Namanya “Pak Jimat”

  Akidah   13 Agustus 2010

Namanya “Pak Jimat”

Oleh: Muhsin Hariyanto

Pagi itu, tepatnya saat menjelang subuh, mesjid kami masih begitu lengang. Hujan rintik-rintik dan udara dingin tampaknya cukup menghalangi azam mereka untuk segera hadir ke mesjid yang sebenarnya tak jauh dari rumah-rumah mereka. Baru ada seorang lelaki tua, seumur ayahku (Allâhu yarham) yang setiap subuh selalu menunggu sang muazin mengalunkan suara merdunya di mesjid kami di saat subuh tiba. Nama lelaki itu adalah “Pak Jimat”, yang kata beliau nama itu diberikan oleh orang tuanya dengan sebuah harapan: “bisa menjadi manusia hebat”, sehebat jimat yang diyakini oleh orang-orang ‘kejawen’ di kampung kami (Orang-orang Jawa yang sangat percaya terhadap mitos-mitos kehebatan benda-penda pusaka, warisan leluhur mereka).

Pak Jimat yang saya sebut ini bukan orang yang percaya dengan ‘jimat’, sebuah benda yang di dalam khazanah Ilmu tauhid disebut dengan istilah (tamîmah). Bahkan beliau sangat berhati-hati dengan semua benda yang bisa menjerumuskan dirinya terjebak dalam sikap ‘syirik’. Jangankan menyimpan ‘jimat’, beliau selalu ‘wanti-wanti’ (memberi nasihat) kepada putera-puterinya untuk tidak percaya terhadap ‘jimat-jimat’, baik berupa benda-benda kongkret maupun abstrak. Beliau katakan, jangan ciptakan ‘tuhan-tuhan’ palsu, karena di alam ini hanya ada satu Tuhan, Allah Yang Mahaesa. The Omnipotent (Yang Mahakuasa) dan The Omnipresent (Yang Mahahadir), kata para profesor di kampus-kampus kita.

Manusia moderen – kata pak Jimat — harus mempunyai pola pikir yang rasional dan realistis. Meskipun di belahan sana (yang juga serba modern) sangat disayangkan masih banyak orang yang berpikir tidak rasional, sehingga mereka banyak mempercayai hal-hal yang irasional, contoh konkretnya adalah ‘jimat’. Kenyataannya, kata pak Jimat, dalam budaya masyarakat Indonesia pada umumnya, ‘jimat’ masih sangat populer dan lekat dengan kehidupan sehari-hari. Berbagai bentuk ‘jimat’ kini marak di kolom-kolom iklan media cetak. Kalau hanya sekadar irasional, maka masalahnya tidak sebesar jika yang irasional ini sampai menjurus kepada ‘syirik’. Ironis, gumam pak Jimat. “Hari gini kok masih ada orang percaya sama ‘jimat’.

Dalam sejarah Islam, diungkapkan bawa tamîmah (jimat) pada masa jahiliyah adalah sesuatu yang dikalungkan pada anak kecil untuk menolak ‘ain (suatu penyakit yang disebabkan oleh pandangan mata). Namun pengertian tamîmah sekarang ini tidak terbatas pada bentuk dan kasus tertentu, tetapi mencakup semua benda dari bahan apapun, bagaimanapun cara pakainya dan tempat pakainya. Ada yang dari bahan kain, benang, kerang maupun tulang, baik dipakai dengan cara dikalungkan, digantungkan dan sebagainya. Tempatnya pun bervariasi baik di mobil, rumah, leher, kaki dan sebagainya. Contoh gampangnya seperti kalung, batu akik, cincin, sabuk (ikat pinggang), rajah (tulisan Arab yang ditulis per huruf dan kadang ditulis terbalik), selendang, keris atau benda-benda yang digantungkan pada tempat tertentu seperti di atas pintu di kendaraan, di pintu depan rumah, diletakkan pada ikat pinggang atau sebagai ikat pinggang, sebagai susuk, atau ditulis di kertas, dibakar lalu diminum dan lain-lain dengan maksud untuk mengusir kejahatan atau tolak-bala’. Bahkan, ‘jimat’ di zaman sekarang sudah berujud dalam benda-benda abstrak, termasuk doa-doa – yang dinilai sakral — yang dikemas dengan kemasan-kemasan tertentu.

Jimat, yang makna esensialnya adalah “berhala-berhala” (sesembahan) orang musyrik tersebut sebenarnya tidak akan (pernah) mampu memberikan manfaat atau menolak mudharat bagi penyembahnya karena memang berhala bukan merupakan sebab untuk mencapai maksud penyembahnya. Begitu pula dengan para pengguna tamîmah yang telah mengambil sebab yang bukan merupakan sebab. Mereka telah terjebak dalam sikap idolatry (penyembahan terhadap sesuatu yang yang diidolakan). Penyembahan kepada sesuatu yang tidak layak disembah.

Dalam sebuah riwayat diungkapkan, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah melihat seseorang yang memakai gelang kuningan di tangannya, maka beliau bertanya: “Apa ini”? Orang itu menjawab: “Penangkal Sakit”. Beliau pun – secara spontan — bersabda: “Lepaskanlah, karena dia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu. Jika kamu mati, sedang gelang itu masih ada pada tubuhmu maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”. (HR. Ahmad).  Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk melepas tamîmah tersebut dan mengancam dengan ancaman yang sangat keras jika tidak dilepas hingga mati, menunjukkan bahwa pengguna ‘jimat’ adalah pelaku dosa besar. Dan ancamannya adalah: “tidak akan beruntung selama-lamanya”.

Tamîmah (‘jimat’), kini sudah juga mewujud dalam kehidupan umat Islam modern menjadi dua macam: (1) Tamîmah yang berupa al-Quran (2) Tamîmah yang bukan dari al-Quran. Jika tamîmah itu berupa al-Quran (misalnya digantungkan dalam mobil untuk menolak bala’) maka pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah “terlarang”, meskipun ada ulama yang menyatakan bahwa hukumnya “tidak syirik”, karena menggunakan al-Quran di sini berarti bersandar kepada kalâmullâh bukan kepada makhluk. Hal tersebut terlarang karena keumuman dalil larangan tamîmah. Jika tamîmah dengan ayat diperbolehkan niscaya Rasulullah s.a.w. akan menjelaskannya seperti halnya ruqyah. Di samping itu pemakaian tamîmah dengan al-Quran dapat menyebabkan terlecehkannya al-Quran, seperti ketika rangkaian ayat-ayat al-Quran itu diperjualbelikan layaknya seperti ‘jimat-jimat’ yang lain.

Jika tamîmah itu berupa non al-Quran maka – kata para ulama — hukumnya haram dan termasuk ‘syirik’. Jika seseorang meyakini bahwa jimat itu hanya sebagai sebab semata dan tidak memiliki kekuatan sendiri maka ia terjatuh dalam syirik kecil. Adapun bila ia meyakini bahwa jimat tersebut dapat berpengaruh tanpa kehendak Allah SWT maka ia terjatuh dalam syirik akbar (lebih-besar), karena hatinya telah bersandar kepada selain Allah SWT.

Tanpa harus membedakan kegunaan kedua macam ‘jimat’ di atas, kini ternyata persoalan jimat bukan hanya terkait dengan aqidah seseorang, tetapi juga sudah merambah ke ranah “akhlak’. Yaitu: akhlak manusia kepada Allah. Apakah selama ini kita sudah tidak percaya lagi kepada Allah, bahwa Dia adalah yang memiliki kekuasaan mutlak atas semua makhluk-Nya, hingga kita harus bersandar pada ‘jimat-jimat’, yang esensinya adalah ‘tuhan-tuhan’ palsu itu?

Belajar pada Pak Jimat yang tak pernah punya “jimat”, yang kini telah menjadi manusia “sukses”, yang rajin beribadah dan mewujudkan kesadaran ibadahnya ke dalam bangunan interaksi muamalahnya kepada semua orang: “menjadi orang saleh, dalam dimensi vertikal maupun horisontal. Sudah saatnya kita buang ‘jimat-jimat’ yang berupa benda atau apa pun yang dapat membelenggu kita untuk menemukan jati diri kita sebagai orang “saleh”.

Kalau pak Jimat – ketika membangun kesalehan diri — sudah sebegitu tidak percaya terhadap ‘jimat’ yang justeru sering membuat orang lupa untuk membangun kesalehan vertikal dan horisontalnya, apakah kita – yang semestinya lebih cerdas —  juga sudah berlepas diri darinya? Untuk bertuhan kepada yang benar-benar Tuhan (Allah), dan menjadi orang yang benar-benar saleh (tanpa ‘jimat-jimat’) seperti pak Jimat?

Tanyakan pada hati kita!

Penulis adalah Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Luar Biasa STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta.

(Sumber: Suara Muhammadiyah)

Tags: