Peringkat Orang Yang Berakhlak Mulia

Peringkat Orang Yang Berakhlak Mulia

Ada orang bertanya: “Siapakah yang lebih utama, seseorang yang telah dikaruniakan padanya akhlaq yang terpuji, dan seseorang yang bersungguh-sungguh berusaha dan berupaya agar dapat memperoleh akhlaq tersebut. Manakah di antara keduanya yang lebih tinggi kedudukannya?”

Saya katakan:  “Sesungguhnya tidak diragukan lagi, bahwa seseorang yang telah diberikan padanya akhlaq yang baik, tentu lebih sempurna jika dilihat dari segi perilakunya yang memang sudah seperti itu, ataupun dilihat dari sisi telah tertanamnya akhlaq yang baik tersebut pada dirinya. Karena dia tidak akan mendapatkan kesulitan yang berarti ketika menghadirkannya, dan juga tidak akan hilang akhlaq tersebut dari dirinya,  meskipun ia berada di mana pun juga, karena memang akhlaq yang baik telah menjadi perangai dan tabiat aslinya. Kapanpun engkau bertemu dengannya pasti akan mendapatinya baik akhlaqnya, dan dalam keadaan bagaimanapun juga engkau bertatap muka dengannya, pasti akan menemuinya keterpujian perilakunya. Maka, dari sisi yang satu ini dia tentu lebih sempurna tanpa diragukan lagi.

Adapun yang bagi orang yang belum mendapatkannya, ia telah bersungguh-sungguh berjuang melawan dan melatih dirinya untuk dapat berperilaku baik. Maka, tidak diragukan lagi bahwa dia mendapat pahala dari sisi perjuangannnya dalam melawan dirinya, dan tentu saja dia lebih utama dari sisi yang ini. Akan tetapi bagaimanapun juga, jika ditinjau dari segi kesempurnaan akhlaq, tentu saja dia akan memiliki kekurang sempurnaan dibanding ‘orang’ yang pertama.

Adapun jika ada seseorang yang mendapatkan karunia tersebut kedua-keduanya, yaitu secara alami dan setelah berusaha dan berupaya, tentu saja dia akan lebih sempurna lagi.

Jadi ringkasnya, seseorang dalam masalah ini terbagi menjadi empat golongan:

  1. Orang yang terhalang untuk mendapatkan akhlaq yang mulia, baik secara alami maupun dengan jalan usaha dan upaya.
  2. Orang yang terhalang dari hal tersebut secara alami, akan tetapi ia dapat berusaha untuk memilikinya.
  3. Orang yang dikaruniai keduanya, memiliki akhlaq (mulia) secara alami  dan mendapatkan jalan untuk menyempurnakannya, kemudian di manfaatkan jalan itu untukmeneympurnakan akhlaq (mulia)-nya .
  4. Orang yang mempunyai akhlaq secara alami, akan tetapi terhalang dari usaha dan upaya untuk memilikinya.

Dan tentu saja tidak diragukan lagi, bahwa golongan yang ketiga adalah yang paling utama, karena ia menyatukan antara keduanya dalam kemuliaan akhlaqnya, dan insyâallah  ‘dia’ akan benar-benar mendapatkan kesempurnaan akhlaq (mulia)-nya, karena ‘dia’ telah dikaruniai potensi dan bisa mengembangkan kemuliaan akhlaqnya. Siapakah orang yang bisa menjadi contoh kongkret dari golongan ketiga ini? Tidak perlu diragukan lagi: “Dialah Muhammad”,  (Rasulullah s.a.w.), Nabi kita.

Berittiba’lah kepadanya, agar kita menjadi yang termulia!

Tags: