METODOLOGI TAFSIR AL-QURAN:

Sebuah Pengantar

Al-Quran adalah Kalâmullâh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. sebagai mukjizat yang ditulis dalam mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah[1] Diturunkannya kepada jin dan manusia agar bisa dijadikan petunjuk (hudan) dan pembeda (furqân) antara kebenaran dan kesesatan, sebagaimana firman Allah:

ãöky­ tb$ŸÒtBu‘ ü“Ï%©!$# tA̓Ré& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# ”W‰èd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3“y‰ßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur …

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). ” (QS. al-Baqarah,  2: 185)

Allah menurunkan al-Quran untuk dibaca dengan penuh penghayatan (tadabbur), meyakini kebenarannya dan berusaha untuk mengamalkannya.

Allah berfirman:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran? Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. an-Nisâ’, 4: 82)

Juga firman Allah,

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran ataukah hati mereka terkunci.” (QS. Muhammad, 47: 24)

Agar bisa mewujudkan perintah Allah tersebut, seorang harus bisa memahami makna dan kandungannya. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata;

Apabila anda ingin mengambil pelajaran dari al-Quran, maka pusatkanlah hati dan pikiran anda di saat membaca dan mendengarnya. Dan pasanglah pendengaran anda baik-baik karena Allah berfirman ”Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya”.[2]

Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab, sebagaimana firman Allah,

”Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yûsuf, 12: 2).

Dengan demikian, orang yang ingin menafsirkan AL-Quran harus memahami bahasa Arab baik kaedah lughawiyahnya seperti nahwu, sharf (gramatical), maupun ta’bîriyyah (linguistic) seperti majâz, balâghah, i’jâz dan lainnya. Juga ‘Ulûmul Qurân, seperti asbâb an-nuzûl, nâsikh-mansûkh, qirâ’ah dan lainnya. Studi interdisipliner juga diperlukan oleh seorang Mufassir, mengingat al-Quran tidak hanya berbicara masalah keimanan, ibadah dan syari’ah saja, tetapi juga memuat isyarat-isyarat ilmu pengetahuan yang lainnya.

Allah berfirman:

“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al-Kitab.” (QS. al-An’âm, 6: 38)

Sebagai sebuah metode, kaedah-kaedah penafsiran telah ada sejak zaman sahabat, namun menjadi sebuah disiplin ilmu yang berada di dalam ilmu tafsir, penentuan tahunnya agak sulit dilacak. Yang jelas ketika ekspansi dakwah islam masuk wilayah-wilayah ‘ajam (non Arab) dan ajaran Islam tersebar luas terutama abad ketiga hijrah, maka di sini muncul ilmuan muslim yang mengajarkan Islam termasuk menulis masalah Islam sesuai dengan disiplin mereka masing-masing. Untuk memudahkan mereka melakukan penafsiran sekaligus memberikan rambu-rambu agar tidak terjerumus dalam kesalahan, maka dibakukanlah kaedah-kaedah tersebut.

Secara global penafsiran ayat-ayat al-Quran dilakukan oleh al-Quran sendiri (tafsîr al-Qurân bi al-Qurân). Ayat-ayat yang di-mujmal-kan pada suatu tempat akan dijelaskan di tempat lain, baik itu disebutkan pada tempat yang sama seperti firman Allah:

”Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS al-Qadr, 97: 2 ditafsirkan oleh QS al-Qadr, 97: 3)

atau disebutkan pada tempat (surat) yang lain sebagaimana tafsir ayat:

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka ….” (QS al-Fâtihah, 1: 7)

Ditafsirkan oleh ayat :

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. an-Nisâ’, 4: 69)

Apabila metode ini tidak ada, maka umat Islam bisa menafsirkan al-Quran dengan Sunnah Rasulullah s.a.w.. Karena ia (Sunnah Rasulullah s.a.w.) merupakan penjelasan bagi al-Quran.

Rasulullah s.a.w. bersabda,

أَلَا إِنِّي أُوتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

“Ketahuilah, aku diberi al-Quran dan sesuatu yang serupa dengannya (al-Quran) bersamanya (yaitu as-Sunnah).” (HR. Ahmad dari Al-Miqdam bin Ma’di Kariba al-Kindi).

Ketika Aisyah ditanya bagaimana kepribadian (akhlak) Rasulullah s.a.w. , beliau menjawab:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

Maksudnya: Akhlak Rasulullah s.a.w. refleksi dari keseluruhan syari’at Alllah yang terdapat di dalam al-Quran (HR. Muslim ).

Apabila tidak ada tafsir (al-Quran) dari Sunnah Rasulullah s.a.w., maka umat Islam bisa menggunakan perkataan para sahabat Rasulullah s.a.w.. Karena mereka melihat fakta dan realita kejadian Sunnah dan menerima ilmu langsung dari Rasulullah. Abdullah bin Mas’ud berkata; “Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya, tidak ada satu ayat dari Kitabullah, kecuali saya mengetahui untuk siapa diturunkan dan di mana diturunkan, kalau ada orang yang lebih mengetahui tentang Kitabullah akan saya datangi sekalipun ada di ujung dunia”.

Begitu juga dengan Abdullah bin Abbas yang dijuluki oleh Rasulullah s.a.w. sebagai penerjemah al-Qurân dan sahabat yang lain seperti Said bin Musayyab, dan lainnya.

Kalau dengan al-Quran, Sunnah Rasulullah s.a.w. dan perkataan sahabat tidak ada, maka sebagian ulama mengharuskan merujuk kepada perkataan Tabi’in. seperti Hasan Bashri, Atha’ bin Rabah, Mujahid bin Jubair murid Abdullah bin Abbas yang pernah mengemukakan Al-Quran dari awal sampai akhir dan menanyakan tafsir dari setiap ayat yang dibaca. Sufyan At-Tsauri berkata; Apabila ada tafsir dari Mujahid maka itu sudah cukup.[3]Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas, menyebutkan penafsiran itu ada empat macam:

Pertama, penafsiran yang diketahui oleh orang Arab melalui tuturannya.

Kedua, penafsiran yang bisa diketahui oleh semua orang, yaitu yang menyangkut halal dan haram.

Ketiga, penafsiran yang hanya diketahui oleh para ulama,

Keempat, penafsiran yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.[4]

Karena al-Quran diturunkan dengan Bahasa Arab, maka untuk memahami apalagi menafsirkannya dibutuhkan pemahaman terhadap bahasa Arab dan kaedah-kaedahnya, di samping pemahaman terhadap ‘Ulûmul Qurân yang lain, juga fikih, qawâid (kaedah-kaedah) dan ushulnya, dan disiplin ilmu yang lain sebagai penunjang. Menafsirkan ayat-ayat Allah dengan al-ahwâ’ (hawa nafsu) semata tanpa didasari dengan ilmu dan pengetahuan termasuk kebohongan terhadap Allah, sebagaimana firman-Nya:

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. an-Nahl, 16: 116)

Rasulullah s.a.w. dalam banyak hadisnya mengingatkan untuk tidak menafsirkan ayat-ayat Allah tanpa ilmu, di antaranya adalah:

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأيِهِ أَوْ بِمَا لاَ يَعْلَمُ فَلْيَتَبَوَّأ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Maksudnya; Barangsiapa yang menafsirkan al-Quran dengan pendapatnya atau tanpa dilandaskan dengan ilmu maka silahkan mengambil tempatnya di neraka”. (HR an-Nasa’i dari Abdullah bin Abbas)

Dan dalam riwayat yang lain Rasulullah s.a.w. bersabda;:

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

“Barangsiapa yang menafsirkan al-Quran dengan pendapatnya, meskipun bisa jadi benar, maka ia tetap dinyatakantelah keliru.” (HR. at-Tirmidzi, Abu Daud, dan Nasa’i dari Jundub bin Abdullah)

Abu Bakar berkata:  “Langit yang mana aku bernaung, bumi yang mana aku berpijak, kalau aku menafsirkan Kitabullah tanpa ilmu”.

Ini menunjukkan kehati-hatian ulama salaf (sahabat, tabi’in dan berikutnya), untuk menafsirkan ayat-ayat Allah tanpa berlandaskan hujjah dan argumentasi yang jelas. Adapun penafsiran yang dilakukan dengan dasar ilmu dan pengetahuan, baik syariah maupun lughawiyah maka tidaklah termasuk dalam ancaman di atas[5], menafsirkan al-Quran dengan ijtihad ra’yu sudah ditradisikan sejak zaman Rasulullah s.a.w., dan itu dilakukan oleh isteri beliau Aisyah yang banyak menafsirkan masalah-masalah penting dalam agama[6]. Dan Rasulullah sendiri merekomendasikan Mu’adz bin Jabal untuk melakukan Ijtihad dengan ra’yu, dalam memutuskan permasalahan ummat, apabila dia tidak mendapatkan jawabannya itu pada al-Quran dan Sunnah. Dan hal seperti ini mesti dilakukan agar Al-Quran benar-benar bisa menjadi hudan (petunjuk) bagi kemaslahatan hidup manusia di dunia dan di akhirat.

[1] Anonim, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Madinah: Mujamma’ al-Malik Fahd li ath-Thiba’, tt, hal. 15.

[2] QS. Qâf, 50: 37; Lihat: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Kitab al-Fawâid, (Beirut: Daarul Kutub Araby, 1414) hal. 1

[3] Ibnu Katsir, ‘Imaduddin. Tafsîr al-Qurân al-Azhîm, Muqaddimah. (Riyadh: Dâr as-Salâm, cetakan I, 1997). hal. 20.

[4] Taqiyyuddin Ahmad ibnu Taimiyyah. Majmû’ Fatawû, Tafsîr (Makkah: Mathba’ah al-Hukûmah, t.t.) juz. 13,  hal. 375.

[5] Ibnu Katsir. Tafsîr al-Qurân al-Azhîm, Muqaddimah. Hal.13

[6] ‘Abdullah ibn Su’ûd al-Badr, Tafsîr Ummîl Mu’minîn ‘Âisyah Radhiyallâhu ‘Anhâ, (Jakarta: Dâr al-Falâh, 1422).