Menyikapi Perbedaan, Tak Seharusnya ‘Saling-Menghujat”

Muhammadiyah — sebagaimana yang saya ketahui — telah menetapkan awal Ramadhan tahun ini, tanggal 27 Juni 2014. (info sekilas dari teman saya, dan belum saya cek; Info selanjutnya bisa baca: http://news.detik.com/read/2014/04/29/185813/2569134/10/muhammadiyah-tetapkan-awal-ramadan-jumat-27-juni)

Pernyataan ini ketika saya ‘ucapkan’ spontan, tanpa ada pretensi apa pun, tiba-tiba ada yang berkomentar ‘sinis’: “Muhammadiyah itu sok tahu. Al-Quran dan Hadits pun dilanggar hanya dengan mengandalkan ‘hisab’. Akal sudah didewakan. Jangan-jangan ‘hari kiamat’-pun nanti ditetapkan dengan hisab? Dasar Ahli Bid’ah!

Saya jawab: Na’udzubillahi min dzalik! “Jangan marah, dan berhentilah untuk menghujat”. Kalau tidak tahu, “bertanyalah”. Kalau tidak setuju: “bersikap dewasalah untuk memahami perbedaan”.

Kalau anda punya keyakinan, jangan paksakan untuk orang lain. Muhammadiyah memunyai pendapat dengan sejumlah alasannya, dan tak pernah sekalipun memaksakan pendapatnya pada siapa pun. Anda pun boleh berpendapat dengan alasan anda sendiri, dantidak perlu memaksakan pendapat anda pada siapa pun.

Ini permasalahan ‘keyakinan’ dalam beragama. Jangan, karena ‘ingin’ menang, lalu ‘dengan kekuasaan’ yang dimiliki: “memaksanakan pendapatnya untuk semua orang”.

Ini domain siapa? Mari kita berpikir jernih dan jangan “arogan”!

Pemerintah pun sebaiknya bersikap arif. Berikan kesempatan kepada masyarakat untuk semakin terbuka dengan perbedaan pendapat, dan jangan jangan sekali-kali bersikap otoriter dengan mengatasnamakan ‘Ulil Amri’. Bersikap jujurlah, dan jangan suka melakukan pembodohan publik!

Semoga Pemerintah kita semakin dewasa untuk membimbing rakyatnya untuk bersikap dewasa.

Amien.