Signifikansi Tazkiyatun Nafs:

“Kajian Akhlak dalam Perspektif Dakwah”

Kapan pun dan di mana pun, seseorang yang mengharapkan keridhaan Allah dan kebahagiaan abadi hendaknya benar-benar memberi perhatian khusus pada perilaku tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Ia harus berupaya agar jiwanya senantiasa berada dalam kondisi suci. Dakwah Rasulullah s.a.w.  – sebagai ilustrasi — tak lain difokuskan untuk menyucikan jiwa manusia. Hasilnya sangat terlihat jelas pada kepribadian beliau dan para sahabatnya di saat mereka telah memeluk dan menerjemahkan Islam ke seluruh aspek kehidupan mereka. Sebelum mengenal Islam jiwa mereka – para sahabat – berada dalam keadaan kotor oleh debu-debu syirik, ashabiyah (fanatisme kesukuan), dendam, iri, dengki dan perangai buruk lainnya. Namun begitu telah disibghah (diwarnai) oleh nilai-nilai Islam yang dikenalkan dan ditransformasikan oleh Rasulullah s.a.w. kepada mereka, “mereka” – para sahabat itu —  menjadi bersih, bertauhid, ikhlas, sabar, ridha, zuhud dan berperangai mulia lainnya. Mereka menjadi manusia-manusia yang ber-akhlâqul karîmah.  Keberuntungan dan kesuksesan seseorang – menurut al-Ghazali, misalnya — sangat ditentukan oleh seberapa jauh ia dapat melakukan tazkiyatun nafs (menyucikan dirinya). “Barangsiapa tekun membersihkan jiwanya maka sukseslah hidupnya. Sebaliknya yang mengotori jiwanya akan senantiasa merugi, gagal dalam hidupnya”.

Tazkiyah, secara bahasa (harfiah) berarti tathahhur, maksudnya bersuci. Seperti yang terkandung dalam kata zakat, yang memiliki makna mengeluarkan sedekah berupa harta yang berarti tazkiyah (penyucian). Karena dengan mengeluarkan zakat, seseorang berarti telah menyucikan hartanya dari hak Allah yang wajib ia tunaikan.

Salah satu tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad s.a.w. adalah untuk membimbing umat manusia dalam rangka membentuk jiwa yang suci. Firman Allah SWT:

”Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (as-Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS al-Jumu’ah, 62: 2).

Dengan demikian, seseorang yang mengharapkan keridhaan Allah dan kebahagiaan abadi – sebagaimana pernyataan di atas – setiap orang hendaknya benar-benar memberi perhatian khusus pada aktivitas tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) ini. Ia harus berupaya agar jiwanya senantiasa berada dalam kondisi suci. Al-Dr. Ahmad Farid – ketika memahami sabda Nabi s.a.w. tentang misi dakwahnya — menyatakan bahwa kedatangan beliau ke dunia ini tak lain adalah untuk menyucikan jiwa manusia. Ini sangat terlihat jelas pada jiwa Islam jiwa mereka dalam keadaan kotor oleh debu-debu syirik, ashabiyah (fanatisme kesukuan), dendam, iri, dengki dan sebagainya. Namun begitu telah disibghah (diwarnai) oleh syariat Islam yang dibawa Rasulullah s.a.w., mereka menjadi bersih, bertauhid, ikhlas, sabar, ridha, zuhud dan sebagainya.

Keberuntungan dan kesuksesan seseorang, sangat ditentukan oleh seberapa jauh ia menyucikan dirinya. Barangsiapa tekun membersihkan jiwanya maka sukseslah hidupnya. Sebaliknya yang mengotori jiwanya akan senantiasa merugi, gagal dalam hidup. Hal itu diperkuat oleh Allah SWT  dengan sumpahNya sebanyak sebelas kali berturut-turut, padahal dalam al-Quran tidak dijumpai keterangan yang memuat sumpah Allah sebanyak itu secara berurutan. Marilah kita perhatikan firman Allah sebagai berikut:

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya [maksudnya: malam-malam yang gelap], dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS asy-Syams, 91: 1-10).

Dalam ayat yang lain juga disebutkan bahwa nantinya harta dan anak-anak tidak bermanfaat di akhirat. Tetapi yang bisa memberi manfaat adalah orang yang menghadap Allah dengan Qalbun Salîm, yaitu hati yang bersih dan suci.

Firman Allah:

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS asy-Syu’arâ’, 26: 88-89).

Hakikat Tazkiyatun Nafs

Secara umum aktivitas tazkiyatun nafs mengarah pada dua kecenderungan, yaitu:

Membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela (membuang seluruh penyakit hati), yang dalam khazanah tasawuf dikenal dengan istilah at-takhalliy (التَّخَلِّي).

Menghiasi jiwa dengan sifat-sifat terpuji (mengisi diri dengan amal saleh), yang di dalam khazanah tasawuf dikenal dengan istilah at-tahalliy (التَّحَلِّي)

Kedua hal itu harus berjalan seiring, tidak boleh hanya dikerjakan satu bagian kemudian meninggalkan bagian yang lain. Jiwa yang cuma dibersihkan dari sifat tercela saja, tanpa dibarengi dengan menghiasi dengan sifat-sifat kebaikan menjadi kurang lengkap dan tidak sempurna. Sebaliknya, sekadar menghiasi jiwa dengan sifat terpuji tanpa menumpas penyakit-penyakit hati, juga akan sangat ironis. Tidak wajar. Ibaratnya seperti sepasang pengantin, sebelum berhias dengan beragam hiasan, mereka harus mandi terlebih dahulu agar badannya bersih. Sangat buruk andaikata belum mandi (membersihkan kotoran-kotoran di badan) lantas begitu saja dirias. Hasilnya tentu sebuah pemandangan yang mungkin saja indah tetapi bila orang mendekat akan tercium bau tak sedap.

Wasâil (sarana-sarana) Tazkiyatun Nafs

Wasîlah (sarana) untuk menyucikan jiwa tidak boleh keluar dari patokan-patokan syar’i yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasulNya. Seluruh wasîlah tazkiyatun nafs adalah beragam ibadah dan amal-amal shalih yang telah disyariatkan di dalam al-Quran dan as-Sunnah. Kita dilarang membuat wasâil (sarana-sarana) baru dalam menyucikan jiwa ini yang menyimpang dari arahan kedua sumber hukum Islam tersebut. Misalnya, seperti yang dilakukan oleh beberapa penganut kejawen, dimana dalam membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs) mereka melakukan puasa ‘pati-geni’ atau dikenal juga dalam tradisi Jawa dengan istilah ‘ngebleng’ (puasa terus menerus sehari semalam/wishâl) sambil membaca sejumlah mantera. Ada lagi yang mensyariatkan mandi di tengah malam atau berendam di sungai selama beberapa waktu yang ditentukan. Cara-cara ‘bid’ah’ semacam ini jelas tidak bisa dibenarkan dalam Islam.

Sesungguhnya rangkaian ibadah yang diajarkan Allah dan RasulNya telah memuat asas-asas tazkiyatun nafs dengan sendirinya. Bahkan bisa dikatakan bahwa inti dari ibadah-ibadah seperti shalat, shaum, zakat, haji dan lain-lain itu tidak lain adalah aspek-aspek tazkiyah.

Shalat misalnya, bila dikerjakan secara khusyû’, ikhlas dan sesuai dengan syariat, niscaya akan menjadi pembersih jiwa, sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. berikut:

قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ كُلَّ يَوْمٍ مِنْهُ خَمْسَ مَرَّاتٍ مَا تَقُولُونَ ذَلِكَ مُبْقِيًا مِنْ دَرَنِهِ؟ قَالُوا: لا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا، قَالَ: فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا.

“Abu Hurairah r.a. berkata: Saya telah mendengar Rasulullah s.aw. bersabda: “Bagaimanakah pendapat kamu kalau di muka pintu (rumah) salah satu dari kamu ada sebuah sungai, dan ia mandi daripadanya tiap hari lima kali, apakah masih ada tertinggal kotorannya? Jawab sahabat: Tidak. Sabda Nabi: “Maka demikianlah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus dengannya dosa-dosa”. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dari hadis di atas nampak sekali bahwa misi utama penegakan shalat adalah menyangkut tazkiyatun nafs. Artinya, dengan shalat secara benar (sesuai sunnah), ikhlas dan khusyû’, jiwa akan menjadi bersih, yang digambarkan Rasulullah s.a.w. seperti mandi di sungai lima kali. Sebuah perumpamaan atas terhapusnya kotoran-kotoran dosa dari jiwa. Secara demikian, bisa kita bayangkan kalau ibadah shalat ini ditambah dengan shalat-shalat sunnah. Tentu nilai kebersihan jiwa yang diraih lebih banyak lagi. Demikian pula dalam masalah shaum (puasa). Hakikat puasa yang paling dalam berada pada aspek tazkiyah.

Sabda Rasulullah s.aw.:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ ، وَالْعَمَلَ بِهِ ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum”. (HR Al-Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya  Abu Hurairah).

Dalam hadis yang lain disebutkan:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ

“Adakalanya orang berpuasa, yang tidak mendapatkan bagian (pahala) dari puasanya kecuali (hanya) lapar dan ada pula orang yang melakukan ibadah puasa di malam hari, yang tidak mendapatkan bagian (pahala)  ibadahnya kecuali (sekadar) bangun malam (begadang)”. (HR Ahmad dari Abu Hurairah).

Ini menunjukkan betapa soal-soal tazkiyatun nafs benar-benar mewarnai diri manusia dalam ibadah puasa, sehingga tanpa membuat-buat syariat baru sesungguhnya apa yang datang dari syariat Rasulullah s.a.w. bila diresapi secara mendalam benar-benar telah mencukupi.

Hal yang sama dijumpai pada ibadah qurban. Esensi utama qurban adalah ketaqwaan kepada Allah SWT yang berarti soal pembersihan jiwa dan bukan terbatas pada daging dan darah qurban.

Dan firman Allah SWT:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS al-Hajj, 22: 37).

Kalau diteliti lagi masih banyak sekali ibadah dalam syariat Islam yang muara akhirnya adalah pembersihan jiwa. Dengan mengikuti apa yang diajarkan syari’at Islam, niscaya seorang muslim telah mendapatkan tazkiyatun nafs. Contohnya adalah para sahabat Rasulullah s.a.w.. Mereka adalah generasi yang –pada umumnya — paling dekat dengan zaman kenabian dan masih bersih pemahaman keagamaannya, karenanya mereka memiliki jiwa-jiwa yang suci lantaran ber-ittiba’ pada sunnah Rasululllah s.a.w. dan tanpa menciptakan cara-cara bid’ah dalam tazkiyatun nafs. Mereka mendapatkan kesucian jiwa tanpa harus menjadi seorang sufi yang hidup dengan syariat yang aneh-aneh dan ‘njelimet’ (rumit).

Bagi setiap muslim, ia harus berupaya menggapai aktivitas tazkiyatun nafs dari serangkaian ibadah yang dikerjakannya. Artinya, ibadah yang dilakukan jangan hanya menjadi gerak-gerak fisik yang kosong dari ruh keimanan dan taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah SWT. Sebaliknya, ibadah apapun yang kita kerjakan hendaknya juga bernuansa pembersihan jiwa. Dengan cara seperti inilah, insyâallâh kita bisa mencapai keberuntungan.

Wallâhu’ A’lam bish-Shawâb.

Dikutip dan dielaborasi dari: www.alsofwah.or.id, dengan rujukan pokok kitab-kitab: Tazkiyatun Nufûs wa Tarbiyatuhâ Kamâ Yuqarriruhu ‘Ulamâ’us Salaf oleh Dr. Ahmad Farid, Riyâdhus Shâlihîn oleh Imam Nawawi dan Risâlah Ramadhan oleh: Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah. Dipublikasi juga dalam http://tazkiyah-annafs.blogspot.com/2006/07/pentingnya-tazkiyatun-nafs.html