Mengapa Harus Mengemis?

Oleh: Muhsin Hariyanto

BUDAYA meminta dalam pengertian luas ‘kini’ tengah menjadi ‘trend’ (kecenderungan) masyarakat pada umumnya. Tidak terkecuali pada umat Islam di belahan bumi mana pun. Padahal Rasulullah s.a.w. pernah mengingatkan:

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَالْيَدُ الْعُلْيَا الْمُنْفِقَةُ وَالسُّفْلَى السَّائِلَةُ.

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah; tangan di atas adalah yang berinfaq [memberi] dan tangan di bawah adalah yang meminta.” (Hadits Riwayat al-Bukhari, Shahîh al-Bukhari, II/139, hadits. no. 1427 dan Hadits Riwayat Muslim, Shahîh Muslim, III/94, hadits no. 2432, dari Abdullah bin Umar).

Bahkan dalam hadits lain dinyatakan bahwa seorang sahabat Rasulullah s.a.w. yang bernama Hakim bin Hizam r.a. pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah s.a.w., dan beliau pun memberikannya seperti apa yang diminta. Kemudian dia meminta lagi (untuk kedua kali), lalu diberikannya sebagaimana pemberian yang pertama. Kemudian dia meminta lagi (untuk yang ketiga kali). Atas sikap sahabatnya (Hakim bin Hizam r.a.) itu, beliau pun tetap bersedia untuk memberikannya lagi sebagaimana pemberian yang pertama dan kedua, seraya bersabda:

إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ كَالَّذِي يَأْكُلُ ، وَلاَ يَشْبَعُ الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Sesungguhnya harta ini adalah lezat dan manis. Maka siapa yang menerimanya dengan hati yang baik, niscaya ia akan mendapat berkahnya. Namun, siapa yang menerimanya dengan nafsu serakah, maka dia tidak akan mendapat berkahnya, Dia bagaikan orang yang makan namun tidak pernah merasa kenyang. Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (Hadits Riwayat al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâri, II/52, no. 1472 dan Hadits Riwayat Muslim, Shahîh Muslim, III/94, hadits no. 2434, dari Hakim bin Hizam)

Dua hadits di atas mengisyaratkan bahwa aktivitas meminta-minta itu bukanlah perbuatan yang ideal, dan bahkan bisa dinyatakan sebagai perbuatan yang kurang terpuji. Oleh karenanya Rasulullah s.a.w. mengingatkan sahabatnya (Hakim bin Hizam r.a.) untuk tidak membiasakannya. Tetapi, siapa pun diri kita (baca: orang Islam) yang dimintai sesuatu oleh siapa pun yang membutuhkan, sementara diri kita memunyai sesuatu yang sepantasnya diberikan kepada orang yang meminta sesuatu kepada diri kita, hendaklah bersikap positf untuk bersedia untuk memberikannya, sebagai sedekah yang sudah sepantasnya dilakukan oleh setiap muslim.

Untuk menjelaskan tentang keutamaan sedekah dan sekaligus ketidak-utamaan meminta-minta, bisa disimak (kembali) kisah Umar bin al-Khaththab ketika menyikapi pemberian Rasulullah s.a.w. kepadanya.

Dikisahkan oleh Abdullah bin Umar, bahwa Umar bin al-Khaththab r.a. (ayahnya) pernah mengisahkan sebuah cerita yang menarik kepada dirinya. Diceritakan, bahwa pada suatu saat Rasulullah s.a.w. pernah memberikan harta kepadanya, namun dia menolak pemberian Rasulullah s.a.w. tersebut seraya memohon kepada beliau (Rasulullah s.a.w.): “Berikanlah (saja harta ini) kepada orang yang lebih fakir daripada diriku.” Hingga suatu hari yang lain beliau (Rasulullah s.a.w.) mencoba untuk memberikan (lagi) harta kepadanya (Umar bin al-Khaththab), dan dia (Umar bin al-Khaththab) pun menolaknya dengan perkataan yang sama: “Berikanlah (saja harta ini) kepada orang yang lebih fakir daripada diriku.”

Nah, atas sikap beliau (Umar bin al-Khaththab) itu, Rasulullah s.a.w. pun bersabda:

خُذْهُ وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ

“Ambillah (pemberianku ini)! Dan bila kamu diberi sesuatu harta, sedangkan kamu tidak mengidam-idamkannya dan tidak pula meminta-mintanya, maka ambillah (harta pemberian itu). Dan jika tidak demikian (tidak diberi), maka janganlah kamu mengejarnya (untuk memintanya) dengan hawa nafsumu.” (Hadits Riwayat al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâri, IX/85, hadits no. 7164 dan Hadits Riwayat Muslim, Shahîh Muslim, III/98, hadits no. 2452, dari Abdullah bin Umar)

Dari beberapa riwayat di atas, dengan menggali ruh (semangat) hadits-hadits Rasulullah s.a.w. di atas, kita bisa memahami bahwa beliau (Rasulullah s.a.w) ‘melarang’ setiap muslim untuk meminta-minta sedekah atau sumbangan dari orang lain tanpa ada kebutuhan yang mendesak. Karena perbuatan meminta-minta merupakan perbuatan menghinakan diri kepada orang lain dan menunjukkan adanya kecenderungan untuk menuruti hawa nafsu, dengan bersikap tamak (rakus) kepada dunia, yang salah satu indikatornya adalah: “keinginan untuk memerbanyak harta, dengan cara untuk selalu meminta-minta”. Dan beliau (Rasulullah s.a.w.) menginformasikan kepada diri kita, bahwa siapa pun yang melakukan aktivitas ‘meminta-minta’, yang oleh Rasulullah s.a.w. dipandang sebagai perbuatan ‘hina’ ini, dia (peminta-minta itu) – diilustrasikan dengan sebuah kiasan: “akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun yang melekat di wajahnya”.

Pernyataan Rasulullah s.a.w. ini bisa dipahami sebagai sebuah peringatan, bahwa para peminta-minta – di akherat kelak – akan menerima balasan yang setimpal baginya, karena kurangnya sikap ‘iffah (perwira) pada dirinya, dan ditunjukkan dengan ketidak-engganannya untuk meminta-minta kepada orang lain tanpa rasa malu. Atau dalam pengertian lain, peringatan Rasulullah s.a.w. ini bisa kita pahami sebagai warning (peringatan dini) kepada diri kita (umat Islam) agar jangan sampai — diri kita (umat Islam) — terjebak menjadi orang-orang yang bermental pengemis, yang dalam khazanah budaya Jawa disebut dengan istilah: “nDremis”.

Di sisi lain, Rasulullah s.a.w. juga tidak pernah sekali pun melarang kepada umatnya untuk menerima pemberian dari siapa pun, yang biasanya didemonstrasikan dengan cara ‘menolak (pemberian) harta’ yang ‘mendatangi’ diri kita, dalam pengertian menolak setiap pemberian (harta) yang diberikan oleh seseorang kepada diri kita. Kita – umat Islam – diperkenankan untuk mengambilnya, dan – bahkan — hal itu dapat dipandang sebagai sebuah ‘sikap positif’ bagi diri kita, selama kita (umat Islam) tidak pernah – proaktif — memintanya.

Wallâhu a’lamu bish shawâb.

Penulis adalah Dosen Tetap FAI UM Yogyakarta dan Dosen Tidak Tetap STIKES ’Aisyiyah Yogyakarta.

(Sumber: ”Majalah Suara ’Aisyiyah”)