Peranan Akhlak Dalam Masyarakat

Peranan Akhlak Dalam Masyarakat

Makarimul akhlak (kepribadian yang mulia) merupakan sifat para nabi, orang shiddiq dan shalih. Sedangkan akhlak yang buruk adalah racun yang membawa pemiliknya ke jalan syaitan dan penyakit yang menghancurkan kebahagian umat manusia. Oleh karena itu Allah Ta’ala mengutus Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam untuk menyempurnakan akhlak yang luhur yang dimiliki umat manusia. Beliau membawa akhlak yang agung bersumber dari wahyu Ilahi untuk menjadi teladan bagi orang yang beriman.

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.“ (QS. Al Qalam: 4)

Hal ini ditafsirkan oleh Aisyah radhiallahu’anha ketika ditanya tentang akhlak beliau shallallahu’alaihi wassalam dalam pernyataannya:

“Akhlak beliau adalah Al Qur’an.“[1]

Demikianlah akhlak yang mulia telah menjadi salah satu rukun kenabian shallallahu’alaihi wassalam .

Sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam:

“Aku hanya diutus untuk menyempurnakan kemulian akhlak.“

Takhrij

Hadits ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Al Adaab Al Mufraad hal 42, Ahmad 2/381, Al Hakim 2/613, Ibnu Saad dalam Thabaqaatul Kubra (1/192), Al Qudhaa’iy dalam Musnad Asysyihaab No.1165 dan Al Kharaaithiy dalam Makarimul Akhlak Wa Ma’aaliha hal 2. dari jalan periwayatan Muhammad bin Ajlaan dari Al Qa’qaa’ dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu’alaihi wassalam

Sanad ini hasan. Hadits ini dishahihkan Al Haakim dan beliau berkata: “Sesuai dengan syarat Muslim” demikian juga Adz Dzahabiy menyetujui ucapan Al Hakim ini, akan tetapi Muhammad bin ‘Ajlaan dikeluarkan Imam Muslim dalam Mutaba’ah (untuk penguat saja).

Hadits ini juga memiliki syahid (jalan periwayatan dari sahabat yang lain) dalam Muwatha’ Imam Malik (2/904) secara balagh dengan lafadz:

“Sesungguhnya telah sampai kepadaku (balagh) bahwa Rasulullah bersabda: “Aku diutus untuk menyempurnakan kemulian akhlak.”

Demikian juga dikuatkan oleh hadits Zaid bin Aslam yang mursal dan hadits Jaabir bin Abdillah yang lemah. Sehingga Syaikh Saalim bin Ied Al Hilaaliy menyatakan hadits ini shahih dengan syahid-syahid-nya.[2]

Syarah Hadits

Makarimul akhlak (akhlak yang mulia) jika menjadi sifat seseorang bermakna satu ungkapan yang mencakup sifat dan perbuatan luhur (terpuji) yang tampak dalam budi pekerti dan pergaulannya. Akhlak yang mulia ini adalah tonggak keutuhan dan kejayaan satu umat, sebagaimana disampaikan oleh seorang penyair yang bernama Ahmad Syauqiy dalam pernyataannya:

Umat itu tergantung akhlak yang tersisa padanya, jika akhlak tersebut lenyap maka lenyaplah mereka

Akhlak mulia memiliki pengaruh dalam tegak dan hancurnya satu masyarakat karena akhlak mulia adalah dasar ditegakkannya perintah Allah Ta’ala dalam jiwa manusia. Jika jiwa memiliki akhlak dan perilaku mulia maka tidak diragukan dia akan mengagungkan syiar-syiar Allah dan komitmen dengan manhaj agamanya. Sebagaimana Allah berfirman:

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.“ (QS. Al Hajj:32)

Akhlak mulia menjadi salah satu rukun ajaran Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam sehingga sudah semestinya diwujudkan dalam jiwa seorang muslim.

Kedudukan yang tinggi ini telah dijelaskan Allah dalam ayat-ayat-Nya agar manusia dapat istiqamah di atas akhlak mulia tersebut. Allah berfirman:

“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa.“ (QS. Al Baqarah:187).

“Dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian ancaman, agar mereka bertaqwa.” (QS. Thaha:113)

Demikian juga firman-Nya:

“(Ialah) al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertaqwa.“ (QS. Az Zumaar :28)

Oleh karena itulah para Rasul senantiasa mengajak kaumnya untuk mewujudkan akhlak yang mulia .

Lihatlah Nabi Nuh ‘alaihis salam, beliau mengajak kaumnya sebagaimana dikisahkan Allah dalam firmanNya:

“Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka:”Mengapa kamu tidak bertaqwa?Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam.Maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.“(Asy Syu’ara: 105-110)

Demikian juga Nabi Hud ‘alaihis salam mengajak kaumnya berakhlak mulia

“Kaum Aad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka:”Mengapa kamu tidak bertaqwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam.

Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia). Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan bertaqwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar.” (QS. Asy Syu’ara:123-135)

Nabi Shalih ‘alaihissalam pun mengajak kaumnya kepada akhlak yang mulia :

“Kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul. Ketika saudara mereka, Shaleh, berkata kapada mereka:”Mengapa kamu tidak bertaqwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam.“ (QS. 26:141-147)

Lihat kembali kisah nabi Luth ‘alaihis salam :

“Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul,ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka:”Mengapa kamu tidak bertaqwa?” Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan yang (di utus) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang di jadikan oleh Rabbmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. 26:160-166)

Nabi Syu’aib ‘alaihis salam :

“Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul; ketika Syu’aib berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertaqwa?, Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam. Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan; dan bertaqwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu.” (QS. 26:176-184)

Jelaslah dakwah mereka mengajak manusia bertakwa kepada Allah, dan ketakwaan adalah sumber utama akhlak mulia, darinyalah mengalir kemulian akhlak dalam kehidupan seorang mukmin. Dengan demikian akhlak mulia adalah ketakwaan yang dapat dilihat seorang mukmin sebagai satu kebaikan dan barokah bagi masyarakat.

Hal ini dikuatkan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam diatas. Dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan salah satu tugas penting beliau adalah mengokohkan pondasi dasar akhlak mulia, menyempurnakan dan menjelaskan ketinggiannya. Bukankah hal ini menunjukkan peran penting akhlak dalam membangun kejayaan kaum muslimin. Untuk lebih jelasnya marilah kita melihat tugas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang telah Allah tetapkan dalam beberapa ayat dibawah ini:

- Firman Allah Ta’ala:

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.“ (QS. Al Baqarah:151).

Ibnu Katsir mengomentari ayat ini dalam tafsirnya: “Dalam ayat ini Allah menjelaskan kepada hambaNya yang mukmin karunia nikmat yang Allah limpahkan kepada mereka, yaitu: diutusnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam untuk membacakan ayat-ayatNya dan men-tazkiyah. Tazkiyah bermakna mensucikan mereka dari kejelekan akhlak, kekotoran jiwa dan perbuatan jahiliyah”. [3]

- Firman Allah Ta’ala :

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.“ (QS. Al ‘Imron:164)

serta firmanNya:

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan aya-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah.Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.“ (QS. Al Jumu’ah: 2)

Tazkiyah merupakan salah satu tugas utama dan rukun dakwah para Rasul. Tazkiyah ini tidak lain adalah dengan membina umat untuk berakhlak baik dan meninggalkan akhlak yang buruk, beristiqamah dan berpegang teguh kepada ketinggian akhlak tersebut.

Demikian pentingnya akhlak dalam kehidupan masyarakat islam sampai nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjadikannya sebagai salah satu rukun dakwahnya, sebagaimana diberitakan Allah dalam firmanNya:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah beserta Ismail (seraya berdo’a):”Ya Rabb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak-cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (al-Qur’an) dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.“ (QS. Al Baqarah: 127-129)

Demikianlah Nabi Ibrahim mendidik kaum dan anak keturunannya untuk berakhlak mulia, sehingga ajaran beliau ini masih tersisa pada bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam . ini tampak jelas karena Rasulullah diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia yang dimiliki bangsa Arab waktu itu. Tentunya dengan menghilangkan seluruh akhlak yang buruk dari kesyirikan, kekufuran, kebid’ahan dan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala.

Akhlak yang mulia yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sangat lengkap dan bersumber dari wahyu. Akhlak yang meliputi akhlak kepada Allah dan kepada makhluknya. Akhlak kepada Allah yang meliputi keimanan dan tauhid serta beribadah kepadaNya tanpa berbuat syirik dan maksiat sedikitpun dan berakhlak dalam berhubungan sesama makhluk Allah dalam pergaulan pribadi atau masyarakat. Inilah inti ajaran islam yang dibawa para rasul.

Wahai para da’i yang ingin membangun kejayaan umat ini janganlah kalian melupakan sisi penting ini. Melupakan tazkiyah (tarbiyah) pembentukan pribadi muslim diatas akhlak yang mulia yang bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasulullah, bersumber dari keimanan dan tauhid yang benar. Tapi ingatlah hal ini tidak sempurna tanpa melakukan tashfiyah (pemurnian agama dari ajaran selainnya) dahulu. Ikutilah dakwahnya para rasul dengan benar dan sempurna, mudah-mudahan Allah mengangkat derajat dan mengembalikan kejayaan umat ini kembali.

Faedah hadits

Diantara faedah yang dapat diambil dari hadits ini adalah:

1. Islam adalah agama yang menghilangkan kebatilan dan mengokohkan kebenaran. Hal ini tampak jelas pada sabda beliau dalam hadits ini yaitu ??????????? . sehingga Islam tetap mengokohkan kemulian akhlak yang dimiliki bangsa Arab dan menyempurnakannya dengan menghilangkan keburukan dan kejelekan akhlak mereka. Dengan demikian jelaslah slogan yang menyatakan Islam adalah revolusi atau revolusi islam adalah kebatilan, karena revolusi mesti ditandai dengan penghancuran baik yang benar atau yang salah.

2. Bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah termasuk bangsa yang paling berakhlak mulia, karena mereka memiliki sebagian akhlak mulia yang mereka warisi dari ajaran nabi Ibrahim ‘alaihis salam akana tetapi mereka sesat lantaran kekufuran mereka. Lalu Allah utus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam untuk menyempurnakan kemulian dan keindahan akhlak dengan menjelaskan kesesatan mereka dan ketetapan syariat dalam hal tersebut.

3. Akhlak yang mulia memiliki kedudukan dan urgensi sangat penting dalam membangun masyarakat islam

4. Akhlak yang mulia merupakan tonggak kejayaan satu bangsa atau umat.

5. Akhlak yang mulia merupakan salah satu rukun dakwah para Rasul

6. Akhlak yang mulia meliputi akhlak terhadap Allah dan makhluknya.

[1] Hadits Shahih diriwayatkan oleh Muslim, Syarah Shahih Muslim Lin Nawawi (6/25) , Abu Daud dalam Sunan-nya(2/40), An Nasaa’I dalam Sunan-nya (3/199), Ad Darimiy dalam Sunan-nya (1/345).

[2] Takhrij ini disarikan dari risalah “Makarimul Akhlak” karya Syaikh Saalim bin Ied Al Hilali, hal 14-15.

[3] Tafsir Ibnu Katsir, 1/186.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Ustadz Kholid Syamhudi, Lc., dalam http://aljaami.wordpress.com/2010/10/16/peranan-akhlak-dalam-masyarakat/

Tags: