Namanya “Beristighatsah”

Dahulu dimasanya, Ibnu Taimiyah kecil ketika dalam perjalanan hijrah ke Damasyq bersama keluarganya, gerobak besar yang merupakan satu-satunya barang bawaannya, dimana “hanya” dipenuhi kitab-kitab ilmu, rusak di tengah jalan. Dalam keadaan seperti ini mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah swt. Dan akhirnya mereka bersama gerobaknya selamat dari pasukan Tartar yang menyerang negerinya, penyebab mereka harus hijrah.

Menarik sekali membahas sikap Ibnu Taimiyah kecil beserta keluarganya. Bukan berarti ini mengesampingkan ikhtiar. Tapi dikala memang dalam keadaan genting dan kita mentok tak ada jalan keluar, sementara kita begitu sangat mencemaskan keadaan, satu-satunya cara melepas beban kekhawatiran itu adalah ber-istighatsah.

Ber-istighasah. Barangkali ini yang harus kita “review” kembali dalam kehidupan kita. Karena begitu banyak permasalahan hidup yang menyebabkan kita rentan pada stres.

Mengadukan permasalahan yang kita hadapi kepada Allah swt!

Jika hidup sering dibilang penuh dengan masalah, maka seharusnya hal itu, sebagai seorang muslim, berbanding lurus dengan ukuran jarak kedekatan dengan Allah swt. Logikanya, semakin banyak masalah, seharusnya semakin membuat kita dekat dengan Allah swt. Maka, merugilah orang-orang “bermasalah” namun tak pernah bisa merasakan kedekatan dengan Allah swt.

Mari mencoba mencakupkan pembahasan lebih luas. Karena memikirkan masalah pribadi bukan berarti melupakan masalah sosial. Hal ini, tak lain mengamini pemikiran dari Imam Hasan Al Bana dalam bukunya “Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin”, bahwa seorang muslim itu harus tawazun (seimbang) antara urusan pribadinya dengan urusan ummat, tidak condong pada salah satunya.

Belakangan, ketika sebagian wilayah di negeri ini mengalami kekeringan, hampir tak kita dapati kabar ada yang melakukan shalat istisqa’ sebagai “wasilah” syariat  ber-istighatsah meminta hujan.

Maka, jangan pernah menyalahkan siapapun di Negeri yang konon katanya gemah ripah loh jinawi ini, jika tak pernah kita dapati kedamaian dan kecukupan. Sebab, sikap pemimpin cerminan sikap masyarakat. Dan masyarakat itu adalah kumpulan dari individu-individu.

Jika masyarakatnya saja tak dekat dengan Rabb semesta alam, maka jangan pernah berharap memiliki pemimpin-pemimpin yang tidak korup. Bukankah kedekatan seseorang kepada Rabbnya akan menjadikan ia memiliki pribadi ikhsan? Merancang sendiri di hatinya sebuah sistem bernama muraqabatullah (merasa selalu diawasi Allah swt).

Mari, cukupkan diri hanya dengan ber-istighatsah. Sehingga tak perlu mengadu dan mengeluh pada selainNya.

Wallâhu A’lam bishshawâb.

(Dikutip dan diselarskan dari http://rifarida.multiply.com/journal/item/593?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem)