Prasangka

”Prasangka itu tidak mendatangkan kebenaran apa pun.”  Itulah pernyataan Allah dalam QS Yunus, 10: 36.[1] Dalam khazanah studi al-Quran sering dinyatakan sebagai “itsm” (perbuatan dosa), Dan Rasulullah s.a.w. menyebutnya dengan  akdzab al-hadîts (perkataan yang paling dusta).[2] Dua sebutan yang sama-sama berkonotasi buruk.

Dalam kajian etika (Islam), prasangka dibedakan dalam dua jenis. Prasangka yang mendatangkan dosa dan prasangka yang tidak mendatangkan dosa. Yang pertama dilakukan oleh orang yang berprasangka dengan menampakkannya melalui ucapan. Yang kedua dilakukan oleh orang yang hanya berprasangka dalam hati.  Yang pertama berimplikasi dosa, sedangkan yang kedua – pada dasarnya – “tidak”. Namun bila dibiarkan dan tidak dikendalikan dengan tepat, prasangka yang kedua pun bisa menjadi pembuka jalan terjadinya prasangka yang pertama. Prasangka yang yang terucap pada mulanya terjadi karena prasangka dalam hati. Dan oleh karenanya, orang-orang bijak menasihati, keduanya harus dihindari.

Orang boleh berdalih: “Tidak setiap prasangka itu bermakna negatif. Semua berpulang pada niat manusianya”. Tetapi harus diingat, bahwa setiap niat bisa berubah selaras dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Banyak orang yang semula berniat baik, namun seiring dengan perubahan situasi dan kondisi, tiba-tiba semuanya menjadi serba berubah. Setiap manusia tidak bisa memperkirakan secara tepat, kapan niat itu tiba-tiba bisa berubah, karena mereka tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Mungkin perubahan-perubahan situasi dan kondisi yang sangat cepat, memaksa dirinya untuk mengubah niat, atau dengan tanpa sengaja berubah niat. Itulah panggung kehidupan, yang memang tidak pernah menentu, Kata orang sebgian bijak: ”tidak ada rumus matematis yang serba-pasti bagi kehidupan ini, termasuk di dalamnya kehidupan manusia ketika dirinya harys berhadapan dengan realitas yang selalu berubah”.

Ketika kita semua hidup dalam dunia prasangka, maka sangat muingkin segalanya menjadi serba tidak nyaman. Hidup ini serasa penuh beban, dan dalam banyak hal sulit untuk dinikmati. Kita semakin akan mudah untuk saling-curiga dengan siapa pun, di mana pun dan kapan pun. Sebut saja, ketika ada seseorang atau sekelompok orang tiba-tiba “ada” di hadapan kita dengan pandangan penuh senyum dan tawa, tiba-tiba kita pun menerka: “ada apa dengan senyum dan tawa itu”. Jangan-jangan orang itu sedang menertawakan diri kita. Lalu kita pasang kuda-kuda untuk menghadapinya dengan sikap “siap-perang”. Begitu juga, ketika ketika ada seseorang atau sekelompok orang yang datang tiba-tiba dengan muka masam dan kusut, kita pun punya sikap yang – kurang lebih – sama: “siap-perang”. Pendek kata, apa pun yang kita temukan pada setiap orang dalam setiap ruang dan waktu, akan kita sikapi dengan langkah awal: “negative-thinking”. Seolah-olah tidak ada ruang lagi di relung hati kita untuk  berpikir positif pada siapa pun, di mana pun dan kapan pun.

Di ruang kita (baca: UMY), banyak hal yang bisa kita prasangkai. Dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Untuk kita sikapi dengan satu-satunya sikap: “prasangka” (negative-thinking), Sehingga kita pun selalu terasa berada di ruang pengap, dan serba tidak nyaman. Karena semuanya menjadi serba tidak berkenan. Dan, ketika semuanya orang di kampus ini menjadi manusia-manusia yang enjoy (gemar) dengan “prasangka”, maka seluruh penduduk ruang ini (sekali lagi, baca: UMY) akan menjadi manusia-manusia yang terpuruk dalam kepengapan hidup. Semuanya menjadi serba tidak nyaman, terasa ‘sumpeg’ dan tidak ada yang menyenangkan. Bahkan hingga kenaikan gaji pun bisa membuat gerah semua orang, karena semuanya diawali dengan “prasangka”.  Kebaikan-kebaikan yang tampak dan ditampakkan oleh siapa pun di ruang ini pun seolah tidak pernah menjadi sesuatu yang bermakna positif, karena “prasangka-prasangka” itu. Akhirnya, prasangka-prasangaka itu, bila tidak dimenej dengan benar,  akan “bisa” menjelma menjadi budaya yang serba kontra-produktif. Karena ruang ini telah dihuni oleh penghuni-penghuni yang berbudaya “saling curiga”.

Ada sebuah adagium yang penuh makna di pojok-pojok gedung kampus ini (baca: UMY). “Biasakan yang benar, jangan benarkan yang biasa”. Adagium – menurut sahabat-sahabat penulis, yang sementara ini merasa masih berada di pojok peradaban, dha’if dan mustadh’af, dapat dimaknai: “mengikuti perilaku kebanyakan manusia belum tentu benar, dan oleh karenanya berpihaklah pada kebenaran, meskipun harus berlawanan dengan arus besar peradaban“. Boleh jadi – kata mereka — perilaku “ghuraba’” (*manusia-manusia yang teralienasi, karena masih mengedepankan nurani), akan dicemooh banyak orang, dan barangkali mereka akan semakin tersingkir dari arus besar, di ketika banyak orang lebih suka membawa diri mereka kepada ketidakbenaran dan ketidakberuntungan, karena hanya didasarkan pada “prasangka”. Seperti peringatan Allah: ”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta terhadap Allah.” (QS al-An’âm, 6: 116). Dan oleh karenanya, kata mereka yang yang belum sempat buta mata hati mereka, “diperlukan keberanian untuk menjadi benar, meskipun harus berseberangan dengan kecenderungan banyak orang. Seperti yang pernah dicontohkan oleh Nabi s.a.w., ketika beliau rela terpinggirkan karena sikapnya yang tidak selaras dengan budaya setempat yang serba bodoh,  karena moralitasnya yang tengah runtuh, di masa jahiliyah.

Penulis pun sepakat untuk berkata lantang: “setiap muslim semestinya berani menjadi bagian dari “ghurabâ“ (manusia-manusia yang relah teralienasi, karena sikap istiqamahnya), karena selalu berpihak bukan pada setiap kepentingan pada ruang dan waktu yang melingkupinya, karena dia harus memilih untuk berpihak pada “kebenaran“. Di saat manusa harus memilih, maka dia pun akan harus selalu memilih (tetap) menjadi yang “benar“, dan bukan menjadi yang “dianggap benar“ oleh siapa pun dalam peradaba yang rapuh.

Melawan prasangka, bagi setiap pecinta kebenaran bukanlah hal yang sulit. Menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai pedoman hidup bukanlah hal yang aneh.  “Merupakan sebuah keharusan abadi”. Dan oleh karenanya, setiap muslim sudah semestinya (bisa) menghindar terhadap semua “prasangka”, dan apalagi “berprasangka“. Dengan kata lain: “tidak dibenarkan berprasangka buruk kepada orang lain, dan biarkan semua orang berprasangka terhadap dirinya ketika dia harus memilih untuk menjadi yang benar“.

Agama kita, “Islam”,  hanya membolehkan berprasangka dalam rangka berhati-hati terhadap semua informasi yang disampaikan orang fasik agar tidak terkecoh oleh bualan mereka. Dan selebihnya: kita harus menyatakan ‘tidak” untuk semua prasangka. Demi kemashalatan kita bersama “here and here-after” (fid dunya wal âkhirah).

 


[1] وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

(Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan).

[2] إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ (رواه البخارى عن أبي هريرة)