TABAYUN

  Akidah   1 September 2010

TABAYUN

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS al-Hujurât, 49: 6)

Saat ini, kita sering menonton (atau tepatnya dipertontonkan) atraksi kebohongan di berbagai media massa yang dikemas dengan kata-kata indah, hingga kita ”terkesima”, dan bahkan bukan tidak mungkin menjadi percaya terhadap para pembohong karena kelihaiannya dalam mengemas kata, dengan retorika indahnya. Bahkan, tidak hanya dengan kata, mereka (para pembohong) begitu piawai menampilkan data fiktif-manipulatif untuk mengesankan kebenaran atas kebohongan mereka. Dan banyak orang yang terkecoh dengan sejumlah kebohongan mereka. Akhirnya, yang salah pun terkesan benar, sementara yang benar terkesan salah.

Ulama besar dari Universitas al-Azhar, Kairo, Sayyid Sabiq (almarhum) dalam bukunya Islâmunâ menjelaskan, bahwa iman dan kebiasaan berbohong tidak bisa berkumpul dalam hati seorang mukmin. Dan Rasulullah s.a.w. pun berwasiat agar umat Islam memiliki sikap jujur dan menjauhi sikap berbohong. Sebab, Islam tidak akan tumbuh dan berdiri kokoh dalam pribadi yang tidak jujur (pembohong).

Kita baca sejarah pribadi (yang berjiwa) besar, Nabi Muhammad s.a.w., yang selama 40 tahun (beliau) menjadi pribadi yang jujur lebih dulu, hingga digelari al-Amin, seblum diangkat menjadi utusan Allah untuk mengajarkan Islam kepada umat manusia.

Di antara sabda Rasulullah s.a.w. yang menarik untuk kita cermati antara lain:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الْعَبْدُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

”Berpegang-teguhlah dengan kebiasaan berkata benar. Sesungguhnya berkata benar mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Seseorang yang selalu berkata benar, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang benar. Dan, jauhilah kebohongan. Sesungguhnya kebohongan mengantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan ke neraka. Seseorang yang biasa berbohong, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai pembohong.” (HR al-Bukhari-Muslim dari Abdullah bin Mas’ud).

Bohong dengan kata atau perbuatan merupakan salah satu tanda-tanda nifaq (kemunafikan). Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Indikator orang munafiq ada tiga macam. Ketika berbicara ia berbohong; ketika berjanji ia menyalahi janjinya; dan ketika berjanji ia berkhianat.” (HR al-Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah)

Islam memandang kebohongan adalah induk dari berbagai dosa dan kerusakan dalam masyarakat. Krisis multidimensi yang melanda negara kita bermuara pada krisis akhlak. Salah satu bentuk krisis akhlak yang berdampak luas ialah krisis kejujuran. Krisis kejujuran menyuburkan praktik korupsi yang menggerogoti sendi-sendi kebangsaan. Karena kepandaian membohongi dan membuat lingkaran kebohongan, maka sebagian besar perbuatan korupsi, kolusi, suap, dan pungli sulit pembuktiannya. Kebohongan dapat membuat campur-aduknya hal yang haq dan yang bathil. Sesuatu yang bathil seolah tampak sebagai kebenaran karena kepandaian membuat rekayasa dan kamuflase.

Upaya memberantas korupsi, kolusi, suap, dan pungli tidak akan membawa hasil yang berarti tanpa diikuti kejujuran dalam penegakan hukum. Jika mau membersihkan moral birokrasi kita, maka yang pertama harus dilakukan ialah membangun kultur kejujuran, hingga setiap orang merasa malu melakukan kebohongan apa pun. Mari kita tegakkan kejujuran dan berhenti berbohong. Kejujuran tidak cukup sekadar slogan, tapi harus menjadi karakter dan kultur masyarakat. Sistem pemerintahan yang bersih dan transparan hanya dapat terwujud kalau para pemimpin dan segenap elemen bangsa konsisten dengan prinsip kejujuran. Katakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.

Pertempuran antara hak dan batil memang tak akan pernah berhenti sepanjang masih ada kehidupan di bumi ini. Kalau kebenaran memiliki pembela dan pendukung, demikian pula kebatilan, sebagaima dinyatakan oleh Allah SWT dalam QS an-Nisâ’ [4]: 76 di atas. Bahkan, bisa jadi pendukung kebatilan lebih agresif, lebih proaktif dalam menyuarakan dan menampilkan kebatilan. Mereka rela melakukan berbagai manuver dan aksi serta mengeluarkan dana besar untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. (QS al-Anfâl [8]: 36),

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan”.

Mereka itulah yang termasuk dalam kategori hizb asy-syaithân (komunitas setan), yaitu satu kelompok manusia yang terus menebarkan virus kemaksiatan dan kemungkaran ke tengah-tengah umat dengan berbagai logika indah dan pemutarbalikan fakta. Sebagaimana pernyataan (firman) Allah dalam QS Al-A’râf [7]: 21-22,

“Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah Termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”. Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. tatkala keduanya telah merasakan buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah aku telah melarang kamu berdua untuk (mendekati) pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

Praktik kemaksiatan dan perilaku asusila yang demikian masif oleh para pendukung kebatilan ini, sudah menjalar ke berbagai pelosok dan daerah. Sejumlah pihak berkolaborasi menumbuhsuburkan budaya yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama. Akibatnya, banyak yang menjadi korban, mulai dari anak muda belia hingga tua- renta.

Tingginya angka prostitusi, perkosaan, hubungan di luar nikah, pelecehan seksual, praktik korupsi, kolusi dan nepotisme menunjukkan hal itu. Hingga kita perlu merenungkan kembali ucapan Umar bin al-Khattab, di suatu kesempatan. Satu ketika Umar ibn al-Khattab r.a. menyatakan, ”Satu bangsa nyaris hancur padahal ia kaya (makmur). ”Kapan itu terjadi?” tanya seorang di antara mereka. ”Ketika perbuatan maksiat sudah membudaya,” jawab Umar ibn al-Khattab r.a..

Tentu tidak ada yang menginginkan bangsa ini hancur karena budaya-maksiat. Namun pertanyaannya adalah: apa yang mesti dilakukan, di ketika seseorang mukmin tidak boleh berputus asa dan berpangku tangan menyaksikan kondisi yang ada, sebagaimana firman Allah dalam QS Yûsûf [12]: 87,

“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

Mukmin juga tidak boleh apatis melihat kondisi saudaranya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

المعجم الكبير  الطبراني  مشكول – (ج ٨ / ص ٣٢٢)

مَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، لَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ

”Siapa yang berjuang dengan tangan (kekuasaan dan kekuatan)-nya, ia adalah mukmin. Siapa yang berjuang dengan lisannya, ia adalah mukmin. Siapa yang berjuang dengan kalbunya, ia adalah mukmin. Tidak ada lagi iman sesudah itu, meskipun hanya seberat biji atom.” (Hadis Riwayat Ath-Thabrani dari Abdullah bin Mas’ud).

Hanya saja, perjuangan membela kebenaran tersebut tetap harus dilakukan dengan penuh hikmah sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.

Di ketika akrobat kebohongan telah menjadi komoditas bangsa ini, saatnya kita berhati-hati untuk melakukan tabayun atas semua informasi yang kita terima, sehingga kita tidak terjebak pada pembenaran atas sesuatu yang salah atau sebaliknya. Dan bahkan kita kita bisa terjebak pada “fitnah”.

Di ketika kita pernah bisa berteriak: say no to drug, kenapa sekarang kita tidak mau berteriak: say no to satan!

Saat ini, umat Islam harus semakin cerdas, bersih dan berani!

Tags: