Sang Pemimpin, Siapakah Mereka?

Oleh: Muhsin Hariyanto

Sejarah Politik Umat Islam pernah mencatat dengan ”tinta-emas”, seorang Kepala Negara yang memiliki kepribadian sebagai seorang pemimpin sejati, sebagaimana yang dimiliki oleh Nabi Muhammad s.a.w. (shidiq, amanah, fathanah dan tabligh). Namanya Umar bin Abdul Aziz, salah seorang khalifah dari Bani Umayyah. Anak Gubernur Mesir (Abdul Aziz) ini selain dikenal kesalehan pribadinya, juga memiliki kesalehan sosial yang luar biasa. M. Amien Rais (1997) menyebutnya sebagai seseorang yang memiliki semangat ”tauhid sosial”. Manusia langka yang kini dan masa-masa selanjutnya sangat dirindukan dan dibutuhkan oleh rakyat Indonesia tercinta ini.

Pola hidupnya relatif sama dengan rakyat kelas menengah ke bawah. Ia –sebagai seorang yang memiliki hak untuk difasilitasi oleh negara — tidak pernah membangun rumah dan menyediakan fasilitas pribadinya dengan biaya negara. Ia juga menyerahkan istana yang semestinya menjadi haknya sebagai tempat tinggal seorang Khalifah untuk ditempati oleh keluarga Sulaiman bin Abdul Malik (khalifah sebelumnya). Bahkan, Ia menolak pengawalan-khusus, karena keinginannya untuk dekat dengan rakyatnya.

Sebelum menjabat sebagai khalifah, dikatakan oleh para sejarawan Muslim, pendapatan pribadi per-tahunnya berkisar 50.000 dinar. Tetapi begitu ia terpilih menjadi khalifah, segera ia lelang semua kekayaannya dan ia serahkan ke Baitul Mal, hingga pendapatan pribadinya (per-tahun) merosot menjadi 200 dinar. Sebuah perbandingan yang sangat mencolok. Akibatnya, semasa menjabat menjadi khalifah, ia tidak bisa menabung seperti ketika dirinya menjadi bagian dari rakyat biasa, apalagi berinvestasi di berbagai bidang usaha yang lazim dilakukan oleh para pejabat (meminjam istilah Ronggowarsito) di zaman ’edan’ ini.

Umar – Sang Khalifah — hanya meninggalkan 17 dinar saat ia wafat. Sejumlah harta peninggalan yang terlalu kecil untuk ukuran seorang kepala negara. Karena uang sejumlah itu bisa dimiliki oleh hampir semua orang di kala itu. Dengan hanya meninggalkan harta yang terlalu sedikit untuk ukuran seorang kepala negara, ia masih mengiringinya dengan wasiat agar sebagian harta peninggalannya digunakan untuk membayar sewa rumah (tempatnya tinggalnya hingga ia berpulang ke rahmatullah), dan sebagian lagi untuk membeli tanah pemakamannya. Dan perlu diketahui, Umar wafat dalam usia belia, 36 tahun, bukan di Istana Khalifah, tetapi di tempat beliau berkhidmad untuk lebih dekat dengan rakyatnya, di kota kecil Darus Siman, dekat Hims.

Sebagai seorang pejabat nomor satu di negaranya, Umar dikenal sebagai pejabat ”anti-hadiah”. Hal ini pernah dibuktikan oleh kerabat dekatnya dan orang-orang yang ada dalam lingkaran kekuasaannya. Suatu hari ada seseorang yang berkeinginan untuk menghadiahkan sekeranjang buah apel kepadanya, dan – secara spontan — Umar pun menolaknya. Namun orang tersebut berusaha untuk merayunya, dengan menyebut contoh kongkretnya, bahwa Nabi Muhammad s.a.w. pernah diberi hadiah oleh seseorang dan beliau pun mau menerimanya. Namun –kata Umar –, memang hadiah itu pantas untuk Nabi s.a.w., Tetapi, tidak pantas untukku. Oleh karenanya, ia tegaskan kepada pemberi hadiah tersebut: ”Bagiku itu namanya suap”. Dan oleh karenanya, bawalah pulang hadiah itu. Dengan maksud agar dirinya tidak terpengaruh oleh hadiah itu ketika mengambil kebijakan apa pun (sebagai seorang Khalifah) kapan pun, di mana pun dan untuk siapa pun.

Tentu saja, lingkaran kekuasaannya yang sudah terbiasa dengan hidup mewah atas biaya rakyat, banyak yang tidak senang dengan sikap Umar itu. Ada di antara mereka yang melakukan protes atas kebijakannya. Karena, dengan sikap dan kebijakannya, mereka tidak bisa lagi memanfatkan kekuasaannya untuk memerkaya diri.

Kisah-kisah mengenai sikap dan kebijakan Sang Pemimpin (Umar bin Abdul Aziz) ini, menjadikan diri kita semakin rindu terhadap kehadirannya di tengah-tengah kita. Di tengah-tengah keramaian orang yang selalu memromosikan dirinya sebagai orang ”paling-layak” sebagai calon pemimpin di setiap perhelatan pemilihan calon pemimpin. Kita selalu merindukan ”Sikap dan Kebijakan Ala Umar bin Abdul Aziz” pada suatu saat menjadi sebuah kenyataan di negeri kita tercinta ini. Sebuah sikap dan kebijakan yang menjanjikan terciptanya Good governance and Clean Government.

Pertanyaannya sekarang: ”Masih adakah Umar-umar yang lain di negeri ini? Siapa, kapan dan di mana orang ini berada.” Dan harapan kita selanjutnya: ”Segeralah hadir ”Umar-umar Yang Lain” bersama rakyat di negeri impian yang sudah sedemikian haus merindukan hadirnya seorang pemimpin sejati yang benar-benar bersedia berkhidmat untuk rakyatnya, bukan untuk diri dan para kroninya!

Ingat sabda Nabi s.a.w.

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang memimpin manusia akan bertanggung jawab atas rakyatnya, seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, dan dia bertanggung jawab atas mereka semua, seorang wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggung jawab atas mereka semua, seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya, dan dia bertanggung jawab atas harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR al-Bukhari-Muslim dari Abdulah bin Umar r.a.)

Penulis adalah Dosen Tetap FAI-UM Yogyakarta dan Dosen Luar Biasa STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta.