NILAI DAN DOKTRIN EKONOMI DALAM AL-QURAN DAN HADIS

NILAI DAN DOKTRIN EKONOMI DALAM AL-QURAN DAN HADIS

Prawacana

Masalah-masalah pokok  ekonomi, menurut  para  pakar,   antara 1ain mencakup :

Jenis dan jasa yang diproduksi serta sistemnya.

Sistem distribusi (untuk siapa barang  dan jasa itu).

Efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi.

Inflasi

Resesi

Derivasi dari persoalan-persoalan tersebut di atas.

Melihat luasnya ruang lingkup ekonomi, maka  boleh  jadi  kita dapat menyederhanakan kajian tulisan ini, dengan mengambil alih pandangan sekian pakar yang mendefinisikan  ilmu  ekonomi sebagai  “ilmu  mengenai  perilaku  manusia  yang  berhubungan dengan kegiatan mendapatkan uang dan membelanjakannya”.

Pendorong bagi kegiatan itu  adalah  kebutuhan  dan  keinginan manusia yang tidak  mungkin  diperoleh secara mandiri. Untuk memenuhinya manusia terpaksa melakukan kerja sama, dan sering kali juga terpaksa harus mengorbankan sebagian keinginannya, atau mengantarnya menetapkan prioritas dalam   melakukan pilihan.

Namun ada juga manusia yang sukar mengendalikan keinginannya, sehingga ia terdorong untuk menganiaya, baik  terhadap sesama manusia maupun makhluk  lain.  Dari  sini  amat  diperlukan peraturan serta etika yang mengatur kegiatan ekonomi.

Peraturan dan etika itulah yang membedakan antara ekonomi yang dianjurkan al-Quran dengan ekonomi lainnya.

Harus  diakui  bahwa al-Quran tidak menyajikan rincian, tetapi hanya mengamanatkan nilai-nilai (prinsip-prinsip)-nya  saja. Sunnah Nabi dan analisis para ulama dan cendekiawan mengemukakan sebagian dari rincian dalam rangka operasionalisasinya.

Uang Dalam Pandangan Al-Quran

Terlebih  dahulu  perlu  dijelaskan pandangan al-Quran tentang harta (uang) dan pengembangannya dalam kegiatan ekonomi.

“Uang” antara lain diartikan sebagai “harta” kekayaan, dan “nilai tukar bagi sesuatu”.

Berbeda dengan dugaan sementara orang yang beranggapan bahwa Islam kurang menyambut baik kehadiran  uang,  pada  hakikatnya pandangan Islam terhadap uang dan harta amat positif. Manusia diperintahkan Allah untuk  mencari  rezeki  bukan  hanya yang mencukupi kebutuhannya, tetapi al-Quran memerintahkan untuk mencari apa yang  diistilahkannya  fadhl  Allah,  yang  secara harfiah  berarti  “kelebihan yang bersumber dari Allah”. Salah satu ayat yang menunjuk ini adalah:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS a1-Jumu’ah [62]: 10).

Kelebihan tersebut  dimaksudkan   antara   lain   agar   yang memperoleh   dapat  melakukan  ibadah  secara  sempurna  serta mengulurkan tangan bantuan kepada pihak lain yang oleh  karena satu dan lain sebab tidak berkecukupan.

Harta  atau  uang  dinilai  oleh Allah Swt. sebagai “qiyâman”,

yaitu “sarana pokok kehidupan” (QS an-Nisâ’ [4): 5).  Tidak heran  jika  Islam  memerintahkan  untuk menggunakan uang pada tempatnya dan secara baik, serta tidak memboroskannya. Bahkan memerintahkan  untuk  menjaga  dan memeliharanya sampai-sampai al-Quran melarang pemberian harta kepada pemiliknya sekalipun, apabila sang pemilik dinilai boros, atau tidak pandai mengurus hartanya secara baik. Dalam  konteks  ini,  a1-Quran  berpesan kepada mereka yang diberi amanat memelihara harta seseorang:

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (QS an-Nisâ' [4]: 5).

Bukan hanya itu, al-Quran memerintahkan siapa  pun yang melakukan transaksi utang-piutang, agar mencatat jumlah utang- piutang itu, jangan  sampai  oleh  satu  dan  lain  hal tercecer hilang atau berkurang.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلَّا تَرْتَابُوا إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada utangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki diantaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah mu`amalahmu itu), kecuali jika mu`amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS al-Baqarah [2]: 282).

Bahkan kalau perlu meminta  bantuan notaris dalam pencatatannya. Dan kepada notaris serta yang melakukan  transaksi  itu,  Allah berpesan pada ayat di atas:

(وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ)

Dalam arti, hendaknya  notaris  jangan  merugikan  orang  yang melakukan   transaksi   terutama   dengan   mengurangi  haknya masing-masing, dan bagi  yang  melakukan transaksi hendaknya jangan juga  merugikan  sang notaris dalam waktu, tenaga, dan pikirannya tanpa memberi  imbalan  yang  wajar.  Diperintahkan juga  agar memilih saksi-saksi dalam hal utang-piutang, kalau bukan dua orang lelaki, maka  seorang  lelaki  dan  dua  orang perempuan:

(أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى)

“Agar kalau seseorang tersesat/lupa, maka yang satu      lainnya akan mengingatkannya.”

Demikian antara lain kandungan pesan ayat yang  terpanjang dalam al-Quran.

Pandangan  al-Quran  terhadap  uang  atau  harta  seperti yang dikemukakan sekilas  ini,  bertitik  tolak  dari  pandangannya

terhadap naluri manusia. Seperti diketahui, al-Quran memperkenalkan agama Islam antara lain  sebagai  agama  fitrah dalam  arti  ajaran-ajarannya sejalan dengan jati diri manusia serta naluri positifnya. Dalam  bidang  harta  atau  keuangan, Kitab Suci umat Islam secara tegas menyatakan:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS Âli ‘Imrân [3]: l4).

“Harta  yang  banyak”  oleh  al-Quran  disebut   “khair”   (QS

al-Baqarah  [2): 180), yang arti harfiahnya adalah "kebaikan". Ini bukan saja berarti bahwa  harta  kekayaan  adalah  sesuatu yang  dinilai  baik,  tetapi  juga  untuk mengisyaratkan bahwa perolehan dan penggunaannya harus pula dengan baik. Tanpa memperhatikan   hal-hal   tersebut,   manusia  akan  mengalami kesengsaraan dalam hidupnya.

Karena daya tarik uang atau harta seringkali menyilaukan  mata dan  menggiurkan hati, maka berulang-ulang al-Quran dan hadis, memperingatkan agar manusia tidak tergiur oleh  kegemerlapan uang, atau diperbudak olehnya sehingga menjadikan seseorang lupa akan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi.

Peranan Uang

Merujuk kepada Mu'jam al-Muhfaras (Kamus al-Quran)  oleh  Fuad Abdul Baqi, kata mâl (uang) terulang dalam al-Quran sebanyak 25 (dua puluh lima) kali (dalam bentuk tunggal) dan amwâl (dalam bentuk  jamak) sebanyak  61 (enam  puluh  satu)  kali.  Diamati oleh Hassan Hanafi sebagaimana dikemukakan dalam bukunya Ad-Din wa ats-Tsaurah bahwa kata tersebut mempunyai dua bentuk:

Pertama,  tidak  dinisbahkan  kepada "pemilik", dalam arti dia berdiri sendiri. Ini – menurutnya -- adalah sesuatu yang  logis karena  memang  ada  harta  yang  tidak menjadi objek kegiatan manusia, tetapi berpotensi untuk itu.

Kedua, dinisbahkan kepada  sesuatu,  seperti  "harta  mereka", harta  anak-anak yatim, "harta kamu" dan 1ain-1ain. Ini adalah harta yang menjadi objek  kegiatan.  Dan  bentuk  inilah  yang terbanyak digunakan dalam al-Quran.

Menurut  hasil  perhitungan  penulis, bentuk pertama (yang dinisbahkan kepada “pemilik”) ditemukan sebanyak 23 (dua puluh tiga) kali, sedang bentuk kedua (yang dinisbahkan kepada sesuatu) sebanyak 54  (lima puluh empat) kali.  Dari jumlah  ini  yang  terbanyak  dibicarakan  adalah  harta dalam bentuk objek, dan ini memberi  kesan  bahwa  seharusnya  harta atau  uang  menjadi objek kegiatan manusia. Kegiatan tersebut adalah aktivitas ekonomi.

Dalam pandangan al-Quran, uang  merupakan  modal  serta  salah satu   faktor   produksi  yang  penting,  tetapi  "bukan  yang terpenting". Manusia menduduki tempat di  atas  modal,  disusu1 sumber  daya  alam.  Pandangan  ini  berbeda  dengan pandangan sebagian pelaku ekonomi modern yang  memandang  uang  sebagai segala sesuatu, sehingga tidak jarang manusia atau sumber daya alam dianiaya atau ditelantarkan.

Modal   tidak   boleh    diabaikan,    manusia    berkewajiban

menggunakannya  dengan baik, agar ia terus produktif dan tidak habis digunakan. Karena itu seorang wali yang menguasai  harta orang-orang  yang  tidak  atau  belum mampu mengurus hartanya,

diperintahkan untuk  mengembangkan  harta  yang  berada  dalam kekuasaannya itu dan membiayai kebutuhan pemiliknya yang tidak mampu itu, dari keuntungan perputaran modal, bukan dari  pokok modal.  Ini  dipahami  dari redaksi surat an-Nisa' (4): 5 yang dikutip di atas, di  mana  dinyatakan  Warzuqûhum  fîhâ  bukan Warzuqûhum  minhâ. "Minhâ" artinya "dari modal", sedang "fîhâ" berarti "di dalam modal", yang dipahami  sebagai  ada  sesuatu yang masuk dari luar ke dalam (keuntungan) yang diperoleh dari hasil usaha.

Karena itu pula modal tidak boleh  menghasilkan  dari  dirinya sendiri,  tetapi  harus  dengan  usaha manusia. Ini salah satu sebab  mengapa  membungakan  uang,  dalam  bentuk   riba   dan perjudian,   dilarang   oleh   al-Quran.   Salah  satu  hikmah pelarangan riba, serta pengenaan zakat sebesar  2,5%  terhadap uang  (walau  tidak  diperdagangkan)  adalah  untuk  mendorong aktivitas ekonomi, perputaran dana, serta sekaligus mengurangi spekulasi   serta   penimbunan.  Dalam  konteks  ini  al-Quran mengingatkan:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.(QS at-Taubah [9]. 34)

Ancaman ini disebabkan karena uang/harta  seperti  dikemukakan sebelum ini dijadikan Allah untuk sarana kehidupan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Dan  menyimpannya  tanpa perputaran,   demikian  juga  penimbunan  kebutuhannya,  tidak sejalan dengan tujuan tersebut.

Bagi pemilik uang yang tidak atau kurang mampu  mengelola uangnya, para ulama mengembangkan cara-cara yang direstui oleh al-Quran dan Sunnah Nabi, antara lain melalui apa yang dinamai murâbahah, mudhârabah atau musyârakah.

Murâbahah   adalah   pembelian  barang  menurut  rincian  yang ditetapkan  oleh  pengutang,  dengan  keuntungan   dan   waktu pembayaran yang disepakati.

Mudhârabah  adalah  bergabungnya  tenaga  kerja dengan pemilik modal, sebagai mitra usaha dan keuntungan yang  dibagi  sesuai rasio yang disepakati.

Musyârakah   adalah   memadukan   modal   untuk   bersama-sama memutarnya, dengan kesepakatan tentang rasio  laba  yang  akan diterima.

Cara-cara  ini akan mendorong setiap pemilik modal untuk tidak membiarkan modalnya tersimpan tanpa perputaran. Bukankah  uang — seperti  dikemukakan  di atas — dijadikan Allah untuk sarana kehidupan dan pemenuhan kebutuhan manusia?

Kebutuhan Manusia

“Kebutuhan” biasa diartikan sebagai “hasrat manusia yang perlu dipenuhi atau dipuaskan”.

Kebutuhan bermacam-macam dan bertingkat-tingkat, namun secara umum ia dapat dibagi dalam tiga jenis  sesuai  dengan  tingkat kepentingannya.  Primer  (dharûriyyât), sekunder (hajjiyyât), dan tertier (kamâliyyât).

Jenis kebutuhan kedua dan ketiga sangat  beraneka  ragam,  dan dapat   berbeda-beda   dari   seorang  dengan  lainnya,  namun kebutuhan primer sejak dahulu hingga kini dapat dikatakan sama dan   telah  dirumuskan  oleh  para  pakar  sebagai  kebutuhan sandang, pangan, dan papan.

