Sekolah, Untuk Apa?

Saya masih ingat terhadap gugatan seorang remaja yang menulis sebuah buku yang berjudul: “Dunia Tanpa Sekolah”. Dia menulis dengan ‘nuansa’ protes, seraya mengggagas sebuah solusi, yang akhirnya menemukan sekolah yang dirasakan tak membebani dirinya di Salatiga, Jawa Tengah: “Qaryah Thayyibah”. dan dia pun berprestasi di sekolah itu serta menemukan jati dirinya sebagai pembelajar yang baik.

Namanya: M. Izza Ahsin. Anak cerdas dari Salatiga, Jawa Tengah, yang kecewa karena sekolah yang dia temukan telah memenjarakan dirinya. Dan akhirnya memutuskan untuk tidak mau bersekolah, tetapi tetap memiliki antusiasme untuk belajar. Dia nyatakan dalam tulisannya:

Sindrom sekolah telah mengalir ke seluruh peredaran darah dan menekan otakku. Merampok kebahagiaanku. Aku semakin tidak betah di sekolah. Ditambah lagi dengan keberadaan guru penghancur mental. Guru yang merendahkan martabat murid di depan umum. Guru yang tidak mempergunakan jangka sebagai alat mengajar, melainkan sebagai alat menghajar. Guru yang membuat kelas jadi sesunyi kuburan dengan dalih menciptakan suasana kondusif.

Sekolah seperti memenjarakanku dalam ketidakpastian dan hanya mengotori otakku, menghambat impianku. Sekolah itu seperti susah payah menimba air dari dalam sumur, lalu mengguyurnya ke tempat semula. Sebagai seorang remaja yang ingin terus belajar dalam arti sebenarnya, aku tidak ingin tersesat di sekolah.

Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk keluar dari sekolah formal dan menciptakan sekolahku sendiri. Aku memilih melawan arus secara frontal; membebaskan diri sepenuhnya, tapi juga harus berani mendapat tantangan berat dari luar. Yaitu, dari orang-orang yang menganggap anak yang tidak ingin sekolah, tetapi ingin belajar adalah lelucon; sedangkan anak yang sekolah, tetapi tidak belajar adalah biasa.

Dengan motivasi belajarnya yang luar biasa, dibimbing oleh para pendidik yang luar biasa, berada di lingkungan yang luar biasa, dengan proses pembelajaran yang luar biasa, dan mendapatkan idola yang luar biasa, akhirnya “dia” pun menjadi anak yang luar biasa.

Nah, apa yang bisa kita jadikan sebagai ‘ibrah (pelajaran) dari kisah ini? Dengan belajar secara tepat di mana pun dan kapan pun dan kepada siapa pun, siapa pun bisa menjadi yang ‘luar biasa’, tanpa sekat tembok sekolah yang justeru bisa memenjarakan dirinya.

Dan tantangan bagi sekolah-sekolah formal: “marilah kita jadikan sekolah kita sebagai tempat yang nyaman, menyenangkan dan ‘wahana’ pendewasaan bagi setiap peserta didik kita dan siapa pun yang terlibat dalam proses pendidikan di dalamnya, dan jangan sampai dikotori oleh kepentingan-kepentingan yang bisa merusak visi dan misinya oleh siapa pun, kapan pun dan di mana pun”.

Dengan kesungguhan, kerja keras, cerdas dan ikhlas, semoga Allah selalu memberikan yang terbaik bagi diri kita.