Mencermati Budaya “Rabu Wekasan”

Fenomena “Rebo Wekasan” atau yang sering juga disebut orang Jawa dengan sebutan “Rebo Pungkasan”, bukan hanya terjadi di tanah air. Karena ternyata, kaum muslimin di belahan dunia lain juga turut meributkan Rebo Bulan Shafar. Rebo Wekasan (Rebo Pungkasan) dalam bahasa Jawa, ‘Rebo’ artinya hari Rabu, dan ‘Wekasan’ atau ‘Pungkasan’ artinya terakhir. Kemudian istilah ini dipakai untuk menamai hari Rabu terakhir pada bulan Shafar.

Ada Apa Dengan Rebo Wekasan?

Mereka yang punya perhatian dengan Rebo Wekasan berkeyakinan bahwa setiap tahun akan turun 320.000 bala’, musibah, atau bencana, dan persitiwa ‘buruk’ itu akan terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Shafar.  Berarti, peristiwa itu akan terjadi: “hari ini”.

Karena keyakinan ini, sebagian orang mengimbau untuk melakukan bentuk ibadah khusus pada hari itu. Terutama orang ‘Syiah’. Di berbagai ‘forum online’, mereka sangat antusias membicarakan budaya Rebo Wekasan ini. Tidak lupa mereka sebutkan sederet amalan sebagai upaya tolak bala’, yang sama sekali tidak pernah dicontohkan dalam Islam (baca: “tidak ada satu pun hadits dan riwayat yang shahih yang bisa dirujuk sebagai acuan dalam hal ini”).

Di antara amalan tersebut adalah mengerjakan shalat empat raka’at dengan satu kali salam, dalam rangka tolak bala’. Shalat ini dikerjakan pada waktu dhuha atau setelah terbit matahari. Pada setiap raka’at membaca surat Al-Fatihah kemudian surat Al-Kautsar 17 kali, surat Al-Ikhlas 50 kali, Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nâs) masing-masing satu kali. Ketika salam membaca (potongan) QS Yusuf [12]: 21,

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.

“… dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”

(Potongan) ayat ini dibaca sebanyak 360 kali.

Kemudian ditambah dengan Jauharatul Kamâl (teks)[1] dan (terjemah)[2](bacaan yang dianggap di kalangan pengikut tarekat memiliki keutamaan yang sangat banyak) tiga kali dan ditutup dengan bacaan (QS Ash-Shaffât [37]: 180-182) berikut:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

“Maha suci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.”

Kegiatan ini dilanjutkan dengan memberikan sedekah makanan kepada fakir miskin. Tidak cukup sampai di situ, ada juga yang menyuruh untuk membuat rajah-rajah dengan model tulisan tertentu pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam sumur, bak kamar mandi, atau tempat-tempat penampungan air lainnya.

Mereka berkeyakinan, siapa yang melakukan ritual tersebut pada rebo wekasan, dia akan terjaga dari segala bentuk musibah dan bencana yang turun ketika itu.

Sumber Referensi yang kami jumpai yang membahas masalah ini adalah kitab Kanzun Najah karya Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds. Salah satu tokoh Sufi, murid Zaini Dahlan. Dalam buku tersebut, dia menyatakan di pasal: Hal-hal yang dianjurkan ketika bulan Shafar,

اعلم…أن مجموع الذي نقل من كلام الصالحين كما يعلم مما سيأتي أنه ينزل في آخر أربعاء من صفر بلاء عظيم، وأن البلاء الذي يفرِّق في سائر السنة كله ينزل في ذلك اليوم، فمن أراد السلامة والحفظ من ذلك فليدع أول يوم من صفر، وكذا في آخر أربعاء منه بهذا الدعاء؛ فمن دعا به دفع الله سبحانه وتعالى عنه شرَّ ذلك البلاء. هكذا وجدته بخط بعض الصالحين

(Ketahuilah bahwa sekelompok nukilan dari keterangan orang shaleh – sebagaimana nanti akan diketahui – bahwa pada hari rabu terakhir bulan Shafar akan turun bencana besar. Bencana inilah yang akan tersebar di sepanjang tahun itu. Semuanya turun pada hari itu. Siapa yang ingin selamat dan dijaga dari bencana itu, maka berdoalah di tanggal 1 Shafar, demikian pula di hari rabu terakhir dengan doa yang sama. Siapa yang berdoa dengan kalimat itu maka Allah akan menyelamatkannya dari keburuhan musibah tersebut. Inilah yang aku temukan dari tulisan orang-orang shaleh).

Selanjutnya, penulis menyebutkan beberada doa yang dia ajarkan. (Kanzun Najâh, hlm. 49).

Sebagai orang beriman daan meyakini bahwa sumber syariat adalah Al-Quran dan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu saja berita semacam ini tidak boleh kita percaya. Karena kedatangan bencana di muka bumi ini, merupakan sesuatu yang ghaib dan tidak ada yang tahu kecuali Allah. Satu-satunya cara untuk mengetahui hal itu adalah melalui wahyu Al-Quran dan sunah. Sementara penulis sama sekali tidak menyebutkan sumber selain klaim bahwa itu tulisan orang shaleh. Terlebih tidak ada keterangan dari sahabat maupun ulama masa silam yang menyebutkan hal ini.

Al-Lajnah ad-Dâimah Li al-Buhûts al-‘Ilmiyah wa al-Iftâ’ (sebuah lembaga kajian dan riset ilmiah dan fatwa di Saudi Arabia) pernah ditanya tentang ritual ‘Rebo Wekasan’ yang dilakukan di akhir Shafar.

Jawaban yang diberikan,

هذه النافلة المذكورة في السؤال لا نعلم لها أصلا من الكتاب ولا من السنة، ولم يثبت لدينا أن أحدا من سلف هذه الأمة وصالحي خلفها عمل بهذه النافلة، بل هي بدعة منكرة، وقد ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد. ومن نسب هذه الصلاة وما ذكر معها إلى النبي صلى الله عليه وسلم أو إلى أحد من الصحابة رضي الله عنهم فقد أعظم الفرية، وعليه من الله ما يستحق من عقوبة الكذابين‏.‏ وبالله التوفيق‏.‏ وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم‏.‏

(Amalan seperti yang disebutkan dalam pertanyaan, tidak kami jumpai dalilnya dalam al-Quran dan as-Sunnah. Tidak juga kami ketahui bahwa ada salah satu ulama masa silam dan generasi setelahnya yang mengamalkan ritual ini. Jelas ini adalah perbuatan bid’ah. Dan terdapat hadis shahih dari Nabi s.a.w., beliau bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang membuat hal yang baru dalam agama ini, yang bukan bagian dari agama maka dia tertolak.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dari ‘Aisyah r.a., dan lain-lain)

Siapa yang beranggapan ritual semacam ini pernah dilakukan Nabi s.a.w. atau pernah dilakukan sahabat r.a., maka dia telah melakukan “kedustaan yang besar”. Dia berhak mendapatkan hukuman sebagaimana pendusta di sisi Allah).

Ingat peringatan Nabi s.a.w.:

لاَ تَكْذِبُوا عَلَيَّ ، فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّار.

“Janganlah kalian berdusta terhadapku (atas namaku), karena barangsiapa berdusta terhadapku dia akan masuk neraka.” (Hadits Riwayat al-Bukhari dari ‘Ali bin Abi Thalib, Shahîh al-Bukhâriy, I/38, hadits nomor 106)

Oleh karena itu, andaikata ada orang yang menganggap bahwa budaya ini adalah bagian dari syari’at Islam, bahkan merupakan ibadah yang disyari’atkan dalam Islam dengan mengatasanamakan Nabi s.a.w. atau para sahabatnya, padahal sama sekali tidak ada tuntunan (rujukan) nashnya, maka yang bersangkutan telah bisa dainggap melakukan ‘bid’ah yang tercela karenanya. Apalagi ketika berbohong dengan menyatakan ‘ada’ tuntunannya dari Nabi s.a.w., maka orang tersebut layak dianggap sebagai ‘orang yang telah melakukan kebohongan atas nama nabi’, dan oleh karenanya ‘pantas’ diancam dengan ancaman sebagaimana yang tersebut dalam hadits di atas.

