PENGAJIAN AHAD PAGI MASJID MARGO MULYO
NAGAN TENGAH, PATEHAN, KRATON, YOGYAKARTA

Orang yang “Beruntung dan Rugi”

Banyak orang yang bertanya: “Siapakah orang yang beruntung dan siapakah orang yang rugi?” Jawabnya tentu saja bergantung pada persepsi (anggapan) masing-masing orang. Nah, sebagai seorang muslim, dalam kesempatan ini saya akan menjelaskan siapa saja yang bisa disebut orang beruntung dan orang yang rugi menurut ajaran Islam.

Siapakah Orang Yang Beruntung?

Dalam QS al-Baqarah – misalnya — dijelaskan bahwa “orang yang beruntung (al-Muflih) adalah orang yang beriman kepada perkara ghaib, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Termasuk pula (orang yang) beriman kepada kitab-kitab yang Allah turunkan”.

Allah berfirman,

ذَ‌ٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢﴾ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣﴾ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ ﴿٤﴾ أُولَـٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿٥﴾

“Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa , (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib , yang mendirikan shalat , dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu , serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akherat . Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung .” (QS al-Baqarah/2: 2-5)

Dalam sebuah hadits dijelaskan: ”Orang yang beruntung adalah orang yang bersyukur atas nikmat Allah dan bersabar atas ujian Allah.” Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan orang yang beriman, segala urusan baginya selalu baik. Dan hal itu tidak akan terjadi kecuali pada orang yang beriman; jika dia mendapat kesenangan dia bersyukur, dan hal itu baik baginya. Dan apabila tertimpa kesulitan dia bersabar dan kesabaran itu baik pula baginya.” (Hadits Riwayat Muslim dari Shuhaib, Shahîh Muslim, juz VIII, hal. 227, hadits no. 7692)

Siapakah Orang Yang Rugi?

Sementara itu, tentang siapa orang-orang yang rugi, bisa kita simak penjelasannya – misalnya – pada QS al-Kahfi/18: 103-106,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا ﴿١٠٣﴾ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا ﴿١٠٤﴾ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا ﴿١٠٥﴾ ذَ‌ٰلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا ﴿١٠٦﴾

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia , maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.” (QS al-Kahfi/18: 103-106)

Dalam QS al-Kahfi 103-106 tersebut dijelaskan: “Siapa sajakah orang yang menderita kerugian; yaitu: “Allah menceritakan tentang orang yang paling rugi semasa hidupnya. Mereka adalah orang yang menyia-nyiakan semua amal perbuatannya. Mereka menyangka telah banyak berbuat amal kebaikan padahal di akhirat nanti Allah tidak akan memberikan penilaian pada semua amal kebaikan yang telah mereka lakukan. Mereka akan dilemparkan kedalam neraka jahanam, dan semua amal kebaikan yang telah mereka kerjakan tidak memberi manfaat sediki tpun kepada mereka.

Sementara itu, Rasulullah SAW menjelaskan tentang orang yang menderita kerugian itu dengan sebutan al-Muflis (Orang yang Bangkrut),

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada para sahabat: “Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab; ‘Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.’ Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.” (Hadits Riwayat Muslim dari Abu Hurairah, Shahîh Muslim, juz VIII, hal. 18, hadits no. 6744; dan Hadits Riwayat at-Tirmidzi dari Abu Hurairah, Sunan at-Tirmidzi, juz IX, hal. 270, hadits no. 2063)

Kesimpulan

Demikianlah penjelasan ringkas tetang siapa orang yang beruntung dan menderita kerugian, dalam pandangan syariat Islam. Orang yang beruntung ialah: “Orang yang beriman dan beramal shaleh, dalam kaitannya dengan kewajibannya kepada Allah dan (kepada) sesama makhluk Allah (hablun minallâh dan hablun minannâs)” secara utuh (timbal-balik). Sementara itu orang yang menderita kerugian ialah: “Orang yang tidak beriman dan tidak beramal shaleh dalam kaitannya dengan kewajibannya kepada Allah dan (kepada) sesama makhluk Allah (hablun minallâh dan hablun minannâs)” secara utuh (timbal-balik).

Oleh karena itu, marilah kita bangun sikap dan perilaku yang ‘shaleh’ dengan pondasi iman kita yang kokoh, dalam semua aspek kehidupan (duniawi dan ukhrawi secara utuh), dan jangan sampai kita terjebak dalam perbuatan maksiat sekecil apa pun karena lemahnya iman kita.

Ingat, bahwa setan akan selalu menggoda diri kita dari arah mana pun dengan berbagai cara. Dan mereka (setan) tak akan pernah mengenal kata putus asa dalam menggoda umat manusia di mana pun dan kapan pun.

Al-‘Ibrah: “Mari Kita Menjadi Orang Yang Beruntung (Arb: al-Muflih, Jw. ‘Wong Bejo’)”

Kita perlu merenungkan kembali makna firman Allah yang dinyatakan dengan kalimat: “la’allakum tuflihûn”, yang terungkap’ sebanyak 11 kali di dalam kitab suci al-Quran. Ternyata semuanya bukan tanpa syarat. (QS al-Baqarah/2: 189; QS Āli ‘Imrân/3: 130; QS Āli ‘Imrân/3: 200; QS al-Mâidah/5: 35; QS al-Mâidah/5: 90; QS al-Mâidah/5: 100; QS al-A’râf/7: 69; QS al-Anfâl/8: 45; QS al-Hajj/22: 77; QS an-Nûr/24: 31 dan QS al-Jumu’ah/62: 10)

Keberuntungan, seperti kata sahabat saya — M. Husaini – dalam sebuah buku (karya tulis)-nya yang berjudul: “Hidup Bahagia dengan Energi Positif: Menyingkap Inspirasi Hikmah Keseharian” (Malang: Genius Media, 2014), tidak selalu bermula dari proses yang mudah dan menyenangkan, apalagi serba kebetulan. Bahkan — dalam banyak hal – berawal dari proses-proses yang sangat melelahkan.

• Ada orang yang rumahnya terbakar, tetapi setelah itu berhasil membangun rumah baru yang jauh lebih megah.
• Ada yang terkena PHK, tetapi setelah itu diterima bekerja di perusahaan yang lebih bonafide.
• Ada yang gagal mendapatkan seseorang yang sangat dicintai dan didambakan, setelah ‘merasa sangat kecewa, ternyata — pada akhirnya — mendapatkan ‘jodoh’ atau ‘pasangan hidup” yang jauh lebih setia, dan bahkan jauh lebih berkualitas.
• Ada yang gagal untuk menembus kampus harapan, ternyata justeru ujung-ujungnya diterima di kampus yang kelak melambungkan karirnya.

Tetapi, yang terpenting adalah: “jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan keberuntungan apa pun tanpa upaya, karena ‘ternyata’ orang-orang yang beruntung itu ‘kebanyakan’ dari mereka adalah orang-orang yang sebelumnya telah bekerja keras dengan cucuran keringat dan bahkan ‘tetesan darah pejuang’ yang pada akhirnya meraih ‘panen besar’ karena kerja kerasnya.

Siapa yang menanam, dialah yang akan mengetam. Siapa yang menabur benih dan merawatnya dengan sebaik-baiknya, dialah yang akan memanen dengan panen yang terbaik.

Untuk menjadi al-muflih (orang yang beruntung atau dalam istilah Jawa: “Wong Bejo“), kita perlu “bekerja keras, cerdas dan ikhlas”. Cobalah ‘baca’ kembali — dengan cermat — makna firman Allah yang berisi kalimat: “la’allakum tuflihûn“, insyâallâh kita akan semakin faham dan selanjutnya lebih siap, ‘mau dan berani’ berbuat sesuatu, untuk menjadi orang yang beruntung (Al-Muflih/‘Wong Bejo’).

Fastabiqul Khairât.

(Dikutip dan diselaraskan dari http://journalofannisya.blogspot.com/2013/06/orang-yang-beruntung-dan-orang-yang.html)