Tadabbur setelah Menonton Acara Kick Andy

Clay P. Bedford, pernah menyatakan: “You can teach a student a lesson for a day; but if you can teach him to learn by creating curiosity, he will continue the learning process as long as he lives.” (Anda bisa mengajarkan kepada siswa pelajaran untuk satu hari, tetapi jika Anda bisa mengajarinya untuk belajar dengan menciptakan rasa ingin tahu, ia akan melanjutkan proses belajar selama dia hidup).

Acara Kick Andy bertajuk : “Berprestasi di Tengah Keterbatasan” mengangkat kisah anak-anak dengan latar belakang pendidikan yang (semulanya) minim, anak-anak dengan ekonomi minim serta dengan keterbatasan fisik, namun bisa mengharumkan nama bangsa. Semua yang menonton rasanya akan merasa kagum pada kisah anak-anak itu.

Kira-kira satu jam acara itu berlangsung, ada satu tanda tanya besar dalam benak saya:

“Koq bisa ya anak-anak itu memiliki prestasi di tengah keterbatasan? Sementara ada banyak sekolah khususnya sekolah dari pendidikan dasar hingga menengah di kota saya yang berbiaya mahal, berfasilitas lengkap bahkan terkadang berlebihan… tapi prestasi siswa-siswinya tidak sehebat mereka. Ada yang salah di sini…”
Mungkin ada yang berpikir bahwa (seperti jawaban seorang teman saat saya posting pertanyaan itu di akun Facebook):

“Anak-anak dengan keterbatasan memiliki motivasi lebih dibandingkan anak-anak yang serba berkecukupan, adanya fasilitas lengkap membuat mereka menjadi bermalas-malasan”.

Ya, saya setuju dengan itu. Sejarah dunia memang membuktikan kalau orang-orang dengan keterbatasan mampu melebihi orang-orang yang berkecukupan.

Tetapi, yang saya tanyakan adalah institusi pendidikannya. Karena institusi pendidikan (baca: sekolah) memiliki peran besar pada hal ini. Apa ada yang salah dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah yang mahal itu?

Money can buy “high quality” education but… it cannot buy high achievement
Saya mencermati fenomena yang terjadi di sekitar saya dimana ada banyak orang tua yang rela mengeluarkan uang banyak untuk pendidikan anaknya.

Biaya sekolah, les, buku, akses internet dan sebagainya menjadi item pengeluaran pendidikan sang anak. Tapi… prestasi si anak ya segitu-segitu saja, targetnya tetaplah tuntas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal ). Tidak lebih dan tidak kurang. Money can buy “high quality” education, but it cannot buy achievement.

Belum lagi sekolah yang makin hari makin pamer fasilitas. Hal itu menjadi marketing sekolah-sekolah berbiaya besar. Menjadi alasan mereka untuk mencari sebanyak mungkin murid. Tapi, ya prestasi anak-anaknya ya ’segitu-segitu’ saja.

Bahkan target sekolah terlalu kerdil, semua siswa tuntas KKM dan UAN (Ujian Akhir Nasional) 100% lulus jadi target yang terlalu kecil untuk sekolah berbiaya mahal itu. Money can buy expensive education facility, experience teacher, but it cannot buy high achievement.

Aneh memang, seharusnya (bahkan logikanya) sekolah berbiaya mahal semestinya bisa mencetak anak-anak yang memiliki prestasi yang lebih tinggi ketimbang tuntas KKM dan lulus UAN.

Wah, mestinya kita — orang tua – harus melakukan muhasabah dengan serius, agar anak-anak kita bisa menjadi manusia yang benar-benar terdidik dan menjadi manusia yang bermanfaat.