Shalat Iftitah: “Disyari’atkan atau Tidak?”

Sebagaimana kita maklumi, bahwa di beberapa masjid di Indonesia dan (di beberapa) komunitas umat Islam, sebelum melaksanakan shalat (jamaah) tarawih, imam mengajak melaksanakan para makmum atau memelopori “shalat iftitah”, yaitu shalat dua rakaat pendek sebelum pelaksanaan shalat tarawih. Nah, pertanyaannya adalah: “Adakah tuntunan shalat iftitah tersebut?

Sejauh penelusuran penulis dalam kitab-kitab referensi, baik hadis maupun fiqh tidak penulis temukan istilah shalat iftitah tersebut. Yang ada adalah “doa iftitah”. Dan istilah doa iftitah ini sudah dipahamai banyak orang, yaitu doa setelah takbiratul ihram.

Nampaknya penggunaan istilah shalat iftitah, merupakan istilah baru atau kreasi sebagian muslim Indonesia. Ini karena tidak ditemukan penggunaan dan pelaksanaan shalat iftitah di beberapa masjid di Indonesia.

Di Saudi Arabia khususnya di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, pelaksanaan shalat Tarawih dilakukan setelah jamaah melaksanakan shalat ‘Isya’, lalu (dilaksanakan) shalat sunnah Rawatib Ba’dal ‘Isya’, lalu muadzin mengumandangkan lafal:

صَلَاةَ الْقِيَامِ أَثَابَكُمْ اللَّهُ

Dirikanlah shalat qiyâm – shalat tarawih –, semoga kalian diberi pahala Allah.

Imam dan muadzin di kedua masjid tersebut tidak mengajak melaksanakan shalat ifititah. Hal yang menarik untuk diamati, bahwa di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, muadzin tidak menggunakan istilah shalat tarawih, namun dengan sebutan shalat qiyâmullail.

Lantas apa shalat iftitah itu?

”Iftitah” artinya: pembukaan. Mungkin sebutan shalat iftitah tadi berdasar pada hadis ‘Aisyah riwayat Muslim:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ لِيُصَلِّىَ افْتَتَحَ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ.

Dari ‘Aisyah, dia berkata bahwa Rasulullah s.a.w. ketika hendak shalat malam, beliau “membuka” shalatnya dengan dua rakaat (yang) ringan.

Redaksi hadis tadi menggunakan kata membuka (iftataha), lalu mungkin disebutlah shalat dua rakaat sebelum shalat malam tadi dengan sebutan shalat iftitah. Ini dengan asumsi bahwa shalat tarawih adalah shalat qiyâmullail.

Menurut penulis, sebaiknya para imam yang melaksanakan dua rakaat pendek tadi, sebelum melaksanakan shalat tarawih, tidak perlu menyebutkan kepada masyarakat dengan sebutan shalat iftitah, apalagi mengumandangkan misalnya: “mari kita laksanakan shalat iftitah”. Untuk tidak memunculkan kontroversi (ikhtilâf).

Para iman sebaiknya cukup melaksanakan shalat dua rakaat pendek sebelum melaksanakan tarawih  dan tidak perlu menyatakan bahwa yang dilakukannya adalah: “Shalat Iftitah”, agar tidak memunculkan pertanyaan pada para makmum.

Wallâhu a’lam bish shawwâb.