Dalam dunia pewayangan, kita kenal dua pribadi yang berseberangan: “Semar dan Togog”. ‘Semar’ – konon — dipilih oleh Tuhan sebagai pamong untuk para ksatria berwatak baik (Pandawa), sedangkan ‘Togog’ diutus sebagai pamong untuk para ksatria dengan watak buruk.

Begitulah “takdir” yang mesti dijalani ‘Sang Togog’. Dari masa ke masa, dia terus mendampingi kaum Aristokrat Berwatak Culas dan Berhati Busuk. Namun, kehadirannya hanya sekadar jadi pelengkap penderita. Dia selalu gagal membisikkan suara-suara kebajikan ke dalam gendang nurani junjungannya. Angkara murka jalan terus, watak ber budi bawa laksana pun hanya terapung-apung dalam bentangan jargon dan slogan. Togog merasa telah gagal mewujudkan sosok ksatria ‘pinunjul’, ‘arif, santun, bersih, dan berwibawa.

Membaca cerita ‘Togog’, saya menjadi ingat kembali terhadap sebuah hadis Nabi s.aw.:

إِنَّ الإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيبًا ، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ. قَالَ- قِيلَ: وَمَنِ الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ : النُّزَّاعُ مِنَ الْقَبَائِلِ.

“Sesungguhnya Islam muncul pertama kali dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing pula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing.” Abdullah berkata, “Dikatakan, “Siapakah orang-orang yang terasing itu?” beliau menjawab: “Orang-orang yang memisahkan diri dari kabilah-kabilah (yang sesat).” (HR Ibnu Majah dari Abdullah bin Mas’ud, Sunan Ibn Mâjah, V/125, hadis no. 3988), yang mencitrakan ‘pribadi Semar, yang bersikap istiqamah. Dan dua buah hadis Nabi s.a.w. yang lain:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambaNya, tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR al-Bukhari dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, Shahîh al-Bukhâriy, I/36, hadis no. 100). Itulah ‘Sang Ruwaibidah’.

الْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ قَاضِيَانِ فِي النَّارِ وَقَاضٍ فِي الْجَنَّةِ رَجُلٌ قَضَى بِغَيْرِ الْحَقِّ فَعَلِمَ ذَاكَ فَذَاكَ فِي النَّارِ وَقَاضٍ لَا يَعْلَمُ فَأَهْلَكَ حُقُوقَ النَّاسِ فَهُوَ فِي النَّارِ وَقَاضٍ قَضَى بِالْحَقِّ فَذَلِكَ فِي الْجَنَّةِ

“Hakim itu ada tiga, dua di neraka dan satu di surga. Seseorang yang menghukumi secara tidak benar padahal ia mengetahui mana yang benar, maka ia di neraka. Seorang hakim yang bodoh lalu menghancurkan hak-hak manusia, maka ia di neraka. Dan seorang hakim yang menghukumi dengan benar, maka ia masuk surga.” (HR at-Tirmidzi dari Buraidah bil al-Hasib bin Abdullah bin al-Harits, Sunan at-Timidzi, III/612, hadis no. 1322), yang mencitrakan 3 (tiga) kepribadian hakim. Pertama, hakim yang tidak berintegritas, padahal dia tahu mana yang benar dan mana yang salah. Itulah ‘Sang Togog’; kedua: hakim yang tidak kompeten, karena ‘memang; tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk memerankan diri sebagai hakim. Itulah ‘Sang Ruwaibidhah”, dan ketiga: hakim yang berintegritas dan kompeten” Itulah ‘Sang Semar’.

Kalau kita mau jujur, Togogisasi –- istilah untuk menggambarkan pembungkaman suara-suara kritis -– itu sesungguhnya sudah lama muncul sebagai gejala sosial akut di negeri ini. Lihat saja pemasungan hak-hak bersuara dan berpendapat yang berlangsung sejak rezim Orde Baru bertahta.

Pemasungan hak-hak publik semacam itu tak jarang ditingkah ulah represif dengan berusaha menyingkirkan orang-orang yang dianggap kritis itu. Mungkin sudah tak terhitung sosok-sosok kritis yang harus mendekam di penjara, diculik, dan disakiti, hingga akhirnya suara kritis mereka benar-benar hilang dan tak bergema lagi.

Togogisasi itu pun ditengarai juga masih berlangsung hingga kini meski kran kebebasan bersuara dan berpendapat dibuka lebar-lebar setelah era reformasi bergulir. Konon yang jadi sasaran adalah kaum kelas menengah yang dinilai memiliki peran besar dalam menggerakkan “bandul” demokrasi. Kaum kelas menengah ini bisa berasal dari kalangan mahasiswa, organisasi kepemudaan, kaum intelektual, pakar, pengamat, atau organisasi-organisasi sosial yang lain. Peran mereka sengaja dikebiri dan diabaikan agar suara-suara kritis yang muncul gagal menembus jantung nurani rakyat.

Maka, yang terjadi kemudian adalah otoritarianisme berselubung reformasi. Demokrasi tampak dipuja dan diagung-agungkan, tetapi sesungguhnya konon yang terjadi adalah pembunuhan secara sistemik dan terencana agar nilai-nilai musyawarah tak lagi membumi.

Berdasarkan fenomena ini agaknya sulit untuk tidak menjadikan ‘Sang Togog’ sebagai analogi untuk menggambarkan buramnya potret ‘demokrasi’ (yang bertumpu pada nilai-nilai musyawarah) di negeri ini. Meskipun demikian, kita tetap berharap bahwa ‘Sang Togog’ yang terpinggirkan dan terabaikan itu bukan sebagai “taqdir-mubram”, keniscayaan yang harus dijalani bangsa dan negeri ini, tetapi merupakan “taqdir mukhayyar”, sunnatullah yang bisa berubah menurut kaedah hukum sejarah. Karena saya ingat firman Allah yang terdapat dalam QS ar-Ra’d/13: 11,

… إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ …

“… sesungguhnya Allah tidak akan (pernah) mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri …”

Saatnya ‘Sang Togog’ diselamatkan untuk kembali ‘mampu’ bersuara lantang, berpijak pada hati nuraninya. Tetapi, semuanya terpulang pada ‘Sang Togog’, “apakah dia ‘punya nyali’ (as-Syajâ’ah) untuk menjadi ‘manusia pemberani’ (asy-Syujâ’), layaknya Nabi Ibrahim a.s. ketika berhadapan dengan otoritarianisme Raja Namrud, atau seperti Nabi Musa a.s. ketika menghadapi despotisme ala Fir’aun, dan bisa juga tampil seperti Nabi Muhammad s.a.w. ketika berhadapan dengan sistem dan budaya jahiliyah yang didukung oleh manusia-manusia ‘rakus’ dan ‘kejam’ seperti Abu Jahal dan Abu Lahab?”

Kita doakan. Semoga ‘Sang Togog’ yang kini menjelma menjadi ‘para penjilat’ itu, segera bertaubat dengan konsep “تَوْبَةً نَّصُوحًا (taubatan nashûha)”, kalau masih punya hati nurani untuk kembali beribadah kepada Allah, melalui perannya sebagai penyuara kebenaran. Sehingga berubah perannya seperti ‘Sang Semar yang bersikap istiqamah’.