MENGGAGAS STRATIFIKASI PEMBACA (TEKS) AL-QURAN

Al-Quran telah, sedang dan akan dibaca di seluruh belahan bumi ini oleh seluruh lapisan masyarakat, baik muslim maupun non-muslim. Mereka tidak homogen, baik secara intelektual, emosional maupun spiritual. Ada sejumlah pembaca yang masih terselubungi selimut aqidah dan atau ilmu, ada pula yang sudah sanggup menyingkap selimut-selimut itu dengan kualifikasi ketersingkapan yang sangat beragam. Siapakah mereka, dan bagaimana cara kita memahaminya?

Ketika Fazlur Rahman, misalnya, dengan menggunakan analogi sebuah negara, memetakan tiga stratifikasi pembaca (teks) al-Quran: (1) para warga negara (citizens), (2) orang-orang asing (foreigners), dan (3) para penjajah (invaders), dengan sikap yang berbeda-beda terhadap (teks) al-Quran yang menjadi objek bacaannya, Farid Esack dalam bukunya yang berjudul: The Qur’an: A Short Introduction mencoba untuk menyerderhanakan pengelompokan para pembaca al-Quran itu. Dia mengelompokkan pembaca (teks) al-Quran — yang kemudian ia sebut sebagai pecinta al-Quran — menjadi tiga tingkatan: pecinta tidak kritis (the uncritical lover), pecinta ilmiah (the scholarly lover), dan pecinta kritis (the critical lover).

Tiga stratifikasi itu dibangun Esack dengan menggunakan analogi hubungan the lover and body of a beloved (pecinta dan tubuh seorang kekasih). The lover dan body of a beloved, masing-masing diwakili pembaca (teks) al-Quran dan (teks) al-Quran. Dia mengibaratkan para pembaca (teks) al-Quran sebagai seorang pecinta tubuh kekasih (dari jenis kelamin laki-laki) dan (teks) al-Quran seperti halnya tubuh seorang kekasih (dari jenis kelamin perempuan).

Di dunia percintaan, keindahan (jamâliyyah) tubuh perempuan biasanya dijadikan alasan utama kaum laki-laki untuk mencintainya dan mendambakannya untuk (dapat) menyuntingnya sebagai kekasih atau isterinya. Keindahan ini pula yang terkadang membuat laki-laki menjadi “buta”, terlena, melahirkan rasa ingin memiliki, dan keinginan-keinginan lanjut yang bermuara pada keinginan untuk memiliki sepenuhnya.

Menurut Esack, keindahan body of a beloved (baca: (teks) al-Quran) selalu diapresiasi para pecinta (baca: pembacanya) dengan berbagai bentuk. Sehingga, antara pecinta satu dengan pecinta lainnya memiliki cara berbeda dalam menilai sang kekasih.

Pertama, pecinta tidak kritis (the uncritical lover). Orang yang menduduki level ini biasanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Kecantikan seorang kekasih telah “membutakan” mata hatinya, seakan tidak ada perempuan lain yang lebih cantik daripada kekasihnya. Pecinta menilai sekujur tubuh dan apa saja yang melekat pada tubuh sang kekasih itu “indah, mempesona, dan sempurna”.

Dalam konteks pembaca al-Quran, pecinta tidak kritis selalu memuja-muja al-Quran secara simbolik dan (terkesan) formalistik. Al-Quran dipandang segala-segalanya. (Teks) al-Quran diperlakukannya seperti sebuah (perhiasan) permata-berlian dengan seluruh simbol keindahannya, tanpa pernah tahu apa (hakikat) manfaatnya.

Bagi dia (Sang Pembaca), al-Quran adalah jawaban dari segala persoalan, tetapi (dia) tidak memahami bagaimana proses memperoleh atau menciptakan jawaban-jawaban tersebut. Dia hanya mengonsumsi atau mendaur-ulang jawaban-jawaban mengenai al-Quran dari orang lain.

Posisi pecinta ini ditempati oleh kaum muslim kebanyakan (mayoritas); mereka memperlakukan al-Quran hanya sebatas bahan bacaan yang dilafalkan di ujung lidah, dibaca berulang-ulang, dilombakan dalam bentuk musâbaqah yang bermacam-macam, dihafalkan dan diperlakukannya (al-Quran) itu dengan sejumlah penghormatan simbolik dan formalistik yang sangat beragam.

Kedua, pecinta ilmiah (the scholarly lover). Pecinta tipe ini mengagumi segala keindahan yang dimiliki sang kekasih (al-Quran). Hal yang membedakan dia dengan pecinta pertama adalah keberanian dan kecerdasannya untuk memaknai seluruh keindahan yang melekat pada tubuh sang kekasih (al-Quran). Cinta dan sayang pada pujaan hatinya (Sang Kekasih; baca: [teks] al-Quran) tidak membuatnya mabuk kepayang, apalagi sampai lupa daratan untuk hanya sekadar mengelu-elukan al-Quran (Sang Kekasih).

Pecinta ilmiah selalu merenungkan dan mempertanyakannya (al-Quran). Seperti: “mengapa ayat-ayat al-Quran begitu indah dan mempesona, dan apa makna di balik keindahannya?” Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian dijawabnya dengan segenap jawaban ilmiah, dengan (seperangkat) ilmu pengetahuan (mengenai) al-Quran yang dimilikinya dan kemudian dituangkan dalam bentuk (karya) tafsir. Dengan ungkapan lain, di samping selalu merindukan kehadiran (teks) al-Quran (Sang Kekasih), dia juga (senantiasa berusaha) membaca dengan cermat, memahami, dan menafsirkan ayat-ayatnya.

Para pecinta yang masuk dalam kategori ini adalah para mufasir, baik dalam masa klasik maupun modern. Pecinta-pecinta ini telah menghasilkan karya tafsir yang sungguh menakjubkan dan patut dihargai jerih payahnya.

Ketiga, pecinta kritis (the critical lover). Ia terpikat pada sang kekasih, tetapi tidak menjadikan ia gelap mata. Meskipun ia gemar membaca, memahami, dan menafsirkan beberapa organ tubuhnya (Sang Kekasih; baca: [teks] al-Quran), dia juga (sanggup) bersikap kritis (bahkan terlalu kritis) terhadap segala sesuatu yang menempel pada tubuh sang kekasih (al-Quran). Dia pun tidak segan-segan mempertanyakan sifat dan asal-usulnya, bahasanya, warna “rambutnya”, faktor apa yang melingkupi keindahannya, sesuatu yang janggal dalam dirinya, dan semua yang terkait dengannya.

Dan semua itu dia lakukan demi rasa cintanya pada sang kekasih (al-Quran).

Untuk memahaminya (Sang Kekasih; baca: [teks] al-Quran), para pecinta pada level ini rela “menikahi” sang kekasih (baca: [teks] al-Quran) dan memanfaatkan berbagai macam ilmu sosial-humaniora mutakhir, seperti: linguistik, sosiologi, antropologi, hermeneutika, dan filsafat sebagai pisau analisisnya. Dan bahkan tidak jarang menggunakan pendekatan ilmu kealaman (natural-science) untuk memahami ayat-ayat (al-Quran) yang terkait dengan masalah kealaman.

Dengan metode seperti itu, para pecinta ini bisa (dan senantiasa sanggup) berdialog dengan al-Quran secara objektif dan mampu menyingkap segala misteri yang melingkupinya, dengan proses pembacaan produktif (al-qirâah al-muntijah), dan selalu menghindari proses pembacaan reproduktif (al-qirâah mutakarrirah). Hasil dialog itu kemudian dibakukan dalam bentuk karya tulis studi pemikiran (ke)-Islam(an) kontemporer yang benar-benar baru dan menyegarkan, serta (diupayakan) bisa menjawab persoalan zaman. Para intelektual muslim yang masuk dalam tipe ini – misalnya — adalah: Fazlur Rahman dan Maurice Bucaille (mewakili kelompok muslim dari Dunia Barat), Toshihiko Izutsu dan Isa J. Boullata (mewakili kelompok non-muslim) Muhammad ‘Abd al-Jabiri, Nashr Hamid Abu Zaid, Muhammad Arkoun, Abdullahi Ahmed an-Na’im dan Hassan Hanafi (mewakili kelompok muslim dari dunia Timur), Nurcholish Madjid, Kuntowijoyo, Ahmad Baiquni, M. Dawam Rahardjo dan Ahmad Syafii Ma’arif (mewakii kelompok muslim dari Indonesia).

Stratifkasi ini (mungkin) secara sederhana bisa dianggap telah menunjukkan peta kasar para pembaca (pecinta) al-Quran. Tetapi, (tentu saja) belum dapat menjelaskan secara lengkap peta (rinci) sesungguhnya kelompok pembaca (pecinta) al-Quran secara keseluruhan.
Oleh karenanya, pemetaan lebih lanjut perlu dilakukan secara lebih cermat untuk dapat menggambarkan stratifikasi (sesungguhnya) yang lebih komprehensif.

(Dikutip dan diselaraskan dari beberapa situs Kajian Islam untuk kepentingan kuliah pada FAI UM Yogyakarta)