Muthlaq dan Muqayyad Dalam al-Quran

A. Iftitâh

Dalam disiplin Ilmu Ushul Fiqh kita akan mendapatkan pembahasan tentang muthlaq dan muqayyad dalam ayat-ayat al-Quran. Dengan mengetahui ayat-ayat yang muthlaq dan yang muqayyad, maka akan sangat memudahkan bagi kita untuk memahami dan mengetahui maksud dari suatu ayat tersebut. Dan dengan mengetahui maksud suatu ayat, maka akan sangat mudah bagi seorang mujtahid beristinbath untuk mendapatkan suatu hukum. Ketika hukum sudah didapat, maka  akan memudahkan siapa saja untuk mengamalkannya.

Untuk memudahkan pemahaman tentang muthlaq dan muqayyad, maka  penulis akan  membahas tentang pengertian muthlaq dan muqayyad serta kapan hukum yang muthlaq dipahami dengan hukum yang muqayyad dengan disertai contoh dari ayat al-Quran.

B. Pengertian Muthlaq

Muthlaq secara bahasa artinya “tidak terikat”, kebalikan dari muqayyad (terikat). Secara istilah ada beberapa pengertian yang dihimpun oleh Amir Syarifuddin dalam bukunya “Ushul Fiqh”, yang diambil dari berbagai sumber, yaitu :

  1. Menurut Khudhari Beik, muthlaq ialah lafazh yang memberi petunjuk terhadap satu atau beberapa satuan yang mencakup tanpa ikatan yang terpisah secara lafzhi.
  2. Menurut Abu Zahrah, muthlaq ialah lafazh yang memberi petunjuk terhadap maudhu’nya tanpa memandang kepada satu, banyak, atau sifatnya, tetapi memberi petunjuk kepada hakikat  sesuatu menurut apa adanya.
  3. Ibnu Subki memberikan definisi bahwa muthlaq adalah lafazh yang memberi petunjuk kepada hakikat sesuatu tanpa ikatan apa-apa.

Dari ketiga pengertian di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa muthlaq adalah: “lafazh yang mencakup pada jenisnya tetapi tidak mencakup seluruh afrâd (bagian-bagian) di dalamnya”.

Contoh, firman Allah berikut ini :

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِن نِّسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِّن قَبْلِ أَن يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur.” (QS al-Mujâdalah, 58: 3)

Lafazh “raqabah” (hamba sahaya) termasuk lafazh muthlaq yang mencakup semua jenis raqabah (hamba sahaya) tanpa diikat atau dibatasi sesuatu yang lain. Maksudnya bisa mencakup raqabah laki-laki atau perempuan, beriman atau tidak beriman.  Jika dilihat dari segi cakupannya, maka lafazh muthlaq adalah sama dengan lafazh ‘am. Namun keduanya tetap memiliki perbedaan yang prinsip, yaitu lafazh ‘am mempunyai sifat syumûliy (melingkupi) atau kulliy (keseluruhan) yang berlaku atas satuan-satuan,  sedangkan keumuman dalam lafazh muthlaq bersifat badaliy (pengganti) dari keseluruhan dan tidak berlaku atas satuan-satuan tetapi hanya menggambarkan satuan yang meliputi.

Hukum yang datang dari ayat yang berbentuk muthlaq, harus diamalkan berdasarkan kemuthlaq-annya, sebagaimana QS al-Mujadalah, 58: 3 di atas. Dengan demikian kesimpulan hukumnya adalah bahwa “seorang suami yang men-zhihar isterinya kemudian ingin menarik kembali ucapannya, maka wajib memerdekakan hamba sahaya, baik yang beriman ataupun yang tidak beriman”.

C. Pengertian Muqayyad

Muqayyad secara bahasa artinya “sesuatu yang terikat atau yang diikatkan kepada sesuatu”. Pengertiannya secara istilah ialah: “suatu lafazh yang menunjukkan hakikat sesuatu yang terikat dengan suatu”, seperti ‘sifat’. Contohnya ialah: lafazh “raqabah mukminah” (hamba sahaya yang beriman) yang terdapat dalam firman Allah :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

 Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja)[1], dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat[2] yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah[3]. jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya[4], maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS an-Nisâ’, 4: 92)

Kata “raqabah” (hamba sahaya) dalam ayat ini memakai qayid atau ikatan yaitu mu’minah. Maka ketentuan hukum dari ayat ini ialah siapa pun yang melakukan pembunuhan atau menghilangkan nyawa seseorang tanpa sengaja, maka dikenai denda atau diyat, yaitu harus memerdekakan hamba sahaya yang beriman.

Oleh karena itu, setiap ayat yang  datang dalam bentuk muqayyad, maka harus diamalkan berdasarkan qayid  yang menyertainya, seperti ayat raqabah di atas.

D. Membawa Hukum Muthlaq kepada Muqayyad

Apabila nash hukum datang dengan bentuk muthlaq dan pada sisi yang lain dengan bentuk muqayyad, maka  menurut ulama Ushul Fiqh ada empat kaedah di dalamnya, yaitu:

  1. Jika sebab dan hukum yang ada dalam muthlaq sama dengan sebab dan hukum yang ada dalam muqayyad.  Maka dalam hal ini  hukum yang ditimbulkan oleh ayat yang muthlaq tadi harus ditarik atau dibawa kepada hukum ayat yang berbentuk muqayyad.

Contoh:

  1. Ayat muthlaq:

QS al-Mâidah, 5: 3 tentang darah yang diharamkan, yaitu:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالأَزْلاَمِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[5], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya[6], dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[7], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini[8] orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[9] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat ini menerangkan bahwa darah yang diharamkan ialah meliputi semua darah tanpa terkecuali, karena lafazh “dam” (darah) bentuknya muthlaq tidak diikat oleh sifat atau hal-hal lain yang mengikatnya.

Adapun sebab ayat ini ialah “dam” (darah) yang di dalamnya mengandung hal-hal bahaya bagi siapa yang memakannya, sedangkan hukumnya adalah haram.

  1. Ayat Muqayyad:

QS al-An’âm. 6: 145, dalam masalah yang sama yaitu “dam” (darah) yang diharamkan.

قُل لاَّ أَجِدُ فِي مَا أُوْحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَّسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Lafazh “dam” (darah) dalam ayat di atas  berbentuk muqayyad, karena diikuti oleh qarinah atau qayid yaitu  lafazh “masfûhan” (mengalir).  Oleh karena itu  darah yang diharamkan  menurut ayat ini ialah  “daman masfûhan” (darah  yang mengalir).

Sebab dan hukum antara QS al-An’âm, 6: 145 ini  dengan  QS al-Mâidah, 5: 3 adalah sama yaitu masalah darah yang diharamkan.

Berdasarkan kaedah: “Apabila sebab dan hukum yang terdapat dalam ayat yang muthlaq sama dengan sebab dan hukum yang terdapat pada ayat yang muqayyad, maka pelaksanaan hukumnya ialah yang muthlaq dibawa atau ditarik kepada muqayyad.” Dengan demikian hukum yang terdapat dalam QS al-Mâidah, 5: 3 yakni “dam” darah yang diharamkan  harus dipahami dengan “ daman masfûhan” (darah yang mengalir: sebagaimana yang disebut QS al-An’âm, 6: 145.

2.  Jika sebab yang ada dalam muthlaq dan muqayyad sama tetapi hukum keduanya berbeda, maka dalam hal ini yang muthlaq tidak bisa ditarik kepada muqayyad.

Contoh:

  1. Ayat muthlaq :

QS al-Mâidah, 5: 6 tentang tayammum, yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُواْ وَإِن كُنتُم مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاء أَحَدٌ مَّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاء فَلَمْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَكِن يُرِيدُ لِيُطَهَّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, naka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit[10] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[11] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

Lafazh “yad” (tangan) dalam ayat di atas berbentuk muthlaq karena tidak ada lafazh lain yang mengikat lafazh “yad” (tangan). Dengan demikian kesimpulan dari ayat ini ialah keharusan menyapukan tanah ke muka dan kedua tangan, baik itu hingga pergelangan tangan atau sampai siku, tidak ada masalah. Kecuali jika di sana ada dalil lain seperti hadits yang menerangkan tata cara tayammum oleh Nabi s.a.w. yang memberikan contoh mengusap tangan hanya sampai pergelangan tangan.

b.  Ayat Muqayyad:

ٍَQS al-Mâidah, 5: tentang wudhu’, yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…”

Lafazh “yad” (tangan) dalam ayat ini berbentuk muqayyad karena ada lafazh yang mengikatnya yaitu “ilâ al-marâfiqi” (sampai dengan siku). Maka berdasarkan ayat tersebut mencuci tangan harus sampai siku.

Sebab dari ayat di atas adalah sama dengan ayat muthlaq yang sebelumnya yaitu keharusan bersuci untuk mendirikan shalat, akan tetapi hukumnya berbeda. Ayat muthlaq sebelumnya menerangkan keharusan menyapu dengan tanah, sedang ayat muqayyad menerangkan keharusan mencuci dengan air. Maka ketentuan hukum yang ada pada ayat muthlaq tidak bisa ditarik kepada yang muqayyad. Artinya, ketentuan menyapu tangan dengan tanah tidak bisa dipahami sampai siku, sebagaimana ketentuan wudhu’ yang mengharuskan membasuh tangan sampai siku. Dengan demikian ayat muthlaq dan muqayyad berjalan sesuai dengan ketentuan hukumnya sendiri-sendiri tidak bisa dijadikan satu.

3.  Jika sebab yang ada pada muthlaq dan muqayyad berbeda, tetapi hukum keduanya sama, maka yang muthlaq tidak bisa dipahami dan diamalkan sebagaimana yang muqayyad. Contoh:

a.   Muthlaq

QS al-Mujâdalah, 58: 3 tentang kafârah zhihar yang dilakukan seorang suami kepada isterinya.

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِن نِّسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِّن قَبْلِ أَن يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Lafazh “raqabah” (hamba sahaya) dalam masalah zhihâr ini berbentuk muthlaq karena tidak ada lafazh yang mengikatnya. Sehingga seorang suami yang sudah terlanjur men-zhihâr isterinya dan ingin ditarik ucapannya, maka sebelum mencampurinya harus memerdekan hamba sahaya atau budak, baik yang beriman ataupun yang tidak.

b. Muqayyad

QS an-Nisâ’, 4: 92 tentang kafarah qatl (pembunuhan)  yang tidak sengaja, yaitu :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلاَّ خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلاَّ أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, mka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Lafazh “raqabah” (hamba sahaya) dalam ayat ini berbentuk muqayyad dengan diikat lafazh “mu’minah” (beriman), maka hukumnya ialah keharusan untuk memerdekakan hamba sahaya yang beriman.  Karena sebabnya berbeda, satu masalah kafârah zhihâr dan yang lain kafârah qatl, walaupun hukumnya sama-sama memerdekakan hamba sahaya, namun tetap diamalkan sesuai dengan ketentuannya masing-masing. Ayat muthlaq berjalan berdasarkan kemuthlaq-annya, sedang yang muqayyad berjalan berdasarkan kemuqayyadannya.

4.  Jika sebab dan hukum yang ada pada muthlaq berbeda dengan sebab dan hukum yang ada pada muqayyad, maka yang mutlak tidak bisa dipahami dan diamalkan sebagaimana yang muqayyad.

Contoh:

  1. Muthlaq

Masalah had sariqah (pencurian) yang terdapat dalam QS al-Mâidah, 5:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُواْ أَيْدِيَهُمَا جَزَاء بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Lafazh “yad” dalam ayat di atas berbentuk muthlaq, yakni keharusan memotong tangan tanpa diberi batasan sampai daerah mana dari tangan yang harus dipotong.

b.  Muqayyad

Masalah wudhu’ yang dijelaskan dalam QS al-Mâidah, 5: 6, yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ …

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…”

Lafazh “yad” dalam ayat wudhu’ ini berbentuk muqayyad karena diikat dengan lafazh “ilâ al-marâfiqi” (sampai dengan siku). Ketentuannya hukumnya adalah kewajiban mencuci tangan sampai siku.

Dari dua ayat di atas terdapat lafazh yang sama yaitu lafazh “yad”. Ayat pertama  berbentuk muthlaq, sedangkan yang kedua berbentuk muqayyad. Keduanya mempunyai sebab dan hukum yang berbeda. Yang muthlaq berkenaan dengan pencurian yang hukumannya harus potong tangan. Sedangkan yang muqayyad berkenaan masalah wudhu’ yang mengharuskan membasuh tangan sampai siku. Dari sini dapat disimpulkan bahwa yang muthlaq tidak bisa dipahami menurut yang muqayyad.

E.    Kesimpulan

Menurut kesepakatan jumhur bahwa ayat muthlaq dibawa kepada ayat muqayyad jika sebab dan hukum keduanya sama. Hukum muthlaq dan muqayyad selama tidak ada hubungan keduanya, keduanya berjalan sendiri-sendiri. Ayat muthlaq dipahami sesuai dengan kemuthlaq-annya, sedang yang muqayyad dipahami sesuai dengan kemuqayyadannya.

Apabila salah satu dari sebab atau hukumnya saja yang sama, maka ayat yang muthlaq tetap tidak bisa dibawa atau dipahami kepada yang muqayyad.

Perlu bagi seorang mujtahid sebelum beristinbath untuk mengetahui terlebih dahulu apakah ayat tersebut termasuk ayat yang muthlaq ataupun muqayyad.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Munir, S.Ag  dalam http://almukmin-ngruki.com/index.php?view=article&catid= 47:majalah&id=242:muthlaq-dan-muqayyad-dalam-al-quran& tmpl=component&print=1&page=)


[1]Seperti: bermaksud menembak burung, tetapi terkena seorang mukmin.

[2]Diyat ialah: pembayaran sejumlah harta karena sesuatu tindak pidana terhadap sesuatu jiwa atau anggota badan.

[3]Bersedekah di sini Maksudnya: membebaskan si pembunuh dari pembayaran diyat

[4]Maksudnya: tidak mempunyai hamba; tidak memperoleh hamba sahaya yang beriman atau tidak mampu membelinya untuk dimerdekakan. menurut sebagian ahli tafsir, puasa dua bulan berturut-turut itu adalah sebagai ganti dari pembayaran diyat dan memerdekakan hamba sahaya.

[5]Ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam QS al-Anâm, 6: 145.

[6]Maksudnya ialah: binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati.

[7]Al-Azlâm artinya: anak panah yang belum pakai bulu. orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan Apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masing-masing. Yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka’bah. bila mereka hendak melakukan sesuatu, maka mereka meminta supaya juru kunci ka’bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, maka undian diulang sekali lagi.

[8]Yang dimaksud dengan hari ialah: masa. Yaitu: masa haji wada’, haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w.

[9]Maksudnya: dibolehkan memakan makanan yang diharamkan oleh ayat ini jika terpaksa.

[10]Maksudnya: sakit yang tidak boleh kena air.

[11]Artinya: menyentuh. menurut jumhur هalah: menyentuh sedang sebagian mufassirin Ialah: menyetubuhi.