Menuju Titik Inâbah

Inâbah adalah istilah yang berasal dari Bahasa Arab anâba-yunîbu (mengembalikan), sehingga inâbah berarti pengembalian atau pemulihan, maksudnya proses kembalinya seseorang dari jalan yang menjauhi (dari) Allah ke jalan yang mendekat (kepada) Allah. Istilah ini digunakan pula dalam al-Quran, yakni — antara lain — dalam QS Luqmân/31: 15, QS asy-Syûrâ/42: 10,

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk memersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah (yang memunyai sifat-sifat demikian). Itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.”

Inâbah semakna dengan taubah, akan tetapi para ulama mengatakan bahwa inâbah memiliki derajat yang lebih tinggi daripada taubah. Jika taubah bermakna sikap meninggalkan (maksiat), menyesal dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Inâbah, selain mencakup ketiga unsur tersebut ia juga memiliki kelebihan lainnya yaitu: “menghadapkan jiwa-raga kepada Allah dengan mengerjakan ibadah-ibadah”.

Seseorang yang meninggalkan perbuatan maksiat kemudian bertekad untuk tidak melakukannya lagi dan menyesali perbuatan yang telah dilakukannya itu, dan terus konsisten dalam beribadah, maka orang itu disebut sebagai tâ’ib (pelaku taubah), akan tetapi apabila setelah bertaubat itu ‘dia’ terus berusaha memperbaharui sikap dengan “menghadapkan diri (kepada Allah)”, maka orang ini disebut sebagai munîb (orang yang ber inâbah) kepada Allah.

Allah adalah at-Tawwâb dan mencintai al-Munîb (hamba-Nya yang kembali kepada-Nya)

Firman Allah dalam QS al-Hujurât/49: 12 mengisyaratkan bahwa Allah adalah Maha Penerima Taubat dan mencintai orang yang bertaubat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ  

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Andaikata kita pahami bahwa titik-puncak taubat itu ada pada inâbah, maka tentu saja Allah sangat mencintai al-munîb (orang yang telah berada pada titik-puncak taubat) itu.

Simaklah firman Allah dalam QS az-Zumar/39: 54,

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنصَرُونَ

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).”

Syaikh as-Sa’di rahimahullâh berkata, ketika menafsirkan ayat ini, “Dan inâbahlah kepada Rabb kalian. Yaitu dengan hati kalian, dan pasrahlah kepada-Nya.” Yaitu dengan anggota badan kalian. Apabila kata inâbah disebutkan secara bersendirian, maka amal-amal fisik sudah tercakup di dalamnya. Dan apabila digabungkan keduanya sebagaimana di dalam ayat ini maka maknanya adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan.” Dan di dalam firman Allah, “kepada Rabb kalian dan pasrahlah kepada-Nya,” terdapat dalil untuk ikhlas, dan menunjukkan bahwa tanpa keikhlasan tidak akan berguna sama sekali amal-amal lahir maupun batin.” (Taisîr al-Karîm ar-Rahmân, hal. 727)

Inâbah Kepada Allah

 

Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa siapa pun yang berada di tempat persinggahan taubat, berarti dia berada di seluruh tempat persinggahan Islam, sebab taubat sudah meliputi segalanya. Namun bagaimana pun juga tempat-tempat persinggahan yang lain ini perlu rincian dan perlu disebutkan, agar ada kejelasan hakikat, kekhususan dan syarat-syaratnya.

 

Jika kaki seorang hamba sudah mantap berada di tempat persinggahan taubat, maka setelah itu dia beralih ke tempat persinggahan “inâbah” (kembali kepada Allah). Allah telah memerintahkan inâbah ini di dalam al-Quran, seperti firman-Nya dalam QS az-Zumar/39: 54 (tersebut di atas)

 

Allah juga mengabarkan bahwa yang mau mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah dan menjadikannya sebagai peringatan adalah orang-orang yang kembali kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya,

أَفَلَمْ يَنظُرُوا إِلَى السَّمَاء فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِن فُرُوجٍ (٦) وَالأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ (٧) تَبْصِرَةً وَذِكْرَى لِكُلِّ عَبْدٍ مُّنِيبٍ (٨)

“Maka apakah mereka tidak melihat langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak memunyai retak-retak sedikit pun? Dan, Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (kepada Allah).” (QS Qâf/50: 6-8)

 

Allah juga mengabarkan bahwa pahala dan surga-Nya diberikan kepada orang-orang yang takut dan kembali kepada-Nya,

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (٣١) هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (٣٢) مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَن بِالْغَيْبِ وَجَاء بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ (٣٣) ادْخُلُوهَا بِسَلامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (٣٤)

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya), (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan Dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman. Itulah hari kekekalan.” (QS Qâf/50: 31-34)

 

Allah juga mengabarkan bahwa kabar gembira hanya diberikan kepada orang-orang kembali kepada-Nya,

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَن يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ

“Dan orang-orang yang menjauhi thâghût (yaitu) tidak menyembah-nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku.” (QS az-Zumar/39: 17)

 

Inâbah ada 2 (dua) macam :

1.      Inâbah kepada Rubûbiyyah Allah. Ini merupakan inâbahnya semua makhluk, entah orang Muslim atau kafir, orang baik maupun orang jahat, sebagaimana friman-Nya,

وَإِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُم مُّنِيبِينَ إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُم مِّنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ

“Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat [ialah lepas dari bahaya itu] dari-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka memersekutukan Tuhannya.” (QS ar-Rûm/30: 33) Ini merupakan hak siapa pun yang berdoa kepada Allah saat dia mendapat bahaya. Inâbah ini tidak mengharuskan adanya keberislaman, karena inâbah ini juga juga berlaku bagi orang-orang musyrik dan kafir.

Allah berfirman tentang mereka,

وَإِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُم مُّنِيبِينَ إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُم مِّنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ (٣٣) لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ فَتَمَتَّعُوا فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ (٣٤)

“Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat [lepas dari bahaya itu] dari-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya, sehingga mereka mengingkari akan rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu).” (QS ar-Rûm/30: 33-34). Itulah keadaan mereka setelah mereka kembali kepada Allah.

2.      Inâbah kepada Ulûhiyyah Allah, dan ini merupakan inâbah para wali (orang yang mencintai dan dicintai) Allah karena kedekatannya dalam beribadah kepada-Nya, yaitu inâbah ‘ubûdiyyah dan mahabbah (cinta), yang meliputi 4 (empat) hal: “cinta, tunduk, menghadap kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya”. Tidak ada sebutan munîb (orang yang ber-inâbah) kecuali bagi orang yang menghimpun 4 (empat) hal ini.
Pengarang Manâzil as-Sâirin (
Syekh Abu Isma’il Abdullah al-Anshari al-Harawi, wafat 481 H./1088 M.) menjelaskan, bahwa inâbah menurut bahasa adalah kembali kepada kebenaran, yang bisa dibagi menjadi 3 (tiga) macam:

a.      Kembali kepada kebenaran karena ingin perbaikan, sebagaimana kembali kepada kebenaran karena ingin menyatakan kesalahan dan meminta maaf. Karena orang yang bertaubat telah kembali kepada Allah dengan menyatakan kesalahannya dan membebaskan diri dari kedurhakaan kepada-Nya, maka untuk menyempurnakan hal ini dia harus kembali kepada Allah dengan usaha dan nasihat agar dia senantiasa taat kepada-Nya. Tidak ada artinya taubat sambil duduk ongkang-ongkang tanpa usaha. Jadi harus ada taubat dan amal shalih, dengan meninggalkan apa yang dibenci Allah dan mengerjakan apa yang dicintai-Nya, sebagaimana firman-Nya,

إِلاَّ مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka itu akan diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Furqân/25 : 70).

Kembali kepada Allah menjadi benar dengan 3 (tiga) cara:

1)      Keluar dari dosa dan kesalahan. Caranya dengan taubat dari dosa antara hamba dengan Allah dan memenuhi hak manusia.

2)      Menderita atas kesalahan yang dilakukannya dan hatinya merasa sesak. Sebab ini merupakan tanda orang yang kembali kepada Allah. Berbeda dengan orang yang hatinya tidak pernah merasa sesat dan tidak pula menderita karena kesalahannya, yang sekaligus menunjukkan kerusakan hatinya. Bahkan dia juga menderita jika ada orang lain yang melakukan kesalahan, seakan-akan dialah yang melakukannya.

3)      Mencari-cari ketaatan dan taqarrub yang tidak dilakukannya, terlebih lagi jika dia merasa sisa umurnya tinggal sedikit, sehingga dia akan menghidupkan apa yang dia matikan dan mencari apa yang tertinggal.

b.      Kembali kepada Allah karena ingin memenuhi hak, sebagaimana ia kembali karena ingin menepati perjanjian dengan-Nya. Engkau kembali kepada Allah, pertama-tama dengan masuk ke dalam ikatan perjanjian, dan kedua kalinya engkau memenuhi perjanjian itu. Semua sisi agama merupakan perjanjian dan pemenuhan. Allah telah membuat perjanjian dengan semua mukallaf agar mereka taat kepada-Nya. Dia membuat perjanjian dengan para nabi dan rasul lewat perkataan para malaikat atau secara langsung, membuat perjanjian dengan umat manusia lewat para rasul, membuat perjanjian dengan orang-orang yang bodoh melalui para ulama, membuat perjanjian dengan para ulama melalui aktivitas belajar dan mengajar. Untuk itu Allah memuji orang-orang yang memenuhi perjanjian dengan Allah dan mengabarkan bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar,

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah Maka Allah akan memberinya pahala yang besar.”(QS al-Fath/48: 10)

وَأَوْفُواْ بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدتُّمْ وَلاَ تَنقُضُواْ الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji, dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.“ (QS an-Nahl/16: 91)

Perjanjian dengan Allah ini mengharuskan adanya pemenuhannya secara ikhlas, disertai iman dan ketaatan kepada-Nya serta pemenuhan janji dengan manusia. Nabi s.a.w. telah mengabarkan bahwa di antara tanda-tanda kemunafikan adalah mengkhianati janji. Tidak ada artinya seseorang kembali kepada Allah jika dia mengkhianati janji, begitu pula jika dia tidak masuk ke dalam perjanjian dengan-Nya. Sebab inâbah tidak akan terwujud kecuali dengan membuat perjanjian dengan Allah dan sekaligus memenuhinya.

Kembali kepada Allah karena ingin memenuhi janji dapat menjadi benar dengan 3 (tiga) cara:

1)      Membebaskan diri dari kenikmatan dosa. Jika inâbah kepada Allah benar-benar tulus, maka kenikmatan dosa juga akan hilang dari pikiran dan hati, yang kemudian diisi dengan kegelisahan dan kegundahan karena ingat dosa itu. Selagi di dalam hatinya masih ada kenikmatan dosa itu, berarti inâbahnya belum murni. Ada yang mengatakan, jiwa itu memunyai 3 (tiga) kondisi: a) Perintah melakukan dosa; b) mencela dan menyesali dosa; dan c) rasa tenteram saat berhadapan dengan Allah. Kondisi yang ketiga ini merupakan sasaran dan target yang dikehendaki orang-orang yang mengadakan perjalanan kepada Allah, keadaannya seperti orang yang mengadakan perjalanan jauh dan ingin kembali ke tempatnya. Selagi dia sudah melihat bayang-bayang rumahnya, maka hatinya menjadi tenang.

2)      Tidak mengabaikan orang-orang yang lalai karena waspada dan takut terhadap mereka, dan berharap untuk diri sendiri. Engkau berharap kebaikan untuk diri sendiri. Engkau mengharapkan rahmat bagi dirimu dan takut terhadap orang-orang yang lalai lagi menderita. Tetapi tetaplah mengharap rahmat bagi mereka dan takutlah penderitaan bagi dirimu. Kalau perlu celalah mereka jika memang engkau mengetahui keadaan mereka.

3)      Mencermati kekurangan dalam berbuat kebajikan, yaitu dengan memeriksa hal-hal yang mengotori amalnya, yang boleh jadi amalnya lebih banyak dilandasi nafsu, sementara engkau tidak menyadarinya. Berapa banyak penyakit dan tujuan-tujuan yang mendekam di dalam jiwa, yang menghambat amal. Sebab ada seseorang melakukan suatu amal yang tidak diketahui orang lain, namun dia melakukannya tidak secara ikhlas karena Allah, sementara ada orang lain yang melakukan suatu amal namun dia melakukannya secara ikhlas karena Allah. Tidak ada yang bisa membedakan dua keadaan ini kecuali orang yang memiliki bashirah. Antara amal dan hati terdapat jarak perjalanan, yang di sana ada para perampok yang akan menghalangi amal agar tidak sampai ke hati. Adakalanya seseorang banyak amalnya, namun tidak sampai ke hati, sehingga tidak menghasilkan cinta, rasa takut, berharap, zuhud di dunia dan hanya mengharapkan akhirat, tidak ada cahaya yang bisa membedakan dirinya antara wali Allah ataukah wali musuh-Nya. Andaikan pengaruh amal ini sampai ke hati, maka di dalamnya akan muncul cahaya, sehingga membuat dirinya tahu mana yang haq dan mana yang bâthil. Kemudian antara hati dan Allah juga ada jarak perjalanan, yang di sana ada para perampok yang akan menghalangi amal agar tidak sampai kepada-Nya, berupa ‘ujub, takabur, membanggakan amal dan mencemooh amal orang lain. Di sana terdapat banyak penyakit, yang andaikan dia memeriksanya, tentu akan terheran-heran sendiri. Namun di antara rahmat Allah, Dia menutupi penyakit-penyakit hati ini.

 

c.       Kembali kepada Allah secara seketika, sebagaimana dorongan untuk memenuhi seruan, yang bisa menjadi benar dengan 3 (tiga) cara:

1)      Merasa putus asa terhadap amal yang dilakukan. Hal ini bisa ditafsiri dengan 2 (dua) macam penafsiran:

 

a)      Pertama, dengan melihat pelaku yang sebenarnya dan penggerak pertama. Kalau bukan karena kehendak-Nya, maka tidak ada perbuatan yang muncul dari dirimu. Karena kehendak-Nyalah ada perbuatanmu, dan itu bukan karena semata kehendakmu sendiri.

b)     Kedua, merasa putus asa akan mendapatkan keselamatan karena amal diri sendiri. Engkau melihat keselamatan ini hanya berasal dari rahmat Allah dan karunia-Nya.

 

Di dalam sebuah hadits disebutkan dari Rasulullah s.a.w., bahwa beliau bersabda,

لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ قَالُوا ، وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاغْدُوا وَرُوحُوا وَشَيْءٌ مِنَ الدُّلْجَةِ وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوا.

“Salah seorang dari kalian tidak akan dapat diselamatkan oleh amalnya, maka para sahabat bertanya: “Tidak juga dengan engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak juga saya, hanya saja Allah telah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” Maka beramallah kalian sesuai sunnah dan berlakulah dengan imbang, berangkatlah di pagi hari dan berangkatlah di sore hari, dan (lakukanlah) sedikit waktu (untuk shalat) di malam hari, berniatlah dan maka niat kalian akan sampai.” (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah, Shahîh al-Bukhâriy, VIII/122, hadits nomor 6463)

2)      Merasakan adanya kebutuhan secara terus-menerus. Apabila pada awal mula seorang hamba merasa putus terhadap amalnya, lalu akhirnya dia merasa putus asa terhadap keselamatannya, maka dia akan merasa membutuhkan Allah, dalam segala hal. Sifat kekayaan hanya milik Allah dan sifat kemiskinan menjadi milik hamba.

3)      Merasakan kasih sayang Allah terhadap dirimu. Jika engkau sudah melihat kekuatan yang hanya dimiliki Allah dan engkau merasa putus asa terhadap amalmu sendiri, maka engkau akan melihat bagaimana kasih sayang Allah yang diberikan kepadamu. Allahlah yang berbuat baik dengan menciptakan sebab akibat, dan yang semua urusan ada di Tangan-Nya.

Khâtimah

Inâbah adalah puncak kesadaran manusia dalam bertaubat. Seseorang yang berada dalam kondisi inâbah kepada Allah selalu akan berupaya dan mengondisikan untuk selalu meningkatkan ibadahnya dengan memerbanyak dzikrullâh dan amalan yang mendekatan dirinya kepada Allah. Dia selalu akan menjaga dan menjauhkan diri dari berbagai perbuatan dosa, dan beramal saleh seoptimal mungkin untuk mendapatkan ridha-Nya.

Dalam sikap dan perilakunya, seorang munîb (orang yang telah kembali kepada Allah) akan selalu menunjukkan diri sebagai seorang taat kepada Allah (dan juga rasul-Nya) dalam seluruh aspek kehidupan. Karena dirinya tidak ingin sekecil apa pun berdekatan dengan perbuatan maksiat dan selalu ingin berdekatan dengan amal shaleh. Dirinya selalu berkeinginan untuk membangun keikhlasan untuk beribadah (hanya) kepada-Nya.