yang kedua adalah: “mereka yang berada dalam posisi pertengahan”. Dalam makna, di satu waktu mereka melakukan keburukan, tetapi di waktu lain mereka pun melakukan kebaikan. Merekalah orang yang ‘ibadah’ (ketaatan)-nya jalan, ‘keburukan’ (kemaksiatan)-nya pun jalan. Ketaatan dan kemaksiatanya seiring-sejalan.” Inilah karakteristik orang-orang munafik.

Dan jenis yang ketiga adalah: “mereka yang selalu membangun budaya fastabiqul khairât”, senantiasa berkompetisi dalam ketaatan. Inilah karakteristik orang-orang yang beriman, yang pernah ditunjukkan oleh para sahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Karena budaya fastabiqul khairât inilah para sahabat Nabi s.a.w. pantas dikatakan sebagai “khairu ummah” atau generasi yang terbaik. Mereka tidak pernah melewatkan momentum untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Tak rela melepaskan kesempatan untuk mengisi setiap desahan nafas dalam ketaatan kepada Allah. Mereka selalu memaksimalkan setiap pintu kebaikan yang Allah bukakan.

Nah, sejenak kita menengok purwarupa di atas, kita perlu bertanya kepada diri kita masing-masing: “apakah diri kita telah, tengah dan akan selalu menjadi manusia jenis ketiga? Jawabnya ‘tentu’ kembali kepada diri kita masing-masing. “Bersedia dan beranikah kita memulai dengan segala risikonya?”

Kini, saatnya kita berkontemplasi, alangkah berbedanya ghîrah/semangat beribadah para sahabat Rasulullah s.a.w. yang ditunjukkan dalam ayat di atas dengan mayoritas umat (yang mengaku) Islam sekarang ini. Terlalu sering ‘umat Islam (dan bukan tidak mungkin juga telah, tengah dan akan selalu terjadi pada diri kita) tidak memiliki semangat untuk ber-fastabiqul khairât- berkompteisi dalam kebaikan. Kita seolah telah merasa cukup dan baik-baik saja berada di luar arena, menjadi penonton atau bahkan komentator, pengeritik kompetisi yang tengah berlangsung, yang ditunjukkan dengan berbagai kebaikan yang dilakukan oleh orang lain yang kini tengah unggul dan memimpin ‘dunia’. Sementara diri kita (baca: umat Islam) tengah terpuruh menjadi yang ‘tengah’ dipimpin dengan arahan mereka yang seringkali berseberangan dengan ruh (spirit) Islam.

Terkadang kita ‘puas’ memosisikan diri sebagai komentator dan kritikus tanpa terlibat dalam perlombaan meraih untuk ridha Allah. Sebuah peran yang teramat melelahkan, membuang-buang waktu. Benar-benar akan sebuah musibah jika kita kehilangan kesempatan dalam ketaatan kepada Allah, lantas kita tenang-tenang saja dan tak mau berupaya untuk ber-fastabiqul khairât, seperti ‘Ukasyah yang dengan gagah berani untuk ‘bangkit’ menjadi yang pertama dan utama.

Mari kita mulai berbenah diri untuk menjadi ‘Sang Pemenang’ dengan ruh (spirit) fastabiqul khairât, dan jangan pernah merasa puas dengan hanya menjadi penonton. Marilah kita bangun budaya ‘kita’ (baca umat Islam) yang telah lama kita tinggalkan: ”Budaya Fastabiqul Khairât.”
Mari kita berdoa: “Semoga Allah selalu meridhai setiap langkah kita.”

Āmîn Yâ Mujîbas Sâilîn.