Al-Quran  secara  tegas  menyebutkan  ketiga  macam  kebutuhan primer itu dan mengingatkan manusia pertama tentang keharusan pemenuhannya sebelum manusia pertama itu menginjakkan  kakinya di  bumi. Ketika Adam dan isterinya – Hawa — masih berada di surga, Allah mengingatkan mereka berdua:

فَقُلْنَا يَاآدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى(١١٧) إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى(١١٨) وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَى(١١٩)

Maka kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya”. (QS Thâhâ [20]: 117-119).

Yang dimaksud  dengan  bersusah  payah  adalah  bekerja  untuk memenuhi  kebutuhan mereka yang di dunia tidak diperoleh tanpa kerja tetapi di surga telah disediakan yaitu: “pangan” atau dalam bahasa  ayat  di  atas “tidak lapar dan tidak dahaga”. “Sandang” dilukiskan   dengan   “tidak   telanjang”,   sedangkan   “papan” diisyaratkan oleh kalimat “tidak disengat panas matahari”.

Sementara ulama menganalisis mengapa peringatan ini ditujukan kepada mereka berdua  selaku  suami-istri,  tetapi  pernyataan bersusah payah dikemukakan dalam bentuk tunggal yang ditujukan kepada suami (Adam) saja. Jawabannya  menurut  mereka  adalah, karena kebutuhan sandang,   pangan  dan  papan, merupakan kebutuhan pria dan wanita (suami-istri), tetapi  kewajiban bersusah  payah  mencarinya,  berada di pundak suami, sehingga merupakan kewajiban suami untuk mengikhtiarkannya.

Ketiga jenis kebutuhan seperti yang disebut di atas, mengantar manusia berikhtiar untuk memproduksi alat-alat pemenuhannya, baik berupa barang maupun jasa.

Aktivitas Ekonomi

Aktivitas antar manusia — termasuk aktivitas ekonomi —terjadi melalui apa yang diistilahkan oleh ulama dengan mu’âmalah (interaksi). Pesan utama  al-Quran  dalam  mu’âmalah  keuangan atau aktivitas ekonomi adalah:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS al-Baqarah [2]: 188).

Kata  “bâthil”   diartikan   sebagai   “segala   sesuatu   yang

bertentangan dengan ketentuan dan nilai agama”.

Bukan di sini  tempatnya merinci cakupan kata bâthil, apalagi al-Quran — sejalan dengan sikapnya terhadap hal-hal yang bukan bersifat   ibadah   murni –  pada  dasarnya  tidak  memberikan perincian. Ini untuk memberikan peluang  kepada  manusia  atau masyarakat  yang  sifatnya  selalu  berubah, agar menyesuaikan diri dengan  perubahan  masyarakat  sepanjang  sejalan  dengan nilai-nilai Islam.

Nilai-Nilai Islam

Secara umum dapat dikatakan bahwa nilai-nilai Islam  terangkum dalam  empat  prinsip  pokok:  tauhid,  keseimbangan, kehendak bebas, dan tanggung jawab.

Tauhid  mengantar  manusia  mengakui   bahwa   keesaan   Allah mengandung konsekuensi keyakinan bahwa segala sesuatu bersumber serta kesudahannya berakhir pada Allah  Swt. Dialah Pemilik mutlak dan tunggal yang dalam genggaman-Nya segala kerajaan langit dan bumi. Keyakinan demikian mengantar seorang Muslim untuk menyatakan:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah semata-mata demi karena Allah, Tuhan seru sekalian alam. (QS al-An’âm [6], 162)

Prinsip ini menghasilkan “kesatuan-kesatuan”  yang  beredar dalam orbit tauhid, sebagaimana beredarnya planet-planet tatasurya mengelilingi matahari. Kesatuan-kesatuan itu, antara lain, kesatuan kemanusiaan, kesatuan alam raya, kesatuan dunia dan akhirat, dan 1ain-lain.

Keseimbangan mengantar manusia Muslim meyakini  bahwa  segala sesuatu diciptakan Allah dalam keadaan seimbang dan serasi,

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (QS al-Mulk [67]: 3)

Prinsip ini menuntut manusia bukan saja hidup seimbang serasi, dan selaras dengan dirinya sendiri, tetapi juga menuntunnya untuk menciptakan ketiga  hal  tersebut  dalam  masyarakatnya, bahkan alam seluruhnya.

Kehendak  bebas  adalah  prinsip yang mengantar seorang Muslim meyakini bahwa Allah Swt. memiliki kebebasan mutlak namun  Dia juga  menganugerahkan  kepada  manusia kebebasan untuk memilih dua jalan yang terbentang  di  hadapannya, baik  dan  buruk. Manusia  yang  baik  di sisi-Nya adalah manusia  yang mampu menggunakan kebebasan itu dalam rangka  penerapan  tauhid dan keseimbangan di  atas. Dari sini lahir prinsip tanggung jawab baik secara individu maupun kolektif. Dalam konteks ini, Islam memperkenalkan  konsep  fardhu  ‘ain  dan fardhu kifayah. Yang pertama  adalah  kewajiban   individual   yang   tidak   dapat dibebankan kepada orang lain sedang yang kedua adalah kewajiban yang bila dikerjakan oleh orang  lain  sehingga terpenuhi  kebutuhan  yang dituntut, maka terbebaskanlah semua anggota masyarakat dari pertanggungjawaban (dosa). Tetapi bila tidak  seorang  pun  yang mengerjakannya, atau dikerjakan oleh sebagian orang namun belum memenuhi apa yang seharusnya,  maka berdosalah setiap anggota masyarakat.

Keempat prinsip yang disebut di atas, harus mewarnai aktivitas setiap Muslim, termasuk aktivitas ekonominya.

Prinsip tauhid mengantarkan  manusia  dalam  kegiatan  ekonomi untuk  menyakini bahwa harta benda yang berada dalam genggaman tangannya adalah milik Allah, yang antara  lain  diperintahkan oleh Pemiliknya agar diberikan (sebagian) kepada  yang membutuhkan:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَءَاتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي ءَاتَاكُمْ وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَنْ يُكْرِهُّنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu). (QS an-Nûr [24]: 33).

Dalam pandangan agama  Islam,  harta  kekayaan  bahkan  segala sesuatu adalah  milik  Allah.  Memang  jika  diamati  dengan seksama, hasil-hasil produksi yang dapat menghasilkan uang atau harta kekayaan, tidak lain kecuali hasil rekayasa manusia dari bahan mentah yang telah disiapkan oleh  Tuhan  Yang  Maha Esa.

Di   sisi   lain,  keberhasilan  para  pengusaha  bukan  hanya disebabkan oleh hasil usahanya sendiri, tetapi terdapat juga partisipasi orang lain atau masyarakat. Bukankah para pedagang – misalnya — membutuhkan para pembeli agar hasil produksi atau barang   dagangannya   terjual?  Bukankah  petani  membutuhkan irigasi demi kesuburan pertaniannya? Bukankah  para  pengusaha membutuhkan stabilitas keamanan guna lancarnya roda keuangan dan perdagangan? Dan masih banyak lagi yang lain. Kalau demikian, wajar jika Allah memerintahkan manusia untuk menyisihkan sebagian dari  apa  yang  berada  dalam  genggaman tangannya  (“miliknya”) demi kepentingan masyarakat umum. Dari sini agama menetapkan  keharusan  adanya  fungsi  sosial  bagi harta kekayaan.

Tauhid,  yang menghasilkan keyakinan kesatuan  dunia  dan akhirat, mengantar seorang pengusaha untuk tidak mengejar keuntungan material semata, tetapi keuntungan yang lebih kekal dan abadi.

Prinsip tauhid yang menghasilkan pandangan tentang  kesatuan umat manusia mengantar seorang pengusaha Muslim  untuk menghindari segala bentuk eksploitasi terhadap sesama manusia. Dari  sini  dapat dimengerti mengapa Islam bukan saja melarang praktik riba dan pencurian, tetapi juga  penipuan   walau terselubung, bahkan sampai kepada larangan menawarkan barang pada saat konsumen menerima tawaran yang sama dari orang lain.

Prinsip keseimbangan mengantar kepada pencegahan segala bentuk monopoli dan pemusatan kekuatan ekonomi pada satu tangan atau satu kelompok. Atas dasar ini pula al-Quran  menolak  dengan amat tegas daur sempit yang menjadikan kekayaan hanya berkisar pada orang-orang atau kelompok tertentu.

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS al-Hasyr [59]: 7).

Dari sini juga datang larangan penimbunan dan pemborosan.  Hal ini  tercermin  pada  ayat  34 surat at-Taubah yang memberikan ancaman sedemikian keras kepada para  penimbun,  serta  sabda Nabi Muhammad Saw. berikut:

مَنْ احْتَكَرَ طَعَامًا أَرْبَعِينَ لَيْلَةً فَقَدْ بَرِئَ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى وَبَرِئَ اللَّهُ تَعَالَى مِنْهُ

Siapa yang menimbun makanan selama empat puluh hari, maka ia telah berlepas diri dari Allah, dan Allah juga berlepas diri darinya (Hadis Riwayat Ahmad)

Ayat dan hadis-hadis Nabi seperti di atas oleh sementara pakar  dijadikan  dasar  pemberian  wewenang  kepada  penguasa  untuk mencabut hak milik perusahaan spekulatif yang   melakukan penimbunan,   penyelundupan,  dan  yang  mengambil  keuntungan secara berlebihan, karena penimbunan  mengakibatkan  kenaikan harga yang tidak semestinya.

Di sisi lain pemborosan pun dilarang juga:

يَابَنِي ءَادَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS al-A’râf [7]: 31).

Pemborosan dan sikap konsumtif dapat menimbulkan  kelangkaan barang-barang yang dapat menimbulkan ketidakseimbangan akibat kenaikan harga-harga.

Dalam rangka memelihara keseimbangan itu, Islam  menugaskan Pemerintah untuk mengontrol harga, bahkan   melakukan langkah-langkah yang  diperlukan  untuk  menjamin  agar-paling tidak bahan-bahan kebutuhan pokok dapat diperoleh dengan mudah oleh seluruh anggota masyarakat.

Dalam konteks ini, Nabi Muhammad Saw. menyebutkan bahwa:

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْكَلَإِ وَالْمَاءِ وَالنَّارِ

Masyarakat berserikat dalam tiga hal: rumput, air dan api (Hadis Riwayat Abu Daud).

Tiga komoditas ini merupakan kebutuhan  masyarakat  pada  masa Nabi Saw., dan  tentunya  setiap  masyarakat  dapat memiliki kebutuhan-kebutuhan lain, yang dengan demikian  masing-masing dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhannya.

Semua hal yang disebut di atas harus dipertanggung-jawabkan oleh manusia demi terlaksananya keadilan baik secara  individu maupun kolektif.

Demikian sekilas yang dilahirkan oleh prinsip dan nilai Islam dalam bidang ekonomi.

Dalam  perkembangan  perekonomian  sesudah  turunnya  a1-Quran telah lahir institusi-institusi serta kondisi yang diperselisihkan keabsahannya dari segi syariat seperti  halnya dengan perbankan konvensional. Sebagian ulama mempersamakan praktik perbankan itu dengan  “riba”,  sementara  ulama  lainnya menoleransinya dengan  syarat-syarat  tertentu,  antara lain bahwa bank yang menyalurkan kredit haruslah bank  pemerintah, karena keuntungan yang diperolehnya pada akhirnya akan kembali juga ke masyarakat. Berikut akan disoroti hal tersebut dan segi penafsiran ayat riba.

Riba

Keraguan  terjerumus  ke dalam “riba” yang diharamkan menjadikan para sahabat Nabi, seperti ucap Umar ibn al-Khaththab, “Meninggalkan  sembilan  per  sepuluh  dari  yang  halal.” Ini disebabkan karena mereka tidak memperoleh informasi yang  utuh tentang masalah ini langsung dari Nabi Muhammad Saw.

Kata  “riba”  dari  segi  bahasa berarti “kelebihan”. Kalau kita hanya berhenti pada makna kebahasaan  ini,  maka  logika  yang dikemukakan   para   penentang   “riba”  pada  masa  Nabi  dapat dibenarkan. Ketika itu mereka berkata — seperti yang diungkapkan al-Quran — bahwa “jual beli sama saja dengan riba” (QS al-Baqarah [2]: 275), Allah menjawab mereka dengan tegas bahwa  “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan “riba”.” Penegasan ini dikemukakan-Nya tanpa menyebut alasan secara eksplisit,  namun dapat dipastikan bahwa pasti ada alasan atau hikmah sehingga ini diharamkan dan itu dihalalkan.

Dalam al-Quran ditemukan kata “riba” sebanyak delapan kali dalam empat  surat,  tiga di antaranya turun setelah Nabi hijrah dan satu ayat lagi ketika beliau masih di Makkah. Yang di  Makkah, walaupun  menggunakan  kata  “riba”  (QS ar-Rûm [30]: 39), ulama sepakat bahwa riba yang dimaksud di sana bukan riba yang haram karena   ia  diartikan  sebagai pemberian hadiah, yang bermotif memperoleh imbalan banyak dalam kesempatan yang lain.

