Saatnya Kita Lakukan Tazkiyatun Nafs

Kapan pun dan di mana pun, seseorang yang mengharapkan keridhaan Allah dan kebahagiaan abadi hendaknya benar-benar memberi perhatian khusus pada perilaku tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Ia harus berupaya agar jiwanya senantiasa berada dalam kondisi suci.

Dakwah Rasulullah s.a.w. – sebagai ilustrasi — tak lain difokuskan untuk menyucikan jiwa manusia. Hasilnya sangat terlihat jelas pada kepribadian beliau dan para sahabatnya di saat mereka telah memeluk dan menerjemahkan Islam ke seluruh aspek kehidupan mereka.

Sebelum mengenal Islam jiwa mereka – para sahabat – berada dalam keadaan kotor oleh debu-debu syirik, ashabiyah (fanatisme kesukuan), dendam, iri, dengki dan perangai buruk lainnya. Namun begitu telah disibghah (diwarnai) oleh nilai-nilai Islam yang dikenalkan dan ditransformasikan oleh Rasulullah s.a.w. kepada mereka, “mereka” – para sahabat itu — menjadi bersih, bertauhid, ikhlas, sabar, ridha, zuhud dan berperangai mulia lainnya. Mereka menjadi manusia-manusia yang ber-akhlâqul karîmah.

Keberuntungan dan kesuksesan seseorang – menurut al-Ghazali, misalnya — sangat ditentukan oleh seberapa jauh ia dapat melakukan tazkiyatun nafs (menyucikan dirinya). “Barangsiapa tekun membersihkan jiwanya maka sukseslah hidupnya. Sebaliknya yang mengotori jiwanya akan senantiasa merugi, gagal dalam hidupnya”.

Inilah yang — juga — saya pahami dari firman Allah dalam QS asy-Syams, 91: 9-10,
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا – وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Siapkah kita melakukannya?