MENGAPA DIBUTUHKAN TAFSIR?

Al-Quran perlu dipahami, dan oleh karenanya diperlukan tafsir atasnya. Beragam bentuk, pendekatan dan cara penafsiran telah ditunjukkan oleh para ahli tafsir (mufassir) dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan ternyata belum memuaskan rasa haus para pecintanya untuk menggali makna yang terkandung di dalamnya. Oleh karenanya, para mufassir (hingga kini) senantiasa berupaya menemukan kaedah penafsiran yang paling tepat untuk memahami kandungan (makna) al-Quran dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda.
Di dunia ini tak ada kitab yang penanganannya begitu banyak menuntut keahlian, begitu banyak meminta tenaga, waktu dan biaya, seperti dilakukan orang terhadap Quran. Kalau kita lihat sepintas saja Al-Itqân Fî ‘Ulûm al-Qurân oleh as-Suyûthî (w. 911 H.), atau Kasyfuzh-Zhunûn oleh Haji Khalîfah (w. 1059 H.), sudah dapat kita ketahui betapa luas ilmu-ilmu Quran itu pada masa mereka.
Sementara itu kitab-kitab semacam itu terus bertambah, meskipun harus diakui bahwa mutu karya-karya yang datang kemudian dalam bidang yang sama, tidak banyak yang dapat memenuhi keinginan kita. Umat Islam telah mengalami kemunduran dalam melahirkan karya-karya asli di bidang ilmu, seni dan filsafat, dan sejalan dengan keterbatasan mereka dalam wawasan dan pengalaman di berbagai tingkatan kehidupan intelektual dan spiritual, keterbatasan demikian terasa pula dalam mengadakan penelitian dan penyelidikan dengan jiwa yang bebas. Kebangkitan Islam yang baru dalam tahap permulaan ini diharapkan akan dapat menghilangkan segala rintangan, dan kita akan dapat melangkah masuk dengan pikiran dan pengertian yang lebih terang.
Perlunya ada penjelasan (tafsir) mengenai ayat-ayat Quran itu sudah timbul sejak lama. Bahkan sebelum Quran itu diturunkan seluruhnya, orang sudah biasa menanyakan segala macam persoalan kepada Rasulullah s.a.w., seperti mengenai arti kata-kata tertentu dalam ayat-ayat itu, atau sangkut-pautnya dengan masalah-masalah yang timbul, atau seluk-beluk sejarah tertentu dan keruhanian yang memang mereka cari, ingin memperoleh keterangan lebih jauh. Jawaban-jawaban Rasulullah tersimpan cermat sekali dalam ingatan para Sahabat, dan yang kemudian dituliskan. Generasi berikutnya, ialah para Tabi’in; yakni mereka yang tidak secara pribadi berbicara dengan Rasulullah s.a.w. seperti para Sahabat, melainkan berbicara dengan Sahabat-sahabat itu dan belajar dari mereka. Generasi-generasi berikutnya lagi mereka selalu menengok ke belakang dalam mencari keterangan dengan menyusun mata rantai sampai kepada para Tabi’in dan para Sahabat. Melalui mereka ini kemudian tumbuh ilmu Hadis. Setelah kepustakaan ini berkembang, maka perlu ada ketentuan-ketentuan yang lebih ketat mengatur dan menguji keterangan itu, mana yang dianggap sahih, atau diragukan ataupun lemah, dan mana pula yang mesti ditolak. Dengan berkembangnya ilmu Hadis ini menjadi semakin jelas, bahwa di kalangan para sahabat pun, ada orang-orang yang satu ingatannya lebih kuat dari yang lain, atau memperoleh kesempatan yang lebih baik mengenal benar-benar apa yang dimaksud oleh Rasulullah s.a.w., atau dengan cara lain, atau juga sudah mendapat gelar yang lebih baik sebagai Mufassir. Jumlah orang yang demikian terbatas hanya (sekitar) sepuluh orang. Begitu juga Tabi’in, mereka harus diuji dan dicermati, dan begitu seterusnya.
Kesulitan kita menafsirkan al-Quran sering timbul karena berbagai sebab, sebagian di antaranya adalah sesuatu yang terkait dengan aspek kebahasaan, dan sebagian terkait dengan latarbelakang sosio-historisnya:
1. Kata-kata bahasa Arab yang ada dalam Quran memperoleh arti lain dari yang dipahami oleh Rasulullah dan Sahabat. Semua bahasa yang hidup mengalami transformasi demikian.
2. Sementara ahli-ahli tafsir dahulu menulis, bahasa Arab sudah berkembang lebih jauh, dan para ahli tafsir yang datang kemudian sering meninggalkan penafsiran ahli-ahli tafsir dahulu tanpa ada alasan yang cukup jelas.
3. Bahasa Arab klasik mempunyai kosakata secara analitik, kata demi kata, atau memakai kata yang sama dengan bahasa asalnya yang terdapat dalam nash Quran. Sepatah kata bahasa Arab sering seperti seberkas sinar yang penuh. Jika seorang penerjemah melihatnya lewat sebuah prisma penguraian bahasa modern, ia akan kehilangan sebagian besar maknanya jika perhatiannya terbatas hanya pada warna tertentu saja.
4. Kekeliruan yang bertolak belakang juga kadang timbul dalam beberapa materi tertentu dalam kosakata Quran yang begitu kaya, yang membedakan antara pengertian benda dengan gagasan suatu jenis tertentu dengan kata-kata yang khusus. Sebagai contoh misalnya: kata Rahmân dan Rahîm.
5. Tujuan Tuhan abadi, dan perencanaan-Nya sempurna, tetapi akal atau intelek manusia terbatas pada batas yang sebaik-baiknya. Dalam pribadi yang sama, intelek dapat tumbuh atau merosot tergantung dari kemampuan kekuatannya serta luas pengalamannya. Kalau umat manusia yang kita ambil secara kolektif, maka variasinya bahkan lebih besar dari masa ke masa dan dari bangsa kepada bangsa yang lain. Dengan demikian penafsiran manusia takkan ada kesudahannya. Problema-problema yang dihadapi masa kita sekarang bisa jadi tidak sama dengan problema-problema yang akan mengherankan pikiran mereka yang hidup pada abad-abad keempat atau keenam Hijriah atau sesudahnya. Oleh karena itu, tak ada gunanya kita mati-matian berpegang pada pemecahan masalah abad keempat dan keenam yang dihadapkan kepada kita itu kalau jiwa kita masih berteriak-teriak kehausan.
Yang lebih penting sekali buat kita (setiap muslim dan umat Islam) ialah melihat bagaimana al-Quran dapat membimbing kita dalam hidup kita dewasa ini. Maknanya begitu beraneka ragam, dan bila kita uji, ia begitu tepat sehingga kita harus arif dalam memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang akan langsung membantu kita. Seperti halnya dengan alam, tumbuh-tumbuhan itu pun mencari jalan keluar dari tanah hanya supaya makanan yang diperolehnya mendapat gizi. Masih banyak makanan lain yang tertinggal dalam tanah, yang diambil oleh tumbuh-tumbuhan lain pula.
Dan pada akhirnya, al-Quran harus senantiasa kita gali gali maknanya dari sudut pandang dan cara yang — bisa saja – beragam, tetapi tetap dalam satu koridor: “semangat keimanan dan keilmuan yang sinerjik”.