Sekali Lagi: “Menyikapi Fenomena Ruwaibidhah”

Oleh: Muhsin Hariyanto

Di suatu kesempatan Rasulullah s.a.w. pernah memberikan ‘warning’ (peringatan dini) kepada umatnya agar berhati-hati terhadap Ruwaibidhah, simbolisasi seseorang yang ‘berlagak pakar, padahal tidak memiliki otoritas untuk berfatwa. Dia, bak “tong kosong (yang) — dalam terminologi ‘Aidh al-Qarni — disebut sebagai: al-Ahmaq, seorang yang bodoh namun tidak sadar akan kebodohannya, maka dia lebih tepat disebut sebagai orang ‘pandir’, dan inilah yang disebut oleh para ulama sebagai “Jâhil Murakkab” (orang yang sangat bodoh).

Seorang Ruwaibidhah akan selalu mencitrakan diri sebagai seorang pakar, memerankan dirinya sebagai ‘pengumbar fatwa’ yang berdusta atas nama kebenaran, yang karena kepiawainnya membangun citra dan kehebatan retorikanya dirinya menjadi (seolah-olah) ‘Sang Maestro’ pada bidangnya. Karena di’blow-up’ oleh berbagai media, pendapatnya dikutip oleh para muqallid (pengikut setianya)-nya dengan satu keyakinan bahwa apa pun yang dikatakannya selalu benar, atau mininal lebih otoritatif dari siapa pun yang sebenarnya lebih memiliki otoritas dalam bidangnya.

Penulis sering terheran-heran, kenapa orang-orang seperti ini (Ruwaibidah-ruwaibidah kontemporer) semakin banyak bermunculan, dengan mengatasnamakan keahliannya yang dikatakannya sendiri dan – kemudian – di’amini’ oleh banyak orang, karena (antara lain) permainan media cetak dan elektroinik yang mendukung kemunculannya. Bahkan oleh beberapa media massa (elektronik dan cetak) – yang entah sengaja atau tidak ketika memunculkannya — sering disebut sebagai pakar dalam bidang tertentu yang paling layak menjadi “marja’ taqlid” (nara sumber otoritatif yang tak perlu disangsikan keabsahan pendapat-pendapatnya). Memang “ironis”, tetapi itulah kenyataannya! 

Saat ini, misalnya, Pak Surono — salah seorang pakar vulkanologi — yang sudah sekian banyak mengemukakan pernyataannya tentang bahaya Gunung Merapi, pendapat-pendapatnya – untuk kalangan ‘akar-rumput’ — tak lebih populer dan juga tak lebih diakui keabsahannya daripada fatwa ‘mbah Maridjan’, yang memang akhir-akhir ini – sebelum berpulang ke rahmatullah – hampir tidak pernah mengeluarkan pernyataan apa pun tentang Gunung Merapi. Tetapi, sebagai seorang yang – oleh sebagian kalangan – dianggap lebih tahu tentang Gunung Merapi, beliau lebih dipercaya daripada Pak Surono.

Penulis – ketika belajar Ilmu Ekonomi Syari’ah – tiba-tiba ingat terhadap tulisan Mas Aries Mufti, dalam bukunya yang berjudul “Bunga Bank, Maslahat atau Muslihat? (Jakarta: Pustaka Quantum, 2004, hal. 35), ketika beliau mengutip sabda Rasulullah (Muhammad) s.a.w. yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal dan Al-Hakim dari Abu Hurairah:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الأَمِينُ ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ ، قِيلَ : وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ ؟ قَالَ : الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ.

“Akan menimpa manusia tahun-tahun penuh dusta. Dimana pendusta dibenarkan dan yang benar didustakan; si pengkhianat diberi amanah dan si (pemegang) amanah (malah) dikhianati. Pada masa tersebut si Ruwaibidhah (orang yang pandai mengumbar kata-kata) ikut-sert (berpartisipasi aktif) untuk berbicara. Para sahabat pun bertanya: Siapakah (si) Ruwaibidhah itu (ya Rasulullah)? Rasululllah s.a.w.  pun menjawab: “(Dia) adalah (seseorang) manusia (yang) bodoh yang memegang jabatan publik.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah, Sunan ibn Mâjah, juz v, hal. 162, hadits no. 4036; Hadits Riwayat Ahmad, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz II, hal. 291, hadits  no. 7899; Hadits Riwayat al-Bazzar, Musnad al-Bazzâr, juz VII, hal. 174, hadits no. 2740; Hadits Riwayat Abu Ya’la, Musnad Abî Ya’la, VI, 378, hadits no. 3715; Hadits Riwayat Al-Hakim, Al-Mustadrak, juz IV, hal. 512, 4512, Hadits Riwayat ath-Thabarani, Al-Mu’jam al-Kabîr, juz XII, hal. 437, hadits no. 14550;  Al-Mu’jam al-Ausath, juz III, hal. 313, hadits no. 3258; Musnad asy-Syâmiyyîn, juz I, hal. 50, hadits no. 47; Hadits Riwayat Al-Isybili, Al-Ahkâm asy-Syar’iyyah li Isybîlîy,  juz IV, hal. 542; Hadits Riwayat ar-Ruyani, Musnad ar-Rûyâniy, juz I, hal. 193, hadits no. 595, dari Abu Hurairah r.a.)

Saya duga bahwa Beliau (Mas Aries) berharap di seputar kita tidak akan pernah ada yang menjadi Ruwaibidhah-ruwabidhah. Tetapi – kata beliau – saat ini banyak sekali bermunculan perbedaan pendapat mengenai persoalan-persoalan krusial yang menyangkut kepentingan umat (baca: utamanya umat Islam), yang justuru dipandu oleh Ruwaibidhah-ruwabidhah kontemporer, yang kemunculannya seperti jamur di musim hujan, sehingga bisa jadi akan semakin menambah kebingunan umat. Sudah saatnya umat kita – kata beliau — kita giring untuk tidak terjebak pada keyakinan terhadap pendapat-pendapat si Ruwaibidhah itu. Atau kalau pun ingin mengikutinya, seharusnya mereka menjadi muttabi’ (pengikut kritis), dan jangan sekali-kali kita biarkan mereka menjadi muqallid (loyalis buta yang ‘dungu’). 

Seorang muttabi’, kata para faqih (pakar fikih), akan selalu melakukan sesuatu dengan penuh pertimbangan, analisis (kritis) dan cermat dengan ilmunya. Sedang si muqallid akan selalu mengatakan ‘ya’ pada siapa pun yang diidolakannya, tanpa alasan yang jelas. Dan, ternyata hingga kini – menurut pengamat penulis – para muqallid itu masih banyak bertebaran di seputar kita. Dan anehnya, mereka tetap yakin bahwa sikap mereka adalah benar karena telah mengikuti ‘orang’ yang selalu bisa dianggap benar!

Penulis pun menjadi ingat kembali ketika memresentasikan sebuah makalah pada di sebuah diskusi beberapa tahun silam. Ketika itu, penulis tak sependapat dengan salah seorang penanggap yang terus berupaya memaksakan pendapatnya dengan argumen yang sangat lemah, dengan satu pernyataan yang – menurut penulis – sangat naif, karena tidak didukung oleh nalar yang mapan. Tetapi, karena sikap ta’zhim (hormat), penulis akhirnya mengalah dengan satu sikap “setuju dalam perbedaan”, karena penulis tetap yakin bahwa pendapatnya tak perlu dirujuk.

Tetapi sikap penulis yang seperti ini, hingga kini masih menjadi barang langka, dan bukan tidak mungkin akan menjadi bumerang, yang pada akhirnya berakibat buruk pada citra penulis sebagai seorang nara sumber. Penulis – oleh para pengikut setia penanggap itu — dianggap sama sekali tak memiliik kompetensi untuk berpendapat dalam masalah tersebut. Dan, saat ini penulis hanya bisa bergumam:  “kenapa ‘virus’ Ruwaibidhah juga bisa yang berkembang di dunia pendidikan, dan – pada uatu saat — bukan tidak mungkin akan mengganggu proses proses pendidikan itu sendiri, karena kejujuran akademik pun akhirnya dijual murah demi kepentingan-kepentingan pragmatis, mendukung pendapat ‘Sang Ruwaibidah’ yang tak memiliki argumentasi-akademik yang kokoh.

Memang, kita – di saat berada pada posisi marjinal (pinggiran) – menjadi sangat lemah untuk membantah pendapat orang. Tetapi, apakah karena itu kita harus selamanya bersikap munafik? Sudah saatnya kita berkata jujur, seperti sabda Nabi s.a.w.:  

قُلِ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا

“Katakanlah (apa pun) yang benar, meskipun pahit rasanya.”(Hadits Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Îmân, juz VII, hal. 21, Hadits no. 4592; Abu Nu’aim, Ath-Thabarani, Al-Mu’jam al-Kabîr, juz II, hal. 212, hadits no. 1625; dan Ibnu Hibban, Shahîh ibn Hibbân dengan Tahqiq Al-Arnauth, juz II, hal. 76, hadits no. 361  dari Abu Dzar], yang meskipun hadits ini banyak dikritik oleh para kritikus hadits sebagai hadits dhaif, tetapi (maknanya) mendapatkan dukungan dari hadits lain yang dikualifikasikan sebagai hadits shahih oleh as-Suyuthi dan Al-Albani (riwayat Ibnu an-Najjar dari ‘Ali) yang dinyatakan dalam redaksi:

قُلْ الْحَقَّ وَلَوْ عَلَى نَفْسِك

“Katakanlah yang benar, meskipun terhadap dirimu sendiri. (As-Suyuthi, Al-Jâmi’ ash-Shaghîr, juz II, hal. 223, 5004; Al-Albani, Shahîh at-Targhîb wa at-Tarhîb, II, 323, hadits no. 2467 dari ‘Ali bin Abi Thalib)

Di saat otoritarianisme ([1] Dalam politik, suatu pemerintahan otoriter adalah satu di mana kekuasaan politik terkonsentrasi pada suatu pemimpin.[2] Otoritarianisme biasa disebut juga sebagai paham politik otoriter, yaitu bentuk pemerintahan yang bercirikan penekanan kekuasaan hanya pada negara atau pribadi tertentu, tanpa melihat derajat kebebasan individu [Baskara T. Wardaya. 2007. Menelusuri Akar Otoritarianisme di Indonesia. Jakarta: Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat. Hal. 3]) menjadi gejala masif, tak terkecuali di dunia pendidikan, kita – sebagai muslim – tak sekali pun tidak boleh terjebak menjadi muqallid para Ruwaibidhah kontemporer dan – juga –menjadi para Ruwaibidhah yang bisa menyelinap di semua bidang kehidupan, seandainya kita masih memiliki kepedulian terhadap kata hati nurani kita dan sikap kritis kita sebagai seorang muttabi’. Penulis khawatir, jangan-jangan keengganan mereka untuk bersikap kritis, terjadi secara masif, karena sikap enggan dan arogansi para pemimpin kita (baca: umat Islam), yang oleh Allah – di dalam firmanNya (QS al-Isra’, 17: 16) – disebut sebagai ‘mutrafîhâ” – yang disinyalir telah melakukan tindakan moral-hazard, dan memandu umat (para pengikutnya) dengan kerancuan berpikir dan perilaku korupnya dengan mengatasnakan ‘kebenaran-pragmatis’. Atau, bahkan pragmatisme – kini — itu sudah menjadi pilihan utama dalam menjalankan roda kepemimpinannya, hingga umat (baca: rakyat) secara terus menerus mengamini karena ketidakpahaman dan atau ketidakberdayaannya. 

Apakah firman Allah SWT dalam QS al-Isra’/17: 16:  

وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”, harus diinterpretasikan (ditafsirkan) lain, dalam rangka mendukung kebijakan para pemimpin yang – banyak diduga — lebih suka bersikap pragmatis?

Penulis sama sekali tidak ingin terus berprasangka, apalagi ber’su’u-zhan’ terhadap para pemimpin kita. Tetapi, mencermati kecenderungan umumnya, hingga kini penulis ‘agak’ percaya terhadap pernyataan Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif dalam beberapa tulisannya di Majalah “Suara Muhammadiyah” dan kolom Resonansi “Republika”, bahwa kejujuran kita — ‘kini’ — tengah diuji. Dan, “kita” sama sekali tidak boleh menjadi “Ruwaibidhah-ruwaibidhah Kontemporer”, dan – yang pasti — juga tak layak menjadi para muqallidnya. 

Saatnya kita berteriak dengan lantang dan berani menjadi ”qâil wa qâim al-haq wa in kâna murran” (menjadi orang yang memiliki keberanian untuk berkata lantang dan bereksperimentasi dengan “kebenaran” yang kita yakini meskipun harus menerima risiko ‘pahit’), dan mengamalkan spirit (ruh/semangat) QS “al-‘Ashr”, menjadi yang beriman dan mengerjakan amal saleh, saling-menasihati untuk menaati kebenaran dan menetapi kesabaran untuk menjadi ‘Yang Benar’ dengan ‘Sikap Sabar’, di mana pun dan kapan pun, meskipun harus menjadi kaum minoritas yang bisa jadi – untuk sementara waktu – “terpinggirkan”!. 

Fastabiqû al-Khairât, Nashrun Minallâh wa Fathun Qarîb.

Penulis adalah Dosen Tetap Fakultas Agama Islam UM Yogyakarta dan Dosen Tidak Tetap  STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Sumber: Majalah Suara Muhammadiyah