Upaya memahami apa yang dimaksud  dengan  “riba”  adalah  dengan mempelajari ayat-ayat yang turun di Madinah, atau lebih khusus lagi kata-kata kunci pada ayat-ayat tersebut yaitu  adh’âfan mudhâ’afah  (berlipat  ganda),  mâ  baqiya minarribâ (apa yang tersisa dari “riba”) dan falakum ru’ûsu amwâlikum,  lâ  tazlimûn wa lâ tuzlamûn.

Sementara   ulama,   semacam  Sayyid  Muhammad  Rasyid  Ridha, memahami bahwa “riba” yang diharamkan al-Quran hanya  riba yang “berlipat ganda”. Lipat ganda yang dimaksud di sini adalah “pelipatgandaan yang berkali-kali”.

Memang pada zaman jahiliah dan  awal  Islam,  apabila  seorang debitur yang tidak mampu  membayar utangnya pada saat yang ditentukan, ia  meminta  untuk  ditangguhkan  dengan janji membayar berlebihan, demikian berulang-ulang.

Sikap  semacam  ini  amat  dikecam  oleh al-Quran, sebagaimana firman Allah:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Bila debitur berada dalam kesulitan, maka hendaklah      diberi tangguh hingga ia memperoleh keleluasaan dan      menyedekahkan (semua atau sebagian dan piutang) (lebih baik untuknya jika kamu mengetahui) (QS al-Baqarah [2]: 280).

Pendapat  yang  memahami  “riba”  yang  diharamkan  hanya   yang   berlipat  ganda,  tidak diterima oleh banyak ulama. Bukan saja karena  masih  ada  ayat  lain  yang  turun  sesudahnya,  yang memerintahkan untuk meninggalkan sisa riba yang belum diambil,

tetapi  juga  karena  akhir  ayat  yang  turun  tentang  “riba”, memerintahkan untuk  meninggalkan  sisa “riba”. Dan bila mereka mengabaikan hal ini, maka Tuhan mengumumkan perang  terhadap mereka sedang

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS al-Baqarah [2]: 279).

Hemat  penulis,  inilah  kata  kunci  yang  terpenting   dalam persoalan  “riba”,  dan  atas  dasar  inilah  kita dapat menilai transaksi utang piutang dewasa ini, termasuk  praktik-praktik perbankan.

Kesimpulan yang dapat  kita  peroleh dari ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang “riba”, demikian pula hadis Nabi dan riwayat-riwayat lainnya  adalah, bahwa “riba” yang dipraktikkan pada masa turunnya al-Quran  adalah  kelebihan  yang dipungut bersama jumlah utang, pungutan yang mengandung penganiayaan dan penindasan, bukan sekadar kelebihan  atau  penambahan  dan jumlah utang.

Kesimpulan di atas diperkuat pula dengan praktik Nabi Saw. yang membayar utangnya dengan berlebihan. Dalam  konteks pembayaran berlebihan inilah Nabi Saw. bersabda:

إِنَّ خِيَارَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً (رواه مسلم عن أبي رافع)

Sebaُk-baik manusia adalah yang sebaik-baik membayar utang. (Diriwayatkan oleh Muslim,  melalui  — sahabat  Nabi —  Abu Rafi’).

(Yakni, antara lain “melebihkan”. Hanya saja, tentu harus digarisbawahi, bahwa kelebihan pembayaran itu  tidak  bersyarat pada awal transaksi)

Nah, bagaimana dengan praktik perbankan dewasa ini?

Ulama sejak dahulu hingga kini belum dan besar kemungkinan tidak akan sepakat, karena sikap kehati-hatian tetap menghiasi diri orang-orang yang bertakwa.

Demikian sekelumit dan prinsip-prinsip ajaran al-Quran tentang ekonomi.  Intinya   adalah   keadilan,   kerja   sama,   serta keseimbangan dan lain-lain. Dan semua itu tercakup dalam larangan melakukan transaksi apa pun  yang  berbentuk  bâthil, eksploitasi atau segala bentuk penganiayaan.

(Dikutip dan dimodifikaasi dari tulisan M. Quraish Shihab dalam http://media.isnet.org untuk keperluan kajian Ekonomi Syariah)

Tags: