Reinkarnasi “Samiri”, Mungkinkah?

Tadi pagi — setelah shalat subuh — saya diminta untuk memberikan pengajian tafsir al-Quran di Masjid ash-Shiddiq, Kadipaten Kidul, Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Kraton, Yogyakarta. Dan saya pilih “QS Thahâ”. Di antara ayat-ayatnya ternyata ada yang menceritakan seseorang yang bernama Samiri.  Siapakah dia?

Inilah yang akansaya ceritakan kepada para pembaca!

Dalam kitab tafsir yang saya baca,dinyatakan bahwa ‘dahulu’ — pada zaman Nabi Musa a.s. — ada seorang yang bernama Musa bin Zafar yang lebih dikenal sebagai Samiri. Menurut pendapat sahabat nabi s.a.w., ia dikenal dengan nama Samiri, karena ia adalah penduduk desa Samarra atau as-Samirah. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa nama Samiri adalah sebuah penisbatan kepada salah satu kabilah Bani Israil, sedangkan menurut pendapat lain dinyatakan bahwa “Musa, alias Samiri” adalah orang Bajarma, salah seorang penduduk yang menyembah sapi.

Samiri berasal dari bahasa Arab dan digunakan secara meluas oleh penduduk Albania. Samiri adalah sebuah variasi dari “Samir” bagi pengguna bahasa Albania, Arab, India dan Iran yang berasal dari bahasa Arab yaitu “Samara”. Bentuk feminim dari “Samir” adalah “Samira”.

Muhammad Ibnu Ishaq (704 M. – 767 M.) penyusun kitab “Sirah ar-Rasulillâh”, meriwayatkan kisah dari Ibnu Abbas, dan mengatakan bahwa, “ Samiri adalah seorang penduduk Bajarma dan dia berasal daripada kaum yang menyembah berhala. Dalam dirinya telah tertanam kecintaan kepada penyembahan terhadap patung dan berhala sapi. Samiri menampakkan dirinya adalah pengikut Musa a.s. di hadapan Bani Israil namun hatinya bergelojak dengan kepercayaan nenek-moyangnya. Menurut Muhammad Ibnu Ishaq, Samiri adalah nama panggilan bagi seorang individu kufur bernama Musa a.s. bin Zafar.”

Dalam kisah-kisah Islam, baik dari al-Qur’an atau pun riwayat-riwayat, Samiri dikisahkan merupakan tokoh yang menyesatkan Bani Israel. Bani Israel diperintahkan oleh Samiri untuk membawa perhiasan emas milik orang-orang Mesir, lalu Samiri menganjurkan agar perhiasan itu dilemparkan ke dalam api yang telah dinyalakannya dalam suatu lubang untuk dijadikan patung berbentuk anak lembu. Kemudian mereka melemparkannya dan diikuti pula oleh Samiri. Akhirnya Samiri berhasil membuat berhala anak sapi betina terbuat dari emas.

Setelah berhala itu jadi, dikatakannya sebagai Tuhan Bani Israel dan Tuhan Musa a.s..Kejadian tersebut sewaktu Musa a.s. menerima wahyu Taurat di bukit Sinai. Samiri meletakkan bekas jejak kuda malaikat Jibril yang memimpin Musa a.s. dan Bani Israel melewati Laut Merah, sehingga bisa mengeluarkan suara jika tertiup angin.

Ia memiliki ilmu sihir, sebuah ilmu yang ia dipelajari sewaktu berada di Mesir. Belum hilang pula kepercayaannya terhadap kekuatan dewa yang ia yakini, yaitu agama paganisme, Samiri harus mempercayai ke-Esaan Tuhan Musa a.s.. Sekte pagan yang memengaruhi Samiri adalah ajaran yang terdapat di Mesir Kuno. Sebuah bukti penting yang mendukung kesimpulan ini adalah bahwa anak sapi emas yang disembah bani Israil saat Musa a.s. berada di Gunung Sinai, sebenarnya adalah tiruan dari berhala Mesir, yaitu Hathor dan Aphis.

Seorang penulis yang beragama Kristen, Richard Rives, dalam bukunya yang berjudul “Too Long in the Sun”, menulis: “Hathor dan Aphis, dewa-dewa sapi betina dan jantan bangsa Mesir, merupakan perlambang dari penyembahan matahari. Penyembahan mereka hanyalah satu tahapan di dalam sejarah pemujaan matahari oleh bangsa Mesir. Anak sapi emas di Gunung Sinai adalah bukti yang lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa pesta yang dilakukan berhubungan dengan penyembahan matahari….”

Setelah berhala anak sapi itu dihancurkan dengan cara dibakar oleh Musa a.s. dan dibuang ke laut, lalu ia di usir dari kelompoknya dan tak pernah ada yang tahu lagi keberadaannya.

Dalam kisah lain, Musa a.s. menghancurkan berhala tersebut kemudian abunya dibuang ke sungai, kemudian Musa a.s. memerintahkan untuk memimum air sungai itu, orang-orang yang menyembahnya memiliki tanda, yaitu berubahnya kulit wajah mereka menjadi warna kuning emas setelah mereka minum air sungai. Kemudian para penyembah berhala diperintahkan untuk saling membunuh, seorang membunuh bapaknya dan saudaranya tanpa peduli, hingga yang terbunuh berjumlah tujuh puluh ribu. Lalu Allah mewahyukan kepada Musa a.s., “Perintahkan mereka agar berhenti. Aku telah mengampuni yang terbunuh dan memaafkan yang hidup.”

Perbuatan Samiri membuat patung anak lembu dan menyembahnya itu dianggap sebagai salah suatu cobaan Allah untuk menguji Bani Israel, yang kuat imannya dan yang masih ragu-ragu. Orang-orang yang lemah imannya itulah yang mengikuti Samiri dan menyembah patung anak lembu itu, akan tetapi orang-orang yang kuat imannya tetap dalam jalur keimanannya.
Samiri – yang pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s. – memang sudah ‘tiada’. Tetapi, saat ini dan saat-sat yang akan dating, bukan tidak mungkin akan muncul kembali ‘Samiri-Samiri’ yang lain, yang berubah wajah dan nama, tetapi memiliki karakter yang ‘sama’ dengan Samiri, atau paling tidak ‘mirip’ dengannya,

Oleh karena itu, berhatilah terhadap ‘Samiri-Samiri kontemporer yang bisa jadi merupakan reinkarnasi dari Samiri yang pernah hidup pada zaman Nabi Musa a.s, yang mungkin saja lebih cerdas dan bahkan jauh lebih licik daripada Samiri yang pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s.

Be Careful!