MEMBEDAH SYUBHAT INKÂR AS-SUNNAH

A. Pendahuluan

Sudah sejak lama as-Sunnah dirongrong dan diserang oleh orang-orang yang berpenyakit hati, baik dari kalangan ahl al-bid’ah atau orang kafir dengan cara-cara yang sangat beraneka ragam bentuknya, dari yang halus sampai yang paling kasar, dari kekerasan senjata dan perang sampai perusakan aqidah dan konsep pemikiran yang dilakukan mereka dalam rangka memadamkan cahaya Allah; dan Allah senantiasa menggagalkan makar dan tipu daya mereka, Namun mereka tak pernah berputus asa, semakin gencar perlawanan terhadap mereka, mereka pun semakin pandai menciptakan opini publik. Tetapi, apa pun yang mereka lakukan, Allah selalu akan menyempurnakan cahaya kebenaranNya, sehingga membuat mereka seolah-olah mati dalam kedongkolan dan kemarahannya.

Di antara cara mereka merusak Islam adalah dengan menyuntikkan konsep pemikiran yang berisi racun-racun yang dapat membius dan memabukkan kaum muslimin sehingga mereka tidak dapat melihat dan memandang agamanya secara benar dan tepat; dan upaya semacam itu telah berhasil disuntikkan oleh musuh-musuh Allah SWT dari kalangan para Orientalis- Salibis, Yahudi dan para pendukungnya yang memanfaatkan hasil rangkaian pemikiran ahl al-bid’ah yang muncul di dalam Islam dan membesar-besarkannya serta menghembuskannya dengan propaganda dan provokasi yang beraneka ragam namanya; seperti sekularisme, pluralisme, kebebasan berfikir, berfikir moderat dan reformis (atas nama ijtihad) dan lain-lainnya dari propaganda musuh-musuh Islam yang hakikatnya hanya satu, yaitu menghancurkan dan melemahkan serta memberikan keraguan terhadap aqidah yang benar yang telah dimiliki oleh kaum muslimin.

Salah satu usaha mereka ini adalah menyebarkan pemahaman Inkâr as-Sunnah (ingkarus sunnah), satu gerakan dan konsep pemikiran yang berbahaya yang mengajak kaum muslimin meninggalkan sunnah-sunnah Rasulullah s.a.w. dalam memahami dan mengamalkan agama Islam dengan menamakan diri mereka Al-Qurâniyyûn (golongan al-Quran/ahl al-Qurân), padahal mereka sendiri sebenarnya adalah perusak al-Quran atau Inkâr as-Sunnah (ingkarus sunnah).

Oleh karena itu, berhati-hatilah wahai kaum muslimin dari mereka ini karena mereka sebenarnya hanya ingin merusak pemikiran kaum muslimin atau ingin merusak Islam atau mereka ini — sebagaimana tampak lahiriahnya — merupakan ‘antek-antek’ musuh Islam yang masuk atau dimasukkan ke dalam Islam dalam rangka merusak dan menghancurkan agama yang suci ini. Dengan demikian marilah kita membuka mata kita, selalu waspada dan membantah mereka serta memperingatkan kaum muslimin dari pemikiran dan syubhat-syubhat mereka agar kaum muslimin tidak masuk dalam perangkap dan jebakan mereka.

B. Bagaimana Mereka Mengingkari as-Sunnah?

Pertanyaan yang menggelitik hati kita, bagaimana mereka bisa mengingkari as-Sunnah dan mengaku sebagai golongan al-Quran (Al- Qurâniyyûn) sedangkan al-Quran sendiri mengatakan:

وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” [QS al-Hasyr/59: 7) dan

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَانُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.” [QS an-Nahl/16: 44]

Kalau begitu orang yang mengingkari as-Sunnah berarti mengingkari apa yang disampaikan Allah dalam al-Quran. Hal ini sebenarnya telah dijelaskan sejak dahulu kala sejak zaman Rasulullah s.a.w., dimana beliau bersabda:

« أَلاَ إِنِّى أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلاَ يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ يَقُولُ عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ … ».

“Ketahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku al-Quran dan yang semisalnya bersamanya, ketahuilah akan datang seseorang yang kenyang duduk di atas pembaringannya berkata: “berpegang teguhlah kepada al-Quran ini saja, semua yang kalian dapati padanya kehalalan maka halalkan dan yang kalian dapati padanya satu keharaman maka haramkanlah.” [HR Ahmad, 4/131 dan Abu Daud, 5/11 dari Al-Miqdan ibn Ma’dikariba al-Kindi]

Jadi jelaslah mereka ini sebenarnya hanyalah meneriakkan teriakan-teriakan yang telah ada sejak dahulu kala dalam rangka untuk memasukkan keragu-raguan kepada kaum muslimin terhadap aqidah, ibadah dan akhlak mereka.

C. Membedah Syubhat-syubhat Inkâr as-Sunnah (Ingkarus Sunnah)

Golongan al-Quran atau dikenal di Indonesia dengan kelompok Inkâr as-Sunnah (Ingkarus Sunnah) meneriakkan syubhat-syubhat yang dapat diringkas menjadi beberapa bagian:

1. Syubhat Pertama

Cukup bagi kita Kitâbullah (al-Quran) saja karena dia telah menjelaskan kepada kita semua urusan agama dengan segala perinciannya sehingga kaum muslimin tidak membutuhkan as-Sunnah sebagai sumber pensyariatan dan pengambilan hukum sebagaimana disampaikan oleh tokoh mereka Abdullah Chakrawali dalam majalah Isyâd al-Qurân halaman 49 edisi ketiga tahun 1902 M.: “Sesungguhnya al-Kitâb al-Majîd (al-Quran) telah menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam agama ini dengan terinci dan terjelaskan dari semua aspeknya. Maka apa kebutuhan kita terhadap wahyu yang khafiy (tidak tertulis) dan kepada as-Sunnah?” Hal ini ditegaskan lagi olehnya dalam buku Tarku al-Iftirâ’ halaman 10 dengan pernyataannya: “kitâbullâh telah sempurna dan terinci tidak membutuhkan penjelasan dan tidak butuh tafsir Muhammad s.a.w. dan penjelasan beliau atau pelajaran amaliah darinya.[1]

  • Bantahan

Benar, telah disepakati bersama bahwa al-Quran telah menjelaskan pokok-pokok syariat dan sebagian dari perincian juziyyahnya, akan tetapi apa yang didakwakan mereka bahwa al-Quran telah menjelaskan segala sesuatu yang ada dalam syariat Islam ini, baik pokok-pokok atau perincian juziyyahnya yang dibutuhkan dalam agama merupakan kedustaan; karena bagaimana mereka mengetahui kalau shalat itu lima waktu dengan perincian jumlah rakaat dan bacaan dalam setiap gerakan shalat dan berapa ukuran nishab zakat yang diambil dan lain-lainnya, bukankah hal itu diketahui dari Rasulullah s.a.w.. Jika al-Quran telah menjelaskan seluruh agama sehingga tidak membutuhkan penjelasan dan tafsir Rasulullah s.a.w. sebagaimana diyakini oleh mereka, maka apa faedahnya Allah memerintahkan Rasulullah s.a.w. untuk menjelaskannya kepada manusia dan mengapa kita diperintahkan untuk taat dan melaksanakan seluruh apa yang diperintahkan Rasulullah s.a.w. dan menjauhi yang dilarangnya?.

Dr. Musthafa as-Siba’i memberikan pernyataan yang benar dalam permasalahan ini dalam kitab Difâ’ ‘An al-Hadîts an-Nabawiy, halaman 102. Dia berkata: “sesungguhnya Allah tidak menetapkan (menashkan) dalam kitabNya semua perincian juziyyah dari juziyyat syari’at, akan tetapi menjelaskan pokok-pokok, kaedah-kaedah dan dasar-dasar umum syariat, dan di antara pokok-pokok yang dijelaskan al-Quran adalah beramal dengan sunnah Rasulullah s.a.w., sebagaimana dalam firmanNya:

وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” [QS al-Hasyr/59: 7.][2] [2]

Terjadinya kesakahpahaman mereka, mungkin hal itu karena mereka salah dalam memahami firman Allah:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأُوْلِي اْلأَلْبَابِ مَاكَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” [QS Yusuf/12: 111]

Yang mereka fahami pada rangkaian kata (تَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْئٍ) bermakna menjelaskan segala sesuatu secara terinci juziyyah syari’at ini. Padahal para ahli tafsir menjelaskan bahwa maksudnya adalah: “menjelaskan dan menyebutkan pokok-pokok syari’at”, seperti apa yang dinyatakan Imam ath-Thabariy dalam Tafsîr ath-Thabariy 13/91: “Dan al-Quran adalah penjelas segala apa yang dibutuhkan para hamba dari penjelasan perintah, larangan, penghalalan, pengharaman, ketaatan dan kemaksiatan terhadap Allah.”[3]

Dan asy-Syaukani berkata dalam Fath al-Qadîr, 3/61: “Dan bukanlah yang dimaksud di sini apa yang ditunjukkannya dari keumuman, akan tetapi yang dimaksud adalah penjelasan pokok-pokok dan dustûr (syari’at).”[4]

Kemudian dari kesalahan ini mereka membangun pemikiran meninggalkan dan mengingkari selain al-Quran sebagai sumber pengambilan hukum dalam Islam.

2. Syubhat Kedua

As-Sunnah bukan wahyu Allah SWT akan tetapi ia adalah ucapan-ucapan yang dinisbatkan kepada Rasulullah s.a.w. secara dusta tanpa ada hubungan dalam keluarnya as-sunnah tersebut dari Rasulullah s.a.w. dengan wahyu bahkan tidak turun kepada beliau wahyu kecuali yang terkandung dalam al-Quran saja.

Berkata Abdullah: “Sesungguhnya kami tidak diperintahkan kecuali hanya mengikuti apa yang telah diturunkan Allah SWT berupa wahyu, dan seandainya kita benarkan adanya keabsahan sebagian hadits dengan cara mutawatir kepada Rasulullah s.a.w., akan tetapi walaupun demikian tidaklah menjadikan kita wajib mengikutinya karena dia bukanlah wahyu yang turun dari Allah SWT.[5]

  • Bantahan

Pendapat as-Sunnah bukan wahyu dari Allah adalah salah, apa lagi kalau dikatakan itu hanyalah ucapan yang disandarkan kepada beliau (Rasulullah s.a.w.) secara dusta, karena mereka sendiri mengakui adanya hadits-hadits yang diriwayatkan secara mutawatir yang meniadakan kemungkinan adanya kedustaan bahwa hadits tersebut berasal dari Rasulullah s.a.w., dan kalau demikian maka ada di sana hadits-hadits yang benar-benar bersumber dari Rasulullah s.a.w..

Adapun as-Sunnah adalah pasangannya al-Quran dan sama-sama wahyu yang diturunkan Allah kepada beliau (Rasulullah s.a.w.) sebagaimana firman Allah:

وَمَايَنطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلاَّوَحْيٌ يُوحَى .عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” [QS an- Najm/53: 3-5]

Berkata al-Qurthubiy dalam tafsirnya: “dalam ayat ini ada penjelasan bahwa as-Sunnah adalah wahyu yang diturunkan dari Allah SWT[6] [6]. Apa lagi Allah mengancam RasulNya dengan ancaman yang keras ketika menjelaskan hakikat kedudukan beliau dalam penyampaian agama Islam dalam firmanNya.

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ اْلأَقَاوِيلِ لأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ . ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ

“Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.” [QS al-Hâqqah/69: 45-46]

Apakah mungkin setelah ancaman yang keras ini Rasulullah s.a.w. berkata dan berbuat dengan dasar hawa nafsu atau keinginannya semata-mata? Padahal beliau Rasulullah s.a.w. adalah seorang yang sangat jujur sekali, kalau begitu tidaklah mungkin beliau berkata dan berbuat atau menyetujui sesuatu yang bersangkutan dengan agama kecuali dari pemberitahuan dan izin dari Allah SWT dan tidak ada jalan untuk mendapatkan hal itu dari seorang makhluk kepada penciptanya kecuali dengan jalan wahyu yang tentunya menurut definisi syar’i.

Dengan demikian jelaslah bahwa as-Sunnah adalah wahyu dari Allah SWT, sehingga beliau bersabda:

« أَلاَ إِنِّى أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلاَ يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ يَقُولُ عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ … ».

“Ketahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku al-Quran dan yang semisalnya bersamanya, ketahuilah akan datang seseorang yang kenyang duduk di atas pembaringannya berkata: berpegang teguhlah kepada al-Quran ini saja, semua yang kalian dapati padanya kehalalan maka halalkan dan yang kalian dapati padanya satu keharaman maka haramkanlah.”[7]

Kemudian jika melihat dan meninjau amalan para sahabat, didapatkan mereka beramal dengan amalan-amalan yang diperintahkan Rasulullah kepada mereka dan tidak ada nashnya dalam al-Quran sedangkan Allah tidak menghukum Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya karena hal itu, hal ini menunjukkan sunnah Rasulullah s.a.w. tidak lepas dari wahyu Allah SWT dan menjadi dalil yang tegas akan keabsahan amalan mereka dalam beragama dengan sunnah Rasulullah s.a.w. yang merupakan wahyu dari Allah juga.

Berkata Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsîr al-Manâr, 8/308: “Tidak diragukan lagi bahwa mengikuti Rasulullah s.a.w. dalam hadits-hadits yang absah yang menjelaskan perkara agama dari beliau termasuk dalam keumuman apa yang diturunkan kepada kita, karena Allah SWT memerintahkan kita untuk mengikuti dan mentaatinya dan mengkhabarkan kita bahwa beliau adalah utusan penyampai risalahNya sebagaimana dalam firmanNya”:

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَانُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.” [QS an-Nahl/16: 44]

Dan mayoritas Ulama berpendapat bahwa hukum-hukum syari’at yang ada di dalam as-Sunnah adalah wahyu dari Allah dan wahyu tersebut tidak terbatas hanya pada al-Quran.[8]

Dengan demikian as-Sunnah adalah pendamping al-Quran dan dia adalah wahyu seperti al-Quran hampir tidak dapat terpahami. Dinukil dari Al-Qurâniyyûn, halaman 216, sebagaimana yang wajib dipahami darinya kecuali kembali melihat as Sunnah.[9]

3. Syubhat Ketiga

Mengikuti as-Sunnah berarti telah “menyekutukan Allah dalam hukum”, padahal Allah telah melarang hal itu dalam firmanNya:

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ للهِ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” [QS al-An’âm/5: 57]

Berkata Abdullah Cakrawali dalam kitab Al-Mubâhatsah, halaman 42, bahwa hadits-hadits yang menganjurkan untuk mengikuti ucapan dan perbuatan serta persetujuan para Rasulullah s.a.w., padahal ada kitâbullâh (al-Quran) merupakan alasan klasik yang kuno dan Allah SWT mensucikan para Rasul dan NabiNya dari hadits-hadits ini bahkan menjadikan hadits-hadits ini sebagai kekufuran dan kesyirikan terhadap Allah,[10] kemudian pernyataan ini ditafsirkan oleh Khajah Ahmaduddin dalam Tafsîr Bayân li an-Nâs, 2/395 dan 445: “Orang-orang telah memalsukan jalan-jalan periwayatan untuk menghidupkan kesyirikan dan mereka mengatakan: kami beriman kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang dipatuhi akan tetapi Allah memerintahkan kami untuk mengikuti RasulNya. Dan ini merupakan satu tambahan atas asal ketaatan yang satu sehingga dengan dalih tersebut mereka membenarkan seluruh kesyirikan ketahuilah bahwa Alah tidak memerintahkan demikian”.

Allah berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ للهِ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” [QS al-An’âm/6: 57][11]

  • Bantahan

Alangkah beraninya dia berkata demikian, apakah para Rasul diutus untuk menghidupkan dan mengembangkan kesyirikan dan kekufuran? Bukankah melaksanakan dan mengikuti as-Sunnah merupakan perwujudan dari penerapan hukum-hukum al-Quran, sebagaimana firman Allah SWT:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [QS an-Nisâ’/4: 65]

Ini perintah berhukum dengan beliau ketika hidup dan setelah meninggalnya beliau (Rasulullah s.a.w.), maka diperintahkan berhukum dengan hukum sunnahnya karena berhukum dengan sunnahnya sama saja dengan berhukum kepada beliau. Hal ini telah diulang-ulang oleh Allah dalam al-Quran di antaranya:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَّقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ . وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللهَ وَيَتَّقِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَآئِزُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” [QS an-Nûr/24: 51-52]

Kemudian Allah memperingatkan orang yang tidak mengikuti RasulNya dalam firmanNya:

وَيَقُولُونَ ءَامَنَّا بِاللهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِّنْهُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ وَمَآ أُوْلَئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ

“Dan mereka berkata: ”Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kamipun taat,” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” [QS an-Nûr/24: 47]

Maka tidak ada cara untuk mengetahui hukum dan keputusan beliau kecuali melalui sunnahnya.

Syubhat ini sebenarnya terjadi akibat adanya syubhat yang sebelumnya, yaitu yang kedua dan ‘alhamdulillah’ telah terbantah dan jelas kebatilannya.

Adapun menjadikan firman Allah SWT:

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ للهِ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” [QS al-An’âm/6: 57]

Sebagai hujjah untuk menolak as Sunnah sebagai hukum Allah SWT maka ini merupakan pendalilan yang salah karena lafazh firman Allah ini (ada) tiga kali disebutkan dalam al-Quran.

Pertama : Firman Allah SWT:

قُلْ إِنِّي عَلَى بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّي وَكَذَّبْتُم بِهِ مَاعِندِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ للهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ

Katakanlah: sesungguhnya aku (berada) di atas hujjah yang nyata (al-Qur’an) dari Rabbku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah wewenangku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik. [QS al-An’âm/6: 57]

Dalam ayat ini ada bantahan Allah SWT atas kaum kafir yang menuntut Rasulullah s.a.w. untuk mendatangkan mu’jizat dan Allah SWT menyatakan bahwa hal itu merupakan hak yang khusus bagi Allah SWT yang tidak ada sekutu padanya.

Kedua : Firman Allah SWT:

مَاتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِه إِلآ أَسْمَآءً سَمَّيْتُمُوهَآ أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُم مَّآأَنزَلَ اللهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ للهِ أَمَرَ أَلاَّتَعْبُدُوا إِلآًّإِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ

“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [QS Yûsuf/12: 40]

Ayat ini mengisahkan ucapan dan nasehat Nabi Yusuf a.s. kepada kedua temannya di penjara yang berisi bahwa penyembahan berhala merupakan perbuatan yang tercela dan kedustaan atas Allah SWT karena Allah lah yang Esa dalam hukum dan ibadah

Ketiga : Firman Allah SWT:.

وَقَالَ يَابَنِيَّ لاَتَدْخُلُوا مِن بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ وَمَآأُغْنِي عَنكُم مِّنَ اللهِ مِن شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ للهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Dan Ya’qub berkata: Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain;namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun daripada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri.” [QS Yûsuf/12: 67]

Ayat ini berisi ucapan Ya’qub a.s. dan nasehat beliau terhadap anak-anaknya bahwa apa yang mereka temukan dari kesulitan merupakan taqdir dan ketetapan dari Allah SWT serta mengajarkan mereka adab berjumpa dengan raja.

Ketiga ayat di atas tidak sama sekali mendukung dan tidak ada hubungannya dengan pendapat mereka dalam menolak as-Sunnah sehingga sesungguhnya mengikuti sunnah Rasulullah s.a.w. bukanlah kesyirikan dan kekufuran akan tetapi ia adalah tauhid itu sendiri.

4. Syubhat Keempat

As-Sunnah bukanlah merupakan syariat menurut Rasulullah s.a.w. dan juga terpahami demikian oleh para sahabat, yang oleh karena itu mereka dilarang untuk menulisnya

Berkata Al-Hafizh Aslam dalam Maqâm Hadîts hal 7: “perkara yang tidak ada perdebatan padanya sama sekali adalah pengetahuan sahabat tentang hakikat larangan Rasulullah s.a.w. dari penulisan sunnahnya dan mengerti bahwa umat-umat terdahulu tidaklah sesat kecuali dengan sebab penulisan riwayat-riwayat kisah para Nabi mereka.”[12]

Lalu berkata lagi: “Sesuatu yang harus diperhatikan bahwa hadits-hadits itu seandainya memiliki nilai agama tentunya tidaklah Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya melarang dengan keras penulisannya.”

  • Bantahan.

Syubhat ini tidak ilmiah dan tidak berlandaskan penelitian dan pengetahuan akan tetapi tampaknya didasari oleh sikap tidak mau menerima kesalahan dan ‘ngawur‘, alangkah baiknya jika mereka mau melihat kembali buku-buku as-sunnah dan sejarah sehingga tahu bagaimana kesungguhan dan semangat beliau (Rasulullah s.a.w.) mengajari para sahabatnya dan memahamkan mereka perkara agama dengan lisan dan amalan di mana beliau (Rasulullah s.a.w.) menjawab segala pertanyaan mereka dan memberikan nasihat-nasihat dari satu waktu ke waktu yang lain baik di khutbah-khutbah Jum’at, ‘Ied atau di acara-acara yang lainnya sebagaimana juga kehidupan rumah tangga beliau pun ditulis. Seandainya as-Sunnah menurut bekiau (Rasulullah s.a.w.) bukanlah syari’at dan agama tentunya tidaklah berbuat demikian dan tidak juga menggunakan segala sarana untuk menyebarkan dan menebarkannya. Lihatlah pernyataan Rasulullah s.a.w. kepada delegasi ‘Abd al-Qais setelah beliau menyambutnya dan mengajari mereka sebagian perkara agama:

احْفَظُوْه وَ أَخْبِرُوْهُ مَنْ وَرَاءَكُمْ

“Hafalkanlah dan beritahulah orang-orang yang di belakang kalian.” [HR al-Bukhari 1/30]

Seandainya as-Sunnah bukan termasuk agama tentulah beliau tidak akan memerintahkan untuk menghafal dan menyebarkannya dan tentulah tidak akan keluar dari beliau (Rasulullah s.a.w.) perintah mengikuti beliau seperti sabda beliau (Rasulullah s.a.w.).

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

“Shalatlah kalian sebagiamana kalian melihat aku shalat.” [HR al-Bukhari, 1/155]

Dan sabda beliau (Rasulullah s.a.w.):

لِتَأْخُذُوْا مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّيْ لاَأَدْرِيْ لَعَلِّيْ لاَأَحُجَ بَعْدَ حَجَتِيْ هَذَا

“Hendaklah kalian mengambil manasikku karena aku tidak tahu mungkin tidak berhaji setelah hajiku ini.” [HR Muslim, 4/79]

Dan tidak akan membebani para sahabatnya untuk menyampaikan sunnahnya sebagimana sabda beliau (Rasulullah s.a.w.)  ketika berhaji.

