Menjauhi Sifat Munafik

(Disampaikan dalam Khutbah Jumat, di Masjid Margo Rahayu, Namburan Kidul, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta, 3 Februari 2012)

 

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ  أَنَّ  مُحَمَّدًا  عَبْدُهُ  وَرَسُوْلُهُ   صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ  وَ عَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَقُوْمُوْا بِمَا أَوْجَبَ اللهُ عَلَيْكُمْ مِنْ حَقِّهِ وَحُقُوْقِ عِبَادِهِ

Ma’âsyiral muslimîn rahimanî  wa rahimakumullâh

Sungguh merupakan suatu hal yang tidak bisa kita pungkiri hari ini, kenyataan pahit telah terpampang jelas di hadapan kita, di mana kemungkaran, kemaksiatan, dan kemunafikan telah menjamur di tubuh kaum muslimin. Sebagian di antara kita kaum muslimin, tidak lagi menghiraukan nasihat serta petuah yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sebagiannya lagi nekat menerobos dan menerjang hukum-hukum Allah Subhânahu wa Ta’âlâ hanya dengan dalih tidak selaras dengan akal dan pikiran manusia.  لاََ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ  (Lâ haula wala quwwata illâ billâh).

Maka ketahuilah wahai kaum muslimin, bahwasanya menerobos dan menerjang hukum-hukum Allah dengan dalih tidak selaras dengan akal dan pikiran merupakan tanda-tanda kemunafikan. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَآأَنزَلَ اللهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا

Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum rasul, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS an-Nisâ, [4]: 61)

Ma’âsyiral muslimîn rahimanî  wa rahimakumullâh

Ketahuilah, bahwasanya kemunafikan merupakan sebuah parasit yang dapat merobohkan dan menghancurkan pondasi keimanan seseorang, yang dengannya pula barisan kaum muslimin menjadi porak poranda.

Allah tetap menyingkap tirai kemunafikan, serta mencela dan menghinakan pelakunya. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُم

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka…” (QS an-Nisâ’ [4]: 142)

Dan firman-Nya,

اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Allah akan membalas olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (QS al-Baqarah [2]: 15)

Allah telah menyebutkan sifat-sifat mereka agar  hamba-hamba-Nya (yang beriman) dapat menghindar serta menjauh dari sifat kemunafikan dan para pelakunya.

Ma’âsyiral muslimîn rahimanî  wa rahimakumullâh

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Madârijus Sâlikîn, telah menjelaskan bahwasanya nifâq (kemunafikan) ada dua macam: nifâq akbar (kemunafikan besar) dan nifâq ashghar (kemunafikan kecil).

Dan dalam kesempatan yang mulia ini, sedikit akan kami paparkan kedua macam kemunafikan ini dan sekaligus ciri-ciri dan sifat-sifatnya

Pertama: Nifâq akbar (kemunafikan besar) atau lebih dikenal dengan nifâq i’tiqâdiy (kemunafikan dalam bidang keyakinan).

Nifâq (kemunafikan) jenis ini adalah sebuah kemunafikan yang dapat mengeluarkan seseorang dari keimanan. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ ءَامَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لاَيَفْقَهُونَ

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka telah beriman kemudian menjadi kafir lagi lalu hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti.” (QS al-Munâfiqûn [63]: 3)

Dan juga dalam QS at-Taubah [9]: 66, dimana Allah memvonis orang-orang yang berada di barisan kaum muslimin akan tetapi mengolok-olok Rasulullah shalallâhu ‘alaihi wa sallam,

…قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ …

“…sungguh kalian telah kufur setelah kalian beriman…”

Ma’âsyiral muslimîn rahimanî  wa rahimakumullâh

Di antara sifat-sifat kaum munafik dengan nifâq i’tiqâdiy yang Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah menyebutkan dan menjelaskannya di dalam al-Quran, ialah:

1. Mereka mengaku dan mengikrarkan keimanan layaknya seorang mukmin, padahal hati mereka tidaklah seperti apa yang mereka ucapkan.

Maka Allah pun menyibak apa yang ada dalam hati mereka dengan firman-Nya,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الأَخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ

Dan di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,’ padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (QS al-Baqarah [2]: 8)

Dan firman-Nya

إِذَا جَآءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللهِ وَاللهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwasanya kamu benar-benar rasul Allah’ dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar rasul-Nya dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS al-Munâfiqûn [63]: 1)

2. Mereka memiliki dua wajah dan dua lisan.

Allah berfirman,

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْإِلىَ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُونَ

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, ‘Kami telah beriman’ dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan, ‘sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok’.” (QS al-Baqarah [2]: 14)

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Muslim, dan selain keduanya, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan mengenai sifat mereka ini.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ :قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم تَجِدُ مِنْ شَرِّ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ اللهِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ.

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ’anhu dia berkata, bahwasanya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(akan) kau temukan sejelek-jelek manusia pada hari kiamat di sisi Allah (ialah orang) yang mempunyai dua wajah, di mana ketika dia datang kepada mereka (kaum muslimîn) dengan satu wajah dan kepada mereka (kaum munâfiqîn) dengan wajah yang lain.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

3. Mereka mencegah dan menghalangi manusia dari jalan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

Allah berfirman,

اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللهِ

Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai lalu mereka menghalangi manusia dari jalan Allah …” (QS al-Munâfiqûn [63]: 2)

Maka sungguh Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah menghinakan apa yang mereka perbuat dengan firman-Nya,

إِنَّهُمْ سَآءَ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ

…sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS al-Munâfiqûn [63]: 2)

4. Istihzâ’ (mempermainkan/melecehkan) Allah, ayat-ayat, dan rasul-Nya.

Allah berfirman,

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ …

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka tentang apa yang mereka lakukan itu, tentulah mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja…” (QS at-Taubah [9]: 65)

Mengenai istihzâ‘ terhadap Allah dan rasul-Nya, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ membantah perbuatan mereka dengan firman-Nya,

…قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ )٦٥( لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ)٦٦(

…katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak perlu kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS at-Taubah [9]: 65-66)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “sesungguhnya istihzâ‘ kepada Allah, ayat-ayat, dan rasul-Nya adalah sebuah kekufuran.”

Dan hal senada juga telah dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat tersebut.

Ma’âsyiral muslimîn rahimanî  wa rahimakumullâh

Inilah sebagian apa yang telah Allah kabarkan tentang keadaan dan sifat-sifat mereka (kaum munafik i’tiqâdiy). Maka seyogyanyalah kita terus berusaha menjaga diri kita dari sifat-sifat tersebut di atas agar kita tidak terjerumus ke dalam kekufuran sebagaimana mereka telah terjerumus ke dalamnya.

وَفََّّقَنـِيَ  اللهُ  وَإِيَّاكُمْ  لِأَدَاءِ  الْأمَانَةِ  وَحَمَانَا جَمِيْعًا  مِنَ  الْإِضَاعَةِ  وَالْـخِيَانَةِ  وَ غَفَرَ لَنَا وَلِوَلِدِيْنَا  وَ لِـجَمِيْعِ الْـمُسْلِمِيْنَ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِ الْعَالَمِيْنَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ  وَرَسُوْلُهُ  الصَّادِقُ  الْأَمِيْنُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ والتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْد

Ma’âsyiral muslimîn rahimanî  wa rahimakumulâh

Kedua: Nifâq ashghar yang disebut juga dengan nifâq ‘amaliy (kemunafikan dalam perbuatan)

Cukuplah sekiranya kita mengetahui sifat dari kemunafikan ini dari apa yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ.

Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkari, dan apabila diamanati dia khianat.” (HR al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Ma’âsyiral muslimîn rahimanî  wa rahimakumullâh

Inilah tiga buah akar dari sebuah kemunafikan yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan kepada kita yang setiap di antara sifat dari sifat-sifat kemunafikan terpaut dan terkait dengannya. Maka tak sepantasnyalah bagi kita untuk tidak menyepelekan serta meremehkan jenis kemunafikan ini. Karena jenis kemunafikan ini (nifâq ‘amaliy) akan menyeret kita kepada nifâq i’tiqâdiy, sehingga akan mengeluarkan kita dari ruang lingkup keimanan.

Ma’âsyiral muslimîn rahimanî  wa rahimakumullâh

Bersandarlah kepada Allah, mintalah kemudahan, ketetapan hati, dan keistiqamahan untuk berjalan di atas apa yang Allah Subhânahu wa Ta’âlâ ridhai. Jauhkan dan jagalah diri Anda, keluarga, dan orang-orang yang diamanatkan urusannya di atas pundak Anda dari kemurkaan dan azab Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

إِنَّ اللهَ وَ مَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْماً.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الـْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَـهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ  وَ الـْمُسْلِمِيْنَ  وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِينَ. اَللَّهُمَّ  أَصْلِحْ  أَحْوَالَ الْـمُسْلِمِينَ  فِي كُلِّ مَكانٍ. اللَّهُمَّ  إِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَدُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الْـحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا اْلبَاطِلَ بَاطِلاً  وَارْزُقْنَا  اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا لاَ  تُزِغْ  قُلُوْبَنَا  بَعْدَ  إِذْ هَدَيْتَنَا  وَهَبْ  لَنَا  مِنْ  لَّدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ  أَنْتَ  الْوَهَّابُ.  رَبَّنَا  آتِنَا  فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً  وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً  وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْـمُرْسَلينَ وَالْـحَمْدُ لِلهِ ربِّ الْعَالَمِينَ.

(Dikutip dan diselaraskan dari http://khotbahjumat.com/sifat-munafik/)