Revivalis dalam Ekonomi Islam

Revivalis dalam Ekonomi Islam

Menurut Abdullah Saeed (1996) dalam Islamic Bank and Interest; A Study of Riba and Its Contemporary Interpretation, tumbuhnya ekonomi Islam dan lembaga keuangan syariah di era modern diawali oleh dua hal.

Pertama, kecaman kaum revivalis seperti al-Ikhwan al Muslimun yang dipimpin Hasan Al Banna (1949) di Mesir dan Jama’at Islami yang di pimpin Abu al-Ala Maududi (1973) di Pakistan terhadap praktik perekonomian terutama di lembaga keuangan yang menggunakan bunga. Kedua, pengaruh meningkatnya pendapatan nasional negara-negara Timur Tengah dari minyak pada akhir dekade 60-an dan awal 70-an menyebabkan problem dalam menggunakan kelebihan dolar.

Akhirnya ditempuh tiga cara pada waktu itu. Pertama, membeli barang-barang konsumtif dari Barat. Kedua, dengan menginvestasikan dana mereka pada proyek-proyek pembangunan di dalam dan di luar negeri. Ketiga, dengan meminjamkan dan memanfaatkan uang lewat saluran resmi atau swasta.

Di samping itu faktor penting lainnya adalah kemerdekaan negara-negara Muslim di benua Asia dan Afrika usai Perang Dunia II menjadi daya dorong negara Muslim untuk menemukan identitas diri bidang ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Di samping itu, kegagalan sistem ekonomi kapitalis dan sosialis dalam menciptakan kesejahteraan di negara Muslim juga sebagai pemicu negara Muslim untuk menemukan solusi atas masalah yang menimpa negara tersebut.

Kedua hal tersebut menurut Haneef (2005) dalam A Critical Survey of Islamization of Knowledge, tidak sekadar menumbuhkan kesadaran menemukan konsep ekonomi Islam dan perbankan syariah, tetapi juga menyebabkan munculnya upaya untuk melakukan Islamisasi di bidang pengetahuan pada umumnya. Dampak dari kenyataan di atas, lahirlah Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 1969, sekaligus merancang sistem dalam menyelesaikan masalah secara terpadu dalam menangani masalah ekonomi di negara Muslim.

Berhubungan dengan itu, OKI memprakarsai berdirinya Islamic Development Bank (IDB) pada 1973. Selanjutnya, pada 1976 OKI menyelenggarakan Conference of Islamic Economic di Makkah. Disusul kemudian pada 1977 diselenggarakan Conference on Muslim Education.

Konferensi ini melahirkan ide untuk membangun universitas Islam. Akhirnya ditunjuk Pakistan (1981) dan Malaysia (1982) untuk mendirikan International Islamic University (IIU) dengan sponsor negara-negara Muslim yang bergabung dalam OKI. Dalam usaha memfokuskan pengembangan Islamisasi pengetahuan, berdiri the International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) pada 1981 di Malaysia yang dipimpin oleh Syeh Muhammad Naquib al-Attas dan International Institute Islamic Thought (IIIT) pada 1987 di Herndon, AS, yang dipimpin oleh Ismail Raji al-Faruqi.

Pengaruh sarjana India-Pakistan
Muncul produk IIU, ISTAC, IIIT, dan lembaga pendidikan Islam lain pada tahun 1980-an dalam bentuk jurnal, buku, paper, artikel memperkaya khazanah pemikiran Islam di berbagai bidang, salah satunya bidang ekonomi. Upaya untuk mengonsep Islamisasi di bidang ekonomi pun dilakukan oleh beberapa ekonom sejak 1980-an, seperti MA Mannan (1983), Islamic Economics as a Social Science: Some Methodology Issues; Muhammad Arif (1986), the Islamization of Knowledge and Some Methodology Issues in Paradigm Building: The General Case of Social Science with a Special Focus on Economis; Zubair Hassan (1998), Islamization of Knowledge in Economics:Issues and Agenda; Ataul Haq Pramanik (1998) Islamization of Economics: with Special Emphasis on the Operation Aspect; Monzer Kahf (2000), Islamic Economics: Notes on Definition and Methodology; S.A Siddiqi (2001) A Suggested Methodology for the Political Economy of Islam; Muh Anas Zarqa (2003), Islamization of Economics: The Concept and Methodology, dan lain beberapa lainnya.

Sebelum 1970-an, wacana yang berkembang di antara sarjana ekonomi Islam lebih condong pada pendekatan normatif dan teknis kelembagaan. Namun, pada 1980-an mereka lebih memfokuskan diri pada usaha merumuskan aspek filosofis dan metodologi ekonomi Islam. Kebanyakan dari pemikir ekonomi Islam berasal dari India dan Pakistan, seperti M Nejatullah Siddiqi, Khursid Ahmad, M Alam Choudury, Zubair Hasan, dan M Taqi Usmani.

Banyak dari mereka dipengaruhi semangat gerakan Jama’at Islami yang didirikan oleh Abu al-Ala Maududi di India dan selanjutnya turut andil dalam membentuk pemerintahan Islam di Pakistan. Didukung dengan keislaman dalam bidang ekonomi, penguasaan bahasa Inggris yang baik lisan maupun tulisan, dan tinggal di berbagai negara yang memiliki khazanah keilmuan yang berbeda, sarjana India dan Pakistan akhirnya banyak memengaruhi warna teori ekonomi Islam di dunia, termasuk di Indonesia.

Apalagi setelah krisis ekonomi usai 1998 memberikan peluang masuknya pemikiran sarjana ekonomi Islam India dan Pakistan. Setelah krisis ekonomi tumbuh bank syariah, tetapi ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang terbatas membuat SDM bank syariah banyak diambil dari bank konvensional.

Sedikit SDM yang menguasai teknis lembaga keuangan syariah, ditambah lagi dengan rendahnya penguasaan aspek filosofi ekonomi Islam menjadikan beberapa institusi pendidikan negeri atau swasta menawarkan kurikulum perbankan Islam dalam mengakomodasi permintaan pasar tenaga kerja di bank syariah. Dampaknya mulai 2000 permintaan buku, jurnal, paper, artikel ekonomi Islam, dan perbankan syariah yang ditulis oleh kebanyakan sarjana ekonomi Islam India dan Pakistan melonjak seiring meningkatnya jumlah bank syariah di Indonesia.

Demikian juga sarjana yang belajar tentang ekonomi Islam dan lembaga keuangan syariah ke luar negeri, terutama di Malaysia, Pakistan, Timur Tengah, dan bahkan Eropa semakin meningkat. Upaya ini berkembang dengan terbitnya buku-buku ekonomi Islam dan lembaga keuangan syariah yang ditulis oleh sarjana Indonesia, referensi yang digunakan kental dengan pemikiran sarjana ekonomi Islam sekitar India dan Pakistan.

Ini membuktikan bahwa perkembangan ekonomi Islam dan lembaga keuangan syariah di Indonesia masih banyak dipengaruhi oleh tradisi pemikiran sarjana ekonomi Islam di India dan Pakistan. Pemikiran sarjana ekonomi Islam India dan Pakistan dipengaruhi semangat revivalisme Jama’at al Islami yang memengaruhi metode mereka dalam mengembangkan ekonomi Islam.

Oleh karenanya, Timur Kuran (1997) dalam The Genesis of Islamic Economic: A Chapter in the Politics of Muslim Identity, menyoroti perkembangan ekonomi Islam di dunia, terutama di Pakistan, sebagai buah dari gerakan Islam fundamentalis. Terlepas dari pernyataan Kuran tersebut, gerakan ekonomi Islam di dunia merupakan bagian dari usaha untuk melakukan Islamisasi di berbagai bidang pengetahuan.

Semua itu dipengaruhi usaha untuk mengembalikan pada nilai-nilai Islam. Kembali kepada nilai Islam atau revivalitasi menjadi dasar/syarat utama sebagian sarjana Muslim dari India dan Pakistan dalam membangun ekonomi Islam. Dari pengalaman sarjana India dan Pakistan dalam mengembangkan ekonomi Islam menunjukkan bahwa keyakinan atas kebenaran nilai-nilai Islam merupakan syarat utama dalam melakukan Islamisasi ekonomi di Indonesia.

Ikhtisar

- Sarjana India dan Pakistan banyak memengaruhi warna teori ekonomi Islam di dunia, termasuk di Indonesia.
- Penguasaan bahasa Inggris yang baik dari para pencetus ekonomi Islam membuat perkembangan ekonomi syariah cukup pesat.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Heri Sudarsono, Staf Pengajar Jurusan Ilmu Ekonomi FE-UII Yogyakarta, pada rubruk “Opini”, Republika, Sabtu, 10 Mei 2008)

Tags: