Salah Faham Terhadap Do’a Nabi s.a.w.

Di antara sekian banyak do’a-do’a yang Nabi s.a.w. ajarkan kepada umatnya adalah do’a di bawah ini :

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا ، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا ، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ.

“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang miskin.” (HR Ibnu Majah dari Abu Sa’id al-Khudriy)

Setelah kita mengetahui bahwa hadits ini sah datangnya dari Nabi s.a.w., maka sekarang perlu kita mengetahui apa maksud sebutan miskin dalam lafazh do’a Nabi s.a.w. di atas. Yang sangat penulis sesalkan diantara saudara-saudara kita telah memahami bahwa miskin di sini dalam arti yang biasa kita kenal yaitu: “Orang-orang yang tidak berkecukupan di dalam hidupnya atau orang-orang yang kekurangan harta.”

Dengan arti yang demikian maka timbullah kesalahpahaman di kalangan umat terhadap do’a Nabi s.a.w. di atas, akibatnya :

  1. Tidak ada seorang muslimin pun yang berani mengamalkan do’a ini, atau paling tidak sangat jarang sekali, lantaran menurut tabi’atnya manusia itu tidak mau dengan sengaja menjadi miskin.
  2. Akan timbul pertanyaan: Mengapa Rasulullah s.a.w. menyuruh umatnya menjadi miskin? Bukankah di dalam Islam ada hukum zakat yang justru salah satu faedahnya ialah untuk memerangi kemiskinan? Dapatkah hukum zakat itu terlaksana kalau kita semua menjadi miskin? Dapatkah kita berjuang dengan harta-harta kita sebagaimana yang Allah SWT perintahkan kalau kita hidup dalam kemiskinan? Kita berlindung kepada Allah SWT dari berburuk sangka kepada Nabi-Nya (Muhammad) s.a.w..
  3. Ada jalan bagi musuh-musuh Islam untuk mengatakan: “Islam adalah musuh kekayaan!”

Padahal yang benar, makna ‘miskin‘ di dalam do’a Nabi s.a.w. ini ialah: “Orang yang Khusyu dan Mutawâdhi‘”. Sebagaimana hal ini telah diterangkan oleh para ulama dalam beberapa kitab syarah (penjelasan) hadis.

Setelah kita mengetahui keterangan ulama-ulama kita tentang maksud ‘miskin‘ dalam do’a Nabi s.a.w. di atas, baik secara lughah/bahasa maupun maknanya, maka hadits tersebut bisa dipahami menjadi: “Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan khusyu’ dan tawadhu’’, dan matikanlah aku dalam keadaan khusyu’ dan tawadhu’’, dan kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang yang khusyu’ dan tawadhu’.”

Rasanya kurang lengkap kalau di dalam risalah ini saya tidak menerangkan dua masalah yang perlu diketahui oleh saudara-saudara kaum muslimin.

Islam adalah agama yang memerangi atau memberantas kefakiran dan kemiskinan di kalangan masyarakat. Hal ini dengan jelas dapat kita ketahui :

  1. Di dalam Islam terdapat hukum zakat . Sedangkan yang berhak menerima bagian zakat di antaranya orang-orang yang fakir dan miskin. Kalau saja zakat ini dijalankan sesuai dengan apa yang Allah SWT perintahkan dan menurut sunnah Nabi s.a.w., niscaya tidak sedikit mereka yang sebelumnya hidup dalam kemiskinan — setelah menerima bagian zakatnya — akan berubah kehidupannya bahkan tidak mustahil kalau di kemudian hari merekalah yang akan mengeluarkan zakat. Allah SWT telah berfirman: “كَيْ لا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الأَغْنِيَاء مِنكُمْ (Agar supaya harta itu tidak beredar di antara orang-orang yang kaya saja dari kamu).” (QS al-Hasyr, 59: 7)
  2. Islam memerintahkan memperhatikan keluarga yang akan ditinggalkan, supaya mereka jangan sampai hidup melarat yang menadahkan tangan kepada manusia. Kita perhatikan sabda Nabi s.a.w.: “إِنَّكَ أَنْ تَدَعَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَدَعَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ (Sesungguhnya engkau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka hidup melarat/miskin yang menengadahkan tangan-tangan mereka kepada manusia).” (HR al-Bukhari dan Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqash)
  3. Islam mencela kalau ada seorang mukmin yang hidup dalam keadaan cukup sedangkan tetangganya kelaparan dan dia tidak membantunya, sebagaimana sabda Nabi s.a.w.: ” لَيْسَ اْلمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ(Bukanlah orang yang mukmin itu yang kenyang, sedangkan tetangganya lapar di sebelahnya).” (HR al-Baihaqi dari ‘Abdullah bin ‘Abbas. Maksudnya: “Tidaklah sempurna keimanan seorang muslim itu apabila ia makan dengan kenyang sedangkan tetangganya di sebelahnya kelaparan.”
  4. Nabi s.a.w. senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT dari hidup dalam kefakiran dan kelaparan. Abu Hurairah menyatakan, bahwa Rasulullah s.a.w. senantiasa berdo’a:                “ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْقِلَّةِ وَالذِّلَّةِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kefakiran, dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kekurangan dan kehinaan, dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari menganiaya atau dianiaya).” Maknanya: “Rasulullah s.a.w. berdo’a: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindunganMu dari kelaparan, karena sesungguhnya kelaparan itu seburuk-buruk teman berbaring, dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari khianat, karena sesungguhnya khianat itu seburuk-buruk teman.” (HR Abu Dawud). Abu Bakrah menyatakan: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. mengucapkan do’a ini di akhir shalat:  “ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran dan azab kubur).” (HR Abu Dawud). Dan Anas bin Malik menyatakan, bahwa Rasulullah s.a.w. mengucapkan dalam do’anya: و أعوذ بك من الفقر و الكفر (Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kefakiran/miskin dan kekafiran).” (HR al-Hakim)