Wallâhu A’lam.

Lampiran:

Shalawat Jauharatul Kamâl:

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْيَاقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ بِمَرْكَزِ الْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِيّ، وَنُوْرِ اْلأَكْوَانِ الْمُتَكَوِّنَةِ اْلأدَمِيِّ صَاحِبِ الْحَقِّ اْلرَّبَّانِيّ، اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوْنِ اْلأَرْبَاحِ الْمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِي، وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِهِ كَوْنَكَ الْحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ الْمَكَانِي، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ الْحَقِّ الَّتِى تَتَجَلَّى مِنْهَا عُرُوْشُ الْحَقَائِقِ عَيْنِ الْمَعَارْفِ اْلأَقْـوَمِ صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلأَسْقَمِ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى طَلْعَةِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ إِحَاطَةِ النُّوْرِ الْمُطَلْسَمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ صَلاَةً تُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ  . 

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada Nabi Muhammad. Ia adalah haqiqat rahmat sifat-sifat Tuhan, ia bagaikan mutiara yang yang mengetahui semua nama-nama (asma’) dan sifat-sifat Allah, ia yang menjadi pusat pengetahuan yang mencakup seluruh pengetahuan yang diberikan kepada makhluk, ia yang menjadi penerang (cahaya) segala sesuatu yang ada termasuk manusia, ia yang membawa (mempunyai) agama Allah, ia adalah al-Haqiqat al-Muhammadiyyah (Hakikat Muhammad) yang bagaikan kilat bahkan lebih dari kilat yang dibuktikan dengan mengalir dan berlimpah rahmat Tuhan kepada setiap orang  yang menghadap-Nya. seperti halnya para nabi dan para wali, ia yang menjadi cahaya Tuhan yang menerangi seluruh makhluk di setiap tempat. Ya Allah ! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada Nabi Muhammad yang menjadi ‘ain al-Haqq (wujud keadilan, pemilik kebenaran)., telah tampak dari padanya seluruh Hakikat keadilan yang seperti ‘arsy sebagi sumber seluruh ilmu, yaitu ilmu Engkau yang terdahulu, jalan Engkau yang sempurna dan lurus. Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamtan-Mu kepada Nabi Muhammad yang merupakan mazhar (manifestasi) dan tajalli, ia yang menjadi gudang (tempat penyimpanan) ilmu dan rahmat-Mu Yang Maha Besar, ia tempat datangnya kasih-Mu, ia yang meliputi seluruh cahaya yang tersimpan. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya dan kepada keluarganya, yang dengan sebab rahmat tersebut kami bisa mengetahui haqiqat.”

Shalawat Jauharatul Kamâl adalah salah satu shalawat yang menjadi Wazhîfah (tugas rutin) dalam Thariqah Tijaniyyah selain shalawat al-Fatih yang dibaca secara berjamaah ataupun dalam keadaan sendiri. Redaksi shalawat Jauharatul Kamal diajarkan langsung oleh Sayyidul Wujud Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Sayyidi Syaikh al-Imam Ahmad Ibn Muhammad At-Tijaniy (1150-1230 H, 1737-1815 M) dalam keadaan sadar/jaga (bukan mimpi). Sebagaimana dijelaskan oleh Sayyidi Syaikh al-Imam Muhammad al-Arabiy al-Tijaniy:

جَوْهَرَةُ الْكَمَالِ مِنْ إِمْــلاَءِ

                            اِمَـامِ اْلاِرْسَـالِ وَاْلأَنْبِيَاءِ

عَلَى حَبِيْبِهِ الْوَلِـيِّ الْعَالِـمِ

                   قُطْبِ الْوَرَى أَحْمَـدَ نَجْلِ سَالِـمِ

Artinya:”Shalawat Jauharatul Kamâl berasal dari ucapan Nabi Muhammad yang merupakan pemimpin para Rasul dan Nabi. Yang disampaikan kepada kekasihnya seorang wali yang A’lim, manusia terkemuka yaitu Syaikh al-Imam Ahmad al-Tijaniy merupakan keturunan syaikh Ibn Salim.”[1]

Syaikh Muhammad Fathan Ibn Abdul wahid al-Susiy al-Nazhifiy berkata:

وَمَنْ تَوَهَّمَ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنْقَطَـعُ جَمِيْعُ مَدَدِهِ عَلَى أُمَّتِهِ بِمَوْتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَسَائِرِ اْلأَمْوَاتِ ، فَقَدْ جَهِلَ رُتْبَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَسَاءَ اْلأَدَبَ مَعَهُ وَيُخْشَى عَلَيْهِ أَنْ يَمُوْتَ كَافِراً ، إِنْ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَذَا اْلاِعْتِقَادِ .

Artinya:” Siapa saja yang meragukan Rasulullah dengan mengatakan bahwa bantuan Rasulullah telah terputus kepada umatnya dengan sebab wafatnya beliau sama seperti halnya mayyit yang lain, maka sungguh ia tidak mengenal sama sekali akan kedudukan Rasulullah dan ia telah melakukan adab yang buruk kepada Rasulullah, dikhawatirkan ia mati dalam keadaan kafir jika ia tidak bertaubat dari keyakinan seperti itu.”[2]

Redaksi Shalawat Jauharatul Kamâl, tampaknya lebih menjelaskan atau menafsirkan kalimat yang terdapat dalam shalawat al-Fâtih, yakni pada kalimat (اَلْفَاتِحِ لِمَا اُغْلِقَ)  Misalnya, shalawat tersebut mengungkapkan sifat-sifat Nabi Muhammad, sebagai Hakikat rahmat dari sifat-sifat Tuhan, yang merupakan pusat pengetahuan. Kemudian dikatakan bahwa Nabi Muhammad, sebagai al-Haqiqat al-Muhammadiyyah yang memiliki sifat yang dipuji, yang mengalir dan menyinari keseluruh alam. Selanjutnya dikatakan bahwa Nabi Muhammad, sebagai wujud yang paling sempurna, dengan ungkapan (الخاتم لما سبق).

Makna  al-Fâtih li Mâ Ughliqa pada intinya adalah :

Nabi Muhammad s.a.w. adalah sebagai pembuka belenggu ketertutupan segala yang maujûd (ada) di alam.

Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pembuka keterbelengguan al-Rahmah al-Ilâhiyyah (kasih sayang Tuhan) bagi para makhluk di alam.

Hadirnya Nabi Muhammad s.a.w. menjadi pembuka hati yang terbelenggu oleh syirik.

Sedangkan makna al-Khâtimi li Mâ Sabaq pada intinya adalah :

Nabi Muhammad s.a.w. sebagai penutup kenabian dan kerasulan.

Nabi Muhammad s.a.w. menjadi kunci kenabian dan kerasulan.

Tidak ada harapan kenabian dan kerasulan lagi bagi yang lainnya.

Pemikiran-pemikiran (faham) tasawuf Syaikh Ahmad al-Tijaniy terkandung dalam penafsirannya tentang makna al-Fâtih li Mâ Ughliq dan al-Khâtim li Mâ Sabaq. Syaikh Ahmad al-Tijani mengatakan bahwa al-Fâtih li Mâ Ughliq mempunyai makna bahwa Nabi Muhammad s.a.w. merupakan pembuka segala ketertutupan al-Maujûd (yang ada di alam). Alam pada mulanya terkunci (mughallaq) oleh ketertutupan batin (Hujûbaniyyât al-Buthn). Wujud Nabi Muhammad s.a.w. menjadi “sebab”  atas terbukanya seluruh belenggu ketertutupan alam dan menjadi “sebab” atas terwujudnya alam dari “tiada” menjadi “ada”. Karena wujud Nabi Muhammad s.a.w. alam keluar dari “tiada” menjadi “ada”, dari ketertutupan sifat-sifat batin menuju terbukanya eksistensi diri alam (nafs al-Akwân) di alam nyata (lahir). Jika tanpa wujud Nabi Muhammad s.a.w., Allah tidak akan menciptakan segala sesuatu yang wujud, tidak mengeluarkan alam ini dari “tiada” menjadi “ada”. Imam Muhammad Ibn Said al-Bushiriy mengatakan dalam al-Burdah:

وَكَيْفَ تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَةُ مَنْ

                     لَوْلاَهُ لَمْ تَخْرُجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَـدَمِ

Artinya:” Bagaimana mungkin kesusahan beliau dapat menyeru kepada dunia, padahal kalau bukan karena beliau dunia ini tidak tercipta.”

Ungkapan sifat-sifat Nabi Muhammad s.a.w. di atas, menunjukan bahwa Syaikh Ahmad al-Tijaniy merumuskan maqâm Nabi Muhammad s.a.w. sebagaimana telah dikemukakan para sufi terdahulu, terutama dalam menyifati pemahaman mereka terhadap haqîqah (Hakikat) Nabi Muhammad s.a.w., tidak dapat dibantah bahwa ia sependapat, bahkan ia menjelaskan konsep dasar tersebut.

Hal ini, menunjukan bahwa dari aspek pemikiran, Syaikh Ahmad al-Tijaniy menganut tasawuf falsafi sedangkan konsep-konsep dasar tasawufnya: Nur Muhammad, Ruh Muhammad, al-Haqiqat al-Muhammadiyyah. Dengan demikian, bahwa corak (paham) tasawuf yang digunakan oleh Syaikh Ahmad al-Tijaniy adalah corak (paham) tasawuf yang dikembangkan oleh Imam ‘Abdul Karim al-Jiliy dengan konsep dasar al-Insan al-Kamil, yang berasal dari Imam Ibn Arabiy dengan konsep Haqiqat al-Muhammadiyah. Terlepas apakah Syekh Ahmad al-Tijani terpengaruh oleh pemikiran filosofis Abd. Karim al-Jili  yang berasal dari Ibn. ‘Arabi atau tidak, corak pemikiran tasawuf demikian dikembangkan oleh dua sufi tersebut. Pemikiran Syaikh Ahmad al-Tijaniy “mengawinkan”, menyatukan kembali dua corak {faham} tasawuf  yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi yang telah “bercerai” sejak abad ketiga Hijriyah sehingga masing-masing mempunyai metodologi tersendiri.

Inilah yang dimaksud bahwa Thariqat Tijani merupakan thariqat yang terakhir dan seluruh thariqat akan masuk kedalam lingkup ajarannya, dalam arti seluruh amalan sufi {wali} dan seluruh corak pemikiran para sufi terakomodir dalan ajaran thariqat yang dikembangkannya, hal ini bisa dimengerti karena cahaya maqam wali khatm merupakan sumber seluruh cahaya kewalian. Sebagai perbandingan seluruh syari’at para nabi terakomodir kedalam syari’at Nabi Muhammad, karena syari’at para nabi bersumber dari cahaya Khatm an-Nabiyyin (penutup para nabi).

Keutamaan Shalawat Jauharatul Kamâl

Di antara keutamaan membaca shalawat Jauharatul Kamâl yang disebutkan langsung oleh Rasulullah s.a.w. kepada Imam Ahmad Ibn Muhammad al-Tijaniy sebagai berikut :

أَنَّ الْمَرَّةَ الْوَاحِدَةَ تَعْدِلُ تَسْبِيْحَ الْعَالَمِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Artinya:” Membaca shalawat Jauharatul Kamâl sekali, pahalanya menyamai tiga kali lipat tasbihnya alam.”

أَنَّ مَنْ قَرَأَهَا سَبْعَ مَرَّاتٍ فَأَكْثَرَ يَحْضُرَهُ رُوْحُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْخُلَفَاءِ اْلأَرْبَعَةِ مَا دَامَ يَذْكُرُهَا

Artinya:” Siapa yang membacanya 7 kali atau lebih, maka akan didatangi Ruh Nabi Muhammad dan 4 Khulafaur Rasyidin selama ia dalam keadaan membaca shalawat itu.”

 أَنَّ مَنْ لاَزَمَهَا أَزْيَدَ مِنْ سَبْعِ مَرَّاتٍ يُحِبُّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَحَبَّةً خَاصَّةً وَلاَ يَمُوْتُ حَتَّى يَكُوْنَ مِنَ اْلأَوْلِيَاءِ

Artinya:” Siapa saja yang melazimi membacanya lebih dari 7 kali, maka ia akan sangat dicintai oleh Rasulullah sebenar-benar cinta khusus dan ia tidak akan meninggal dunia sehingga menjadi salah satu dari para kekasih Allah.”[3]

Adapun keutamaan shalawat Jauharatul Kamâl yang disebutkan oleh Imam Ahmad Ibn Muhammad al-Tijaniy adalah:

 مَنْ دَاوَمَ عَلَيْهَا سَبْعًا عِنْدَ النَّوْمِ عَلَى طَهَارَةٍ كَامِلَةٍ وَفِرَاشٍ طَاهِرٍ يَرَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya:” Siapa saja yang konsisten membacanya 7 kali menjelang tidurnya dalam keadaan bersuci yang sempurna dan di tempat tidur yang suci (tidak ada najis), maka ia akan melihat Nabi Muhammad.”[4]

قَالَ الشَّيْخُ أَحْمَدُ التِّجَانِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَعْطَانِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةً تُسَمَّى بِجَوْهَرَةِ الْكَمَالِ مَنْ ذَكَرَهَا اثْنَتَيْ عَشْرَةَ مَرَّةً وَقَالَ : هَذِهِ هَدِيَّةٌ مِنِّي اِلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ , فَكَأَنَّمَا زَارَهُ فِي رَوْضَتِهِ الشَّرِيْفَةِ, وَكَأَنَّمَا زَارَ أَوْلِيَاءَ اللهِ تَعَالَى وَالصَّالِحِيْنَ مِنْ أَوَّلِ الْوُجُوْدِ اِلَى وَقْتِهِ وَفِي رِوَايَةٍ اِلَى اْلأَبَـدِ

Artinya:” Syaikh Ahmad al-Tijaniy berkata: Rasulullah memberikan kepadaku redaksi shalawat yang dinamai Jauharatul Kamâl, siapa saja yang telah membacanya sebanyak 12 kali dan berkata: Shalawat ini aku hadiahkan kepada engkau Ya rasulullah. Maka seakan-akan ia menziarahi Rasulullah di Raudhahnya yang mulia dan seolah-olah ia telah menziarahi para wali Allah besera menziarahi orang-orang shalih dari sejak zaman Nabi Adam sampai waktu ia membacanya bahkan riwayat lain menyebutkan sampai dunia musnah.”

Syaikh Muhammad Fathan Ibn Abdul wahid al-Susiy al-Nazhifiy mengumpulkan keutamaan shalawat Jauharatul Kamâl dalam Nazham al-Durratul Khâridah:

بِسَابِعَةٍ مِنْهَا حُضُوْرُ نَبِيِّنَا

                  مَعَ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَقُدْوَتِي

Dengan membaca 7 kali Jauharatul Kamâl, akan hadir Nabi Muhammad beserta para Khulafaur Rasyidin dan Syekh Ahmad al-Tijaniy.

وَلَوْ دُمْتَ ذِكْرَهَا دُهُوْرًا طَوِيْلَةً

                  لَمَا فَارَقُوْكَ بِالذَّوَاتِ الْكَرِيْمَةِ

Seandainya engkau konsisten membacanya sampai masa yang lama, maka mereka semua tidak akan meninggalkan engkau dengan zat mereka yang mulia.

وَتَغْيِيْرُ جِلْسَةٍ بِهَا لِلتَّأَدُّبِ

                  جَرَى عَمَلٌ بِهِ لَدَا جُلِّ اِخْوَتِي

Mengubah posisi duduk kepada duduk yang lebih bagus lantaran menjalankan adab (atas kehadiran Nabi beserta para khalifah dan syaikh Ahmad al-Tijaniy). Adab seperti itu menjadi kebiasaan di sisi pembesar saudaraku (pengikut Tijaniyyah).

وَمَنْ دَامَ عِنْدَ النَّوْمِ سَبْعًا يَرَى النَّبِيّ

                 بِشَرْطِ الْوُضُوْءِ مَعْ طَهَارَةِ بُقْعَةِ

Siapa saja yang selalu membacanya ketika hendak tidur sebanyak 7 kali, maka ia akan melihat Nabi Muhammad, dengan syarat ia memiliki wudhu dan tempat tidurnya suci (tidak ada najis).

وَتَالٍ لَهَا اثْنَتَيْنِ مَعْ عَشْرَةٍ كَأَنَّ

                      مَا زَارَ أَحْمَدَ النَّبِيَّ بِرَوْضَةِ

Yang membacanya sebanyak 12 kali seakan-akan ia telah menziarahi Nabi Muhammad di Raudhah.

وَكُلِّ نَبِيٍّ مَعْ وَلِيٍّ مِنْ أَدَمَا

                 اِلَى وَقْتِ ذِكْرِهَا بِإِذْنِ الْوَسِيْلَةِ

Seolah-olah ia juga telah menziarahi seluruh Nabi dan para wali dari sejak zaman Nabi Adam sampai ketika ia membaca  shalawat tersebut dengan catatan bahwa ia telah mendapat izin dari Syaikh Ahmad al-Tijaniy dan pengikutnya.

وَبَعْدَ الْفَرَاغِ قُلْ بِقَلْبِ مَذَلَّةٍ

                   اِلَيْكَ رَسُوْلَ اللهِ هَذِى هَدِيَّتِي

Setelah selesai membaca jauharatul kamal maka katakanlah olehmu dengan hati yang penuh ketundukan dan khusyu’: “Aku hadiahkan shalawat ini kepada engkau Ya Rasulullah.

وَخَمْسًا وَسِتِّيْنَ اتْلُهَا عِنْدَ شِدَّةِ

                      وَلِلْخَيْرِ مَرَّةً بُعَيْدَ الْفَرِيْضَةِ

Bacalah Jauharatul Kamâl sebanyak 65 kali ketika terjadi kesulitan dan kepelikan dan bacalah satu kali setiap selesai mengerjakan shalat fardhu untuk mendapatkan segala kebaikan.[5]

Dikutip dari Risalah:

مَوْهَبَةُ ذِيْ الْجَــلاَل

لِمَنْ قَرَأَ جَوْهَـرَةَ الْكَمَال  

جمع وترتيب 

الحاج رزقي ذوالقرنين أصمت البتاوي

 الراجي الى رحمة ربه العزيز القوي

غفر الله له ولوالديه عن المساوي

                        آمين         


[1] Syaikh Muhammad al-Arabiy Ibn al-Saih al-Tijaniy, Bughyah al-Mustafid Syarh Munyah al-Murîd  h. 377.

[2] Syaikh Muhammad Fathan Ibn Abdul Wahid al-Susiy al-Nazhifiy, al-Durrah al-Khâridah Syarh al-Yaqûtah al-Fâridah vol. 4  h. 203.

[3] Syaikh Ali Harazim al-Maghribiy, Jawâhir al-Ma`âni Wa Bulûgh al-Amaniy Fi Faidh Sayyidî Abi al-‘Abbâs al-Tijâniy vol. 2  h. 260.

[4] Ibid.

[5] Syaikh Muhammad Fathan Ibn Abdul Wahid al-Susiy al-Nazhifiy, al-Durrah al-Khâridah Syarh al-Yaqûtah al-Fâridah vol. 4  h. 66-67.


Perhatian:

Persyaratan membaca shalawat ini:

Wajib bersuci atau berwudhu dengan sempurna .. jika bertayammum tidak mencukupi syarat dan tidak diperkenankan membaca shalawat ini

Wajib suci tempat, pakaian, badan dari najis dan hadats

Wajib dibaca pada tempat yg agak luas sekira muat 6 orang

Jangan dibaca saat di kendaraan baik darat, laut maupun udara.

Orang yg beristinja’ (cebok) pake tisu atau sejenisnya yang bukan menggunakan air maka ia tidak diperbolehkan membaca shalawat ini walaupun ia ketika berwudhu pakai air. Lantaran bersuci yang ia lakukan tidak tahaqquq (sempurna) kata orang betawi ‘kaga danta’.

mendapat izin dari orang yang telah mendapat ijazah dari para masyâyikh.

(Dikutip dan diselaraskan dari http://www.konsultasisyariah.com/rebo-wekasan/ dan http://yayasanalmuafah.wordpress.com/2012/09/11/shalawat-jauharatul-kamal-fi-madh-khair-al-rijal/)


[1] اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْيَاقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ بِمَرْكَزِ الْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِيّ، وَنُوْرِ اْلأَكْوَانِ الْمُتَكَوِّنَةِ اْلأدَمِيِّ صَاحِبِ الْحَقِّ اْلرَّبَّانِيّ، اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوْنِ اْلأَرْبَاحِ الْمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِي، وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِهِ كَوْنَكَ الْحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ الْمَكَانِي، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ الْحَقِّ الَّتِى تَتَجَلَّى مِنْهَا عُرُوْشُ الْحَقَائِقِ عَيْنِ الْمَعَارْفِ اْلأَقْـوَمِ صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلأَسْقَمِ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى طَلْعَةِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ إِحَاطَةِ النُّوْرِ الْمُطَلْسَمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ صَلاَةً تُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ

[2]Artinya: Ya Allah, Limpahilah Rahmat dan Kesejahteraan ke atas Hakikat Rahmat Ketuhanan, mutiara yang terang benderang memancar dengan rahsia pengertian dan pernyataan, cahaya segala sesuatu yang menjadikan manusia wadah Kebenaran Ketuhanan, yang bagaikan kilat memancar dengan melimpahkan curahan rahmat kepada setiap orang yang menghadap-Nya daripada segenap lingkungan dan masa, dan cahayaMU yang bergemerlapan memenuhi dengannya wadah ciptaanMU dengan ketinggian pangkat. Ya Allah, Limpahilah Rahmat dan Kesejahteraan ke atas Hakikat Kebenaran yang mempernyatakan daripadanya naungan seluruh rahsia-rahsia hakikat yang memiliki kearifan tertinggi, yang sentiasa merintis jalanMU yang sempurna. Ya Allah, Limpahilah Rahmat dan Kesejahteraan ke atas Penyeru Kebenaran dengan Kebenaran yang menjadi Gedung Teragung, Sumber bagi segala limpahanMu yang daripadaMU kepadaMU meliputi cahaya yang terpilih. Rahmat Allah ke atasnya juga kepada keluarganya dengan rahmat membukakan kami dengannya haqiqat.

Shalawat Jauharatul Kamâl keutamaannya sangat banyak, di antaranya:


1. 1 x shalawat Jauharatul Kamâl menyamai tasbih seluruh alam 3 x.
2. Jika dibaca sebanyak 7 x tiap hari dengan istiqamah Rasulullah s.a.w.. Cinta pada orang tersebut dengan cinta dan perhatian khusus.
3. Jika dibaca 7 x sebelum tidur dengan istiqamah akan bermimpi Rasulullah s.a.w., dengan catatan ketika akan tidur harus memunyai (telah) wudhu’ (belum batal) dan pakaian serta tempatnya harus suci.
4. Rasulullah s.a.w. dan sahabat yang empat serta Syeh hadir pada bacaan ke tujuh dan tetap mendampingi sampai berhenti membaca.
5. Jika dibaca 12 x kemudian mengucapkan :
Hâdzihi hadiyyatun minnî ilaika yâ Rasullallâh. Artinya: Ini semua hadiah dariku pada Engkau wahai Rasullullah.
Maka mendapat keutamaan sebagaimana ziarah kepada Nabi Muhammad s.a.w.. Dan para Auliya’ serta shâlihîn dari zaman awwalul wujûd sampai waktu dibaca shalawat Jauharatul Kamâl.
6. Jika mengalami kesulitan yang sangat, bacalah Jauharatul Kamâl 70 x, maka Allah akan melepas kesusahan itu secepatnya.


– Dan masih banyak lagi