Penjelasan Tentang Makna Tauhid dan Syahadat “Lâ Ilâha Illallâh”

Penjelasan Tentang Makna Tauhid dan Syahadat

Lâ Ilâha Illallâh

Banyak orang, termasuk umat kita (Islam), yang – hingga kini –masih bertanya: “apa hakikat tauhid dan syahadat tauhid yang terungkap dalam kalimat “Lâ Ilâha Illallâh“. Bahkan, karena kekurang-pahamannya, masih ada orang yang menganggap bahwa dirinya sudah bertauhid, padahal sikap dan perilakunya masih menunjukkan gejala-gejala “syirik”. Dan, bahkan dalam banyak hal mereka pun masih memiliki cara-cara berpikir yang tidak berbeda dengan orang-orang yang terjebak dalam pemberhalaan terhadap kemampuan intelektualitas mereka, untuk tidak menyebutnya sebagai komunitas yang lupa terhadap Tuhan mereka — Allah — “Sang Pemilik” ilmu dan jiwa-raga mereka.

 

Simaklah beberapa rangkaian Firman Allah SWT berikut:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka[1], siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya? Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti”. (QS al-Isrâ’, 17: 57)

Diterangkan dalam ayat ini sanggahan terhadap orang-orang musyrik, yang memohon kepada orang-orang yang saleh. Oleh karena itu, ayat ini memberikan  penjelasan bahwa perbuatan mereka itu adalah ’syirik besar’[2].

Firman Allah di atas ditegaskan kembali dalam ayat lain:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ (٢٦) إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ (٢٧)

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya[3] dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah[4], tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”. (QS az-Zukhruf, 43: 26-27)

Nabi Ibrahim a.s., dengan sikap istiqamahnya dalam memegang prinsip tauhid, tidak mau terjebak dalam penyembahan terhadap berhala-berhala dalam bentuk apa pun, meskipun pada saat itu menjadi sesembahan  bapak dan kaumnya.

Dalam firman Nya yang lain Allah menegaskan:

اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَهًا وَاحِدًا لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah[5] dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (QS at-Taubah, 9: 31)

Diterangkan dalam ayat ini bahwa orang-orang Ahli Kitab telah menjadikan orang-orang alim dan pendeta pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan dijelaskan pula bahwa mereka hanya diperintahkan untuk menyembah kepada satu sesembahan, dan menurut penafsiran yang sebenarnya mereka itu hanya diperintahkan untuk taat kepadanya dalam hal-hal yang tidak bermaksiat kepada Allah, dan tidak berdoa kepadanya.

Kata-kata Nabi Ibrahim a.s. kepada orang-orang kafir: “sesungguhnya saya berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (saya hanya menyembah) Dzat Yang Menciptakanku“. Di sini beliau mengecualikan Allah dari segala sesembahan. Pembebasan (dari segala sembahan yang bâthil) dan pernyataan setia (kepada sembahan yang haq, yaitu: Allah) adalah makna yang sebenarnya dari syahadat “lâ ilâha illallâh”.

Sementara itu ditegaskan pula oleh Allah dalam firmanNya:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[6] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”. (QS al-Baqarah, 2: 165)

Disebutkan dalam ayat tersebut, bahwa mereka menyembah tandingan tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai kecintaan yang besar kepada Allah, meskipun demikian kecintaan mereka ini belum boleh memasukkan mereka kedalam agama Islam[7]. Lalu bagaimana dengan mereka yang cintanya kepada sesembahan selain Allah itu lebih besar dari cintanya kepada Allah? Lalu bagaimana lagi orang-orang yang cuma hanya mencintai sesembahan selain Allah dan tidak mencintai Allah?

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Thariq bin Asyim bin Mas’ud al-Asyja’i, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

“Barang siapa yang mengucapkan “lâ ilâha illallâh”, dan mengingkari sesembahan selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, adapun perhitungannya adalah terserah kepada Allah”.

Sabda Rasulullah s.a.w. yang menyatakan: “Barang siapa yang mengucapkan “lâ ilâha illallâh”, dan mengingkari sesembahan selain Allah, maka haram darah dan hartanya, sedangkan perhitungannya kembali kepada Allah”, merupakan hal yang penting sekali yang menjelaskan esensi pengertian “lâ ilâha illallâh”. Sebab apa yang dijadikan Rasulullah s.a.w. sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekadar ucapan kalimat itu dengan lisan atau memahami arti dan lafadznya, atau mengetahui akan kebenarannya, bahkan bukan pula karena tidak meminta kecuali kepada Allah saja, yang tiada sekutu bagiNya, akan tetapi harus disertai dengan tidak adanya penyembahan kecuali hanya kepadaNya. Jika dia masih ragu atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung harta dan darahnya. Betapa pentingnya penjelasan makna “lâ ilâha illallâh” yang termuat dalam hadis ini, dan betapa jelasnya keterangan yang dikemukakannya, dan kuatnya argumentasi yang diajukan bagi orang-orang yang menentangnya.

Sekarang saatnya kita bermuhasabah, sudahkah kita benar-benar bertauhid?


[1]Maksudnya: Nabi Isa a.s., para malaikat dan ‘Uzair yang mereka sembah itu menyeru dan mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah.

[2]Dapat diambil kesimpulan dari ayat dalam QS al-Isrâ’ tersebut bahwa makna tauhid dan syahadat “Lâ Ilâha Illallâh” yaitu : meninggalkan apa yang dilakukan oleh orang orang musyrik, seperti menyeru (memohon) kepada orang orang soleh dan meminta syafaat mereka.

[3]Di antara mufassirin ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan abîhi (bapaknya) ialah pamannya.

[4]Maksudnya: Nabi Ibrahim a.s. tidak menyembah berhala-berhala yang disembah kaumnya.

[5]Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.

[6]Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.

[7]Dari ayat dalam QS al-Baqarah tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa penjelasan makna tauhid dan syahadat “Lâ ilâha illallâh“, yaitu: pemurnian kepada Allah yang diiringi dengan rasa rendah diri dan penghambaan hanya kepadaNya.

Tags: