Sang Calon Penghuni Surga

(Disampaikan dalam Pengajian Sabtu Pagi, 25 Januari 2014, di Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Yogyakarta)

Ada sebuah kisah sederhana, tetapi sangat menarik untuk dicermati dan dijadikan sebagai ‘ibrah (pelajaran) tentang seorang ‘Calon Penghuni Surga”, yang pada saat Rasulullah s.a.w. berkisah, para sahabat pun memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi. Dan yang paling menarik, Sang Calon Penghuni Surga itu adalah seorang laki-laki yang ‘luput’ dari perhatian para sahabat dan tidak terduga sama sekali. Dia ‘orang biasa’ yang – menurut Rasulullah s.a.w. — memiliki keutamaan dibanding para sahabat Rasulullah s.a.w.. Siapakah dia? Inilah ceritanya.

Anas bin Malik – salah seorang sahabat Rasulullah s.a.w. — menceritakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan an-Nasa’i, perihal orang yang disebut-sebut oleh Rasulullah s.a.w. sebagai calon penghuni surga.

Diceritakan oleh Anas bin Malik:

«كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَطْلُعُ عَلَيْكُمْ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ ذَلِكَ فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ قَالَ نَعَمْ قَالَ أَنَسٌ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ شَيْئًا غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا فَلَمَّا مَضَتْ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْتَقِرَ عَمَلَهُ قُلْتُ يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ يَطْلُعُ عَلَيْكُمْ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ فَأَقْتَدِيَ بِهِ فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ قَالَ فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي فَقَالَ مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ:هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ”».

Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah s.a.w., beliau pun bersabda: “Akan muncul kepada kalian seorang laki-laki penghuni surga”; lalu munculllah  seorang laki laki Anshar yang jenggotnya masih bertetesan sisa air wudhu, sambil menggantungkan kedua sandalnya pada tangan kirinya. Esok harinya Nabi s.a.w. bersabda (sama) seperti itu juga; lalu muncul laki-laki itu lagi seperti yang pertama; dan pada hari ketiga Nabi s.a.w. pun bersabda lagi seperti itu juga; dan muncul laki laki itu kembali seperti keadaannya yang pertama. Ketika Nabi s.a.w. berdiri, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash r.a. mengikuti laki-laki tersebut seraya berkata: “Wahai teman, saya ini sebenarnya sedang bersitegang dengan ayahku dan saya bersumpah untuk tidak menemuinya selama tiga hari; jika anda berkenan, ijinkan saya tinggal di tempat tinggalmu hingga tiga malam”. “Tentu”, jawab laki-laki tersebut. Anas bin Malik pun berkata: ‘Abdullah r.a. (‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash) bercerita: “Aku tinggal bersama laki-laki tersebut selama tiga malam, dan anehnya tidak pernah aku temukan dirinya mengerjakan shalat malam sama sekali, hanya saja jika ia bangun dari tidurnya dan beranjak dari ranjangnya, lalu ia pun berdzikir kepada Allah ‘azza wa jalla dan bertakbir sampai ia mendirikan shalat fajar, selain itu juga dia (‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash) tidak pernah mendengarnya (orang itu) berkata kecuali yang baik-baik saja. Maka ketika berlalu tiga malam dan hampir-hampir saja saya menganggap remeh amalannya, saya berkata: “Wahai kawan, sebenarnya antara saya dengan ayahku sama sekali tidak ada percekcokan dan saling mendiamkan seperti yang telah saya katakan, akan tetapi saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda tentang dirimu tiga kali: “Akan muncul pada kalian seorang laki-laki penghuni surga, lalu kamulah yang muncul tiga kali tersebut, maka saya ingin tinggal bersamamu agar dapat melihat apa saja yang kamu kerjakan hingga saya dapat mengikutinya, namun saya tidak pernah melihatmu mengerjakan amalan yang banyak, lalu amalan apa yang mendorong Rasulullah s.a.w. sampai mengatakan engkau adalah ahli surga?”  Laki-laki itu pun menjawab: “Tidak ada amalan (khusus) yang saya kerjakan melainkan seperti apa yang telah kamu lihat”. Maka tatkala aku berpaling, laki laki tersebut memanggilku dan berkata: “Tidak ada amalan yang saya kerjakan melainkan seperti apa yang telah kamu lihat, hanya saja saya tidak pernah mendapatkan pada diriku “rasa ingin menipu” terhadap siapa pun dari kaum muslimin, dan saya juga tidak pernah merasa iri dan dengki kepada seorang atas kebaikan yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada seseorang”. Maka ‘Abdullah (‘Abdullah bin ‘Amr bin al’Ash) r.a. pun berkata: “Inilah amalan yang menjadikanmu sampai pada derajat yang tidak bisa kami lakukan”. (HR Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, III/166, hadits no. 12720 dan HR An-Nasâi, Sunan an-Nasâiy, IX/318-319, hadits no. 10633, dari Anas bin Malik)

Dari hadits di atas, kita bisa mencermati bahwa ketika mendengar cerita dari laki-laki tersebut, Ia (‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, salah seorang sahabat Nabi s.a.w.) pun “malu”, karena banyak dari kaum muslimin yang tidak atau paling tidak “kurang” memerhatikan akhlak tersebut. Tidak hanya ibadah mahdhah semata yang bisa mengantarkan manusia merasakan surga Allah, tetapi juga amalan kebaikan, termasuk sifat dan al-akhlâq al-karîmah. “Kemungkinan amalan inilah yang membuatmu mendapatkan derajat yang tinggi. Ini adalah amalan yang sangat sulit untuk dilakukan,” ujar ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, yang sangat gembira mendapat jawaban sekaligus pelajaran berharga dari seorang laki-laki tersebut. Ternyata, tidak sia-sia ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash menginap tiga hari bersama “Sang Calon Penghuni Surga” itu. Karena, ia mendapatkan pelajaran yang amat patut dicontoh dirinya maupun seluruh kaum muslimin.

Perkataan yang baik, kejujuran dan hati yang bersih dari prasangka buruk dan perasaan dengki kepada sesama hamba Allah, terlihat sederhana. Tapi justeru itulah yang sebenarnya paling sulit dilakukan. Barangkali kita sudah mampu melaksanakan qiyâmullail, dengan sujud dan ruku’ di hadapan-Nya, tetapi amat sulit untuk berkata serba-baik, jujur dan menghilangkan kedengkian kepada orang lain yang timbul dari sesuatu yang Allah anugerahkan kepada orang lain dan (sementara) kita tak memerolehnya. “Inilah justeru yang belum dapat kita lakukan”, demikian kata ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash.

Dari hadits di atas, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa ada tiga akhlâq mahmûdah (akhlak terpuji) yang perlu kita miliki – di samping keshalihan vertikal kita, yang berupa ketaatan kita kepada Allah dalam wujud hablun minallâh — sebagai bekal kita untuk menjadi penghuni surga, yaitu:

Pertama, kita harus selalu berupaya untuk bertutur-kata serba-baik dan menghindari tutur-kata yang tidak baik. Sehingga apa pun yang kita katakan dan perbuat selalu memberikan kesejukan dan sama sekali tak berpeluang untuk menyakiti hati siapa pun. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا ، أَوْ لِيَصْمُتْ».

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata baik atau diam. (HR Al-Bukhari dari Abu Hurairah, Shahîh al-Bukhâriy, VIII/13, hadits no. 6018)

Kedua, kita harus selalu berupaya untuk jujur dan menjauhi kebohongan. Karena kejujuranlah yang berpotensi untuk membawa kebaikan mu’amalah di antara kita, sementara kebohongan berpeluang menciptakan keburukan dalam mu’amalah kita. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.:

«عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا».

Kalian harus berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Dan hindarilah dusta, karena kedustaan itu akan menggiring kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah. (HR Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, Shahîh Muslim, VIII/29, hadits no. 6806)

Ketiga, kita harus selalu berupaya menghindari sikap iri dan dengki, karena sikap tersebut berpeluang untuk menciptakan keretakan mu’amalah kita. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.:

«إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ». أَوْ قَالَ « الْعُشْبَ».

Jauhilah hasad (dengki), karena hasad dapat memakan (menghilangkan) kebaikan seperti api memakan (membakar) “kayu bakar”. Atau beliau (Nabi s.a.w.) katakan: “rumput”.(HR Abu Dawud dari Abu Hurairah , Sunan Abî Dâwud, IV/427, hadits no. 4905).

Dalam hal kedengkian, Rasulullah s.a.w. memberikan pengecualian, bahwa seseorang diperbolehkan untuk bersikap dengki pada dua hal, berupa kedengkian terhadap kepemilikan harta dan ilmu yang bermanfaat, sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.:

 

«لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهْوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا».

Tidak boleh mendengki kecuali terhadap dua hal; (terhadap) seorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah (kemampuan seseorang untuk bersikap bijak) lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain. (HR Al-Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud, Shahîh al-Bukhâriy, I/28, hadits. No. 73)

 

Demikianlah hasil telaah penulis terhadap sebuah hadits Nabi s.a.w. tersebut di atas. Mudah-mudahan bisa menjadi bahan renungan dan mendorong diri kita untuk mengamalkannya.

Âmîn Yâ Mujîbas Sâilîn.Fastabiqû al-Khairât.