Membangun Gerakan Pembudayaan
Pro-Amanah dan Anti-Khianat

Saat ini kata ‘amanah’ tengah menjadi perbincangan banyak orang, dan hampir selalu dikaitkan dengan antonimnya: ‘khianat’. Karena, terlalu banyak orang yang sulit dipercaya,dan – sebaliknya – terlalu sulit mencari orang yang pantas dipercaya.

Pertanyaan tentang makna kata ‘amanah’, sampai saat ini masih terus mengalir. Dan oleh karenanya perlu dijelaskan, sembali menjelaskan juga makna kata ‘khianat’.

Kata amanah seakar dengan kata iman. Ini berarti bahwa sikap amanah memunyai korelasi erat dengan iman seseorang. Orang beriman pasti memiliki sifat amanah. Orang yang tidak amanah berarti tidak ada iman dalam dirinya, meskipun lidahnya menyatakan beriman.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS al-Anfâl, 8: 27).

Sikap amanah harus diwujudkan dalam semua aspek kehidupan. Orang yang memegang amanah dituntut menjalankan dan menyampaikan kepada yang berhak menerimanya.

Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤدُّواْ الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُواْ بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS an-Nisâ’, 4: 58).

Memiliki sikap amanah penting dalam kegiatan muamalah. Sikap amanah yang dimiliki seseorang dapat dijadikan tolok ukur mengangkatnya menjalankan tugas tertentu. Sebaliknya, suatu urusan yang diserahkan kepada orang yang tidak amanah, maka urusan itu akan berantakan. Sebab, orang yang tidak amanah berarti ia tidak profesional menjalankan tugasnya.

Rasulullah s.a.w. menjelaskan,

إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

“Apabila amanah telah disia-siakan, tunggulah saat kehancurannya.” Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana maksud menyia-nyiakan amanah itu?” Nabi s.a.w. pun menjawab, “Yaitu menyerahkan suatu urusan untuk ditangani oleh orang yang bukan ahlinya. Untuk itu tunggulah saat kehancuran urusan tersebut.” (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah, Shahîh al-Bukhâriy, VIII/129, hadits nomor 6496).

Khianat merupakan lawan dari amanah. Sikap ini melekat pada orang yang kurang beriman.

Sikap khianat merupakan ciri orang munafik yang diekspresikan dengan menyalahi janji dan apa yang telah dipercayakan kepadanya. Orang demikian digelari sebagai makhluk terburuk yang sangat dibenci Allah. Allah berfirman,

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِندَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُواْ فَهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ (٥٥) الَّذِينَ عَاهَدتَّ مِنْهُمْ ثُمَّ يَنقُضُونَ عَهْدَهُمْ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَهُمْ لاَ يَتَّقُونَ (٥٦)

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).” (QS al-Anfâl, 8: 55-56).

Sikap khianat amat berbahaya bila berkembang dalam kehidupan suatu masyarakat. Sikap ini merugikan orang yang dikhianati dan pelakunya. Apabila sikap khianat melekat pada seseorang, berarti saat itu telah lepas darinya sikap amanah. Sebab, antara amanah dan khianat tidak mungkin berkumpul pada saat bersamaan.

Nabi s.a.w. bersabda,

لا يَجْتَمِعُ الإِيمَانُ وَالْكُفْرُ فِي قَلْبِ امْرِئٍ ، وَلا يَجْتَمِعُ الْكَذِبُ وَالصِّدْقُ جَمِيعًا ، وَلا تَجْتَمِعُ الْخِيَانَةُ وَالأَمَانَةُ جَمِيعًا

“Tidak mungkin berkumpul iman dan kafir dalam hati seseorang, dan tidak mungkin pula berkumpul sifat jujur dan dusta padanya sekaligus, sebagaimana tidak mungkin berkumpul sifat khianat dan amanah padanya secara bersamaan.” (HR Ahmad dari Abu Hurairah, Musnad Ahmad ibn Hanbal, II/349, hadits nomor 8577).

Sikap amanah harus dimiliki setiap individu, terutama para pemimpin. Dengan sikap amanah diharapkan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka dapat dijalankan dengan baik dan membawa kejayaan bangsa. Sebaliknya, apabila sikap khianat menjadi budaya, maka bangsa ini akan semakin terpuruk.

Sudah saatnya ‘kini’ diupayakan gerakan pembudayaan ‘pro-amanah’, dan diupayakan juga sebuah gerakan ‘anti-khianat’, sebagaimana gerakan anti korupsi, yang tidak hanya dilakukan dengan proses legislasi dan gerakan moral yang sporadis, bahkan perlu dilakukan upaya proses edukasi yang berkesinambungan.

Proses pembudayaan suatu nilai, tidak terkecuali pembudayaan (nilai) ‘pro-amanah’ dan ‘anti-khianat’, lazimnya membutuhkan wak¬tu yang panjang dan proses yang alami, tetapi dalam keadaan dimana masyarakat dalam keadaan bingung dan membutuhkan alternatif, pembudayaan suatu nilai dapat dilakukan dengan metode Gerakan Pembudayaan dengan pendekatan kultural. Kita harus berdakwah dengan ‘mengajak’ dan bukan ‘memaksa’. Berikan motivasi, ciptakan pembiasaan, bangun lingkungan yang kondusif dan mulailah dari diri kita sendiri.

Ibda’ bi nafsik!