Tadarus Pagi, Ahad 27 April 2014: “Kenapa Harus Bersedih?”

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُواْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ قَلِيلٌ (38) إِلاَّ تَنفِرُواْ يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلاَ تَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (39) إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (40)

“Hai orang-orang yang beriman, Apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu:”Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana [Maksudnya: orang-orang kafir telah sepakat hendak membunuh Nabi s.a.w., maka Allah SWT memberitahukan maksud jahat orang-orang kafir itu kepada Nabi s.a.w.. Karena itu, maka beliau keluar dengan ditemani oleh Abu Bakar dari Mekah dalam perjalanannya ke Madinah beliau bersembunyi di suatu gua di bukit Tsur]. (QS at-Taubah/9: 38-40)

Keselamatan yang terbaik itu hanyalah berasal dari Allah, begitu juga ‘azab’ yang pedih.

Mengapa — hingga detik ini — masih banyak orang yang bergantung pada selain Allah, dengan berupaya untuk mencari keselamatan yang terbaik dari makhluk Allah yang tidak memiliki kekuatan apa pun untuk berbuat sesuatu kecuali dengan seizin Allah? Dan mengapa masih banyak juga orang yang takut terhadap ancama makhluk Allah, padahal tidak kekuatan apa pun yang bisa mengalahkan kekuatan Allah yang Maha Perkasa.

Oleh karena itu, serahkan semuanya kepada Allah dengan penyerahan diri secara ‘total’ dalam wujud keislaman, yang bermakna ketundukan, kepatuhan dan ketaatan yang sempurna. Dan jangan sekali-kali kita menyembah dan memohon pertolongan kepada selain Allah.

Ingatlah ketika kita baca rangkaian ayat dalam QS al-Fatihah/1: 5-7 dalam setiap shalat kita:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ (7)

“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.  Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

Jangan sampai — karena kelengahan kita — ‘kita’ menjadi orang-orang yang dimurkai Allah, atau bahkan ‘tersesat’ di jalan yang salah.

Jadilah orang yang selalu peduli untuk ‘ingat’ kepada Allah dengan senantiasa membangun ketaatan prima kepada Allah dengan sikap tauhid yang murni, dan jangan sekali pun terjebak dalam ‘syirik’ dalam bentuk apa pun, termasuk pada jebakan ‘syirik’ dalam bentuk pemikiran ‘sekuler’ yang menyimpang dari kebenaran yang datang dari Allah, yang kini merebak di tengah kehidupan kita.

Bangunlah ketaqwaan ‘kita’ kepada Allah di mana pun kita berada, dengan risiko apa pun. Insyaalah “kita” akan selamat di dunia dan akherat.

Don’t be sad my friends. Move on, and let’s go!