PANDANGAN AL-QURAN TENTANG BAIK DAN BURUK

  Wawasan al-Quran   4 Desember 2009

PANDANGAN AL-QURAN

TENTANG BAIK DAN BURUK

Para filosof dan teolog sering membahas tentang arti baik dan buruk. serta tentang pencipta kelakuan tersebut. yakni apakah kelakuan itu merupakan hasil pilihan atau perbuatan manusia sendiri, ataukah berada di luar kemampuannya?

Tulisan ini tidak akan mengarungi samudera pemikiran yang dalam lagi sering menenggelamkan itu. namun kita dapat berkata bahwa secara nyata terlihat dan sekaligus kita akui bahwa terdapat manusia yang berkelakuan baik. dan juga sebaliknya. lni berarti bahwa manusia memiliki kedua potensi tersebut. Terdapat sekian banyak ayat al-Quran yang dipahami menguraikan hal hakikat ini, antara lain:

Dan kami Telah menunjukkan kepadanya dua jalan[1] (QS Al-Balad [90]: 10).

7. Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),

8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS asy-Syams [91]: 7-8).

Walaupun kedua potensi ini terdapat dalam diri manusia, namun ditemukan isyarat-isyarat dalam al-Quran bahwa kebajikan lebih dahulu menghiasi diri manusia daripada kejahatan, dan bahwa manusia pada dasarnya cenderung kepada kebajikan.

Al-Quran surat Thaha (20): 121-123 menguraikan bahwa Iblis menggoda Adam sehingga, durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia.

121.  Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia[2].

122.  Kemudian Tuhannya memilihnya,[3] maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.

123.  Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Redaksi ini menunjukkan bahwa sebelum digoda oleh Iblis, Adam tidak durhaka, dalam arti, tidak melakukan sesuatu yang buruk, dan bahwa akibat godaan itu, ia menjadi tersesat. Walaupun kemudian Adam bertobat kepada Tuhan, sehingga ia kembali lagi pada kesuciannya.

Kecenderungan manusia kepada kebaikan terbukti dari persamaan konsep- konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman. Perbedaan-jika terjadi-terletak pada bentuk, penerapan, atau pengertian yang tidak sempurna terhadapkonsep- konsep moral, yang disebut ma’rûf dalam bahasa Al-Quran. Tidak ada peradaban yang menganggap baik kebohongan, penipuan, atau keangkuhan. Pun tidak ada manusia yang menilai bahwa penghormatan kepada kedua orang-tua adalah buruk. Tetapi, bagaimana seharusnya bentuk penghormatan itu? Boleh jadi cara penghormatan kepada keduanya berbeda-beda antara satu masyarakat pada generasi tertentu dengan masyarakat pada generasi yang lain. Perbedaan-perbedaan itu-selama dinilai baik oleh masyarakat dan masih dalam kerangka prinsip umum-maka ia tetap dinilai baik (ma’rûf).

Kembali kepada persoalan kecenderungan manusia terhadap kebaikan, atau pandangan tentang kesucian manusia sejak lahir, hadis-hadis Nabi Saw. pun antara lain menginformasikannya:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

Tidak ada anak yang dilahirkan (oleh orangtuanya) kecuali (dilahirkan) dalam keadaan suci (fithrah), hanya saja kedua orang-tuanya (lingkungannya) yang menjadikan dia Yahudi. Nasrani, atau Majusi (HR Bukhari).

Seorang sahabat Nabi Saw. bemamaWabishah bin Ma’bad berkunjung kepada Nabi Saw. , lalu beliau menyapanya dengan bersabda:

جِئْتَ تَسْأَلُ عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَجَمَعَ أَصَابِعَهُ فَضَرَبَ بِهَا صَدْرَهُ وَقَالَ اسْتَفْتِ نَفْسَكَ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ يَا وَابِصَةُ ثَلَاثًا الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

“Engkau datang menanyakan kebaikan dan keburukan?” “Benar, wahai Rasul, ” Jawab Wabishah.Rasululah saw. berkomentar serasa merapatkan jari-jemari tanggannya dan menepukkan telapak tangannya ke dada, sambil berrsabda: “Tanyailah dirimu, tanyailah hatimu wahai Wabishah sebanyak tiga kali! “Kebajikan adalah sesuatu yang menyebabkanjiwa menjadi tenang, dan yang menenteramkan hati, sedangkan dosa adalah yang mengacaukan hati dan membimbangkan dada, walaupun setelah orang memberimu fatwa” (HR Ahmad dan ad-Darimi dari Wabishah bin Ma’bad al-Asadi).

