Rapuhnya Ukhuwah Kelompok Koalisi

Ketika berbicara soal keuntungan, orang-orang yang menganut faham kapitalisme selalu menerapkan prinsip memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan ongkos yang sesedikit mungkin.

Dan selama masih tetap menguntungkan, mereka akan terus memelihara sumber perolehan keuntungan tersebut. Karena itu siapa dan apa pun (sesuatu) harus tetap dipelihara sebagai ‘aset politik’, meskipun seandainya sesuatu (apa dan siapa pun) itu sebenarnya tak benar-benar berguna, tetapi karena masih adanya kepentingan yang tetap akan terpelihara dengan adanya sesuatu (apa dan siapa pun) itu, maka apa dan siapa pun (sesuatu) itu tetap akan dijaga kelestariannya.

Tetapi, begitu apa pun dan siapa pun (sesuatu) itu sudah dianggap tak berguna lagi, maka segeralah ‘dia’ dienyahkan.

Conto kasusnya adalah peristiwa politik di negeri Mesir. Si Mursi akan terus dibantu bila mengnuntungkan dirinya. Begitu ia sudah tak berguna lagi, maka segeralah ia dienyahkan.

Dahulu — sebelum mereka menang melawan sterunya — militer, kelompok liberal dan Islamis (yang antara lain diwakili oleh Mursi dan Al-Ikhwan al-Muslimun) ‘punya’ musuh bersama (Rezim Husni Mubarak). Tetapi, kni mereka sudah ‘mulai retak” dan bahkan saling berhadapan.

Mursi, yang dahulu dijadikan sebagai alat mobilitas politik untuk melawan Rezim Husni Mubarak, dan cukup efektif untuk meraih kemenangan, setelah ‘kini’ tak diperlukan lagi, maka segeralah dilengserkan dengan cara yang sangat ‘naif’, “KUDETA MILITER”.

Kebersamaaan yang dulu pernah ada, kini sudah benar-benar sirna.

Mereka pun berucap: “Selamat tinggal kebersamaan, dan selamat tinggal Mursi …”