Tadarus Pagi, Ahad 4 Mei 2014, Istighfar dan Taubat : “Kunci Rezeki”

Firman Allah yang menceritakan tentang seruan Hud ‘Alaihis Shalâtu was Salam kepada kaumnya agar ber-istighfar.

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلاَ تَتَوَلَّوْاْ مُجْرِمِينَ

Dan (Hud berkata), Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa“. (QS Hûd, 11: 52) Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radhiyallâhu ‘anhumâ bahwa ia berkata: Rasulullah Shallallâhu‘alaihi wa sallam telah bersabda,

مَنْ أَكْثَرَ مِنَ الاِسْتِغْفَارِجَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا ، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ.

Barangsiapa memerbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka“ (Lafazh hadits ini adalah dari HR an-Nasa-i dari Abdullah bin Abbas, Sunan an-Nasâi, IX/171, hadit sno. 10217) Dalam hadits yang mulia ini, Nabi s.a.w. yang jujur dan credible (dapat dipercaya), yang berbicara berdasarkan wahyu, Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang tiga hasil yang dapat dipetik oleh orang yang memerbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, bahwa Allah Yang Maha Memberi rezeki, Yang Memiliki kekuatan akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak pernah terbetik dalam hatinya. Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rezeki hendaklah dia bersegera untuk memerbanyak istighfar (memohon ampun), baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Dan hendaknya setiap muslim waspada! Sekali lagi hendaknya waspada dari kemungkinan beristighfar hanya sebatas ucapan lisan tanpa perbuatan. Sebab yang demikian itu, kata para ulama, adalah pekerjaan para pendusta. Dan segeralah bertaubat dengan taubatan nasûhâ. Inilah hasil tadarus saya pagi ini. Mudah-mudahan bermanfaat.