MENEGAKKAN KEADILAN

Banyak ajaran Islam yang menyeru manusia untuk menegakkan keadilan dalam setiap sikap dan perbuatan. Rasul-rasul diutus ke tengah kaum atau bangsanya juga untuk menegakkan keadilan. Nabi Musa, misalnya, diutus Tuhan untuk membasmi kezaliman Firaun. Nabi Ibrahim diutus buat menegakkan keadilan terhadap Raja Namrud yang memperlakukan bangsa Babilonia sesuka hatinya. Begitu pula Nabi Muhammad SAW. Nabi yang terakhir ini diutus ke bangsa Arab untuk menegakkan keadilan di tengah kezaliman dan kejahiliyahan bangsa Arab ketika itu. Menurut ajaran Islam, keadilan berarti memberikan satu ketentuan (hukum) yang tidak menyimpang dari kebenaraan. Berdasarkan pengertian umum, keadilan adalah bertindak sama atau serupa. Lawan dari keadilan adalah kezaliman. Seruan menegakkan keadilan harus terwujud di tengah masyarakat. Keadilan mesti ditegakkan dalam segala bidang kehidupan, baik sosial, ekonomi, maupun kehidupan politik.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia [maksudnya: orang yang tergugat atau yang terdakwa] Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. .”(QS an-Nisâ’, 4: 135).

Ada seorang ulama berkata, ”Keadilan itu adalah sendi negara. Tidak akan kekal suatu kekuasaan tanpa menegakkan keadilan. Kalau tak ada hukum yang adil, maka orang akan hidup dalam anarki, tidak punya sandaran dan pegangan.” Seorang ahli hikmah mengatakan, ”Keadilan seorang penguasa terhadap rakyatnya mestilah dengan empat perkara, yaitu dengan menempuh jalan yang mudah, meninggalkan cara yang sulit menyukarkan, menjauhkan kesewenang-wenangan, dan mematuhi kebenaran dalam perilakunya.

”Menegakkan keadilan harus dengan secara mutlak dan menyeluruh. Tidak karena sebab sesuatu, keadilan itu berubah fungsi. Jangan karena perbedaan kedudukan, golongan, dan keadaan sosial mengakibatkan perlakuan keadilan itu tidak sama.

Firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mâidah, 5: 8).

Dalam Islam kedudukan rakyat dan pemerintah adalah sama, karena ia merupakan pengokoh suatu masyarakat yang menginginkan kesempurnaan. Nabi Muhammad SAW pernah berkata kepada Usman bin Zaid bahwa kehancuran pemerintahan dahulu karena mereka menjalankan hukuman berat sebelah.

Mereka cuma memberi dan menjatuhkan hukuman terhadap rakyat kecil, sedangkan pencuri dari kalangan atas mereka diamkan saja dan biarkan terus. Tuntutan berbuat adil haruslah dimulai dari diri sendiri, rumah tangga, dan lingkungan. Adil terhadap anak, misalnya, dengan memberikan nafkah, pendidikan, dan keperluan lainnya. Dalam menegakkan keadilan tidak saja disuruh hanya terhadap kawan, teman seperjuangan atau seprofesi. Terhadap lawan pun, keadilan harus tetap ditegakkan. Alquran menjelaskan:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS an-Nahl, 16: 90).

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah [maksudnya: tetaplah dalam agama dan lanjutkanlah berdakwah] sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan Katakanlah: “Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya Berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan Kami dan Tuhan kamu. bagi Kami amal-amal Kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara Kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita.)” (QS as-Syûrâ, 42: 15).

Paling tidak ada empat makna keadilan  yang  dikemukakan  oleh para pakar agama.

Pertama, adil dalam arti “sama”

Anda  dapat  berkata  bahwa si A adil, karena yang Anda maksud adalah bahwa dia  memperlakukan  sama  atau  tidak  membedakan seseorang  dengan  yang lain. Tetapi harus digarisbawahi bahwa persamaan yang dimaksud  adalah  persamaan  dalam  hak.  Dalam surat an-Nisâ’ (4): 58 dinyatakan bahwa,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Terjemah:

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Kata “adil” dalam  ayat  ini  —  bila  diartikan  “sama”   –hanya mencakup   sikap   dan   perlakuan   hakim  pada  saat  proses pengambilan keputusan.

Ayat ini menuntun sang  hakim  untuk  menempatkan  pihak-pihak yang  bersengketa  di  dalam  posisi yang sama, misalnya ihwal tempat duduk, penyebutan nama (dengan atau  tanpa  embel-embel penghormatan),  keceriaan wajah, kesungguhan mendengarkan, dan memikirkan ucapan mereka, dan sebagainya yang  termasuk  dalam proses   pengambilan  keputusan.  Apabila  persamaan  dimaksud mencakup keharusan mempersamakan apa yang mereka  terima  dari keputusan,  maka  ketika  itu persamaan tersebut menjadi wujud nyata kezaliman.

Al-Quran mengisahkan dua orang berperkara yang  datang  kepada Nabi  Daud a.s. untuk mencari keadilan. Orang pertama memiliki sembilan puluh sembilan ekor kambing betina,  sedangkan  orang kedua  hanya  memiliki  seekor.  Pemilik  kambing  yang banyak mendesak agar diberi pula yang seekor itu agar genap  seratus. Nabi   Daud   tidak  memutuskan  perkara  ini  dengan  membagi kambing-kambing  itu  dengan  jumlah  yang   sama,   melainkan menyatakan  bahwa  pemilik sembilan puluh sembilan kambing itu telah berlaku aniaya atas permintaannya  itu  (QS  Shâd  [38]: 23),

إِنَّ هَذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ فَقَالَ أَكْفِلْنِيهَا وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ

Terjemah:

Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: “Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan”.

Kedua, adil dalam arti “seimbang”

Keseimbangan  ditemukan  pada  suatu kelompok yang di dalamnya terdapat beragam bagian  yang  menuju  satu  tujuan  tertentu, selama syarat dan kadar tertentu terpenuhi oleh setiap bagian. Dengan terhimpunnya syarat ini, kelompok  itu  dapat  bertahan dan berjalan memenuhi tujuan kehadirannya.

يَاأَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ(6) الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ(7)

Terjemah:

Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang, (QS al-Infithâr [82]: 6-7).

Seandainya ada salah satu anggota tubuh manusia berlebih  atau berkurang  dari  kadar atau syarat yang seharusnya, maka pasti tidak akan terjadi kesetimbangan (keadilan).

Contoh lain tentang  keseimbangan  adalah  alam  raya  bersama ekosistemnya. al-Quran menyatakan bahwa,

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ

Terjemah:

(Allah) Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sama sekali tidak melihat pada ciptaan Yang Maha Pemurah itu sesuatu yang tidak seimbang. Amatilah berulang-ulang! Adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang? (QS al-Mulk [67]: 3)

Di    sini,     keadilan     identik     dengan     kesesuaian (proporsionalitas),   bukan   lawan  kata  “kezaliman”.  Perlu dicatat bahwa keseimbangan tidak mengharuskan persamaan  kadar dan  syarat  bagi  semua  bagian unit agar seimbang. Bisa saja satu bagian berukuran kecil atau besar,  sedangkan  kecil  dan besarnya ditentukan oleh fungsi yang diharapkan darinya.

Petunjuk-petunjuk  al-Quran  yang  membedakan satu dengan yang lain, seperti pembedaan lelaki dan perempuan pada beberapa hak waris  dan  persaksian  -apabila  ditinjau  dari sudut pandang keadilan-  harus  dipahami  dalam  arti  keseimbangan,   bukan persamaan.

Keadilan  dalam  pengertian  ini  menimbulkan  keyakinan bahwa Allah Yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui  menciptakan  dan mengelola  segala  sesuatu  dengan  ukuran,  kadar,  dan waktu tertentu  guna  mencapai  tujuan.   Keyakinan   ini   nantinya mengantarkan kepada pengertian Keadilan Ilahi.

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

Terjemah:

Matahari dan bulan beredar dengan perhitungan yang amat teliti (QS ar-Rahmân [55]: 5).

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Terjemah:

Sesungguhuga Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukurannya (QS al-Qamar [54]: 49)

Ketiga, adil adalah “perhatian terhadap hak-hak  individu  dan memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya”

Pengertian   inilah  yang  didefinisikan  dengan  “menempatkan sesuatu  pada  tempatnya”  atau  “memberi  pihak  lain  haknya melalui  jalan  yang  terdekat”.  Lawannya adalah “kezaliman”, dalam arti pelanggaran terhadap  hak-hak  pihak  lain.  Dengan demikian menyirami tumbuhan adalah keadilan dan menyirami duri adalah  lawannya.  Sungguh  merusak  permainan  (catur),  jika menempatkan  gajah  di  tempat raja, demikian ungkapan seorang sastrawan yang arif.

Pengertian keadilan seperti ini, melahirkan keadilan sosial.

Keempat, adil yang dinisbatkan kepada Ilahi

Adil di sini berarti “memelihara kewajaran  atas  berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan perolehan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk itu.”

Semua wujud tidak memiliki hak atas Allah. Keadilan Ilahi pada dasarnya   merupakan   rahmat  dan  kebaikan-Nya.  Keadilan-Nya mengandung konsekuensi bahwa rahmat Allah  SWT.  tidak  tertahan untuk diperoleh sejauh makhluk itu dapat meraihnya.

Sering  dinyatakan  bahwa  ketika A mengambil hak dari B, maka pada saat itu juga B mengambil hak dari A.  Kaedah  ini  tidak berlaku  untuk  Allah Swt., karena Dia memiliki hak atas semua yang ada, sedangkan semua yang ada tidak memiliki  sesuatu  di sisi-Nya.

Dalam  pengertian  inilah  harus dipahami kandungan firman-Nya yang menunjukkan Allah  Swt.  sebagai  qâiman  bi al-qisth  (yang menegakkan  keadilan)  (QS Âli ‘Imrân [3]: 18),

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Terjemah:

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Atau ayat lain yang mengandung arti keadilan-Nya seperti:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

Terjemah:

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya). (QS Fushshilât [41]: 46).

Sebagaimana sabda nabi s.a.w..

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِى حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di mata Allah berada di atas mimbar yang terbuat dari cahaya, berada di sebelah kanan Ar-Rahman Azza wa Jalla. Yaitu mereka yang berbuat adil ketika menetapkan putusan hukum, dan adil terhadap pengikut dan rakyatnya.” (HR Muslim dari Abdullah bin ‘Amr)

(Dikutip dan dielaborasi dari tulisan di www.republika.co.id dan www.media.isnet.org)