Tadarus Pagi, Kamis 14 Agustus 2014: “Bermimpilah, dan Wujudkan”

Berkali-kali saya ingat kata ‘Mario Teguh’ dalam sebuah episode penampilannya di sebuah Stasiun TV Swasta: “Jangan pernah takut untuk bermimpi, dan jadikanlah mimpi-mimpi anda menjadi kenyataan”.

Rangkaian kata itu mirip dan searah dengan konsep “Raja’” yang dijelaskan oleh beberapa ulama, dan saya ‘yakini’ tidak terlalu jauh dengan pemahaman saya ketika membaca tafsir ayat al-Quran dalam QS al-Ahzab/33: 21.

Dalam firmanNya, Allah menyatakan bahwa Rasulullah (Muhammad) s.a.w. benar-benar pantas untuk dijadikan sebagai ‘idola’, bahkan sebutannya ditegaskan dengan rangkaian kata “uswatun hasanah” (teladan yang baik), dan oleh karenanya tak ada alasan apa pun bagi setiap muslim untuk mencari idola selain dirinya (Rasulullah [Muhammad] s.a.w.).

Ketika berperan menjadi apa pun dia (Rasulullah [Muhammad] s.a.w.) selalu menjadi ‘yang terbaik’, karena sikap profesionalnya — meminjam istilah al-Jili — sebagai ‘Insan Kamil’. Dia selalu bisa berproses untuk mengoptimalkan pemanfaatan potensi diri dan segala sesuatu yang mengitarinya menjadi instrumen yang bisa menghantarkan dirinya menjadi ‘yang terbaik’.

Tetapi, perlu diingat, Siapa pun orang yang berkeinginan untuk menjadi yang terbaik ‘dirinya’ harus bisa bersyukur dan bersabar. Dalam pengertian: “mau dan mampu untuk menggali dan menjadikan seluruh potensinya untuk beramal saleh, dan punya keteguhan hati untuk berproses tanpa henti dalam rangka meraih cita-citanya.

Seorang yang mampu bersyukur dan bersabar akan selalu berkesediaan dan berkemampuan untuk mewujudkan setiap mimpinya menjadi kenyataan, dalam situasi dan kondisi apa pun. Karena dirinya tak akan pernah berputus asa untuk meniti jalan seterjal apa pun untuk menuju ‘ranah’ impiannya. Dan tentu saja, di sisi lain, dirinya akan selalu mampu mengoptimalkan potensinya untuk berproses menuju ke arah yang akan dituju, dengan satu tekad: “saya harus bisa”.

Tekad inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim untuk mewujudkan setiap impiannya, tanpa keluh-kesah dan — apalagi — putus asa.

Yakinlah, bahwa Allah akan selalu beserta orang-orang yang bersabar. Dan siapa pun yang bersyukur, maka sikap syukurnya itu akan kembali (bermanfaat) bagi dirinya.

Mari kita jalani hidup ini dengan sikap syukur dan sabar, agar ‘kita’ memeroleh sesuuatun yang terbaik dari Alllah SWT.

Ibda’ bi nafsik!