Dengan demikian menjadi amat wajar jika ditemukan ayat- ayat Al-Quran yang mengisyaratkan bahwa manusia pada hakikatnya-setidaknya pada awal masa perkembangan tidak akan sulit melakukan kebajikan. berbeda halnya dengan melakukan keburukan.

Salah satu frase dalam surat al-Baqarah ayat 286 menyatakan.

Untuk manusia ganjaran bagi perbuatan baik yang dilakukannya dan sanksi bagi perbuatan (buruk) yang dilakukannya.

Frase ini kerap dijadikan oleh beberapa ulama sebagai bukti apa yang disebut di atas. Dalam terjemahan di atas terlihat bahwa kalimat “yang dilakukan ” terulang dua kali: yang pertama adalah terjemahan dari kata kasabat dan kedua teremahan dari kata iktasabat.

Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir al-Manar menyatakan kata iktasabat, dan semua kata yang berpatron demikian, memberi arti adanya semacam upaya sungguh-sungguh dari pelakunya, berbeda dengan kasabat yang berarti dilakukan dengan mudah tanpa pemaksaan. Dalam ayat di atas, perbuatan-perbuatan manusia yang buruk dinyatakan dengan iktasabat, sedangkan perbuatan yang baik dengan kasabat. Ini menandakan bahwa fitrah manusia pada dasarnya cenderung kepada kebaikan, sehingga dapat melakukan kebaikan dengan mudah. Berbeda halnya dengan keburukan yang harus dilakukannya dengan susah payah dan keterpaksaan (ini tentu pada saat fitrah manusia masih berada dalam kesuciannya).

Potensi yang dimiliki manusia untuk melakukan kebaikan dan keburukan, serta kecenderungannya yang mendasar kepada kebaikan, seharusnya mengantarkan manusia memperkenankan perintah Allah (agama-Nya) yang dinyatakan-Nya sesuai dengan fithrah (asal kejadian manusia). Dalam Al-Quran surat Ar-Rum (30): 30 dinyatakan.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[4],

Di sisi lain, karena kebajikan merupakan pilihan dasar manusia, kelak di hari kemudian pada saat pertanggungjawaban, sang manusia dihadapkan kepada dirinya sendiri:

Bacalah kitab amalmu (catatan perbuatanmu); cukuplah engkau sendiri yang melakukan perhitungan atas dirimu (QS al-Isra’ [17]: 14).


[1] Yang dimaksud dengan dua jalan ialah jalan kebajikan dan jalan kejahatan.

[2] Yang dimaksud dengan durhaka di sini ialah melanggar larangan Allah Karena lupa, dengan tidak sengaja, sebagaimana disebutkan dalam ayat 115 surat ini. Dan yang dimaksud dengan sesat ialah mengikuti apa yang dibisikkan syaitan. Kesalahan Adam a.s. meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat, karena tingginya martabat Adam a.s. dan untuk menjadi teladan bagi orang besar dan pemimpin-pemimpin agar menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang bagaimanapun kecilnya.

[3] Maksudnya: Allah memilih nabi Adam a.s. untuk menjadi orang yang dekat kepada-Nya.

[4] Fitrah Allah: maksudnya “ciptaan Allah”. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.

Disadur dan disarikan dari beberapa sumber di situs internet untuk keperluan kajian tafsir al-Quran di Masjid Ash-Shiddiq, Kadipaten Kidul, Yogyakarta

Tags: