MENCARI PEMIMPIN IDEAL

Oleh: Muhsin Hariyanto

Kita butuh pemimpin ideal, yang berkemampuan untuk memberi suri teladan seperti Nabi kita,  Muhammad s.a.w.,  Seorang yang memiliki karakter utuh: Shiddiq, Fathanah, Amanah, dan Tabligh. Karena kepemimpinannya, masyarakat jahiliyah yang dipimpinya menjadi komunitas yang tercerahkan dan mencerahkan.

Awal tahun 2009 ini, di negeri kita tercinta – Indonesia — wacana pemimpin dan kepemimpinan semakin hangat dibicarakan. Bahkan pelbagai diskusi dan dialog dibula lebar-lebar, baik dari kalangan politisi, pengamat, kampus sampai di kursi-kursi warung kopi. Berbagai macam asumsi pun diajukan, hingga berupa tawaran gagasan kepemimpinan yang dianggap sesuai dan menjadi model bagi negeri kita ini.

Kita tahu, bahwa pemimpin – dalam konteks kepemimpinan — adalah suatu peran dalam sistem tertentu, karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki keterampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Adapun istilah kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan keterampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang. Oleh sebab itu kepemimpinan boleh jadi dimiliki oleh orang yang bukan “pemimpin”.

Seorang pemimpin adalah orang yang mau belajar terus-menerus, membaca, berlatih, dan mendengarkan masukan. Dia adalah pelayan yang melihat hidup sebagai suatu “misi” dan bukan sekadar “karir”, apalagi peluang untuk memperoleh kue-kekuasaan. Dia pancarkan energi positif, sikap optimis, berpikir positif dan inovatif. Dia adalah orang yang bisa mempercayai orang lain, tidak bereaksi berlebihan pada setiap perilaku negatif, kritik dan kelemahan. Dia hidup dalam keseimbangan, memperhatian keseimbangan jasmani dan ruhani, antara yang tradisional dan modern, dan tentu saja tekstual dan kontekstual. Seorang pemimpin akan melihat hidup sebagai perjalanan hidup. Dia hargai hidup di luar kenyamanan. Dia adalah orang yang sinergistik, memilih untuk memfokuskan diri pada kepentingan komunitas yang dipimpinnya, dan mampu membina energi-energi yang dimiliki kelompoknya.

Dalam hal ini, Islam mengajarkan bahwa seorang pemimpin dituntut (untuk) mampu menampilkan kepribadian yang ber-akhlaqul karimah (memiliki moralitas yang baik), qana’ah (sederhana), dan istiqamah (konsisten/tidak ambivalen). Sedangkan berdasarkan suri tauladan kepemimpinan Nabi Muhammad s.a.w. adalah: Shiddiq artinya jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan. Fathanah artinya cerdas, memiliki intelektualitas tinggi dan profesional. Amanah artinya dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel. Tabligh artinya senantiasa menyampaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan, dan komunikatif.

Memang ironis! Di ketika kita memiliki sangat banyak bacaan, sangat banyak referensi, banyak pula perbandingan yang boleh dipetik dari kesalahan-kesalahan, tetapi kita terpuruk dalam wilayah krisis kepemimpinan. Bahkan dalam setiap ajang pemilihan yang paling demokratis pun untuk memilih pemimpin baik di ranah nasional maupun lokal, kita gagal menghadirkan sosok pemimpin yang terbaik.

Persolaan pokonya ternyata bukan hanya pada kesalahan rakyat pemilihnya, tetapi faktor terbesar — yang menghadirkan kesalahan yang terus berulang itu — adalah terletak pada gagalnya instrumen demokrasi kita untuk menempa, menyeleksi dan menghadirkan sosok-sosok pemimpin yang mumpuni. Karena mulai dari input dan proses yang tidak ‘bergaransi’ terbaik dan terpercaya, maka output yang disodorkan sebagai ‘multiple choice’ bagi rakyat adalah pilihan-pilihan sosok-sosok pemimpin yang bermasalah dan kurang baik. jika tidak boleh dikatakan ‘jelek’.

Hal ini dapat terlihat, bagaimana mungkin menjadi pemimpin yang bakal memimpin bangsa besar tetapi karakteristik calon para pemimpin kita adalah orang-orang yang terjebak atau terperangkap dalam kepentingan partai atau kelompok, dan mereka terperangkap dalam kepentingan-kepentingan sempit. Apalagi memang jika dilihat dari sisi keteladanan, jauh dari kata ‘memadai’.

Selain itu, saat ini terbukti, kita semakin susah mencari seorang pemimpin yang memiliki kemampuan mendamaikan, yang bisa diterima dan dipercaya menjadi ‘penengah’ yang tidak berpikir untuk kepentingan sesuatu kelompok atau pribadinya. Sebab pemimpin yang seperti itu harus memiliki kapabilitas, kredibilitas dan integritasnya yang tinggi, sehingga bisa diterima oleh berbagai pihak.

Jika kita melakukan kilas balik ke belakang, sesungguhnya dahulu kala, ketika pada era kepemimpinan tokoh-tokoh non-formal dalam masyarakat, kita pernah melihat masa kepemimpinan dimana ketika setiap ucapan mereka menjadi fatwa, ketika itu mereka amat disegani. Tapi kini entah siapa yang salah, nilai-nilai itu nampaknya telah bergeser. Bukan sekadar salah rakyat yang tidak lagi menghormati para pemimpinnya, karena tidak sedikit pemimpin yang tidak lagi menunjukkan sikap keteladanan , serta tak lagi bersikap “amanah”.

Merujuk pada konsep kepemimpinan, minimal ada tiga aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Pertama, kapabilitas (capability) – kemampuan; kedua, kredibilitas (credibility) – dapat dipercaya dan ketiga, integritas (integrity) – kejujuran. Bila ketiga faktor ini telah dimiliki oleh seorang pemimpin, maka orang ini sudah termasuk pemimpin yang berkepribadian mulia. Dia akan mampu membawa masyarakatnya kepada kebahagiaan dan kesejahteraan.

Orang bijak selalu mengatakan, bahwa kekuasaan dan kepemimpinan sesungguhnya merupakan amanah dari rakyat. Bila sang pemimpin memperoleh kekuasaan maka kekuasaan itu haruslah dipergunakan sebaik-baiknya untuk peningkatan kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat.

Dalam alam-demokrasi, pada pemilu 2009 yang akan dating, memang tidak ada larangan bagi semua warga untu berpartisipasi, ikut bersaing untuk meraih jabatan publik. Hanya saja semua memerlukan ‘fatsoen‘ (etika) politik. Jangan sampai gara-gara ingin jadi pemimpin, lalu bertindak gaya “koboi”. Yang penting tujuan tercapai dengan cara apa pun. Ini yang semestinya dihindari. Cuma, siapa yang bisa menjamin bahwa semua tindakan tidak-etis itu akan tidak pernah muncul dalam kampanye politik?

Yang aneh, bahkan imbauan-imbauan dari banyak pihak, tak satu pun yang menyentuh sisi ini. Alih-alih ada imbauan “moral” yang lantang, malah yang datang – tiba-tiba — justru fatwa sekelompok orang yang cukup otoritatif mengenai “golput”. Tentu saja hal ini cukup membingungkan banyak pihak. Utamanya sempat membuat kaget sejumlah komponen anak-bangsa yang kini sudah mulai memiliki budaya politik “partisipan”, dan bahkan para calon pemilih yang sedang berproses untuk berbudaya politik subjek. Kata orang, sekarang ini budaya politik masyarakat kita sudah bukan ‘budaya politik parokial ‘ lagi. Sehingga banyak orang – di seputar kita — bertanya: “kemana arah fatwa ini?.

Munculnya kepemimpinan nasional ‘Orde Pembaruan’ pasca pemilu 2009 sekarang memang sangat diharapkan oleh seluruh lapisan masyarakat yang sadar akan makna kepemimpinan. Tapi, kenyataan menunjukkan masih adanya calon-calon pemimpin yang sengaja menawarkan diri untuk dipilih menjadi pemimpin dengan motif yang — diduga kuat — sangat berorientasi pada “ghanimah” (kepemilikan ‘kekayaan’).

Pada pemilu 2009 ini, orang berharap ‘ada’ kejujuran dan keterbukaan dari masing-masing calon pemimpin kita (termasuk tim suksesnya), agar rakyat bisa memilih yang terbaik dan tidak khawatir untuk menjadi — yang potensial — tertipu lagi.

Akhirnya, penulis pun berharap:  andai saat ini tersedia calon-calon pemimpin yang bisa memberi suri teladan seperti Nabi kita, Muhammad s.a.w.,  yang memiliki karakteristik: shiddiq (jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan); fathanah (cerdas, memiliki intelektualitas tinggi dan profesiona)l; amanah (dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel); dan tabligh (senantiasa menyampaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan, dan komunikatif),  bisa kita harapkan pada pemilu 2009 nanti tak perlu ada calon pemilih yang bersikap ‘golput’. Dan, untuk selanjutnya para ulama tak perlu repot-repot lagi menerbitkan fatwa yang semacam itu.

Penulis adalah Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Luar Biasa STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta.

(Sumber: Suara ‘Aisyiyah)