Saatnya Kita Berhijrah

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad s.a.w. memang sudah berlalu. Tetapi, pelajaran yang bisakita peroleh dari peristiwa tersebut untuk masa sekarang dan yang akan datang sangat banyak. Di antaranya adalah semangat untuk berpindah, keinginan kuat dan keberanian untuk “berubah” dari ketidakberdayaan menuju keberdayaan dengan semangat pemberdayaan, untuk diri sendiri dan seluruh umat manusia,terutama untuk umat Islam yang kini masih terlena – misalnya — dalam problem kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan dan dekadensi moral (baca: keterpurukan akhlaq).

Perhatikan firman Allah SWT berikut:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوا وَّنَصَرُوا أُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ﴿٧٤﴾

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memeroleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.“ (QS al-Anfâl, 8: 74).

Dan selanjutnya perhatikan juga sabda Nabi Muhammad s.a.w.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya). (HR Jamâah dari Umar bin al-Khaththab; Lafal hadis dikutip dari kitab Sunan ibn Mâjah, V, 305, hadis no. 4227)

Perubahan, itulah makna substansial “hijrah”. Hijratur Rasûl,  bukanlah sekadar migrasi tanpa isi. Tindakan ini merupakan bagian terpenting dari episode dakwah Nabi Muhammad s.a.w.. Sayang,masih ada sebagian dari kelompok umat Islam yang sering terjebak pada pemaknaan simboliknya. Mereka pahami hijrah dengan: “berpindah dari suatu tempat ke tempat lain”. Meskipun pemaknaan seperti itu bukannya seratus persen “salah”, karena ternyata Nabi Muhammad s.a.w. pun melakukannya. Namun, pemaknaan ituakan menjebak umat Islam pada satu pemahaman yang sangat menyimpang terhadap misi kerisalahan dan keumatan Nabi Muhammad s.a.w.

Pertanyaan radikalnya: “benarkah ketika Nabi s.a.w. berhijrah hanya melakukannya sekadar untuk berpindah dari suatu tempat ke tempat lain?” Nah, kalau jawabnya adalah:“Ya!”, tentu saja tidak akan pernah ada perubahan sosial sehebat waktu itu dan masa-masa kemudian. Dan lebih jauh dari itu, tidak akan pernah terjadi proses transformasi, modernisasi, dekonstruksi, rekonstruksi, renaissance, dan reformasi di tubuh umat Islam. Dan, hingga kini, umat Islam tidak akan pernah keluar dari status quo.

Hijrah merupakan sebuah simbol perubahan yang memberi motivasi kuat bagi umat manusia untuk menggapai kehidupan yang lebih baik. Inilah semangat hijrah Nabi s.a.w.yang sesungguhnya. Selaras dengan firman-Nya:

 

وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا ﴿١٠٠﴾

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nisâ’, 4: 100)

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ ﴿٤١﴾

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (QS an-Nahl, 16: 41)

Peristiwa hijrah Nabi saw. dari Makkah (Mekah) ke Yatsrib (Medinah) itu bukanlah suatu kejadian yang disengaja untuk “tinggal glanggang colong playu“. Mustahil, seorang yang berjiwa besar seperti Nabi s.a.w. “lari dari tanggung jawab“, meskipun telah “sempurna” kekejaman kaum kafir Quraisy dalam memusuhi Nabi s.a.w. dan pengikutnya. Beliau sadar, bahwa inilah risiko dari setiap perjuangan. Menjadi ghurabâ’ (kelompok manusia yang teralienasi) adalah risiko yang paling mungkin dihadapi oleh setiap pejuang kebenaran, di tengah sebuah sistem sosial yang “rusak“, dan masyarakatnya tengah menikmati kerusakan. Beliau memiliki watak seorang ksatria yang dalam bahasa Jawa dinyatakan dalam istilah ’ora mingkuh’ (tidak akan pernah meninggalkan tanggung jawab dan pantang-mundur).

Nabi s.a.w.sadar bahwa perubahan memang harus dilakukan sesegera mungkin. Ketika orang lain belum mampu mengubah keadaan, beliaulah yang harus berubah dan mengubah, menjadia leading and enlightening person (menjadi manusia yang unggul danmencerahkan), menyusun rencana perubahan dari lingkungan yang lebih kondusif dari Mekah yang kurang kondusif ke Medinah yang lebih kondusif. Hijrah Nabi s.a.w.yang ditandai dengan – antara lain — penggalangan ukhuwwah Islamiyah antarkelompok yang memiliki agenda perubahan yang sama, Muhajirin dan Anshar.

Dari “Medinah“lah Nabi s.a.w. dan umatnya melakukan transformasi sosial dan budaya menuju pembentukan “masyarakat madani“, khairu ummah, ummatan wasatha dan syuhadâ’ ’alâ an-Nâs, dengan modal pribadi-pribadi yang memiliki komitmen untuk memiliki Islam dan menjadi Muslim.

Ketikapada saatnya, Nabi s.a.w. beserta kaum muhajirin berkolaborasi dengan kaum Anshar, dan mengenalkan tiga visi transformatifnya: Pertama,  ”menjadikan masjid sebagai base-camp pembinaan umat”, kedua, menegakkan nilai ukhuwwah Islamiyah sebagai tonggak perjuangan, dan ketiga, menjalin hubungan(silaturrahim) dengan banyak kalangan, termasuk dengan orang-orang Nasrani dan Yahudi untuk membangun peradaban Islam yang lebih bernilai susbtantif.  Berkaitandengan hal ini, ada tiga hal yang berhasil dicapai oleh Nabi s.a.w dalam dakwahnya. Pertama, sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai Islam; kedua ,subjektivikasi dan eksternalisasi nilai-nilai Islam, dan ketiga, objektivikasi nilai-nilai Islam. Dari hijrahlah Islam menjadi dikenal, diyakini, diamalkan oleh baik umat Islam dan umat lain secara sadar, dan semuanya menikmatinya sebagai hidangan yang lezat.

Di rumah kita, dengan memahami konteks ruang dan waktu kita, umat Islam pun bisa berbenah untuk segera berhijrah, membangun peradaban baru yang lebih Islami dengan visi transformatif yang secara substantif “sama“ dengan apa yang telah dibangun oleh panutan kita — Nabi saw. — meskipun secara simbolik bisa berbeda. Sudah saatnya kita bersegera menjadi muslim dan umat Islam yang mengerti makna dan mampu memaknai “masjid“ sebagai alas berpijak untuk melakukan perubahan dengan seluruh nilai yang ditawarkannya, di mana pun dan kapan pun. Tidak boleh ada ada lagi masjid yang sepi dan di’emoh’i jamaahnya. Jadikan “masjid“ sebagai tempat yang paling kita rindukan untu kberkumpul, menggagas, merancang dan melakukan sesuatu untuk kepentingan kita saat ini dan masa depan kita. Sudah waktunya kita rentangkan bahu untuk bersatu untuk menyusun agenda bersama dan melaksanakan aktivitas bersama dalam sebuah kerjasama yang tersusun rapi dan berkesinambungan.

Meminjam istilah Kuntowijoyo, yang kita perlukan sekarang ini adalah: melakukan”objektivikasi”. Tawarkan gagasan kita dengan semangat inklusif. Inklusivitas, yang tidak harus bermakna lebur dalam eksklusivitas orang lain. Tetapi,menjadikan diri dan gagasan kita menjadi “keberislaman”  yang diterima secara sadar dan menjadi bagian dari budaya bersama, yang dinikmati dan dinanti oleh setiap yang merindukan perubahan ke arah yang serba positif.

Prinsip hijrah seperti itu berlaku juga untuk setiap muslim (secara pribadi) dan seluruh umat Islam (secara kolektif) sepeninggal Rasulullah s.a.w., meski tidak lagi dalam bentuk pindah (tempat) dari Makkah ke Madinah. Tetapi,lebih substansial lagi, berpindah dari yang serba tidak atau belum ideal menuju yang serba ‘ideal’, sesuai dengan sabda Rasulullah s.a.w. dalam sebuah hadis shahih:

إِنَّ الْمُهَاجِرَ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

”Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah kepadanya.” (HR Ahmad dari Abdullah bin ‘Amr, II/205, hadis no. 6912)

Akhirnya ,bagaimanapun juga, konsep hijrah dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi untuk membuang sikap ”serba-tertutup” yang masih sering kita pelihara, untuk menjadi manusia dan komunitas baru yang open-minded (selalu terbuka). Insyâallâh, dengan semangat hijrah, kita akan diterima sebagai bagian dari mereka dan mereka pun rela untuk menjadi bagian dari diri kita, dalam keberislaman yang universal tanpa harus memaksa dan terpaksa.