Menyingkap Misteri Maryam (4)

Pengagungan terhadap bunda Maria dalam tradisi Kristen melampaui kekaguman kelompok agama-agama Abrahamik lainnya, seperti Yahudi dan Islam.

Dalam literatur Kristiani, kesucian dan keperawanan Maria (Maryam) sangat ditekankan. Ini dapat dipahami karena dalam anggapan mereka, yakin betul kalau Yesus Kristus adalah anak Bapak (Tuhan).

Kalau dikesankan bunda Maria punya suami atau pernah bersentuhan dengan laki-laki lain, bisa menggugurkan atau paling tidak melemahkan kredibilitas Yesus Kristus.

Ini mengingatkan kita ketika pada abad permulaan Islam sangat di tekankan keummian atau kebutahurufan Nabi Muhammad SAW.

Karena begitu ketahuan Muhammad bisa membaca dan bisa menulis, akan mengurangi kredibilitasnya sebagai Nabi dan kewahyuan Alquran. Sebagai dampaknya, bisa dijadikan pembenaran anggapan orang-orang kafir ketika itu bahwa Alquran itu buatan Muhammad SAW.

Maria harus dipertahankan kesucian dan keperawanannya untuk mempertahankan ketuhanan Yesus Kristus. Serupa, kebutahurufan Nabi Muhammad harus dipertahankan untuk mempertahankan Alquran sebagai wahyu.

Belakangan, asumsi seperti ini mulai ditinggalkan. Tidak perlu mempertahankan kesucian Maria dari laki-laki lain demi mempertahankan ketuhanan Yesus Kristus.

Hal yang sama juga terjadi dalam Islam, tidak perlu mempertahankan kebuta hurufan Nabi Muhammad tanpa menganggapnya buta huruf. Pendekatan hermeneutika bisa digunakan untuk meng-clear-kan persoalan ini.

Pengagungan terhadap bunda Maria dalam tradisi Kristen melampaui kekaguman kelompok agama-agama Abrahamik lainnya, seperti Yahudi dan Islam. Bagir mengutip beberapa sumber yang digambarkan Maria sebagai Mahkota Kearifan (the Throne of Wisdom) atau Sedes Sapientiae yang sunyi dari keserupaan dari makhluk mana pun.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Prof Dr Nasaruddin Umar, Senin, 30 Juli 2012, 06:06 WIB, dalam http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/12/08/07/m7x9dp-menyingkap-misteri-maryam-4)