لِيُبَلِّغِ الشَاهِدُ الغَائِبْ

“Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.” [HR al-Bukhari, 1/24]

Demikian juga para sahabat demikian sungguh-sungguh dan semangatnya dalam mengambil as-Sunnah dan menghafalnya sampai-sampai mereka berjalan jauh untuk mendapatkan satu hadits, seandainya as-Sunnah bukanlah termasuk syari’at dan agama tentulah mereka tidak melakukan hal itu.

Ini semua membuktikan kebatilan syubhat mereka apalagi Allah SWT telah berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS al- Ahzâb/33: 21]

Adapun larangan menulis as-Sunnah memang ada di awal-awal Islam kemudian Rasuluhlah s.a.w. mengizinkan penulisannya sebagaimana izin beliau kepada Abû Syâh.[13]

5. Syubhat Kelima

Rasulullah s.a.w. membimbing para sahabat yang berjumpa dengan beliau sesuai dengan keadaan dan kondisi mereka, sehingga menciptakan kondisi hadits-haditsnya sesuai dengan zaman tersebut yang tidak sama dengan zaman sekarang sehingga sekarang tidak perlu lagi kita melihat kepadanya dan cukuplah al-Quran sebagai petunjuk bagi kita.

Berkata Al-Khajah dalam majalah al-Bayân, hal. 32 edisi Agustus 1951 M.: “Ketahuilah bahwa ketaatan kepada Rasulullah s.a.w. adalah ketaatan yang terkait dengan zamannya dan pelaksanaan hukum-hukumnya tidak melebihi kehidupannya dan telah tertutup permasalahan ini sejak meninggalnya beliau.”[14]

  • Bantahan

Sesungguhnya al-Quran telah menjelaskan kepada kita bahwa dakwah Rasulullah s.a.w. adalah dakwah yang umum dan menyeluruh kepada sekalian manusia baik Arab atau non-Arab dan tidak habis dengan wafatnya beliau bahkan akan terus-menerus sampai hari kiamat sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَآأَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” [QS Saba’/34: 28]

Dan pernyataan bahwa dakwah Rasulullah s.a.w. terbatas pada kelompok tertentu atau zaman tertentu adalah pernyataan yang tidak ada dasarnya dan menyelisihi kesepakatan kaum muslimin serta tidak dapat diterima akal yang sehat dan baik karena risalahnya menyeluruh untuk sekalian umat manusia maka tentunya sunnahnya pun demikian sehingga tidak ada perbedaan pelaksanaan amalan dengan dasar al-Quran dan dengan dasar as-Sunnah.

Demikianlah sebagian dari syubhat-syubhat mereka yang digunakan untuk menolak sunnah Rasulullah s.a.w.. Semoga Allah SWT selalu menjaga kita dari ketergelinciran dalam syirik dan bidah.

Âmîn.

[Disalin dari disempurnakan dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun V/1422H/2001M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]


[1]Lihat Al-Qurâniyyûn wa Syubhatuhum Haula as-Sunnah, hal. 210.

[2]Dinukil dari Al-Qurâniyyûn, hal. 211-212

[3]Lihat Al-Qurâniyyûn, hal. 213.

[4]Ibid.

[5]Dinukil dari Al-Qurâniyyûn, hal. 214.

[6]Lihat Al-Qurâniyyûn, hal. 216.

[7]HR Ahmad 4/131 dan Abu Daud 5/11 dari Al-Miqdam Ma’dikarriba al-Kindi.

[8]Dinukil dari Al-Qurâniyyûn, hal. 216.

[9]Lihat Manzilah as-Sunnah Fî Tasyrî’ al-Islâmiy, karya Muhammad Amân al-Jâmiy, hal. 19.

[10]Lihat Al-Qurâniyyûn, hal. 219.

[11]Ibid

[12]Lihat Al-Qurâniyyûn, hal. 223.

[13]Lihat kisahnya dalam Syarh Imâm an-Nawâwiy terhadap Shahîh Muslim, 18/129.

[14]Llihat Al-Qurâniyyûn, hal. 231.