Tadarus Pagi, Senin 28 April 2014: “Memahami Kekuatan Doa”

Allah SWT berfirman:

 وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ” (QS a-Baqarah/2: 186).   Dalam ayat di atas tersirat makna: “doa yang dikabulkan Allah adalah doa orang yang dipanjatkan oleh setiap orang yang bersedia untuk “memenuhi (segala perintah-Ku)”, “beriman kepada-Ku”, dan “selalu berada dalam kebenaran” (tidak berbuat dosa atau melanggar larangan-Ku).” Jadi, kita ‘berdoa’, yakinlah bahwa Allah ‘pasti’ akan mengabulkannya. Dalam kaitannya dengan ‘ekspektasi’ (harapan) manusia untuk mendapatkan yang terbaik dari Allah, dirinya hanya memiliki tiga kewajiban dalam hidup ini: “berikhtiar (berusaha), berdoa, dan bersikap tawakal (berserah diri kepada-Nya setelah berikhtiar dan berdoa)”. Allah SWT berkuasa penuh untuk melakukan apa saja, tanpa ada sesuatu yang ‘bisa’ menghalangiNya. Sebagaimana penjelasan Rasulullah s.a.w: وَإِنَّ رَبِّى قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنِّى إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لاَ يُرَدُّ “Dan sesungguhnya Tuhanku telah berfirman kepadaku: Wahai Muhammad! Sesungguhnya kalau Aku sudah menentukan sesuatu, maka tiada seorang pun yang sanggup menolaknya”. (HR Muslim dari Tsauban) Allah SWT berkuasa penuh untuk menentukan apa pun yang dikendaki tanpa ada seorang pun yang bisa menghalanginya, dan juga ‘berkuasa penuh’ untuk mengubah takdir atau nasib seseorang dengan cara apa pun. Sebagaimana firmanNya:

يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh)”. (QS ar-Ra’d/13: 39). Untuk melengkapi tulisan ini, saya mendapatkan sebuah kisah menarik dari seorang sahabat saya: Dikisahkan, bahwa di sebuah desa di sudut kota saya, ada seorang gadis yang shalihah. Di samping rajin melaksanakan shalat-shalat fardhu dan sunnah, dia pun selalu berusaha mengerjakan puasa sunnah. Dan dia adalah seorang aktivis kampus yang sama sekali tak pernah tak pernah ‘berpacaran’. Kegiatannya di kampus diisi dengan belajar dan belajar, serta berkumpul untuk mengaji bersama-sama dengan ‘aktivis kampus’ yang peduli untuk membangun spiritualitasnya. Ringkas cerita, di saat dia lulus (baca: wisuda) dari sebuah perguruan tinggi ternama di kotaku, banyak temannya yang mencibir dengan ungkapan kata: “Memang ‘Dia’ sukses di kampus dan (di) masjid, tetapi ‘gagal’ dalam memeroleh jodohnya”. Mencermati cemooh teman-temannya, si gadis itu pun tidak berkecil hati. Dia yakin bahwa pada suatu saat Allah akan memlihkan (baca: memertemukan) jodoh terbaik untuknya, karena dia tak pernah lupa untuk berdoa di sela-sela waktu setelah selesai melaksanakan shalat-shalatnya. Dia sama sekali tak pernah berpacaran, apalagi ‘berpacaran gaya wanita modern yang tak sama sekali sesuai dengan konsep akhlak Islam’. Bahkan, di saat ada komentar dari seorang sahabatnya yang menyatakan: “jodoh tak mungkin turun dari atap rumah, dengan hanya berbekal ‘doa’ kepada Allah”, dia pun tak berkecil hati, karena dia yakin pada suatu saat Allah akan memberikan ‘yang terbaik’ untuknya, dengan jalan dzikir dan doa-doanya”. Benarlah apa yang dijanjikan oleh Allah. Suatu saat (di malam hari) di rumah gadis itu tiba-tiba listrik padam. Si gadis yang hanya ditemani oleh ‘Sang Ibu’, karena kakak laki-laki dan ayahnya sedang berada di luar kota. Si gadis itu pun segera menelpon petugas PLN dengan telpon genggamnya. Berkali-kali ia menelponnya, ternyata petugas PLN tak kunjung datang. Akhirnya dia beranikan diri untuk menelpon salah seorang mantan teman kuliahnya di PT yang sama dari fakultas yang berbeda. Dia (temannya itu) adalah seorang pemuda shalih, Sarjana Teknik Elektro, yang dulu sering bersama-sama mengaji di masjid kampus mereka. Gayung pun bersambut. Mantan temannya itu pun segera menyanggupi permintaannya, dan bergegas menuju rumahnya untuk menolong si gadis yang ‘kebingungan ‘ karena padamnya listrik di rumahnya. Si mantan temannya, pemuda shalih dari kampus yang sama, itu segera menemukan titik yang menyebabkan padamnya listrik rumah gadis itu: “di atas atap rumahnya”. Hanya perlu waktu sekejap untuk memerbaiki aliran listrik itu, dan akhirnya listrik rumah si gadis itu pun nyala kembali. Bersamaan dengan nyala listrik itu, si pemuda shalih itu pun turun dari atap dan menyapa si gadis shalihah itu, yang disambut dengan senyum dan ucapan terima kasih dari gadis shalihah itu kepada sang pemuda shalih, manta teman kampusnya itu. Allahu Akbar! Ternyata, Allah memertemukan jodoh keduanya dengan padamnya listrik itu. Setelah persitiwa padamnya listrik yang berakhir dengan turunnya si pemuda itu dari atap rumah gadis itu, dilajutkan dengan senyum dan ucapan terima kasih, mereka pun ‘bisa’ bersilaturahim dengan lebih baik. Dan ‘ending’-nya: “keduanya pun — pada “menikah”, karena Allah mengabulkan doa masing-masing”. Tanpa proses yang rumit. Dari atas rumah, dengan sebab padamnya listrik, cinta pun bisa bersemi, dan Allah memertemukan mereka berdua dalam dekapan kasih-sayangNya” tanpa proses pacaran, seperti yang dijalani oleh para mahasiswa pada umumnya, yang ‘ending’-nya kadang-kadang justru menyedihkan. Kini keduanya telah ‘resmi menikah’ dan menjalin kasih-sayang dalam bangunan keluarga ‘sakinah’, karena Allah meridhai ikhtiar dan doa keduanya. Ingat: “Kalau Allah sudah menghendaki, apa pun bisa terjadi.” Bersama Allah, semua bisa! Nah, dari kisah nyata ini, masihkah kita ragu untuk berharap sesuatu dari Allah dengan doa-doa kita? Marilah kita ‘berdoa dan berdoa’, dengan satu harapan: “Allah berkenan untuk memberikan yang terbaik bagi diri kita” Âmîn Yâ Mujîbas Sâilîn.