Optimisme: “Sikap Muslim Sejati”

Optimisme (Sikap Optimis) merupakan keyakinan diri dan salah satu sikap baik yang dianjurkan dalam Islam. Dengan sikap optimistis, seseorang akan bersemangat dalam menjalani kehidupan, baik demi kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak. Allah SWT berfirman,

وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Âli ‘Imrân [3]: 139)

Optimisme merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap manusia, khususnya seorang Muslim. Karena dengan optimistis, seorang Muslim akan selalu berusaha semaksimal mungkin mencapai cita-cita dengan penuh keikhlasan karena Allah.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, ‘

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ …».

Telah bersabda Rasulullah s.a.w.: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah, tetapi di tiap-tiap (seorang Mukmin) itu ada kebaikan, beringinlah (optimistis) kepada apa-apa yang memberi manfaat ...” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Dari ayat dan hadis tersebut di atas, kita harus yakin, mantap, dan tidak ragu atau bimbang jika mempunyai keinginan yang kuat untuk melaksanakan segala cita-cita yang sesuai dengan jalan-Nya. Allah tidak menyukai orang-orang yang berputus asa atau lemah karena sikap demikian membuka pintu bujuk rayu setan.

Akan tetapi, optimistis tanpa perghitungan dan pertimbangan yang tepat juga merupakan sesuatu kekonyolan (tidak dibenarkan) yang dapat dibenci Allah. Sikap pesimistis merupakan halangan utama bagi seseorang untuk menerima tantangan. Orang yang pesimistis pasti selalu merasa hidupnya penuh dengan kesulitan. Ia selalu merasa berada dalam ketidakberdayaan menghadapi masa depan. Sikap seperti ini sangat dibenci oleh Islam.

Allah SWT berfirman,

الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

”Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS al-Baqarah [2]: 147)

Optimisme sangat diperlukan dalam kehidupan kita sehari-hari guna mancapai sebuah kesuksesan dan keberhasilan dalam hidup di dunia dan di akhirat. Dengan adanya sikap optimistis dalam diri setiap Muslim, kinerja untuk beramal akan meningkat dan persoalan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik. Doa, ikhtiar, dan tawakal harus senantiasa mengiringi, kerena hanya dengan kekuasaan-Nya apa yang kita harapkan dapat terwujud.

Ada enam hal yang dapat membangkitkan optimisme dalam kehidupan kita. pertama, temukan hal-hal positif dari pengalaman masa lalu. Kedua, tata kembali target yang hendak kita capai. Ketiga, pecah target besar menjadi target-terget kecil yang segera dapat dilihat keberhasilannya. Keempat, bertawakal kepada Allah setelah melakukan ikhtiar. Kelima, ubah pandangan diri kita terhadap kegagalan. Keenam, yakin bahwa Allah SWT akan menolong dan memberi jalan keluar.

Wallâhu A’lam bi ash-Shawâb.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Ilham Maulana,  dalam
http://www. republika.co.id /kolom_detail.asp?id=278907&kat_id=14)