Meneladani Kesalehan Rasulullah s.a.w.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS al-Ahzâb, 33: 21)

Ketika kita pahami kepribadian Rasulullah s.a.w.., kita akan mendapati keteladanan sempurna. Selama hidupnya, Rasulullah s.a.w. selalu menunjukkan kualitas pribadi yang sempurna, sehingga disebutlah ia sebagai “al-Insân al-Kâmil” [Manusia Sempurna], dan oleh karenanya dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya sebagai Uswah Hasanah (Suri Teladan yang Baik).

Ia citrakan dirinya sebagai individu yang jujur, amanah, cerdas dan komunikatif. Selaras dengan empat sifat yang melekat pada dirinya (ash-Shidq; al-Amânah; al-Fathânah dan at-Tablîgh);  Dalam relasi interpersonal dan sosial, ia perlakukan semua orang ‘bak’ saudara sendiri, konsisten dengan sabdanya:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ أَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman seseorang itu, sebelum dia mencintai saudaranya atau beliau bersabda: Sebelum dia cintai tetangganya, sebagaimana dia cintai dirinya sendiri.“ (HR al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, I/10, hadits nomor 13;HR Muslim, Shahîh Muslim, I/49, hadits nomor 179, dari Anas bin Malik)

Dinyatakan juga oleh Allah SWT dalam firman-Nya,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS al-Qalam, 68: 4).

Kepeduliannya terhadap orang miskin diperlihatkan olehnya, ketika beliau menegur seorang kaya yang datang di majelisnya. Orang ini menghindar duduk berdampingan dengan seorang fakir yang berpakaian kurang sempurna. Menurut akhlak Islam, siapa saja yang akan hadir ke suatu majelis, dia harus duduk di tempat kosong tanpa memandang status sosial dan pangkat. Melihat hal itu, beliau pun menegurnya, ”Apakah engkau khawatir kefakirannya akan menular kepadamu?” Orang kaya itu pun menjawab: ”Tidak ya Rasulullah.” Beliau pun meneruskan pertanyaannya: ”Apakah engkau takut pakaianmu akan kotor?” Orang kaya itu pun menjawab: ”Tidak ya Rasulullah.” Kemudian beliau pun bertanya lagi: ”Lalu kenapa engkau menghindar darinya?” Orang kaya itu pun menjawab: ”Aku mengaku keliru dan bersalah, ya Rasulullah.”

Dari peristiwa itu kita pun bisa mengambil pelajaran, bahwa Islam tidak membenarkan seseorang memiliki sifat ghurur (berbangga diri), hanya karena dia dikaruniai harta benda. Beliau sendiri berulang kali menekankan pada umatnya, bahwa kaum Muslimin itu bersaudara dan tidak membenarkan seseorang menjauhkan diri dari saudaranya hanya karena berbeda status.

Dalam kaitan solidaritas sosial, pelajaran dari Rasulullah s.a.w. di atas perlu mendapat perhatian semua pihak. Karena ketidakpedulian kaum aghniya’ (orang-orang kaya) terhadap kaum dhu’afa’ (fakir-miskin) merupakan bahaya terbesar bagi terciptanya disintegrasi sosial, yang sebagian sinyalnya sudah dapat kita rasakan pada saat ini. Untuk itu, Islam memerintahkan kepada kaum aghniya’ untuk memberikan sebagian harta kekayaannya pada kaum dhu’afa’. Baik berupa zakat, infak, dan bentuk sedekah lainnya. Demikian juga kepada para penguasa: “Janganlah bersiakap zalim terhadap rakyatnya. Bersikap adillah kepada semua orang. Karena sikap adil (tersebut) lebih dekat kepada ketaqwaan”.

Seandainya Rasullullah s.a.w. sudah melaksanakannya, kenapa kita – sebagai umatnya – masih enggan untuk memulainya?