Mimpi, Apa Maknanya?

Tulisan ini semula hanya merupakan bagian dari coretan ‘iseng’ dari penulis. Tetapi, karena ada salah seorang mantan mahasiswa saya yang bertanya tentang “Makna Mimpi”, maka tulisan ini kemudian saya sempurrnakan, dengan mengutip salah satu tulisan yang tersedia di ‘file’ saya, yang berasal dari sebuah situs internet.

Mimpi — sebagaimana kita maklumi — tidak hanya dialami manusia biasa. Banyak di antara tokoh dan ‘orang-orang’ penting di kalangan masyarakat kita yang juga mengalaminya. Dan kini, semakin banyak orang yang ‘penasaran’ terhadap makna mimpi, sehingga muncullah tafsir-tafsir – banyak kalangan — atas mimpi. Orang Jawa – misalnya — memiliki ‘Ngelmu’  Tafsir Mimpi. Ngelmu’  Tafsir Mimpi Orang Jawa didapat melalui Ngelmu Titen,  yakni mencermati kejadian yang berulang-ulang, sambil melakukan konsentrasi tinggi agar dapat memfokuskan diri pada rasa yang netral. Sehingga dapat dibedakan mana bentuk mimpi yang hanya bunga tidur, mana yang merupakan Sasmita atau Pralambang.

Tafsir mimpi yang bersifat alamat buruk, anggap saja sekadar menjadi iseng-iseng, lelucon, atau sebagai intermezzo. Dipercaya boleh-boleh saja, tidak pun juga tidak ada masalah. Kendati demikian, banyak pula yang percaya karena memang sering terjadi match antara mimpi dengan kenyataan yang terjadi di kemudian hari.

Orang boleh percaya atau tidak, tidak ada pemaksaan. “Kamus Tafsir Mimpi” kita hargai sebagai karya budaya sastra nenek moyang kita zaman dulu yang “berkreasi” untuk meraih“NgelmuTiten”. Semua itu dilakukan sebagai upaya menyibak makna di balik mimpi.

Terkadang mimpi tidak hanya sekadar menjadi bunga tidur, namun ada pula yang disebut sebagai PuspaTajem, Sasmitoningroh, Daradasih. Yakni mimpi yang menjadi pralambang, pertanda, sasmita agar supaya kita menjadi lebih hati-hati, ‘eling’, waspada. Dan yang bersifat pertanda menggembirakan jangan sampai membuat kewaspadaan kita justeru menjadi lengah.

Terlepas kita percaya atau tidak, soal mimpi ternyata juga menjadi salah satu pasal dalam kebudayaan kita, terutama kebudayaan Jawa. Mimpi – dalam budaya Jawa — dibagi dalam 3  (tiga) kategori berdasarkan waktunya, yaitu titiyoni, gandayoni dan puspa tajem. (1) Titiyoni, adalah mimpi yang terjadi sebelum tengah malam dan tidak ada artinya. Mungkin karena tidur sejak sore, maka sebelum tengah malam sudah ‘keburu’ kenyang, sehingga muncul mimpi; (2) Gandayoni  (baca: Gondoyoni), adalah mimpi yang terjadi setelah lewat tengah malam sebelum pagi. Umumnya memimpikan hal yang pernah dialami dan sangat berkesan. Misalnya mimpi ‘memancing’, karena memang hobi ‘mancing’ Atau memimpikan hal-hal yang sangat diinginkan. Misalnya mimpi ‘punya’ Jeep Wrangler JK baru, karena memang sedang ‘ngiler-pingin’ memiliki mobil tersebut; (3) Puspa Tajem (baca: Puspo Tajem), adalah mimpi yang terjadi di saat menjelang subuh. Mimpi itu biasanya – dalam pemahaman orang Jawa — merupakan ‘wangsit’ atau pertanda sesuatu yang akan terjadi. Namanya juga pertanda, tidak harus eksplisit. Misalnya mimpi ‘nunggang gajah’, merupakan pertanda “akan mendapat kemujuran”.

Para Nabi dan Rasul pun juga pernah mengalaminya. Bahkan, salah satu jalur turunnya wahyu kepada utusan-Nya adalah melalui mimpi. Misalnya, ketika diperintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ibrahim mendapatinya melalui mimpi,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (١٠٢) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (١٠٣) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (١٠٤) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (١٠٥) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاء الْمُبِينُ (١٠٦) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (١٠٧)

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu [Yang dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah memercayai bahwa mimpi itu benar dari Allah SWT dan wajib melaksana- kannya]. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar [Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail a.s., maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya Qurban yang dilakukan pada hari raya haji]. (QS ash-Shaffât [37]: 102-107).

Nabi Muhammad s.a.w. diberitahu oleh Allah SWT melalui mimpi,bahwa dirinya akan memasuki Masjidil Haram dengan aman tanpa diliputi rasa takut,

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insyaallah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat [selang beberapa lama sebelum terjadi perdamaian Hudaibiyah Nabi Muhammad s.a.w. bermimpi bahwa beliau bersama para sahabatnya memasuki kota Mekah dan Masjidil Haram dalam keadaan sebagian mereka bercukur rambut dan sebahagian lagi bergunting. Nabi s.a.w. mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi nanti. Kemudian berita ini tersiar di kalangan kaum muslimin, orang-orang munafik, orang-orang Yahudi dan Nasrani. Setelah terjadi perdamaian Hudaibiyah dan kaum muslimin waktu itu tidak sampai memasuki Mekah. Maka orang-orang munafik memperolok-olokkan Nabi  s.a.w. dan menyatakan bahwa mimpi Nabi s.a.w. yang dikatakan beliau pasti akan terjadi itu adalah bohong belaka. Maka turunlah ayat ini yang menyatakan bahwa mimpi Nabi s.a.w. itu pasti akan menjadi kenyataan di tahun yang akan datang. Dan sebelum itu dalam waktu yang dekat Nabi  s.a.w. akan menaklukkan kota Khaibar. Andaikata pada tahun terjadinya perdamaian Hudaibiyah itu kaum muslimin memasuki kota Mekah, maka dikhawatirkan keselamatan orang-orang yang menyembunyikan imannya yang berada dalam kota Mekah waktu itu].” (QS al-Fath [48]: 27).

Isyarat kenabian Yusuf a.s. diperlihatkan Allah SWT melalui mimpi dengan melihat 11 (sebelas) bintang, matahari, dan bulan yang bersujud kepadanya,

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لأَبِيهِ يَا أَبتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَ الْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku [Bapak Yusuf a.s. ialah Ya’qub a.s., putera Ishaq a.s., putera Ibrahim a.s.], sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS Yûsuf [12]: 4).

Meski muatan dan konsekuensi mimpi para Nabi berbeda dengan orang biasa, bukan berarti mimpi orang awam tak punya makna. Buktinya, saat para sahabat mengusulkan perihal panggilan shalat, Nabi Muhammad s.a.w. akhirnya setuju dan menetapkan syariat adzan dari usul yang didapat mimpi sahabatnya, Abdullah bin Zaid. Itulah lafazh adzan yang berkumandang sampai kini hingga akhir zaman.

Tetapi Nabi s.a.w mengingatkan,

لَا يَبْقَى بَعْدِي مِنْ النُّبُوَّةِ شَيْءٌ إِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ قَالَ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الرَّجُلُ أَوْ تُرَى لَهُ

“Tidak ada lagi sesudahku kenabian kecuali kabar-kabar gembira.” Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah apa kabar gembira tefsebut?” Rasulullah bersabda: “Yaitu mimpi yang baik (yang benar) yang dilihat oleh seseorang atau diperlihatkan kepadanya.” (HR Ahmad dari ‘Aisyah r.a., Musnad Ahmad ibn Hanbal, VI/129, hadits nomor 25021)

Selanjutnya Nabi s.a.w. juga bersabda,

الرُّؤْيَا الْحَسَنَةُ مِنَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَ أَرْبَعِينَ جُزْءًامِنَ النُّبُوَّةِ

”Mimpi yang baik oleh orang yang saleh merupakan satu dari 46 empat puluh enam) bagian dari mimpi kenabian.” (HR al-Bukhari dari Anas bin Malik r.a.,  Shahîh al-Bukhâriy, IX/38, hadits nomor 6983).

أَصْدَقُ الرُّؤْيَا بِالأَسْحَارِ

‘Mimpi yang paling benar adalah yang terjadi (sebelum fajar) menjelang waktu sahur.” (HR al-Hakim, Al-Mustadrak, IV/392,hadits nomor 8183 dan at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, IX/29, hadits nomor 2443, dari Abu Sa’id al-Khudriy r.a.).

Walaupun baik, sebaiknya mimpi tidak terlalu mudah diceritakan kecuali pada saudara dekat atau yang dipercaya imannya. Seperti kisah Nabi Yusuf a.s. yang dilarang oleh ayahnya (Nabi Ya’qub a.s.) untuk menceritakan mimpi baiknya karena khawatir timbul fitnah. Sebagaimana firman Allah,

قَالَ يَا بُنَيَّ لاَ تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإِنسَانِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS Yûsuf [12]: 5).

Apalagi mengadukan dan menanyakan maknanya kepada para tukang ramal atau – sekarang — paranormal. Karena Nabi s.a.w. pernah memeringatkan,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa mendatangi seorang dukun atau peramal kemudian membenarkan apa yang ia katakan, maka ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam.” (HR Ahmad dari Abu Hurairah dan Al-Hasan bin Ali, Musnad Ahmad ibn Hanbal, II/429, hadits nomor 9532)

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa mendatangi peramal, lalu menanyakan sesuatu dan membenarkan ucapannya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 [empat puluh] hari.” (HR Muslim dari sebagian isteri Nabi s.a.w., Shahîh Muslim, VII/37, hadits nomor 5957; HR Ath-Thabarani dari Umar bin al-Khaththab r.a., Al-Mu’jam al-Ausath, IX/76, hadits nomor 9172).

Sedangkan mimpi buruk, Nabi s.a.w. melarang diceritakan,

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنْ اللَّهِ وَالرُّؤْيَا السَّوْءُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَمَنْ رَأَى رُؤْيَا فَكَرِهَ مِنْهَا شَيْئًا فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسَارِهِ وَ لْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ لَاتَضُرُّهُ وَلَا يُخْبِرْ بِهَا أَحَدًا فَإِنْ رَأَى رُؤْيَا حَسَنَةً فَلْيُبْشِرْ وَلَا يُخْبِرْ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ

“Mimpi yang baik datang dari Allah dan mimpi yang buruk datang dari setan; barangsiapa yang bermimpi buruk maka hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya dan meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan, niscaya tidak akan membahayakannya. Dan jangan menceritakan mimpi itu kepada siapa pun. Dan jika dia bermimpi baik maka bergembiralah dan jangan menceritakannya kecuali kepada orang orang yang dicintai.”  (HR Muslim dari Abu Qatadah, Shahîh Muslim, VII/51, hadits nomor 6039).

Kesalehan manusia yang beragam, menjadikan kebenaran mimpinya tidaklah mutlak. Bisa benar dan boleh jadi tidak sedikit salahnya. Yusuf al-Qaradhawi memberi resep: “jika kita ingin bermimpi baik atau benar, hendaklah senantiasa bersikap dan bertindak benar, makanlah makanan yang halal, pedulikan perintah dan larangan-Nya, tidurlah dalam keadaan suci dan menghadap kiblat, serta berdzikirlah sampai tertidur.

(Dikutip dan dielaborasi dari tulisan La Ode Sidratullah, Jumat, 11 Agustus 2006, dengan judul: “Mimpi”, dalam http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=260322&kat_id=14)