Menuju Ihsân dan Itqân

Oleh: Muhsin Hariyanto

Nurcholish Madjid (Allâhu Yarham) – ketika menjelaskan makna ihsân dalam dimensi hablun minannâs – menyatakan bahwa ihsân berarti optimasi potensi dan aktualisasi kerja, sehingga menghasilkan kinerja yang terbaik, bahkan – ketika dilanjutkan dengan konsep itqân — bermakna “melaksanakannya sesempurna mungkin”.

Dikisahkan bahwa pada suatu hari Rasulullah s.a.w.. berjumpa dengan seorang sahabatnya yang bernama Sa’ad bin Mu’adz al-Anshari. Pada saat itu, beliau melihat kedua tangan sahabatnya itu ‘melepuh’, kulitnya ‘gosong‘ kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. Memerhatikan kedua tangan sahabatnya itu, beliau pun bertanya: “ada apa dengan tanganmu, wahai sahabatku?” Sa’ad bin Mu’adz al-Anshari pun menjawab: “Wahai Rasullullah, tanganku menjadi seperti ini karena aku setpa hari bekerja untuk mengolah tanah dengan cangkul yang menjadi andalanku untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Mendengar jawaban sahabatnya itu, spontan rasulullah s.a.w. memegang kedua tangan sahabtanya itu dan ‘menciumnya’ seraya berkata, “inilah tangan yang tidak akan pernah tersentuh api neraka”. Sebuah ungkapan yang sangat mengejutkan bagi Sa’ad bin Mu’adz al-Anshari dari seorang panutan yang sangat dihormati. Dan ungkapan tersebut bisa dipahami sebagai sebuah kekaguman, penghormatan, pengakuan dan – sekaligus – doa dari seorang hamba Allah terbaik kepada sahabatnya yang diungkapkan dengan ‘ikhlas’, yang tentu saja sangat diyakini oleh Sa’ad bin Mu’adz al-Anshari sebagai bagian dari harapan yang tak mungkin sia-sia.

Rasulullah s.aw. adalah seorang yang memiliki etos kerja yang sangat bisa diteladani  oleh setiap muslim, dan sabda-sabdanya berkaitan dengan masalah ini baca: etos kerja) telah menjaid bagian dari pelajaran yang sangat berharga bagi umatnya. Tetapi, hinga kini, banyak di antara umatnya yang belum mengimani dengan sungguh-sungguh terhadap  serangkain sabda beliau yang berkaiatan dengan masalah ‘etos kerja’ itu, dan seolah-olah menganggapnya sebagai angun  lalu, sehingga – akibatnya — umat ini  (baca: umat Islam) – meminjam istilah Amir Syakib Arsalan — lebih banyak tertinggal daripada umat yang lain (baca: buku Amir Syakib Arsalan yang berjudul “Limâdzâ Taakhkharal Muslimûn wa Limâdzâ Taqaddama Ghairuhum“). Etos kerja orang Islam saat ini menjadi ‘kata lunci’, kenapa kita (umat Islam) masih lebih banyak menjadi ‘pecundang’, dan dan belum banyak menjadi ‘pemenang’ dalam berbagai ragam aspek kehidupan.

Ketika kita kaji ulang, istilah etos kerja yang terdiri dari dua kata yaitu:  “etos dan kerja”, memiliki makna yang sangat erat dengan keterpurukan kita di tengah percaturan ‘kompetisi’ antarumat manusia. Kata “etos” berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang berarti sikap, kepribadian, karakter, watak, keyakinan atas sesuatu. Sedangkan kata “kerja” berarti usaha untuk melakukan sesuatu dengan perencanaan dan tanggung jawab, menjadi bisa memahamkan diri kita (umat Islam), bahwa kita terpuruk – lebih banyak — bukan karena orang lain, tetapi – lebih banyak — karena ‘sikap’ kita yang kurang benar terhadap persoalan ‘kerja’. Padahal, Islam (agama kita) – merujuk firman Allah SWT dalam QS al-Qashash, 28: 77 (Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu [kebahagiaan] negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari [kenikmatan] duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”—  merupakan agama yang telah mengajarkan kepada umatnya untuk menyelaraskan kehidupan duniawi dan akhirat, keduanya tidak dapat terpisahkan. Dalam Islam, sebagaimana  firman Allah dalam QS al-Hajj, 22: 41 (yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan), kerja sesungguhnya bentuk implementasi dari penciptaannya di bumi, sebagai khalîfah fî al-ardh, manusia dalam wujud fisiknya diperintahkan untuk memakmurkan bumi.

Dalam kitab-kitab ‘Sîrah’, dikisahkan bahwa pada masa mudanya Rasulullah s.a.w. adalahseorang pedagang yang ‘handal’ yang memiliki etos kerja ‘prima’. Beliau adalah seorang pedagang yang sangat ‘ulet’. Dan sebagai hasil dari kerja kerasnya itu, kinerja beliau mendapatkan apresiasi dari dari mitra bisnisnya, berkembang pesat, lebih daripada pedangang yang lain. Bahkan – dikisahkan oleh para ‘muarrikh‘ (sejarawan), bahwa ketika sudah menjadi seorang Rasul dan pemimpin umat yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang santa berat pun etos kerja beliau tetap ‘prima’, sehingga – karena keberhasilannya dalam memadukan ibadah dan mu’amalahnya secara sempurna — beliau disebut sebagai “Insân Kâmil” (manusia pariupurna).

Etos kerja muslim – bekajar dari rasulullah s.a.w; — tidak bisa lepas dan dilepaskan dari ‘profesionalisme‘.  Profesionalisme lebih mengarah pada (spirit, jiwa, sikap, karakter, semangat, nilai) yang dimiliki dari seorang yang profesional. Tanpa profesionalisme sebuah institusi, sebuah organisasi, sebuah perusahaan tidak akan bertahan lama dan ‘lestari’, karena jiwa profesionalisme inilah yang menghidupkan setiap aktivitas yang ada di dalamnya.
Julukan ‘profesional’ pada diri seseorang sebenarnya bukan label yang kita berikan untuk diri sendiri melainkan penilaian orang lain atas kinerja dan peforma yang kita tampilkan. Rasulullah s.a.w. yang selalu mengawali aktivitasnya denga ‘spirit’ bismilllah, dengan niat hanya karena Allah, ternyata telah menjadi seorang profesional sejati.

Esensi konsep ‘kerja’ dalam Islam adalah ihsân dan itqân‘, “bekerja dengan modal etos kerja terbaik, berproses dengan rangkaian tahapan terbaik dan menghasilkan kinerja terbaik”, sebagaimana yang telah diformulasikan dan dibuktikan oleh Rasulullah s.a.w. Setiap muslim – dengan spirit ihsân dan itqân’ tidak diperkenankan untuk (memilih) menjadi seorang ‘minimalis’, yang berpuas diri dengan etos kerja, proses dan kinerja seadanya. Tetapi, mereka harus memilih untuk menjadi ‘yang terbaik’ dalam membangun pribadinya untuk menjadi seorang profesional sejati dengan semangat ‘fastaqiqû al-khairât’ (selalu bersedia untuk berkompetisi “menjadi yang pertama dan utama“) dalam konteks [kebaikan] apa pun, kapan pun dan di mana pun.

Penulis adalah Dosen Tetap FAI UM Yogyakarta dan Dosen Tidak Tetap STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta