SANTUN DALAM BERDAKWAH

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS al-Anâm [6]: 108)

Diriwayatkan ketika Nabi SAW dan para sahabat tinggal di Makkah, orang-orang Mukmin pada saat itu sering mencerca berhala sesembahan kaum musyrik. Untuk menunjukkan bahwa apa yang mereka sembah, hanyalah benda yang tidak mampu berbuat apa-apa. Itu sebabnya kaum musyrik dengan penuh emosional berbalik mencerca Allah SWT yang juga sesembahan kaum Mukmin. Kemudian, turunlah ayat di atas sebagai teguran bagi Nabi Muhammad SAW dan kaum Mukmin untuk tidak mencerca sesembahan musyrikin.

Firman Allah SWT di atas, sesungguhnya hendak menunjukkan kepada kaum Mukmin bagaimana etika berdakwah yang baik, yaitu bersikap santun dan tidak arogan dalam berucap. Karena dengan bersikap kasar, kaum kafir bukan hanya tidak tertarik pada Islam, namun justru akan membenci dan mencerca Islam bahkan menghina Allah SWT.

Jika mencerca sesembahan kaum kafir saja tidak diperkenankan, apalagi mencerca sesama Muslim yang hanya berlainan madzhab atau pemahaman. Itu sebabnya, mengajak kepada kebaikan dengan sikap tidak santun hanya akan menyebabkan perpecahan dan pertikaian. Dalam setiap kesempatan memimpin peperangan, Nabi Muhammad SAW senantiasa mengingatkan prajuritnya, yaitu kaum Muslim untuk tidak merusak rumah, pepohonan, dan alam sekitar. Tidak heran jika kemudian Nabi Muhammad SAW dihormati dan disegani di kalangan non-Muslim, karena sikap santunnya yang luhur, meski itu di medan laga.

Bersikap santun bukan berarti tidak tegas. Di Makkah, Nabi Muhammad SAW pernah ditawari harta, tahta, bahkan wanita oleh kaum musyrik, agar meninggalkan dakwahnya. Namun, dengan tegas Nabi SAW menolaknya dan tetap menjalankan aktivitas dakwah.

Berdakwah adalah usaha mulia untuk mengajak orang kepada kebaikan dan kebenaran. Kalaupun yang diajak tidak tertarik, itu semata-mata kehendak Allah SWT.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk'” (QS al-Qashash [28]: 56).

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Disadur dan diselaraskan dari tulisan Aang Saeful Millah dalam rubrik “Hikmah”, pada harian Republika, Senin, 07 Juli 2008