Musyawarah

Kata musyawarah terambil dari akar kata sy-, w-, r-, yang pada mulanya bermakna mengeluarkan madu dari sarang lebah. Makna ini kemudian berkembang, sehingga mencakup segala sesuatu yang dapat  diambil atau dikeluarkan  dari  yang  lain  (termasuk pendapat).  Musyawarah  dapat juga berarti mengatakan atau mengajukan sesuatu.  Kata  musyawarah  pada  dasarnya  hanya digunakan  untuk  hal-hal  yang  baik,  sejalan  dengan  makna dasarnya.

A. Ayat-ayat al-Quran tentang Musyawarah

Ada  tiga  ayat  Al-Quran  yang   akar   katanya   menunjukkan musyawarah.

1. Dalam QS al-Baqarah (2): 233

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا ءَاتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Ayat ini  membicarakan  bagaimana  seharusnya  hubungan  suami istri  saat  mengambil  keputusan  yang berkaitan dengan rumah tangga dan anak-anak, seperti  menyapih  anak.  Pada  ayat  di atas,  al-Quran  memberi petunjuk agar persoalan itu (dan juga persoalan-persoalan  rumah  tangga  lainnya)  dimusyawarahkan antara suami-istri.

2. Dalam QS Âli ‘Imrân (3): 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Ayat ini dan segi redaksional ditujukan kepada  Nabi  Muhammad Saw.  agar memusyawarahkan persoalan-persoalan tertentu dengan sahabat atau anggota masyarakatnya. Tetapi, seperti yang  akan dijelaskan lebih jauh, ayat ini juga merupakan petunjuk kepada setiap  Muslim,  khususnya  kepada   setiap   pemimpin,   agar bermusyawarah dengan anggota-anggotanya.

3.         Dalam QS asy-Syûrâ (42): 38, Allah menyatakan bahwa orang mukmin akan mendapat ganjaran yang lebih  baik  dan  kekal  di sisi Allah. Adapun yang dimaksud dengan orang-orang mukmin itu adalah:

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

Ayat ketiga ini turun sebagai pujian  kepada  kelompok  Muslim Madinah   (Anshâr)   yang   bersedia  membela  Nabi  Saw.  dan menyepakati  hal  tersebut  melalui  musyawarah  yang   mereka laksanakan di rumah Abu Ayyub al-Anshari. Namun demikian, ayat ini juga berlaku umum, mencakup setiap kelompok yang melakukan musyawarah.

Dari  ketiga  ayat  di  atas  saja, maka sepintas dapat diduga bahwa al-Quran tidak memberikan perhatian yang cukup  terhadap persoalan  musyawarah.  Namun dugaan tersebut akan sirna, jika menyadari cara al-Quran memberi petunjuk serta menggali  lebih jauh kandungan ayat-ayat tersebut.

B. Petunjuk al-Quran Menyangkut Perkembangan Masyarakat

Secara umum dapat dikatakan bahwa petunjuk al-Quran yang rinci lebih  banyak  tertuju  terhadap  persoalan-persoalan yang tak terjangkau  nalar  serta  tak  mengalami   perkembangan   atau perubahan.  Dari sini dipahami kenapa uraian al-Quran mengenai metafisika, seperti surga dan neraka, amat  rinci  karena  ini merupakan  soal  yang tak terjangkau nalar. Demikian juga soal mahram (yang terlarang  dikawini),  karena  ia  tak  mengalami perkembangan. Seorang anak, selama jiwanya normal, tak mungkin memiliki birahi terhadap orang tuanya, saudara, atau  keluarga dekat tertentu, demikian seterusnya.

Adapun persoalan yang dapat mengalami perkembangan dan perubahan, al-Quran menjelaskan petunjuknya dalam bentuk global   (prinsip-prinsip umum), agar petunjuk itu dapat menampung segala  perubahan  dan  perkembangan  sosial  budaya manusia.

Memang amat sulit jika rincian suatu persoalan yang diterapkan pada suatu masa atau masyarakat tertentu dengan  ciri  kondisi sosial  budayanya,  harus  diterapkan pula dengan rincian yang sama untuk masyarakat lain, baik di tempat yang sama pada masa yang  berbeda,  apalagi  di  tempat  yang  lain pada masa yang berlainan.

Musyawarah atau demokrasi adalah salah satu contohnya.  Karena itu pula, petunjuk kitab suci al-Quran menyangkut hal ini amat singkat dan hanya mengandung prinsip-prinsip umumnya saja.

Jangankan  al-Quran,  Nabi  Saw.   yang   dalam   banyak   ha1 menjabarkan petunjuk-petunjuk umum al-Quran, periha1 musyawarah ini tidak meletakkan rinciannya. Bahkan tidak  juga memberikan pola tertentu yang harus diikuti. Itu sebabnya cara suksesi yang dilakukan oleh empat khalifah beliau — Abu Bakar, Umar,  Utsman,  dan  Ali  r.a. — berbeda-beda di antara satu dengan lainnya.

Demikianlah, Rasul Saw. tidak meletakkan petunjuk  tegas  yang rinci  tentang cara dan pola syura. Karena jika beliau sendiri yang meletakkan  hukumnya,  ini  bertentangan  dengan  prinsip syura   yang   diperintahkan   al-Quran — bukankah al-Quran memerintahkan agar persoalan umat   dibicarakan  bersama? Sedangkan  apabila beliau bersama sahabat yang lain menetapkan sesuatu, itu pun berlaku untuk masa beliau saja. Tidak berlaku –rincian  itu —  untuk  masa  sesudahnya. Bukankah Rasul Saw. telah  memberi  kebebasan  kepada  umat  Islam  agar  mengatur sendiri  urusan dunianya dengan sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kalian lebih mengetahui persoalan dunia kalian.”

Dan dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Ahmad,

“Yang berkaitan dengan urusan agama kalian, maka kepadaku (rujukannya), dan yang berkaitan dengan urusan dunia kalian, maka kalian lebih mengetahuinya.”

Sungguh tepat keterangan pakar tafsir Muhammad Rasyid Ridha:

Allah telah menganugerahkan kepada kita kemerdekaan penuh dan kebebasan sempurna di dalam urusan dunia dan kepentingan masyarakat dengan jalan memberi petunjuk untuk melakukan musyawarah. Yakni yang dilakukan oleh orang-orang cakap dan terpandang yang kita percayai, untuk menetapkan bagi kita (masyarakat) pada setiap periode hal-hal yang bermanfaat dan membahagiakan masyarakat … Kita sering mengikat diri sendiri dengan berbagai ikatan (syarat) yang kita ciptakan, kemudian kita namakan syarat itu ajaran agama. Namun, pada akhirnya syarat-syarat itu membelenggu diri kita.

Demikian lebih kurang tulisan Rasyid Ridha ketika  menafsirkan surat an-Nisâ’ (4): 59.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

C. Musyawarah dalam al-Quran

Memang banyak persoalan yang  dapat  diambil  jawabannya  dari ketiga  ayat musyawarah itu. Namun, tidak sedikit dari jawaban tesebut merupakan pemahaman  para  sahabat  Nabi  atau  ulama. Meskipun  ada  juga yang merupakan petunjuk-petunjuk umum yang bersumber dari  Sunnah  Nabi  Saw.,  tetapi  petunjuk-petunjuk tersebut   masih  dapat  dikembangkan  atau  tidak  sepenuhnya mengikat.

Berbagai masalah yang dibahas para ulama  mengenai  musyawarah antara  lain:  (a) orang yang diminta bermusyawarah; (b) dalam hal-hal apa saja musyawarah dilaksanakan; dan (c) dengan siapa sebaiknya musyawarah dilakukan.

Sebelum  menguraikan sekilas tentang hal-hal tesebut, terlebih dahulu periu dikemukakan petunjuk yang diisyaratkan  al-Quran mengenai  beberapa  sikap yang harus dilakukan seseorang untuk mensukseskan  musyawarah.  Petunjuk-petunjuk  tersebut  secara tersurat  ditemukan  dalam  QS  Âli  ‘Imrân  [3]:  159 yang terjemahannya telah dikutip di atas.

Pada ayat itu disebutkan tiga sikap yang secara berurutan diperintahkan   kepada  Muhammad  Saw.  untuk  beliau  lakukan sebelum datangnya perintah  bermusyawarah.  Penyebutan  ketiga sikap  tersebut –menurut hemat penulis — walaupun dikemukakan sesuai konteks turunnya ayat, serta mempunyai makna tersendiri berkaitan   dengan   sikap   atau   pandangan para sahabat — sebagaimana akan diutarakan kemudian —  namun, dari segi pelaksanaan dan esensi musyawarah agaknya sifat-sifat tersebut sengaja dikemukakan agar ketiganya menghiasi  diri  Nabi  dan setiap orang yang melakukan musyawarah. Setelah itu disebutkan satu lagi sikap yang harus dilakukan setelah musyawarah, yakni kebulatan tekad untuk melaksanakan apa yang telah ditetapkan dalam musyawarah. Sikap-sikap tersebut sebagian  terbaca  pada ayat Âli ‘Imrân di atas.

Pertama, adalah sikap lemah lembut.

Seseorang yang melakukan musyawarah, apalagi sebagai pemimpin, harus  menghindari  tutur  kata  yang  kasar serta sikap keras kepala, karena jika tidak, mitra  musyawarah  akan  bertebaran pergi. Petunjuk ini dikandung oleh frase,

Seandainya engkau bersikap kasar dan berhati keras, niscaya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.

Kedua, memberi maaf dan membuka lembaran baru. Dalam ayat di atas disebutkan sebagai fa’fu ‘anhum (maafkan mereka).

Maaf, secara harfiah, berarti “menghapus”. Memaafkan adalah menghapus bekas luka di hati akibat perlakuan pihak lain  yang dinilai  tidak wajar. Ini perlu, karena tiada musyawarah tanpa pihak lain, sedangkan kecerahan pikiran hanya hadir  bersamaan dengan sirnanya kekeruhan hati.

Di sisi lain, orang yang bermusyawarah harus menyiapkan mental untuk selalu bersedia memberi maaf. Karena mungkin saja ketika bermusyawarah   terjadi   perbedaan   pendapat,   atau  keluar kalimat-kalimat yang menyinggung pihak lain. Dan bila hal  itu masuk  ke  dalam  hati, akan mengeruhkan pikiran, bahkan boleh jadi akan mengubah  musyawarah  menjadi  pertengkaran.  Itulah kandungan pesan fa’fu ‘anhum.

Kemudian orang yang melakukan musyawarah harus menyadari bahwa kecerahan  atau  ketajaman  analisis  saja,  tidaklah   cukup.

William James, filosof Amerika kenamaan, menegaskan,

Akal memang mengagumkan. Ia mampu membatalkan suatu argumen dengan argumen lain. Ini akan dapat mengantarkan kita kepada keraguan yang mengguncangkan etika dan nilai-nilai hidup kita.

Nah,  jika  demikian,  kita  masih  membutuhkan  “sesuatu”  di samping  akal. Terserah Anda, apa nama “sesuatu” itu. Namailah “indera keenam” sebagaimana filosof dan  psikolog  menamainya, atau  “bisikan atau gerak hati” seperti kata orang kebanyakan, atau “ilham, hidayat, dan firasat” menurut nama yang diberikan agamawan.

Tidak jelas cara kerja “sesuatu” itu, karena  datangnya sekejap, sekadar  untuk  mencampakkan  informasi  yang  diduga “kebetulan”  oleh  sebagian  orang, dan kepergiannya pun tanpa izin orang yang dikunjungi.

Biasanya, “sesuatu” itu mengunjungi orang-orang yang jiwanya dihiasi  kesucian,  karena  Allah  tidak  akan memberi hidayah kepada orang yang:

[1] berlaku aniaya (QS  al-Baqarah  [2]:  258),

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ ءَاتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

[2] kafir (QS  al-Baqarah  [2]: 264),

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

[3] bergelimang dosa atau fasik (QS al-Mâidah [5]: 108),

ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يَأْتُوا بِالشَّهَادَةِ عَلَى وَجْهِهَا أَوْ يَخَافُوا أَنْ تُرَدَّ أَيْمَانٌ بَعْدَ أَيْمَانِهِمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاسْمَعُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan persaksiannya menurut apa yang sebenarnya, dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah. Dan bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah (perintah-Nya). Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

[4] melampaui batas lagi pendusta (QS a1-Mu’min  [40]:  28),

وَقَالَ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِنْ ءَالِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ وَإِنْ يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِنْ يَكُ صَادِقًا يُصِبْكُمْ بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir`aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.

[5] pengkhianat (QS  Yusuf  [12]:  52),

ذَلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّي لَمْ أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ

(Yusuf berkata): “Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.

dan pembohong (QS az-Zumar [39]: 3)

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

Jika demikian, untuk mencapai hasil yang  terbaik  ketika musyawarah,  hubungan dengan Tuhan pun harus harmonis. Itulah sebabnya, hal ketiga yang harus mengiringi musyawarah adalah permohonan maghfirah dan ampunan Ilahi, sebagaimana ditegaskan oleh pesan surat Âli ‘Imrân ayat 159  di  atas,  wa  istaghfir lahum.

Pesan terakhir Ilahi di dalam konteks musyawarah adalah setelah musyawarah usai, yaitu

Apabila telah bulat tekad (laksanakanlah) dan berserah dirilah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berserah diri.

D. Orang-orang Yang Diminta Bermusyawarah

Secara tegas dapat terbaca bahwa perintah musyawarah pada QS  Âli ‘Imrân [3]: 159 ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini  dengan  mudah dipahami dari  redaksi  perintahnya  yang berbentuk   tunggal.   Namun demikian, pakar-pakar al-Quran sepakat berpendapat bahwa perintah musyawarah ditujukan kepada semua orang. Bila Nabi Saw. saja diperintahkan oleh al-Quran untuk  bermusyawarah,  padahal  beliau  orang   yang ma’shûm (terpelihara dari dosa atau kesalahan), apalagi manusia-manusia selain beliau.

Tanpa analogi di atas, petunjuk ayat ini tetap dapat  dipahami berlaku  untuk  Semua  orang,  walaupun  redaksinya  ditujukan kepada Nabi Saw. Di sini Nabi berperan sebagai pemimpin  umat, yang  berkewajiban  menyampaikan kandungan ayat kepada seluruh umat,  sehingga  sejak  semula  kandungannya  telah  ditujukan kepada mereka semua.

Perintah bermusyawarah pada ayat di atas turun setelah peristiwa menyedihkan pada perang Uhud. Ketika itu,  menjelang pertempuran, Nabi   mengumpulkan sahabat-sahabatnya untuk memusyawarahkan bagaimana sikap menghadapi musuh  yang  sedang dalam  perjalanan dari Makkah ke Madinah. Nabi cenderung untuk bertahan di kota Madinah, dan tidak ke luar  menghadapi musuh yang datang dari Makkah. Sahabat-sahabat beliau terutama kaum muda yang penuh semangat mendesak agar kaum  Muslim  di  bawah pimpinan  Nabi  Saw “keluar” menghadapi musuh. Pendapat mereka itu memperoleh dukungan mayoritas, sehingga Nabi Saw. menyetujuinya.  Tetapi,  peperangan  berakhir  dengan gugurnya tidak kurang dari tujuh puluh orang sahabat Nabi Saw.

Konteks turunnya ayat ini, serta  kondisi  psikologis  yang dialami  Nabi  Saw.  dan  sahabat beliau setelah turunnya ayat ini,  amat  perlu  digarisbawahi   untuk melihat bagaimana pandangan al-Quran tentang musyawarah.

Ayat ini seakan-akan berpesan kepada  Nabi  Saw.  bahwa musyawarah harus tetap dipertahankan dan dilanjutkan, walaupun terbukti pendapat yang   pernah mereka putuskan  keliru. Kesalahan  mayoritas  lebih  dapat  ditoleransi  dan menjadi tanggung jawab bersama, dibandingkan dengan kesalahan seseorang meskipun diakui kejituan pendapatnya sekalipun.

Dalam literatur keagamaan ditemukan ungkapan:

“Takkan kecewa orang yang memohon petunjuk [kepada Allah] tentang pilihan yang terbaik, dan tidak juga akan menyesal seseorang yang melakukan musyawarah.”

E. Lapangan Musyawarah

Apakah  al-Quran  memberikan  kebebasan  melakukan  musyawarah untuk segala persoalan? Jawabannya secara tegas: “Tidak”.

QS  Âli  ‘Imrân  [3]: 159 di  atas, yang menyuruh Nabi Saw. melakukan musyawarah, menggunakan kata al-amr, ketika memerintahkan bermusyawarah  (syawirhum  fil amr) yang diterjemahkan penulis dengan “persoalan/urusan tertentu”.  Sedangkan  ayat  asy-Syûrâ menggunakan  kata  amruhun  yang  terjemahannya adalah “urusan mereka”.

Kata amr dalam al-Quran ada yang dinisbahkan kepada Tuhan  dan sekaligus menjadi urusan-Nya semata, sehingga tidak ada campur tangan manusia pada urusan tersebut, seperti misalnya:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS al-Isrâ’ [17]: 85).

Ada juga amr yang dinisbahkan kepada manusia, misalnya  bentuk yang  ditujukan  kepada  orang  kedua seperti dalam QS al-Kahfi [18]: 16.

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرفَقًا

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. (QS al-Kahfi [18]: 16).

Atau ada juga yang dinisbahkan  kepada  orang  ketiga  seperti dalam  surat  asy-Syûrâ  yang  sedang  dibicarakan  ini (urusan mereka).

Sebagaimana ada juga kata “amr”  yang  tidak  dinisbahkan  itu yang   berbentuk   indefinitif,  sehingga  secara  umum  dapat dikatakan mencakup segala sesuatu, seperti dalam QS al-Baqarah (2): 117.

بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia. (QS Al-Baqarah [2]: 117).

Sedangkan yang berbentuk definitif, maka pengertiannya dapat mencakup  semua hal ataupun hal-hal tertentu saja. Sebagaimana QS al-Isrâ’’ [17]: 85

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

yang  mengkhususkan  hal-hal  tertentu sebagai  urusan  Allah.  Bahkan QS Âli ‘Imrân [3]: 128

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.

secara tegas menafikan pula  urusan-urusan  tertentu  dari wewenang Nabi Saw.,

Ayat ini turun berkaitan dengan ucapan Nabi Saw. ketika beliau dilukai oleh kaum musyrikin pada perang Uhud. “Bagaimana Allah akan mengampuni mereka, sedangkan mereka telah mengotori wajah Nabi  Saw. dengan darah”? Dari riwayat lain dikemukakan, bahwa ayat ini turun untuk menegur Nabi Saw. yang mengharapkan  agar Tuhan  menyiksa orang-orang tertentu dan memaafkan orang-orang 1ain.

Betapapun,  dari  ayat-ayat  al-Quran,  tampak  jelas   adanya hal-hal  yang  merupakan  urusan Allah semata sehingga manusia tidak diperkenankan untuk mencampurinya, dan ada  juga  urusan yang dilimpahkan sepenuhnya kepada manusia.

Dalam   konteks  ketetapan  Allah  dan  ketetapan  Rasul  yang bersumber dari wahyu, Al-Quran menyatakan secara tegas:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

As-Sunnah juga menginformasikan  bahwa  sahabat-sahabat  Nabi Saw.  menyadari  benar  hal  tersebut,  sehingga  mereka tidak mengajukan saran terhadap hal-hal yang telah mereka  ketahui bersumber  dari  petunjuk  wahyu.  Umpamanya, ketika Nabi Saw. memilih suatu lokasi untuk pasukan   Islam   menjelang berkecamuknya  perang  Badar,  sahabat  beliau  Al-Khubbab bin al-Munzir yang memiliki pandangan  berbeda  tidak  mengajukan usulnya kecuali setelah bertanya:

+ “Apakah ini tempat yang ditujukan untuk engkau pilih, ataukah ini berdasarkan nalarmu, strategi perang, dan tipu muslihat?” tanya Al-Khubbab.

– “Tempat ini adalah pilihan berdasar nalar, strategi perang, dan tipu muslihat,” jawab Nabi Saw.

Mendengar jawaban itu, barulah Al-Khubbab mengajukan  usul untuk  memilih  lokasi  lain di dekat sumber air, dan kemudian disetujui oleh Nabi Saw. Demikian diriwayatkan oleh Al-Hakim.

Ketika terjadi perundingan Hudaibiyah, sebagian besar  sahabat Nabi  Saw.  terutama  Umar  bin  Khaththab,  amat  berat  hati menerima  rinciannya,  namun  semuanya  terdiam  ketika   Nabi bersabda. “Aku adalah Rasulullah Saw.”

Sebagian  pakar tafsir membatasi masalah permusyawarahan hanya untuk yang berkaitan  dengan  urusan  dunia,  bukan  persoalan agama.  Pakar  yang  lain memperluas hingga membenarkan adanya musyawarah di samping untuk urusan dunia, juga untuk  sebagian masalah  keagamaan.  Alasannya, karena dengan adanya perubahan sosial,   sebagian   masalah   keagamaan   belum  ditentukan penyelesaiannya di dalam al-Quran maupun sunnah Nabi Saw.

Dari sini disimpulkan bahwa persoalan-persoalan yang telah ada petunjuknya dari Tuhan secara tegas dan jelas,  baik  langsung maupun  melalui Nabi-Nya, tidak dapat dimusyawarahkan, seperti misalnya tata cara beribadah. Musyawarah hanya dilakukan pada hal-hal yang belum    ditentukan petunjuknya, serta persoalan-persoalan kehidupan duniawi, baik  yang  petunjuknya bersifat  global  maupun  tanpa  petunjuk  dan  yang mengalami perkembangan dan perubahan.

Nabi bermusyawarah dalam hal-hal yang berkaitan dengan  urusan masyarakat  dan negara, seperti persoalan perang, ekonomi, dan sosial. Bahkan dari sejarah diperoleh informasi  bahwa  beliau pun  bermusyawarah  (meminta  saran  dan  pendapat)  di  dalam beberapa persoalan pribadi atau  keluarga.  Salah  satu  kasus keluarga   yang   beliau  musyawarahkan  adalah  kasus  fitnah terhadap  istri  beliau  Aisyah  r.a.  yang  digosipkan  telah menodai   kehormatan   rumah  tangga.  Ketika  gosip  tersebut menyebar,  Rasulullah  Saw.  bertanya  kepada   sekian   orang sahabat/keluarganya.

Akhirnya,  kita  dapat  menyimpulkan  bahwa  musyawarah  dapat dilakukan untuk segala masalah yang  belum  terdapat  petunjuk agama  secara jelas dan pasti, sekaligus yang berkaitan dengan kehidupan duniawi.

Hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan ukhrawi atau persoalan ibadah, tidak dapat dimusyawarahkan. Bagaimana dapat dimusyawarahkan, sedangkan nalar dan pengalaman manusia  tidak dan belum sampai ke sana?

F. Bermusyawarah Dengan Siapa?

Persoalan  yang  dimusyawarahkan  barangkali  merupakan urusan pribadi, namun boleh jadi urusan masyarakat umum.  Dalam  ayat pertama  tentang  musyawarah  di atas, Nabi Saw. diperintahkan bermusyawarah dengan “mereka”. Mereka siapa? Tentu saja mereka yang  dipimpin  oleh  Nabi  Saw., yakni yang disebut umat atau anggota masyarakat.

Sedangkan ayat yang lain menyatakan,

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. (QS Syura [42]: 38).

Persoalan mereka dimusyawarahkan antar mereka.

Ini berarti yang dimusyawarahkan adalah persoalan yang  khusus berkaitan   dengan   masyarakat  sebagai  satu  unit.  Tetapi, sebagaimana  yang  dipraktikkan  oleh  Nabi  Saw.   dan   para sahabatnya,  tidak  tertutup  kemungkinan memperluas jangkauan pengertiannya sehingga  mencakup  persoalan  individu  sebagai anggota masyarakat.

Ayat-ayat  musyawarah  yang  dikutip  di atas tidak menetapkan sifat-sifat  mereka  yang  diajak  bermusyawarah,  tidak  juga jumlahnya. Namun demikian, dari As-Sunnah dan pandangan ulama, diperoleh informasi tentang sifat-sifat  umum  yang  hendaknya dimiliki  oleh  yang  diajak  bermusyawarah.  Satu dari sekian riwayat menyatakan bahwa Rasul  Saw.  pernah  berpesan  kepada Imam Ali bin Abi Thalib sebagai berikut:

Wahai Ali, jangan bermusyawarah dengan penakut, karena dia mempersempit jalan keluar. Jangan juga dengan yang kikir, karena dia menghambat engkau dari tujuanmu. Juga tidak dengan yang berambisi, karena dia akan     memperindah untukmu keburukan sesuatu. Ketahuilah wahai Ali, bahwa takut, kikir, dan ambisi, merupakan bawaan yang sama, kesemuanya bermuara pada prasangka buruk terhadap Allah.

Ja’far Ash-Shadiq, salah seorang ulama Syi’ah,  pun berpesan,

Bermusyawarahlah dalam persoalan-persoalanmu dengan seseorang yang memiliki lima hal: akal, lapang dada, pengalaman, perhatian, dan takwa.

Dalam konteks memusyawarahkan persoalan-persoalan  masyarakat, praktik  yang  dilakukan  Nabi  Saw.  cukup beragam. Terkadang beliau memilih orang tertentu yang dianggap cakap untuk bidang yang  dimusyawarahkan, terkadang juga melibatkan pemuka-pemuka masyarakat, bahkan menanyakan kepada semua  yang  terlibat  di dalam masalah yang dihadapi.

Sebagian  pakar tafsir membicarakan musyawarah dan orang-orang yang terlibat di dalamnya  ketika  mereka  menafsirkan  firman Allah dalam QS an-Nisâ’ (4): 59:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS an-Nisâ’ [4]: 59).

Dalam ayat itu terdapat kalimat u1u1 amr,  yang  diperintahkan untuk ditaati. Kata amr di sini berkaitan dengan kata amr yang disebutkan dalam QS asy-Syûrâ [42]  ayat  38  (persoalan atau  urusan mereka, merekalah yang memusyawarahkan). Tentunya tidak  mudah  melibatkan  seluruh  anggota  masyarakat   dalam musyawarah  itu,  tetapi  keterlibatan mereka dapat diwujudkan melalui orang-orang tertentu yang mewakili mereka,  yang  oleh para  pakar  diberi  nama  berbeda-beda  sekali  Ahl al-Hal wa al-‘Aqd, dikali lain  Ahl al-Ijtihâd,  dan  kali  ketiga  Ahl asy-Syûrâ.

Dapat  disimpulkan  bahwa Ahl asy-Syûrâ merupakan istilah umum, yang kepada mereka para penguasa  dapat  meminta  pertimbangan dan  saran. Jika demikian, tidak perlu ditetapkan secara rinci dan ketat sifat-sifat mereka, tergantung  pada  persoalan  apa yang sedang dimusyawarahkan.

Sebagian  pakar  kontemporer  memahami  istilah  Ahl al-Hal wa al-‘Aqd sebagai orang-orang yang mempunyai pengaruh di tengah masyarakat, sehingga kecenderungan mereka kepada satu pendapat atau keputusan mereka dapat mengantarkan masyarakat  pada  hal yang sama.

Muhammad  Abduh  memahami  Ahl al-Hal wa al-‘Aqd sebagai orang yang menjadi rujukan masyarakat untuk kebutuhan dan kepentingan umum mereka, yang mencakup pemimpin formal maupun non-formal, sipil maupun militer.

Adapun Ahl al-Ijtihâd adalah kelompok ahli dan para  teknokrat dalam berbagai bidang dan disiplin ilmu.

G. Syura dan Demokrasi

Al-Quran dan Sunnah   menetapkan  beberapa  prinsip  pokok berkaitan  dengan   kehidupan   politik,   seperti   asy-syûrâ, keadilan,   tanggung   jawab,  kepastian  hukum, jaminan haq al-‘ibâd (hak-hak manusia), dan  lain-lain,  yang  kesemuanya memiliki kaitan dengan syura atau demokrasi.

Apabila  kita  bermaksud membandingkan syura dengan demokrasi, tentunya perlu juga dijelaskan  apa  yang  disebut  demokrasi. Namun,  untuk tidak memasuki perincian tentang makna demokrasi yang beraneka ragam, dapat dikatakan  bahwa  manusia  mengenal tiga cara menetapkan keputusan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, yaitu:

Keputusan yang ditetapkan oleh penguasa.

Keputusan yang ditetapkan berdasarkan pandangan minoritas.

Keputusan yang ditetapkan berdasarkan pandangan mayoritas, dan ini biasanya menjadi ciri umum demokrasi.

Syura yang  diwajibkan  oleh  Islam  tidak  dapat  dibayangkan berwujud   seperti  bentuk  pertama,  karena  hal  itu  justeru menjadikan syura lumpuh. Bentuk kedua pun tidak sesuai  dengan makna syura, sebab apakah keistimewaan pendapat minoritas yang mengalahkan pandangan mayoritas?

Memang ada  sebagian  pakar  Islam  kontemporer  yang  menolak kewenangan mayoritas berdasar firman Allah:

قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS  al-Mâidah [51: 100).

Dan firman Allah:

لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُون

Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu. (QS az-Zukhruf [43]: 78).

Tetapi pandangan mereka sulit diterima, karena  ayat-ayat  itu bukan  berbicara  dalam  konteks  musyawarah  melainkan  dalam konteks petunjuk Ilahi yang diberikan  kepada  para  Nabi  dan ditolak  oleh sebagian besar anggota masyarakatnya ketika itu. Ayat-ayat tersebut berbicara tentang sikap  masyarakat  Makkah ketika itu, serta umat manusia dalam kenyataannya dewasa ini.

Namun  demikian,  walaupun  syura  di  dalam Islam membenarkan keputusan pendapat mayoritas, tetapi menurut  sementara  pakar ia  tidaklah  mutlak.  Demikian  Dr. Ahmad Kamal Abu Al-Majad, seorang pakar Muslim Mesir kontemporer dalam bukunya Hiwar  la Muwayahah (Dialog Bukanlah Konfrontasi). Agaknya yang dimaksud adalah bahwa keputusan  janganlah  langsung  diambil  berdasar pandangan   mayoritas   setelah   melakukan  sekali  dua  kali musyawarah, tetapi  hendaknya  berulang-ulang  hingga  dicapai kesepakatan.

Ini  karena  syura  dilaksanakan oleh orang-orang pilihan yang memiliki sifat-sifat terpuji serta tidak memiliki  kepentingan pribadi   atau  golongan,  dan  dilaksanakan  sewajarnya  agar disepakati bersama. Sekalipun ada di antara mereka yang tidak menerima keputusan, itu dapat menjadi indikasi  adanya sisi-sisi yang kurang berkenan di hati dan pikiran orang-orang pilihan   walaupun  mereka  minoritas,  sehingga  masih  perlu dibicarakan  lebih  lanjut  agar   mencapai   mufakat   (untuk menemukan “madu” atau yang terbaik).

Ini merupakan salah satu perbedaan antara syura di dalam Islam dengan demokrasi secara umum.

Memang, apabila pembicaraan berlarut tanpa menemukan  mufakat, dan  tidak ada jalan lain kecuali memilih pandangan mayoritas, saat itu dapat dikatakan bahwa kedua  pandangan  masing-masing baik,  tetapi yang satu jauh lebih baik. Di dalam kaidah agama diajarkan apabila terdapat dua pilihan  yang  sama-sama  baik, pilihlah  yang  lebih  banyak  sisi baiknya, dan jika keduanya buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya.

Dari  segi  implikasi  pengangkatan  pimpinan,  terdapat  juga perbedaan.   Walaupun   keduanya   — syura   dan   demokrasi — menetapkan bahwa pimpinan  diangkat  melalui  kontrak  sosial, namun  syura  di  dalam Islam mengaitkannya dengan “Perjanjian Ilahi”. Ini diisyaratkan oleh al-Quran dalam firman-Nya ketika mengaangkat Nabi Ibrahim a.s. sebagai imam,

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim”. (QS al-Baqarah [2]: 124)

Dari sini lahir perbedaan “ketiga”, yaitu bahwa dalam  demokrasi sekular persoalan apa pun dapat dibahas dan diputuskan. Tetapi dalam syura  yang  diajarkan  Islam,  tidak  dibenarkan  untuk memusyawarahkan  segala  sesuatu  yang  telah ada ketetapannya dari Tuhan secara tegas dan pasti, dan tidak  pula  dibenarkan menetapkan hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Ilahi.

Demikian  sekilas  mengenai  wawasan   musyawarah   di   dalam al-Quran.   Agaknya   dapat   disimpulkan,   bahwa  musyawarah diperintahkan oleh al-Quran, serta dinilai sebagai salah  satu prinsip hukum dan politik untuk umat manusia.

Namun  demikian,  al-Quran  tidak merinci atau meletakkan pola dan bentuk  musyawarah  tertentu.  Paling  tidak,  yang  dapat disimpulkan  dari  teks-teks  al-Quran  hanyalah  bahwa  Islam menuntut adanya keterlibatan masyarakat di dalam  urusan  yang berkaitan  dengan  mereka.  Perincian  keterlibatan, pola, dan caranya diserahkan  kepada  masing-masing  masyarakat,  karena satu  masyarakat  dapat berbeda dengan masyarakat lain. Bahkan masyarakat tertentu dapat  mempunyai  pandangan  berbeda  dari suatu masa ke masa yang lain.

Sikap al-Quran seperti itu memberikan kesempatan kepada setiap masyarakat  untuk   menyesuaikan   sistem   syura-nya   dengan kepribadian, kebudayaan dan kondisi sosialnya.

Mengikat  diri  atau  masyarakat  kita  dengan fatwa ulama dan pakar-pakar masa lampau, bahkan  pendapat  para  sahabat  Nabi Saw.  dalam  persoalan  syura,  atau  pandangan dan pengalaman masyarakat lain,  serta  membatasi  diri  dengan  istilah  dan pengertian   tertentu,   bukanlah  sesuatu  yang  tepat,  baik ditinjau dari segi logika maupun pandangan agama.

Memang setiap masyarakat di setiap masa  memiliki  budaya  dan kondisi yang khas, sehingga wajar jika masing-masing mempunyai pandangan dan jalan yang  berbeda-beda.  Hakikat  ini  agaknya merupakan salah satu kandungan makna firman Allah.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا ءَاتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (QS al-Mâidah [5]: 48).

Mahabenar Allah Yang Mahaagung dalam segala firman-Nya.